T. さんのプロフィールDokumentasi T.Djamaluddi...フォトブログリスト ツール ヘルプ

ブログ


2009年4月

Arah Kiblat

Jangan Persulit Diri


Ada surat pembaca di PR yang mempermasalahkan perbedaan arah kiblat yang tercetak di kalender Kanwil Depag Jawa Barat. Saya tanggapi surat pembaca itu. Untuk memberikan penjelasan kasus serupa di banyak tempat, saya tuliskan di blog saya ini.

1. Terkait dengan hal-hal teknis, seperti penentuan arah kiblat, anggota Badan Hisab Rukyat yang ada di Depag, PTA/PA, Ormas Islam, dan instansi teknis atau perguruan tinggi dapat memberikan penjelasan kepada masyarakat, tidak perlu menunggu harus Depag yang menanggapi. Komunitas hisab rukyat sering berkomunikasi, baik dalam forum formal maupun informal.

2. Perbedaan arah kiblat yang tercetak di kalender Kanwil Depag sebagian disebabkan karena perbedaan masukan koordinat kota (yang berpengaruh pada perbedaan menit) dan sebagian karena salah ketik. Secara umum arah kiblat di wilayah Barat Jawa dan wilayah Selatan Sumatera sekitar 25 derajat dari Barat ke Utara. Perbedaan sekitar 1 derajat atau lebih dipastikan karena salah ketik yang luput dari perhatian saat diperiksa.

3. Dalam perhitungan arah kiblat sangat disarankan untuk menyesuaikan dengan akurasi alat ukurnya. Kebanyakan kompas mempunyai skala terkecil 1 derajat, sehingga kemungkinan kesalahannya plus minus 1 derajat. Dalam kondisi seperti itu, mencantumkan menit tidak disarankan. Bagi yang tidak memahami makna kesalahan dalam pengukuran, perbedaan mencantumkan menit seolah dianggap serius. Apalagi bila didramatisir dengan konversi perbedaan lebih dari sekian ratus kilometer pada jarak sejauh Mekkah.

4. Dalam penentuan arah kiblat kesalahan sampai 1 derajat masih bisa ditolerir mengingat kita sendiri tidak mungkin menjaga sikap tubuh kita benar-benar selalu tepat lurus ke arah kiblat. Arah jamaah shalat tidak akan terlihat berbeda, bila perbedaan antarjamaah hanya beberapa derajat. Sangat mungkin, dalam kondisi shaf yang sangat rapat (seperti sering terjadi di beberapa masjid), posisi bahu kadang agak miring, bahu kanan di depan jamaah sebelah kanan, bahu kiri di belakang jamaah sebelah kiri. Mungkin ada yang berpendapat, yang terpenting arah pandangan mata. Apakah  kita bisa betul-betul menempatkan arah pandangan mata dalam rentang plus minus kurang dari 1 derajat? Peralihan pandangan mata dari satu sudut sajadah ke sudut lainnya, kalau kita mau hitung secara cermat, sudah berarti pergeseran yang sangat besar, sekitar 20 derajat. Islam tidak menyulitkan seperti itu.

5. Jadi, perbedaan arah kiblat yang tidak terlalu signifikan hendaknya tidak terlalu dipermasalahkan. Saya kira perbedaan kurang dari 2 derajat masih dianggap tidak terlalu signifikan. Ibaratnya dua masjid berdampingan yang panjangnya 10 meter, perbedaan di ujungnya sekitar 35 cm. Jamaah di kedua masjid akan tampak tidak berbeda arahnya. Semoga jelas.

2009年4月

Analisis Cuaca

Analisis Kondisi Cuaca Menjelang Jatuhnya Fokker TNI-AU

               Kecelakaan pesawat Fokker TNI-AU Senin, 6 April 2009 diduga kuat karena faktor cuaca. Tetapi cuaca yang bagaimana yang menyebabkan kecelakaan itu, belum ada penjelasan rinci. Dalam kondisi keterbatasan data lokal, analisis cuaca sekitar Bandara Huseinsastranegara dilakukan menggunakan data satelit cuaca merujuk pada data satelit yang diperoleh LAPAN. Data liputan awan diperoleh dari satelit MTSAT. Data curah hujan diperoleh dari data TRMM. Data satelit tersebut sekaligus menunjukkan arah angin sekitar Bandung menjelang kecelakaan.

               Hari Senin, 6 April, sampai pukul 10.00 WIB wilayah Bandung masih relatif cerah. Pukul 11.00 awan mulai bergerak dari arah Timur Laut. Pukul 12.00 awan mulai menutupi wilayah Bandung. Dari data TRMM, wilayah Bandung belum diguyur hujan antara pukul 07.00 – 12.00 WIB. Sesudah pukul 12.00 barulah terjadi hujan lebat di wilayah Bandung, tetapi bersifat sangat lokal. Di wilayah sekitar Huseinsastranegara – Pasteur hujan turun sangat lebat. Hujan sangat deras bersifat sangat lokal dan dalam waktu relatif singkat adalah ciri musim pancaroba dengan awan yang menumpuk tinggi. Pergerakan awan hujan di sekitar Bandung menunjukkan angin bertiup dari arah Timur Laut.

               Dalam kondisi ketiadaan data permukaan, kita harus mencari alternatifnya. Walau tidak seluruh data MTSAT (yang menggambarkan puncak awan) dapat digunakan untuk menentukan kondisi angin permukaan, tetapi gerak awan Cb dari MTSAT dan pergeseran awan hujan yang disimpulkan dari TRMM dapat digunakan untuk menggambarkan angin permukaan. Alasannya:

- Gerak awan rendah (Low-level cloud motion vectors) dapat digunakan untuk memberi gambaran angin permukaan. Lihat penelitian Halpern (1982) http://www.cmos.ca/Ao/articles/v210106.pdf

- Pada awan Cb secara umum gerak dasar awan relatif sama dengan puncak awan, jadi dapat dilakukan pendekatan untuk menggambarkan juga angin permukaan.

- Dalam kaitannya dengan kemungkinan angin yang mengubah arah pesawat, selain dari angin permukaan yang dominan dari Timur laut, ada angin dari awan (downburst) yang turun bersama turunnya hujan. Dari analsis tersebut saya menyimpulkan resultan angin secara dominan arahnya dari Timur Laut. Kecepatan angin tidak dapat disimpulkan dari data gerakan awan dan hujan.

               Berdasarkan arah landasan pada peta Google Earth, pesawat mendarat dari arah Tenggara-Timur. Bila gerakan awan yang menurunkan hujan dan angin dari Timur Laut dan ada efek angin lokal dari atas (downburst) bersamaan dengan hujan deras, sangat mungkin pesawat terdorong ke kiri keluar dari arah seharusnya dan sayap kanan terangkat sehingga menabrak hanggar di sisi kiri landasan.





2009年4月

Matahari mendekat?

TIDAK BENAR APRIL MATAHARI SEMAKIN MENDEKAT

Ada dua teman mengkonfirmasi hal yang sama. Seseorang menyebarkan SMS yang tidak jelas sumbernya. Isinya kira-kira, "Dikabarkan besok terjadi kondisi di mana jarak matahari-bumi semakin dekat. Kemungkinan besar radiasinya dapat merusak kulit, terjadi antara jam 8 - 16. Jangan pakai pakaian hitam, sebab penyerapan energi matahari dapat merusak kulit hanya dalam 5 menit."

Informasi tersebut jelas menyesatkan. Orbit bumi mengitari matahari yang sedikit lonjong menyebabkan bumi mendekat dan menjauh dari matahari secara teratur. Jarak terdekat bumi - matahari (147 juta km) terjadi setiap awal Januari. Dan jarak terjauhnya (152 juta km) terjadi setiap awal Juli. Jadi, bulan April tidak ada fenomena jarak bumi-matahari makin dekat. Dengan demikian informasi lainnya juga tidak benar. Kalau pun bumi berada pada jarak terdekat dengan matahari, radiasinya tidak signifikan variasinya. Jadi tidak ada dampak apa pun.

Mungkin ada yang mengaitkan dengan perasaan lebih panas sekitar Maret-April. Fenomena lebih panasnya suhu udara di sebagian besar kota di Indonesia pada Maret-April, tidak terkait dengan jarak bumi - matahari. Data suhu rata-rata di beberapa kota memang menunjukkan dua puncak sekitar Maret-April dan juga September-Oktober. Hal itu terjadi karena faktor  peralihan angin pada musim pancaroba. Di Indonesia angin Monsun Australia (Juni-Juli-Agustus) yang kering membawa udara dingin dari arah Selatan yang sedang musim dingin, sehingga cenderung saat kemarau relatif lebih sejuk. Demikian juga saat angin Monsun Asia (Desember-Januari-Februari) yang basah membawa udara dingin dari arah Utara yang sedang musim dingin, sehingga musim hujan juga relatif dingin. Saat musim peralihan (Maret-April-Mei dan September-Oktober-November) angin cenderung lemah (kecuali angin lokal saat terjadi puting beliung) dan bersifat lokal, sehingga tidak ada efek pendinginan. Radiasi panas (inframerah) dari permukaan yang terpanasi relatif tidak tersebar. Efek pulau panas perkotaan makin terasa pada musim peralihan ini.



2009年3月

Hujan Es (Q/A)

Hujan Es Turun Saat Pancaroba


Beberapa waktu lalu wartawan "Kontan" mewawancarai saya secara tertulis dan laporannya telah dimuat di "Kontan"(http://www.kontan.co.id/index.php/Epaper) edisi Sabtu, 21 Maret 2009, halaman 22 (Iptek) berjudul "Kawasan Hijau Lenyap, Turun Hujan ES". Berikut tanya jawab seputar hujan es di musim pancaroba yang dieditulang dan dilengkapi, untuk menambah wawasan kita:


Tanya (T) Bagaimana proses terjadinya hujan es? Apa yang menyebabkan terjadinya fenomena ini?

Jawab (J): Hujan es secara ilmiah disebut "hail stone". Terjadinya dari proses updraft (gerakan udara ke atas) pembentukan awan cumulonimbus yang menjulang tinggi seperti jamur. Proses updraft disertai dengan udara basah dari bawah ketika mencapai ketiggian dengan suhu di bawah nol derajat (sekitar ketinggian lebih dari 5.000 m) uap air yang sangat dingin bertemu dengan inti kondensasi pembentuk awam yang kemudian membentuk gumpalan es. Butiran es kemudian jatuh bersamaan dengan hujan lebat yang kadang disertai dengan angin kencang atau puting beliung. Kejadian ini potensial terjadi pada masim pancaroba saat ini karena angin cenderung lemah dan berubah-ubah arah, sehingga pemanasan optimum yang menyebabkan suhu relatif tinggi. Penguapan yang intensif diperkuat dengan kondisi MJO (Madden-Julian Oscilation) yang mengindikasikan konveksi kuat. Akibatnya udara hangat yang mengandung uap air didorong cepat ke atas mencapai daerah yang sangat dingin.


T: Apakah dampak negatif/positif yg disebabkan oleh fenomena in?

J: Dampak negatifnya, tentu saja batu es tersebut dapat merusakkan geneng rumah, kendaraan, dan fasilitas lain, seperti pernah terjadi di Bandung yang merusakkan beberapa rumah dan kaca mobil.


T: Setahu saya, fenomena ini jarang terjadi di Indonesia atau negara-negara tropis lainnya. Benarkah itu?

J: Hujan es (hail stone) dapat terjadi di mana pun, termasuk di daerah tropis selama ada proses updraft yang aktif yang membawa udara basah mencapai daerah dingin yang memungkinkan pembentukan es.


T: Belahan dunia mana saja yang seharusnya sering mengalami hujan es? Kalau di Indonesia, selain Bandung, daerah mana saja yang sudah dan sering mengalami fenomena ini?

J: Fenomena ini di wilayah lain (di luar daerah tropis) biasanya terkait dengan kejadian badai. Tetapi di Indonesia, kecenderungan akhir-akhir ini kejadiannya adalah di daerah yang mengalami pemanasan intens dan lembat disertai dengan ketidakstabilan dinamika atmosfer yang memicu updraft. Fenomena pemanasan kota menjadi salah satu kemungkinan pemicu kejadian hujan es pada masa pancaroba Maret-April-Mei di Bandung dan Jakarta akhir-akhir ini.


T: Dengan adanya hujan es, bagaimana hubungannya dngan perubahan iklim di Indonesia, apakah semakin mengkhawatirkan?

J: Fenomena hujan es adalah fenomena biasa yang biasa terjadi pada masa pancaroba. Fenomena sejenis adalah fenomena puting beliung yang lebih terfokus pada pola sirkulasi udara lokal yang menyebabkan putaran dan embusan angin cepat reaksi dari proses updraft. Hal itu tidak perlu dikhawatirkan, tetapi perlu diwaspadai.


T: Gejala ap saja yang biasany mendahului sebelum terjadinya fenomena in?

J: Fenomena hujan es dan puting beliung adalah fenomena lokal dan prosesnya cepat, sehingga sulit diketahui tanda-tandanya. Gejala pendahuluan kadang tidak disadari. Misalnya, siang yang sangat terik dan lembab. Proses updraft (naiknya udara secara cepat ke atas) tidak tampak, tetapi kita bisa segera melihat adanya awan yang tiba-tiba membumbung tinggi dan gelap karena tebal menjulang tinggi. Pada saat itulah uap air yang didorong cepat naik ke atas dan mencapai titik beku membentuk gumpalan es. Bila beratnya sudah tak tertahan oleh gerak udara, maka batu-batu es berjatuhan disertai dengan hujan deras dan angin.


T: Apakah hujan es ini ada hubungannya dengan pemanasan global?

J: Hujan es saat ini tidak terkait dengan pemanasan global (global warming), kemungkinannya lebih terkait dengan pemanasan lokal, khususnya fenomena urban heat island (pulau panas perkotaan). Tetapi, untuk masa depan potensi pengaruh pemanasan global semakin kuat. Frekuensi kejadian hujan es di daerah tropis kemungkinan meningkat. Dengan pemanasan global beberapa mekanisme hujan es akan diperkuat, antara lain dasar awan akan semakin rendah, sementara puncak awan semakin tinggi. Akibatnya ketebalan awan akan meningkat , updraft , dan pemompaan Ekman semakin cepat., yang berarti  intensitas hujan es, petir, dan puting beliung akan meningkat.


T: Kalau memang hujan es lebih banyak mengandung kerugian, maka langkah-langkah pencegahan apa yang harus dilakukan?

J: Pencegahannya belum diketahui. Tetapi meminimalisasi pemanasan kota dengan penghijauan diduga dapat mengurangi proses konveksi (pergolakan udara) lokal yang memicu updraft intensif.


T: Batu esnya itu sebenernya layak dikonsumsi tidak Pak?

J: Esnya karena terbuat dari uap yang terkondensasi pada partikel-partikel yang umumnya bersifat polutan udara, tentu tidak layak dikonsumsi.



2009年3月

Asteroid 2009 DD45 Mengancam Bumi

Objek Langit Melintas Dekat Bumi

Awal Maret 2009 bumi didekati asteorid 2009 DD45 yang melintas relatif sangat dekat dalam ukuran astronomi. Pada 2 Maret jaraknya hanya 72.000 km atau hanya 2 kali ketinggian satelit geostasioner yang mengorbit pada ketinggian 36.000 km. Ukurannya relatif kecil, hanya 35 m. Jadi, asteoroid ini tidak membahayakan bumi dan tidak berdampak apa-apa. Hasil analisis orbitnya menunjukkan bahwa asteorid ini orbitnya agak dekat dengan orbit bumi. Jarak rata-rata dari matahari 1,34 SA (satuan astronomi =150 juta km, yaitu jarak rata-rata Bumi-Matahari). Tetapi orbitnya lebih lonjong dari bumi dan menyimpang dari bidang orbit bumi-matahari dengan sudut 13 derajat. Periode orbitnya mengelilingi matahari 571 hari. Persinggahan berikutnya terdekat dengan bumi baru terjadi pada 3 Maret 2067 pada jarak 950.000 km, atau lebih dari 2 kali jarak bumi-bulan yang jaraknya 384.000 km.

Para astronom pengamat asteroid sangat peduli dengan asteroid yang berpotensi mengancam bumi. Asteroid yang mungkin melintas dekat bumi pada jarak kurang dari 0,05 SA (7,5 juta km) digolongkan sebagai asteoroid pengancam bumi. Sampai saat ini (Maret 2009), dari patroli langit telah ditemukan 1.037 asteroid pengancam, salah satunya yang paling dekat jaraknya adalah asteoroid 2009 DD45. Asteroid pengancam bumi belum tentu menabrak bumi dalam waktu dekat, tetapi dalam jangka panjang kemungkinan untuk menabrak bisa terjadi karena konfigurasi orbitnya suatu saat bertemu dengan bumi.

Bumi telah mengalami bencana tumbukan akibat asteorid atau komet. Tumbukan yang paling dahsyat diperkirakan terjadi 65 juta tahun lalu, ketika asteorid besar menumbuk semenanjung Yukatan di Meksiko. Diperkirakan dari tumbukan itu terhambur debu yang sangat banyak melingkupi seluruh bumi dalam waktu lama. Akibatnya, sinar matahari tak dapat menembus dan bumi mengalami musim dingin hebat. Tumbuhan dan binatang sebagian besar punah. Inilah salah satu teori yang menerangkan punahnya dinosaurus.

Bencana tumbukan kedua yang lebih kecil terjadi pada 30 Juni 1908. Waktu itu diduga pecahan komet Encke berukuran 100 m jatuh di Siberia. Akibat tumbukan itu, hutan seluas Jawa Barat rusak dan debu yang terlempat ke atmosfer atas menyebabkan timbulnya "awan" yang mampu memantulkan cahaya matahari sehingga pada waktu senja di London orang masih bisa membaca koran.

2009年2月

Kiamat 2012?

Ramalan Bencana: Meresahkan namun Tak Berdasar


Catatan: Ahad, 22 Februari 2009, SCTV menayangkan acara "Kasak-Kusuk" tentang Kiamat 21 Desember 2012. Ada aspek sains yang diisi wawancara dengan Kapus Sains Antariksa dan Peneliti antariksa dari LAPAN, namun isinya terpenggal dan diambil sisi sensasinya saja tentang potensi dampak aktivitas matahari maksimum 2011 - 2012 dan dampak kepadatan sampah antariksa yang meningkatkan potensi tabrakan satelit. Gambar-gambar ilustrasi cuaca antariksa dan tabrakan satelit dijadikan ilustrasi bencana antariksa. Lalu bagian dominan adalah ramalan Ki Gendeng Pamungkas dan Mama Lorent tentang bencana 2012. Kata Ki Gendeng, akan ada beberapa gunung meletus dan dan beberapa kejadian tsunami dalam waktu satu tahun itu. Mama Lorent mengatakan tidak dapat menerawang melebihi tahun 2012 yang menggiring kesan pemirsa seolah dunia berakhir 2012. Salah seorang anak indigo (dengan ramalannya yang tak kalah bikin resah) ditampilkan dan dikaitkan dengan manusia super yang mungkin akan menggantikan generasi manusia sekarang. Dua ulama yang ditampilkan tampaknya juga hanya diambil bagian komentarnya yang sejalan dengan tema kasak-kusuk: kiamat. Para artis ditampilkan sebagai bumbu dengan beragam komentar khas artis.


Lalu, bagaimana sains memandang ramalan tentang bencana atau kiamat 2012? Sejauh prakiraan saintifik, tidak ada fenomena alam yang mengkhawatirkan. Ramalan bencana yang mengakhawatirkan semacam itu sempat juga beredar menjelang tahun 2005. Bahkan ada ramalan bahwa 5 Mei 2000 (05-05-00) adalah saat terjadinya kiamat. Kini ada juga yang menyebut angka istimewa 21-12-12 sebagai hari kiamat. Terkait dengan ramalan yang meresahkan itu, berikut ini tulisan lama saya menjelang 05-05-00 yang lalu. Sebelumnya saya juga menulis di Republika 9 April 1995, "Astronomi Membantah Astrologi".

======================================================================================================================

Bedakan Astronomi dan Astrologi

 

T. Djamaluddin Peneliti  Antariksa, LAPAN Bandung


            Orang awam kadang tidak bisa membedakan antara astronomi dan astrologi. Secara mudah kadang keduanya difahami sebagai ilmu bintang. Padahal jelas sekali bedanya, terutama dalam hal tafsir atas suatu fenomena langit. Nah, soal tafsir inilah yang sangat rawan dalam menimbulkan keresahan. Orang awam kadang tidak bisa membedakan mana tafsir astrologi dan mana tafsir astronomi.

            Astrologi adalah ilmu yang mempelajari pergerakan planet, bulan, matahari, dan bintang-bintang yang diyakini berkaitan dengan nasib manusia, baik secara individu maupun masyarakat. Sedangkan astronomi adalah ilmu yang mempelajari kondisi fisik, kimiawi, dan evolusi benda-benda langit tanpa kaitan dengan nasib manusia saat ini. Pokoknya bila fenomena alam dikaitkan dengan nasib, itu pasti bukan tafsir astronomi, mungkin tafsir astrologi. Mitos tentang kaitan kemunculan komet dengan pergantian raja atau bencana atau kaitan gerhana dengan nasib calon bayi di kandungan bukanlah tafsir astronomi. Kepercayaan itu terkait dengan astrologi.

            Masih ingat geger ramalan bencana 5 Mei 2000 lalu? Fenomena astronomi pengelompokan matahari, bulan, dan lima planet terang pada 5 Mei 2000 telah menghangatkan berita media massa dengan ramalan adanya bencana. Bencana tidak terjadi. Tetapi, ada satu hal penting yang luput dari perhatian awam: berita media massa telah mencampuradukkan fenomena astronomi dengan ramalan astrologi.

            Istilah superkonjungsi tidak dikenal astronomi, tetapi hanya ada dalam terminologi astrologi. Konjungsi dalam pengertian astronomi adalah posisi dua benda langit yang segaris bujur dalam penampakannya di langit. Dalam bahasa hisab, dikenal ijtimak untuk konjungsi bulan dan matahari. Pada saat itu terjadi bulan baru dan mungkin juga terjadi gerhana matahari. Secara astronomi mustahil terjadi konjungsi yang melibatkan lebih dari dua benda langit.

            Namun dalam pengertian astrologi, konjungsi tidak harus segaris bujur. Ada toleransi (disebut "orb") antara 8-9 derajat, mungkin juga lebih. Karenanya pengelompokan dua planet atau lebih dalam sektor geosentik yang sempit sering dianggap konjungsi. Bila melibatkan banyak planet disebut superkonjungsi.

 

Tafsir Astrologi


            Secara astrologi, pengaruh paling kuat benda-benda langit pada kehidupan manusia di bumi adalah pada saat terjadi konjungsi tersebut. Ramalan bencana 5 Mei 2000 akibat superkonjungsi sepenuhnya hasil tafsiran astrologi, bukan astronomi. Ramalan bencana alam atau bencana sosial, dilakukan oleh cabang astrologi yang disebut astrologi duniawi (mundane). Cabang astrologi ini memfokuskan perhatian pada pengaruh benda-benda langit pada kondisi bangsa, partai politik, serta aset-aset tak hidup (bangunan, kendaraan). Astrologi populer yang berkaitan dengan watak seseorang dan ramalan nasibnya (disebut astrologi natal), juga memperhatikan masalah konjungsi tersebut.

            Di Indonesia pada tahun 1995 seorang tokoh paranormal risau dengan perhitungan astrologinya yang menyatakan posisi planet Uranus dan Neptunus dalam keadaan segaris. Katanya, keadaan ini bisa menyebabkan adanya chaos, kekacauan di alam dan masyarakat. Ramalan tentang chaos pada tahun 1995 didasarkan pada informasi astrologi bahwa  planet Saturnus-Uranus (pada bagian lain berita disebutkan Uranus-Neptunus) berada pada posisi segaris yang berlangsung selama lima tahun. Menurut data astronomi pernyataan itu tidak benar. Tahun 1995 ketiga planet itu tidak berada pada posisi segaris. Hanya planet Uranus dan Neptunus yang berdekatan, tetapi tidak segaris (berbeda sekitar 5 derajat). Planet Saturnus dan Uranus berada pada posisi segaris dengan matahari pada tanggal 9 Juni 1988 pada bujur 268o55'. Dan planet Uranus dan Neptunus berada pada  posisi segaris dengan matahari pada tanggal 21 April 1993 pada bujur 289o16'. Namun nalar astrologi berbeda dari argumentasi astronomi.

            Tahun 1974 John R. Gribbin and Stephen H. Plagemann menerbitkan buku "The Jupiter Effect" yang meramalkan bakal terjadinya bencana pada tahun 1982 akibat berkelompoknya semua planet pada satu sektor yang sama. Memang pada saat itu semua planet dari Merkurius sampai Pluto berkumpul pada sektor dengan rentang 95 derajat, sektor paling sempit selama abad 20. Kemudian sekitar tahun 1997-an Richard Noone mempublikasikan buku "5/5/2000 Ice: the Ultimate Disaster" yang bercerita tentang ramalan bencana pada 5 Mei 2000. Tulisan Noone inilah yang tampaknya mewarnai cerita-cerita di media massa tahun lalu.

            Ramalan astrologi mundane yang paling terkenal adalah karya Nostradamus. Dengan nama asli Michel de Nostradame (1503-1566), Nostradamus yang pernah menjadi dokter istana Raja Perancis Charles IX mempublikasikan bukunya "Les Centuries" pada 1555. Banyak peristiwa besar dikaitkan orang dengan ramalan Nostradamus, seperti perang dunia I dan II serta perang teluk Irak-Kuwait yang diduga bisa memicu perang dunia III.

            Kepanikan massa akibat berita yang menyesatkan tentang segarisnya planet-planet pernah terjadi pada tahun 1962. Pada superkonjungsi 4 Februari 1962 (5 Februari waktu Indonesia) orang-orang berkumpul di Observatorium Griffith (Los Angeles) menunggu informasi apa yang akan terjadi. Mobil berderet hampir satu kilometer. Berita sensasional juga berkembang di Amerika pada tahun 1982. Superkonjungsi 1982 dikabarkan akan menghancurkan pantai barat Amerika dan memusnahkan jutaan orang. Bencana itu tidak terjadi, tetapi sekian banyak orang dibuatnya ketakutan dengan ramalan itu. Bahkan ada yang meminta nasihat astronom perlu tidaknya pindah ke daerah lain. Planetarium Denver menerima 130 telepon dalam lima jam dari orang-orang yang ketakutan.

Pada 1998 ramalan Nostradamus juga sempat merepotkan para astronom di Observatorium Griffith. Setelah penayangan  film "The Man Who Saw Tomorrow" yang bercerita tentang Nostradamus, banyak orang menelpon observatorium menanyakan kapan terjadinya planet-planet segaris yang akan menyebabkan gempa. Ternyata gempa memang tidak terbukti terjadi.

Tafsir astrologi tentang fenomena astronomi sering mengundang sensasi. Dengan makin mudahnya penyebaran informasi bila tanpa disertai rasionalitas berfikir, di negara maju sekali pun ramalan-ramalan bencana seperti itu cukup membuat panik banyak orang. Tidak tampaknya dampak sosial di Indonesia terhadap ramalan-ramalan bencana tersebut belum tentu berarti masyarakat telah berfikir rasional, tetapi mungkin karena penyebaran informasinya tidak seluas di negara-negara maju.

 

Tafsir Astronomi


            Superkonjungsi dalam terminologi astronomi lebih tepat disebut pengelompokan planet-planet dalam suatu sektor tertentu. Pengelompokan planet-planet pada 5 Mei 2000 lalu telah dihitung oleh Jean Meeus, pakar matematika astronomi dari Belgia,  yang menuliskannya dalam majalah astronomi Sky and Teleskop (1961). Berkelompoknya matahari, bulan, dan 5 planet utama lainnya (dalam konsep lama semuanya dianggap planet) dalam rentang 100 tahun sebenarnya telah terjadi pada  5 Februari 1962 dan 5 Mei 2000, kemudian akan terjadi lagi pada 9 September 2040.

            Dari segi astronomi, tidak ada hal yang istimewa dengan berkelompoknya planet-planet tersebut.  Mungkin satu-satunya hal yang menarik adalah bila kejadiannya malam hari. Pengelompokan banyak planet dalam satu wilayah langit yang sempit sangat menarik bagi penggemar astrofotografi. Selain hal itu, sama sekali tidak ada alasan logis yang bisa menjelaskan mekanisme kaitan antara susunan planet tersebut dengan bencana di bumi.

            Ada tiga hal yang perlu dikaji sebelum menyimpulkan dampak benda langit pada bumi: efek pasang surutnya, radiasinya, dan pancaran partikelnya. Efek pasang surut (pasut) sudah kita kenal akibat gravitasi bulan dan matahari yang menyebabkan air laut pasang dan surut secara periodik. Radiasi matahari berdampak besar pada bumi, baik dalam kaitannya dengan komunikasi radio maupun fenomena cuaca dan iklim. Bila ada peningkatan radiasi energi tinggi dari matahari, komunikasi radio gelombang pendek bisa terputus. Pancaran partikel dari matahari berupa angin matahari atau debu komet berdampak pada satelit-satelit yang mengorbit bumi.

            Adakah tiga hal tersebut terjadi bila planet-planet berkelompok? Efek pasut planet-planet amat sangat kecil dibandingkan dengan efek pasut bulan dan matahari.  Dengan memperhitungkan massa planet dan jaraknya pada suatu waktu, dapat dihitung gaya pasutnya di permukaan bumi. Matahari saja yang sekitar 27 juta kali massa bulan, gaya pasutnya pada 5 Mei 2000 hanya sepertiga gaya pasut bulan. Efek pasut matahari baru terasa pada saat bulan baru atau bulan purnama, ketika gaya pasut bulan dan matahari saling memperkuat yang menyebabkan pasang air laut menjadi lebih tinggi daripada biasanya.

Sedangkan efek pasut planet-planet sangat kecil. Gaya pasut yang terbesar saja dari planet Jupiter, hanya dua-per-sejuta kali gaya pasut bulan. Jadi efek pasut planet-planet tersebut sama sekali tidak berdampak pada bumi.

            Planet-planet pun tidak memancarkan radiasinya sendiri. Radiasi dari planet-planet tergantung pancaran radiasi matahari. Demikian juga tidak ada pancaran partikel dari planet-planet yang mencapai bumi. Jadi, sama sekali tidak beralasan untuk mengaitkan pengelompokan planet-planet dengan bencana di bumi. Sama halnya tidak beralasan mengaitkan penampakan komet dan gerhana dengan nasib manusia.

 


2009年2月

Komet Lulin

Kau Datang untuk Pergi
T. Djamaluddin
Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Sengaja judul saya buat puitis untuk menggambarkan komet Lulin, komet yang ditemukan oleh astronom Ye Quanzhi and Lin Chi-Sheng dari Obsevatorium Lu Lin di Taiwan pada 11 Juli 2007. Kode astronominya adalah C/2007 N3, artinya komet baru (C) yang ditemukan pada tahun 2007 pada tengah-bulanan ke-14 (dalam urutan abjad berarti N, yaitu akhir Juli), pada urutan ke-3. Semula objek tersebut dikira asteroid. Namun dalam pengamatan lanjutan ketika makin mendekati matahari mulai terlihat adanya koma, kepala komet yang terbentuk dari debu dan ion hasil penguapan dan ionisasi inti komet yang terdiri dari debu dan es. Semakin lama ekornya yang pendek mulai tampak dalam pengamatan dengan teleskop.

Hal yang menarik dari komet ini adalah orbitnya. Eksentrisitasnya 1,0002, artinya lengkungan orbitnya berbentuk hiperbola, yang mendekati parabola. Orbit hiperbola pada gerak benda langit dapat digambarkan secara puitis "kau datang untuk pergi", karena ini kedatangan yang pertama dan yang terakhir. Kemungkinan ia datang dari awan Oort yang sangat jauh (sekitar 50.000 Satuan Astronomi-SA, kira-kira 1 tahun cahaya, dari matahari/bumi) dan akan kembali ke dunianya yang amat dingin nu jauh di sana, mungkin juga terus melanglang buana keluar tata surya. Hal menarik kedua tentang orbitnya adalah inklinasinya 178 derajat. Artinya, orbitnya memang mendekati bidang orbit rata-rata planet di tata surya. Karenanya orbitnya tidak jauh dari ekliptika, posisi rasi-rasi yang kita kenal sebagai zodiak. Inklinasi lebih dari 90 derajat, artinya arahnya berkebalikan dari arah gerak planet-planet pada umumnya. Akibatnya, komet ini tampak bergerak relatif cepat di antara bintang-bintang, tidak seperti komet pada umumnya.

Komet Lulin mencapai titik terdekat dengan matahari (disebut perihelion) pada 10 Januari 2009 lalu pada jarak 1,2 SA (182 juta km). Diperkirakan akan melintas bumi pada jarak terdekat 0,41 SA (61 juta km) pada 24 Februari. Karena ini komet baru, sifat-sifatnya belum banyak diketahui, termasuk perkiraan kecerlangannya belum bisa dipastikan jauh-jauh hari sebelumnya. Perkiraan awal, pada saat mendekat bumi, kecerlangannya mencapai sekitar 4 - 5 magnitudo, artinya dapat terlihat dengan mata telanjang, seperti bintang yang agak redup. Tetapi prakiraan terakhir, tampaknya akan mengecewakan para pengamat, karena diprakirakan magnitudonya hanya 6 - 7 magnitodo, artinya di luar kemampuan mata manusia untuk melihat yang batasnya sekitar 6 magnitudo.

Kalau akan mengamat dengan alat bantu (binokuler atau teleskop), posisinya pada malam  23 Februari - 2 Maret berada sekitar rasi Leo. Pada malam 24 Februari posisinya dekat planet Saturnus. Dengan teleskop, komet Lu Lin tampak berwarna kehijauan karena kandungan ion-ionnya. Rasi Leo dan komet Lu Lin mulai tampak di langit timur sekitar pukul 21.00 WIB dan mencapai titik tertinggi sekitar pukul 01.00 dini hari, dan akan terbenam menjelang shubuh. Selanjutnya komet Lu Lin akan makin menjauh dan makin redup, menuju rasi Cancer dan Gemini.

Secara astrologi, dulu dan sekarang, kehadiran komet sering diinterpretasikan dengan naik tahta atau jatuhnya penguasa atau dengan kemungkinan bencana. Kini sudah ada situs yang sudah memuat ramalan astrologi kehadiran komet Lulin ini. Boleh percaya boleh tidak, tetapi secara ilmiah dan landasan keimanan, ramalan itu sama sekali tidak berdasar. Kita ambil yang pasti-pasti saja, kajian astronomi. Secara astronomi, kehadiran komet memang selalu menarik. Dengan mempelajari perilaku ekor kometnya, astronom dapat mempelajari angin matahari. Kemudian dengan mempelajari spektrumnya para astronom dapat mempelajari komposisinya, yang berarti juga mendapatkan informasi tentang komposisi bahan penyusun tata surya. Komet adalah fosil tata surya yang paling asli, yang bisa bercerita tentang asal usul tata surya kita.
 



2009年2月

Tabrakan Satelit


Kekhawatiran Menjadi Kenyataan: Dua Satelit Bertabrakan

T. Djamaluddin

Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika, LAPAN

 

Space.com http://www.space.com/news/090211-satellite-collision.html memberitakan  adanya tabrakan satelit aktif milik AS, satelit komunikasi Iridium 33 yang melayani telepon satelit, dengan sampah antariksa, satelit Cosmos 2251 milik Rusia pada 11 Februari 2009 pukul 23.55 WIB di atas Siberia. tabrak terjadi pada ketinggian sekitar 790 km. Jaringan radar pemantau antariksa milik Departemen Pertahanan AS mengkonfirmasi terjadinya tabrakan itu yang menghasilkan lebih dari 700 keping pecahan satelit. Deteksi radar pada setelah tabrakan menemukan adanya 505 keping pecahan Cosmos 2251 dan 194 keping pecahan Iridium 33. Pecahan yang lebih kecil yang tak terdeteksi radar jumlahnya jauh lebih banyak.Tabrakan ini makin menambah padatnya sampah antariksa. Ya, sampah antariksa memang makin padat sehingga potensi tabrakan akan semakin besar (lihat "Sampah Anatriksa Makin Padat", http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!132.entry). Sampai bulan Februari 2009 jumlah objek buatan manusia yang terdeteksi radar mencapai 13.157, hanya sekitar 3.340 berupa satelit aktif atau satelit sampah, selebihnya pecahan sampah roket atau satelit.

Kejadian tabrakan satelit ini sebenarnya tidak terpantau secara langsung. Awalnya, operator Iridium 33 melaporkan hilang kontak dengan salah satu dari 66 jaringan satelit komunikasinya.. Setelah dianalisis dari data radar ternyata Iridium 33 sudah tidak ada, diganti dengan pecahan-pecahan yang banyak. Analisis orbit dan data radar menyimpulkan bahwa Iridium 33 bertabrakan dengan COSMOS 2251.

Kejadian tabrakan dua satelit besar ini adalah peristiwa pertama kali. Sebelumnya hanya dilaporkan tabrakan satelit mikro dengan sampah antariksa. Dengan makin padatnya sampah antariksa, diperkirakan akan menambah potensi tabrakan antariksa seperti itu. Ini tentu mengkhawatirkan para pemilik satelit, karena investasi besar bisa saja hancur karena tabrakan oleh sampah di antariksa.

Satelit Iridium 33 yang bertabrakan itu diluncurkan pada 1997 dengan bobot 560 kg. Sedangkan satelit Rusia yang diluncurkan pada 16 Juni 1993 itu berbobot 900 kg. Sebelum tabrakan, satelit Cosmos memang sudah tidak berfungsi, alias telah menjadi sampah, yang mengorbit dengan orbit polar berinklinasi 74,04 derajat. Satelit Iridium mempunyai orbit polar (melintasi daerah sekitar kutub) dengan inklinasi 86,4 derajat setiap 100,6  menit dengan kecepatan 27.088 km/jam. Data orbit menunjukan bahwa Iridium 33 mengorbit pada ketinggian antara 776 – 779 km, sedangkan orbit COSMOS 2251 antara 776 – 799 km, jadi kemungkinan tabrakan terjadi pada ketinggian sekitar 776 - 779  km.Pada saat kejadian Iridium sedang mengorbit dari arah India ke Siberia. Sementara COSMOS sedang mengorbit dari arah Eropa menuju Siberia. Lihat

http://www.obsat.com/images/Ir33coll_top.gif

http://www.obsat.com/images/Ir33coll_side.gif

Animasi tabrakan dan sebaran pecahan satelit bisa dilihat di

http://www.agi.com/corporate/mediaCenter/news/iridium-cosmos/

Adanya pecahan baru lebih dari 700 keping itu tidak mengkhawatirkan berdampak pada ISS (International Space Station) yang sedang dihuni beberapa orang astronot. ISS mengorbit pada ketinggian 354 km, sedangkan pecahan satelit mengorbit pada ketinggian 778 km. Satelit LAPAN-TUBSAT, milik Indonesia, yang mengorbit pada ketinggian 630 km juga aman. Beberapa satelit penginderaan jauh yang mengorbit sekitar 705 km mengkhawatirkan terkena dampak. Tetapi menurut saya, kemungkinannya kecil. Pecahan satelit itu masih mengorbit di sekitar orbit asalnya,tetapi dalam formasi yang menyebar membentuk orbit baru karena inpuls tabrakan. Satelit yang terancam adalah yang orbitnya sekitar 778 km dan orbitnya berlintasan dengan orbit COSMOS 2251 atau Iridium 33.

 




2009年2月

Patroli Langit


Mewaspadai Asteroid dan Komet Pengancam Bumi

(Dimuat Pikiran Rakyat, 16 Maret 1997)


T. Djamaluddin

Peneliti Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa, LAPAN Bandung


Catatan: Januari 2009 lalu astronom menemukan asteroid 2009 BD berdiameter  10 meter yang  melintas dekat bumi berjarak 644.000 km, hampir 2 kali jarak bumi-bulan. Asteroid ini tidak membahayakan bumi, namun ancaman asteroid yang orbitnya dekat bumi, tetap ada. Karenanya patroli langit terus dilakukan untuk mengantisipasi potensi bencananya. Tulisan lama saya masih relavan dalam bahasan patroli langit tersebut.

           

            Akhir Januari 1997, NASA (badan antariksa Amerika Serikat) mengumumkan ditemukannya dua anggota tata surya baru: sebuah asteroid (planet kecil) yang diberi kode 1997 AC11 dan sebuah komet yang diberi kode 1997 A1.

            Asteroid 1997 AC11 adalah keluarga asteorid Aten yang orbitnya dekat dengan orbit bumi. Sedangkan komet 1997 A1 diperkirakan mencapai titik terdekat dengan bumi pada 6 Februari 1997 pada jarak sekitar 350 juta km (2,3 kali jarak bumi-matahari).

            Penemuan itu dilaporkan oleh empat astronom pengamat tata surya dari JPL (Jet Propulsion Laboratory): Eleanor Helin, Steve Pravdo, David Rabinovitz, dan Ken Lawrence. Pengamatan yang mereka lakukan sebenarnya merupakan bagian dari program patroli langit, mencari asteroid dan komet yang mungkin akan mengancam bumi. Sistem pengamatan otomatik terkomputerisasi yang digunakan diberi nama sistem penjejak asteroid dekat bumi (The Near-Earth Asteroid Tracking - NEAT).

            Komponen utama sistem NEAT yang berada di puncak Haleakala (Hawaii) itu terdiri atas sebuah teleskop berdiameter 98 cm yang dilengkapi dengan kamera CCD (kamera elektronik yang citranya diolah dengan komputer) yang sangat peka. Ukuran CCD-nya relatif sangat besar, 4096 x 4096 piksel, jauh lebih besar daripada CCD yang dimiliki kebanyakan observatorium saat ini.

            Dengan sistem otomatik yang sangat peka dan mampu merekam medan langit yang luas, pengamatan itu sangat efektif mencari asteroid dan komet baru, terutama untuk mendeteksi kalau-kalau ada yang akan menghantam bumi. Selama bulan Januari 1997 saja berhasil teramati sekitar 700 asteroid. Sedangkan jumlah total objek tata surya yang berhasil diidentifikasi sejak pengoperasiannya pada akhir 1995 lebih dari 9000 objek, setengahnya merupakan objek baru.             Asteroid 1997 AC11 tergolong kelompok asteroid keluarga asteroid Aten yang jarang. Ini adalah asteroid ke-24 dalam keluarga Aten selama 21 tahun pencarian. Asteroid ini tampak sangat redup dengan magnitudo 21, seribu triliun kali lebih redup daripada bintang paling redup yang dapat terlihat mata telanjang. Diameternya diperkirakan sekitar 180 meter. Kemiringan bidang orbitnya terhadap bidang orbit bumi sekitar 31 derajat. Waktu orbitnya mengitari matahari lebih cepat daripada bumi, yaitu hanya 9,5 bulan.

            Komet 1997 A1 juga sangat redup, bermagnitudo 19 (sepuluh triliun kali lebih redup dari pada bintang paling redup yang teramati mata telanjang) ketika ditemukan. Komet ini bukan komet periodik seperti komet Halley, karena orbitnya parabolik. Jadi hanya sekali ini komet ini melintas mendekati matahari kemudian menjauh lagi ke luar tata surya.

 

Asteroid Pengancam Bumi

            Asteroid keluarga Aten, seperti asteroid 1997 AC11, perlu diwaspadai karena setengah sumbu panjang orbitnya dekat dengan bumi. Karena kesempatan untuk mendekati orbit bumi paling sering, asteroid keluarga ini mempunyai kemungkinan terbesar untuk menabrak bumi daripada keluarga asteroid lain di dekat bumi.

            Selain keluarga asteroid Aten, asteroid yang orbitnya dekat bumi atau melintas orbit bumi adalah keluarga Apollo dan keluarga Amor. Keluarga asteroid Apollo orbitnya melintasi orbit bumi dengan setengah sumbu panjang orbitnya lebih jauh daripada orbit bumi. Sedangkan keluarga asteorid Amor juga melintasi orbit bumi dengan orbit yang lebih jauh dari pada asteroid Apollo. Jarak terdekat dengan matahari berada dekat bumi tetapi jarak terjauhnya berada di dekat orbit planet Mars.

            Menurut perkiraan Eugene Shoemaker, asteroid yang orbitnya mendekati orbit bumi ditaksir ada sekitar 1000-2000 buah yang ukurannya lebih dari 500 meter. Setengahnya adalah keluarga asteroid Apollo, hampir setengahnya keluarga asteroid Amor, dan hanya beberapa yang termasuk keluarga asteroid Aten.

            Asal usul asteroid dekat orbit bumi ini bisa berasal dari sabuk asteroid (kumpulan asteroid di antara orbit Mars dan Jupiter), tetapi bisa pula dari inti komet yang telah mati. Menurut perhitungan, kemungkinan tumbukan benda langit pada bumi sekitar setengahnya berasal dari asteorid dan setengahnya berasal dari komet. Karena itu kedua benda langit yang melintas dekat bumi itu tetap harus diwaspadai. Sejarah telah memberikan pelajaran betapa hebatnya dampak tumbukan asteroid dan komet pada bumi.

 

Asteroid Menabrak Bumi

            Sebuah asteroid pernah menabrak Bumi dan jatuh di Semenanjung Yukatan di tepi teluk Meksiko 65 juta tahun lalu. Asteroid itu ditaksir berukuran sekitar 10 kilometer seberat setriliun ton. Ini menyebabkan terbentuknya kawah raksasa berdiameter 180 km (hampir seluas Jawa Barat), menyebabkan gelombang raksasa di laut Karibia, dan menghamburkan debu ke atmosfer. Asteroid langsung menembus bumi sehingga sisa-sisanya tidak tampak lagi.

            Energi ledakannya setara dengan ledakan 5 miliar bom atom Hiroshima. Debu yang dihamburkan ke atmosfer ditaksir sekitar 100 triliun ton berdasarkan ketebalan endapan debu bercampur Iridium di seluruh dunia. Adanya logam Iridium yang jarang terdapat di Bumi, tetapi melimpah pada asteroid menjadi kunci pembuka tabir rahasia bahwa benda langit yang jatuh adalah asteorid.

            Debu-debu yang dihamburkan ke atmosfer sedemikian tebalnya sehingga menghambat masuknya cahaya Matahari. Hilangnya pemanasan Matahari menyebabkan Bumi dilanda musim dingin panjang yang dikenal sebagai "musim dingin tumbukan" (impact winter). Inilah yang diduga penyebab musnahnya hampir setengah makhluk hidup di Bumi, termasuk Dinosaurus.

 

Komet Menabrak Bumi

            Pagi 30 Juni 1908 terjadi ledakan besar di sekitar sungai Tunguska, Siberia Tengah, Rusia. Pukul 07:17 sebuah bola api raksasa meluncur dari langit sangat cepat. Nampaknya jauh lebih besar dari matahari tetapi lebih redup. Jejak di belakangnya tampak seperti ekor berwarna biru. Belum sempat mencapai bumi, pada ketinggian sekitar 8 km terjadilah ledakan dahsyat. Bumi terasa bergetar.

            Saksi mata pada jarak 80 km dari pusat ledakan merasakan embusan angin panas dan terlempar dari kursinya. Suara ledakannya terdengar dari jarak 800 km (kira-kira jarak lurus Serang - Surabaya). Pepohonan di bawah titik ledakan terbakar dan sekitar 2000 km persegi hutan diratakan oleh hempasan gelombang kejut.

            Bukti-bukti yang ada menyatakan bahwa terjadi ledakan hebat, gelombang kejutnya mampu merobohkan pepohonan pada areal yang luas, hutan di daerah pusat ledakan terbakar, tetapi tidak ada kawah yang terjadi di pusat ledakan itu. Bukti terbaru menunjukkan ditemukannya butiran-butiran intan halus tersebar di sekitar pusat ledakan. Bukti-bukti itu menunjukkan bahwa penyebab ledakan yang sangat mungkin adalah pecahan komet yang menabrak Bumi.

            Komet sebagian besar terdiri dari es (campuran air, metana, dan amoniak) dan sedikit butiran batuan halus. Karena itu komet sering disebut sebagai tersusun dari es berdebu. Butiran batuan itu mungkin juga mengadung intan seperti yang dijumpai pada meteorit. Ketika komet menembus atmosfer Bumi, gesekan dengan udara menimbulkan panas dan terlihat seperti bola api raksasa. Es akan menguap. Uap dan debu akan tampak seperti ekor pada bola api itu. Pengereman oleh atmosfer bumi dan pelepasan energi oleh komet menyebabkan timbulnya ledakan hebat di atmosfer. Energi dari bola api itu mampu membakar hutan di bawahnya dan gelombang kejut ledakkannya mampu menumbangkan pepohonan pada area yang sangat luas. Sisa-sisa butiran intan pada inti komet tidak terbakar dan jatuh ke bumi.

            Ditaksir komet itu berukuran 100 meter dengan berat sejuta ton dan bergerak dengan kecepatan 30 km/detik (108.000 km/jam). Diduga pecahan itu berasal dari komet Encke. Menurut perhitungan orbitnya, Bumi setiap tahun melintasi orbit komet Encke dua kali: sekitar 2 Juli dan sekitar 1 November. Pada saat perjumpaan sekitar 2 Juli, lintasan komet Encke berada di selatan Bumi dan komet datang dari arah Matahari. Itulah yang menyebabkan pecahan komet yang jatuh di Tunguska pada 30 Juni 1908 nampak berasal dari arah tenggara karena pengaruh rotasi Bumi dan tumbukan terjadi bukan pada malam hari.

 

Komet Swift-Tuttle

            Kabar tentang kemungkinan komet Swift-Tuttle menabrak bumi bermula dari edaran IAU (International Astronomical Union) bernomor 5636, 15 Oktober 1992. Brian G. Marsden, pemimpin biro pusat telegram astronomi di Cambridge, Massachusetts, mengumumkan hasil perhitungannya bahwa komet Swift-Tuttle akan kembali lagi mencapai perihelion pada 11 Juli 2126 dengan ketidakpastian 15 hari. Adanya ketidakpastian itu karena selain gaya-gaya gravitasi, pergerakan komet juga dipengaruhi oleh gaya-gaya lainnya yang merupakan dinamika mikronya yang tidak diketahui dengan pasti.

            Andaikan prakiraan Marsden hanya meleset kurang dari satu hari, seperti pada kehadiran Swift-Tuttle 1992, maka tidak perlu khawatir terjadi tumbukan. Komet Swift-Tuttle akan melintas orbit Bumi sebelum bumi sampai pada titik lintasan itu. Tetapi bila komet Swift-Tuttle mencapai perihelion pada batas rentang prakiraannya, 26 Juli 2126, hampir dipastikan komet itu akan bertemu bumi 19 hari kemudian. Pada tanggal 14 Agustus 2126 bumi tepat sampai pada titik persimpangan dengan orbit komet Swift-Tuttle.

            Perjumpaan pada titik persimpangan itu, yang dikhawatirkan merupakan tabrakan yang sangat dahsyat yang akan membahayakan kehidupan di bumi. Tetapi, melihat rentang ketidakpastiannya yang besar itu, manusia bisa bernafas lega karena kecil kemungkinannya terjadinya tabrakan komet Swift-Tuttle dengan bumi.

            Lagi pula, menurut perhitungan orbitnya, komet Swift-Tuttle sebenarnya tidak tepat memotong orbit bumi. Menurut perhitungan saya, komet hanya melintas dekat bumi pada jarak sekitar 1,8 juta km atau sekitar lima kali jarak bumi-bulan. Yang terjadi bukan tabrakan. Manusia di bumi pada saat itu mungkin akan menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Komet dapat terlihat siang hari pada awal Agustus dan hujan meteor Perseid (fenomena seperti bintang berjatuhan di langit utara) yang luar biasa akan terlihat sepanjang malam.

            Jadi, komet Swift-Tuttle sebenarnya tidak mengancam bumi. Bahaya dari langit yang sesunguhnya mungkin datang dari asteroid dan komet yang sama sekali belum pernah terdeteksi sehingga belum diketahui perilaku gerakan pada orbitnya. Dalam hal inilah pentingnya usulan para astronom untuk melakukan patroli langit dengan teleskop besar. Bila semua benda langit yang mungkin mengancam bumi berhasil diidentifikasikan, maka langkah-langkah antisipasi bisa disiapkan.

2009年1月

Kalender Syamsiah Masehi

Milenium dalam Perspektif Matematis Astronomis

(Di muat Pikiran Rakyat 30 Desember 1999)

 

T. Djamaluddin

             Peneliti LAPAN Bandung


Catatan: Sejarah Kalender Syamsiah Masehi perlu juga diketahui, terkait dengan kehidupan sehari-hari saat ini. Arsip tulisan lama ini masih relevan dalam melihat sejarah kalender masehi, jadi saya masukkan di blog dokumentasi saya.


            Memasuki tahun 2000 demam milenium melanda kehidupan kita sehari-hari. Tak terkecuali penamaan suatu produk yang sering dikaitkan dengan milenium. Ada warna milenium, ada model milenium, dan lainnya. Istilah milenium secara harfiah berasal dari bahasa Latin mille (seribu) dan annum (tahun). Jadi itu berarti seribu tahun. Sebenarnya tidak terlalu istimewa, kecuali bila dikaitkan dengan tahun kejadiannya: tahun 2000 atau 2001.

            Ada juga yang mengaitkan istilah itu dengan sebagian teologi Kristiani (terutama pada masa lalu), bahwa Yesus Kristus akan kembali ke bumi dan memerintah sebelum kiamat selama seribu tahun. Tetapi, tampaknya hal itu sama sekali tidak berkaitan dengan kedatangan tahun 2000. Sebab, tak seorang pun (baik yang mempercayai teologi itu, apalagi yang tidak) yang mengetahui kapan peristiwa itu akan terjadi.

            Bila kita perhatikan, istilah milenium baru populer ketika muncul kekhawatiran masalah komputer millenium bug. Makna sebenarnya millenium bug adalah "kegagalan [mesin/program akibat] milenium", bukan "kutu milenium" seperti yang banyak ditulis media massa. Kini istilah populer itu beralih sebutan menjadi masalah Y2K (year 2 kilo, tahun 2000) atau MKT 2000 (masalah komputer tahun 2000).

            Milenium kini telah menjadi kosa kata baru yang populer di masyarakat kita. Sebelumnya, ketika kita menyambut tahun 2000 kita hanya menyebutkan menyambut abad 21. Tidak banyak yang mempermasalahkan sebutan abad 21 untuk tahun 2000. Setidaknya kita sudah punya pengalaman ketika mencanangkan tahun 1400 Hijriyah sebagai awal abad ke-15, abad kebangkitan Islam.

            Saat ini muncul perbedaan pendapat tentang sebutan milenium. Padahal, bila teliti, masalahnya sama: tepatkah 1 Januari 2000 sebagai awal abad 21 atau awal milenium ke tiga? Tampaknya sebutan milemiun yang datangnya seribu tahun sekali lebih menarik perhatian dan keingintahuan banyak orang.

            Apakah pangkal semua persoalan perbedaan pendapat ini? Saya berpendapat, pangkal masalah adalah angka nol (0).

 

Nol

            Para perancang komputer tidak mengantisipasi angka nol ketika mendefinisikan tahun dengan dua bilangan terakhir. Pada sistem yang lama tersebut, misalnya tahun 1999 hanya ditulis 99. Menjelang tahun 2000 baru disadari bahwa sistem lama masih terpakai dan bisa berakibat fatal salah interpretasi data bila tahun 2000 hanya tertulis 00. Program-program yang menggunakan tanggal dari komputer akan menafsirkan tahun 00 itu sebagai tahun 1900, bukan tahun 2000. Tentu bisa mengacaukan data-data dan aktivitas yang terkait dengan tanggal dalam sistem komputer.

            Lain soal dengan penetapan kelender. Orang dahulu menetapkan tahun untuk kalender, baik syamsiah (berdasarkan matahari) maupun qamariyah (berdasarkan bulan), bermula dari angka 1. Hari pertama kalender Masehi adalah Sabtu, 1 Januari 1. Kalender Hijriyah pun demikian, diawali 1 Muharram 1. (tetapi dimaknai berbeda, 1 H bermakna 1 tahun sejak hijrah -- secara tidak langsung bermakna saat Nabi hijrah adalah tahun nol menurut definisi  sekarang). Sampai pertengahan abad 9 orang belum mengenal angka nol. Jadi, bukan karena melupakan angka nol, melainkan karena memang saat itu belum tahu.

            Tidak diketahui sejak kapan angka nol ditemukan. Tetapi, dokumen sejarah mencatat naskah tertua yang menuliskan bilangan nol berasal dari India yang ditulis pada tahun 876. Tetapi yang berjasa memperkenalkan angka nol dalam makna ilmiah adalah para ilmuwan Islam Arab yang mewarnai Eropa pada abad 12. Salah satu buktinya adalah penggunaan sebutan zero dalam bahasa Inggris yang berasal dari bahasa Arab shifr yang berarti kosong.

            Penggunaan angka nol telah dianggap sebagai salah satu penemuan cemerlang dalam sejarah matematika yang berpengaruh luas dalam kebudayaan modern. Sebagian pakar berpendapat bahwa hambatan serius yang dihadapi ahli matematika Yunani dan Romawi kuno dalam perkembangan ilmiahnya adalah ketiadaan simbol nol.

            Angka Romawi tidak mengenal angka nol. Bilangan dimulai dengan satu yang dituliskan I. Sepuluh ditulis X, 50 dilambangkan dengan L, 100 dengan C, 500 dengan D, dan 1000 dengan M. Suatu bilangan besar dinyatakan sebagai penambahan (diletakkan disebelah kanannya) atau pengurangan (diletakkan disebelah kirinya) lambang-lambang tersebut. Jadi 1999 dituliskan sebagai 1000 + 900 + 90 + 9 sebagai M+CM+XC+IX menjadi MCMXCIX. Memang tidak praktis, kecuali untuk bilangan kelipatan sederhana lambang-lambang tersebut, seperti 2000 yang cukup dituliskan MM.

            Kebudayaan Barat yang belum tersentuh budaya Islam menggunakan angka Romawi tersebut sampai abad 14. Sedangkan Spanyol dan wilayah Eropa lainnya yang bersinggungan dengan budaya Islam sejak abad 12 telah secara luas menggunakan sistem angka Arab (seperti yang kita kenal sekarang: 0, 1, 2,...).

 

Sejarah

            Angka nol menjadi masalah juga dalam menelusuri sejarah masa lampau. Ada keterputusan ungkapan tahun sebelum masehi dan sesudah masehi karena tidak dikenalnya tahun nol. Urutan tahun di sekitar pergantian sistem kalender masehi adalah tahun 2 SM (sebelum Masehi), 1 SM, 1 M, 2 M, dan seterusnya. Penulis sejarah matematika, dengan menggunakan notasi matematis menuliskan urutan tahun tersebut sebagai tahun -2, -1, 1, 2, dan seterusnya.

            Astronomi sebagai ilmu yang berperan menelusur waktu kejadian di masa lampau tidak menggunakan notasi metematis seperti itu. Secara astronomi, tahun 1 SM dianggap sebagai tahun 0 untuk memudahkan perhitungan waktu dalam penelusuran balik kejadian masa lampau.

            Kalender Masehi berakar dari kalender qamariyah Romawi yang semula mempunyai 10 bulan. Kalender Romawi ini berawal pada Maret dengan bulan ke tujuh, delapan, sembilan, dan sepuluh disebut September, Oktober, November, dan Desember. Penambahan bulan Januari dan Februari sebagai bulan ke-11 dan ke-12 terjadi sekitar tahun 700 SM.

            Kemudian terjadi lagi perubahan dari sistem qamariyah menjadi syamsiah seperti yang kita kenal sekarang, dengan jumlah hari setiap bulan 30 atau 31 hari, kecuali Februari 28 hari. Hari pertama setiap bulan disebut Kalendae (inilah asal mula sebutan "kalender"). Belum dikenal nama-nama 7 hari dalam sepekan.

            Perubahan sistem qamariyah ke syamsiah tidak dilakukan mendadak. Penyesuaiannya menggunakan sistem campuran dengan penambahan hari untuk penyesuaian dengan musim. Penambahan itu tidak beraturan. Kadang-kadang Kaisar memperpanjang atau memperpendek kalender semaunya. Masa itulah yang dikenal sebagai masa yang membingungkan untuk menelusur sejarah masa lampau.

            Untuk menghilangkan kebingungan itu, Kaisar Julius melakukan reformasi kalender atas saran penasihatnya astronom Sosigense pada tahun 46 SM. Reformasi itu menetapkan tiga hal. Pertama, vernal equinox (awal musim semi, saat malam dan siang sama panjangnya) ditetapkan 25 Maret dengan menjadikan tahun 46 SM lebih panjang 85 hari. Kedua, awal tahun ditetapkan 1 Januari 45 SM. Ke tiga, menetapkan jumlah hari dalam satu tahun 365 hari, kecuali setiap tahun ke empat menjadi tahun kabisat dengan penambahan hari pada bulan Februari.

            Penetapan awal musim semi 25 Maret ini berdampak juga pada penetapan 25 Desember sebagai titik balik utara. Pada saat itu posisi matahari berbalik dari titik paling utara menuju selatan. Maka 25 Desember dirayakan masyarakat Romawi sebagai hari Dies Natalis Solis Invicti (hari kelahiran Matahari yang tak terkalahkan). Tanggal inilah yang kemudian dianggap sebagai tanggal kelahiran Yesus Kristus (hari Natal), karena memang tak ada catatan sejarah tanggal pastinya kelahiran Nabi Isa tersebut.            

            Penetapan tahun Masehi baru dilakukan pada tahun 532 M atas usulan rahib Denys le Petit. Berdasarkan penelitiannya, dia menyimpulkan tahun kelahiran Nabi Isa bertepatan dengan tahun Romawi 753. Maka tahun Romawi 753 tersebut ditetapkan sebagai tahun 1 Masehi. Walaupun belakangan kalangan gereja menemukan bukti lain bahwa kelahiran Nabi Isa sebenarnya beberapa tahun sebelum itu, berdasarkan naskah-naskah tentang kematian Herod (penguasa Palestina pada Zaman Nabi Isa).

           

Milenium

            Astronom sebenarnya tidak peduli dengan istilah milenium. Karena dalam astronomi kronologi kejadian umumnya dinyatakan dalam hari Julian (Julian day) yang didefinisikan bermula dari tengah hari 1 Januari 4713 SM. Penetapan awal periode ini pun sebenarnya tidak punya arti astronomis, tetapi sekadar memenuhi siklus dalam sistem kalender lama: siklus metonik (19 tahunan) serta siklus dalam kalender Romawi indiksi (15 tahun) dan dominis (28 tahun).

            Siklus metonic berasal dari sistem kalender Yunani dan Arab kuno (Babilonia dan sekitarnya) bahwa 19 tahun syamsiah sama dengan 235 bulan qamariyah. Sedangkan siklus dominis 28 tahun, tampaknya berasal dari keberulangan kalender Julian dengan susunan hari yang sama. Pembagian sepekan menjadi tujuh hari baru masuk Eropa sekitar abad ke-3, diadopsi dari tradisi Yahudi dan Arab kuno. Jumlah hari dalam 28 tahun itu (28 x 365,25 hari) sama dengan 1461 pekan. Belum diketahui alasan siklus indiksi.

            Dengan menggunakan hari Julian tersebut 1 Januari tahun 1 dinyatakan sebagai hari ke 1.721.423,5. Sedangkan 1 Januari 2000 adalah hari ke 2.451.544,5. Jadi kalender Masehi sampai saat tahun baru 2000 telah menjalani 730.121 hari. Itu berarti, andaikan sejak awal menggunakan sistem kalender Gregorian seperti yang saat ini berlaku, 1 Januari 2000 semestinya baru tanggal 2 Januari 1999.

            Sepanjang sejarah kalender Masehi telah terjadi dua kali reformasi. Pertama, tahun 325 M ketika vernal equinox ternyata telah bergeser dari 25 Maret menjadi 21 Maret. Tetapi, tidak terjadi pergeseran hari, hanya ditetapkan tanggal baru untuk vernal equinox, yaitu 21 Maret. Ini berpengaruh pada penetapan hari besar Kristiani. Paskah ditentukan setiap hari Minggu pertama setelah purnama pada atau sesudah vernal equinox. Itu berarti berpengaruh juga pada penetapan hari Wafat Isa Almasih dan hari Kenaikan Isa Almasih.

            Reformasi ke dua pada 1582 disebut reformasi Gregorian. Karena satu tahun syamsiah rata-rata 365,2422 hari, sedangkan kalender Julian menetapkan rata-rata 365,25 hari, awal musim semi saat itu diketahui telah bergeser jauh menjadi tanggal 11 Maret. Maka dilakukan reformasi dalam dua hal agar awal musim semi kembali menjadi tanggal 21 Maret.

            Reformasi Gregorian pertama menghapuskan 10 hari dari tahun 1582 dengan menetapkan hari Kamis 4 Oktober langsung menjadi hari Jumat 15 Oktober.  Ke dua, rata-rata satu tahun ditetapkan 365,2425 hari. Caranya, tahun kabisat didefinisikan sebagai tahun yang bilangannya habis dibagi empat, kecuali untuk tahun yang angkanya kelipatan 100 harus habis dibagi 400. Dengan aturan tersebut tahun 1700, 1800, dan 1900 bukan lagi dianggap sebagai tahun kabisat. Tahun 2000 adalah tahun kabisat.

            Ketika istilah milenium yang berawal dari masalah komputer mulai memasyarakat, orang mulai bertanya, tepatkah 1 Januari 2000 disebut sebagai awal Milenium ke tiga. Para astronom yang ditanya tentu akan mengacu pada sejarah. Karena milenium berarti kurun waktu seribu tahun, sedangkan milenium pertama dimulai 1 Januari tahun 1, maka milenium ke-3 semestinya 1 Januari 2001.

            Tetapi, di masyarakat terlanjur menggunakan istilah milenium dalam konteks seperti millenium bug, sekadar melihat angkanya. Kalau demikian lupakan sejarah, lihatlah pada angka tahunnya. Astronom pun kemudian ditanya, mengapa angka 2000 sudah dianggap sebagai milenium ke-3 atau abad 21. Secara astronomi hal itu masih dapat dibenarkan.

            Dalam astronomi suatu tanggal lazim dituliskan sebagai fraksi tahun. Pukul 00:00 1 Januari 2000 bila ditulis dengan desimal menjadi tahun 2000,0. Sedangkan pukul 00:00 23 Januari 2000 dapat dinyatakan sebagai tahun 2000,06284 (dari 2000,0 + 23/366, karena tahun 2000 berjumlah 366 hari). Karenanya setiap tanggal sesudah 1 Januari 2000 dapat dinyatakan dengan angka yang lebih besar dari 2000. Itu berarti tidak termasuk lagi sebagai abad 20 atau milenium 3. Jadi, mestinya sudah boleh dinyatakan sebagai bagian dari abad 21 atau milenium 3. Kalau demikian, beralasan juga untuk menetapkan 1 Januari 2000 sebagai awal abad 21 atau milenium 3.

2009年1月

Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009

Shalat Gerhana

Ketika terjadi gerhana umat Islam disunnahkan shalat gerhana serta memperbanyak istighfar dan shadaqah. Tentu saja, renungan ayat-ayat kauniyah juga harus ada, bukan sekadar aspek ibadahnya. Oleh karenannya sangat disarankan pada saat puncak gerhana, jamaah berkesempatan juga untuk melihat langsung proses gerhananya, bagaimana bulan menutup piringan matahari sedikit demi sedikit, lalu keluar lagi dari piringan matahari.

Kapan waktu shalat gerhana? Gerhana matahari waktunya ditentukan oleh gerakan bayangan bulan melintasi suatu daerah. Jadi, berbeda dengan gerhana bulan, kita harus melihat data gerhana untuk setiap daerah. Kalau tidak cermat, kita bisa mengumumkan informasi yang keliru, seperti yang termuat di Harian PR Selasa, 20 Januari 2009 tentang seruan ormas-ormas Islam terkait dengan gerhana. Pada pengumuman itu waktu gerhana merujuk pada data global gerhana matahari.

Untuk gerhana matahari 26 Januari 2009, seluruh wilayah Indonesia dapat menyaksikan gerhana menjelang matahari terbenam. Waktu gerhana di Bandung mulai pukul 15.20 - 17.49 WIB. Untuk daerah-daerah lain di Indonesia, waktu gerhana sekitar waktu itu plus-minus 10 menit. Jadi, kalau perlu mengumumkan ke semua cabang ormas Islam di seluruh Indonesia, disarankan rentang waktu shalat gerhana antara pk 15.40 - 17.30 WIB.

Bagaimana cara shalat gerhana? Shalat gerhana dilakukan berjamaah di masjid dan sesudahnya ada khutbah, seperti shalat hari raya (Id) dengan bacaan Al-Quran yang terdengar. Caranya seperti shalat hari raya 2 rakaat, hanya setiap rakaat ada dua kali ruku. Jadi, setelah ruku pertama yang agak panjang kembali berdiri lalu membaca Al-Fatihah dan surat lainnya baru ruku lagi dan sujud seperti biasa. Khutbah berisi anjuran istighfar (mohon ampunan Allah), bershadaqah, dan menjelaskan tentang fenomena gerhana.

Apa sih maknanya? Gerhana adalah peristiwa alam yang menunjukkan ketundukan alam pada Khaliqnya (Penciptanya). Maka selayaknya kita juga menunjukkan ketaatan kepada Allah dengan melakukan shalat gerhana. Matahari dan bulan tak pernah penyalahi hukum-Nya, sehingga manusia pun dapat memperkirakan secara tepat waktu terjadinya gerhana. Manusia karena nafsunya sering kali, sengaja atau tak sengaja, menyalahi hukum Allah, maka sudah selayaknya peristiwa gerhana mengingatkan kita untuk memperbanyak istighfar.

 

Matahari dan bulan bisa beriringan dan berdampingan memperlihatkan keharmonisan yang kadang menunjukkan fenomena cincin atau mahkotanya yang indah (korona) yang biasanya tidak terlihat. Ini mengajarkan kita untuk juga dapat berjalan beriringan dan berdampingan dengan sesama manusia, maka sudah selayaknya itu direpresentasikan dalam bentuk anjuran memperbanyak shadaqah. Lalu khatib pun perlu mengingatkan bahwa gerhana matahari adalah fenomena alam yang tidak terkait dengan kelahiran atau kematian seseorang dan tidak terkait dengan nasib manusia atau bencana alam, tetapi merupakan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya di alam. (Rincian fenomena gerhana dapat di lihat di http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!553.entry)

 



2009年1月

Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009

Pengamatan Gerhana Mungkin Terganggu Cuaca Buruk

 

T. Djamaluddin

Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika, LAPAN

 

Gerhana matahari cincin akan terjadi di wilayah Indonesia pada 26 Januari 2009. Provinsi yang terlintasi adalah Banten, Lampung, Sumatera Selatan, Bangka-Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Tengah. Wilayah lain di Indonesa akan menyaksikan gerhana matahari sebagian dengan penutupan piringan matahari lebih dari 50%. Pengamat akan menyaksikan gerhana matahari cincin selama antara 1 menit di tepi jalur gerhana (misalnya sekitar Serang dan Samarinda)  sampai 6 menit di pusat jalur gerhana (misalnya sekitar  Bandar Lampung). Sayangnya, gerhana ini teramati di Indonesia sore hari menjelang matahari terbenam dan kejadiannya pada musim hujan sehingga kemungkinan gangguan mendung atau hujan sangat besar.

 

Apa gerhana matahari cincin itu? Gerhana matahari adalah fenomena tertutupnya piringan matahari oleh piringan bulan pada saat bulan berada di antara matahari dan bumi. Secara umum gerhana matahari dibagi 2: gerhana matahari sentral (gerhana matahari total [GMT] dan gerhana matahari cincin [GMC]) dan gerhana matahari sebagian. Gerhana matahari cincin terjadi pada saat piringan matahari tidak tertutup penuh oleh piringan bulan, sehingga tampak seperti cincin yang melingkari bulan yang tampak gelap. Jadi pada saat gerhana matahari cincin, tidak akan gelap seperti malam. Pada gerhana matahari cincin kali ini penutupan bagian tengah piringan matahari sekitar 93 – 96%.

 

Pada 26 Januari 2009 jarak matahari dari bumi 0,985 Satuan Astronomi (SA), lebih dekat dari rata-ratanya sejauh 1 SA = 150 juta km. Akibatnya, diameter sudut matahari lebih besar dari rata-rata sekitar 0,5 derajat (kira-kira setengah lebar telunjuk kalau lengan kita rentangkan ke arah langit). Sedangkan bulan berjarak 401.915 km dari bumi, yang berarti lebih jatuh dari rata-ratanya sejauh 384.000 km. Akibatnya, diameter sudut bulan menjadi lebih kecil dari rata-ratanya. Saat itu, diameter matahari 32’ 32” dan diameter sudut bulan 29’ 43”.

 

Adakah bahayanya? Secara umum tidak berbahaya untuk melihat gerhana, namun disarankan untuk menggunakan pelindung mata agar tidak terlalu silau saat menjelang dan sesudah gerhana. Gerhana matahari cincin relatif lebih aman daripada gerhana matahari total, karena perubahan kecerlangannya tidak sedrastis gerhana matahari total. Pada gerhana matahari total saat yang dikhawatirkan adalah saat peralihan dari gelap saat bulan penutupi matahari menuju tersibaknya matahari. Pada saat gelap itu pupil mata membesar sehingga bila tiba-tiba matahari tersebak dengan cahayanya yang kuat, cahayanya bisa membakar retina dan berpotensi menimbulkan kebutaan. Tetapi pada gerhana matahari cincin, kegelapan itu tidak total, sehingga pupil mata tidak terlalu besar. Dari fase gerhana cincin ke gerhana sebagian intensitas cahaya yang masuk mata tidak terlalu besar perubahannya. Walau bagaimana pun kewaspadaan tetap diperlukan. Jangan terlalu asyik melihat gerhana yang beberapa menit itu. Tetapi juga jangan menghindar melihat fase cincin, karena itu fase yang indah untuk dilihat dan diabadikan. Bagi penggemar fotografi, kalau cuaca cerah, cincin melingkar sangat indah diabadikan dengan latar depan siluet panorama gunung atau pepohonan. Gerhana menjelang matahari terbenam memungkinkan untuk sekaligus memotret objek latar depannya.

 

Adakah dampaknya pada bumi? Gerhana adalah peristiwa biasa, seperti halnya  bulan baru setiap bulan. Dampak yang terasa adalah pasang maksimum di laut sekitar tengah hari dan tengah malam. Mungkin juga pasang maksimum itu memicu terjadinya gempa, walau sulit diprakirakan tempatnya. Terjadinya gempa kecil menjelang gerhana matahari total 1983 di jalur gerhana di Jawa Timur, mengindikasi kemungkinan efek pasang maksimum saat gerhana matahari bisa juga memicu terjadinya gempa.

 

Kapan waktu gerhana dimasing-masing lokasi, terkait dengan perencanaan pengamatan dan shalat gerhana? Di situs NASA

 http://eclipse.gsfc.nasa.gov/SEgoogle/SEgoogle2001/SE2009Jan26Agoogle.html

dapat diperoleh info rinci untuk lokasi yang kita pilih. Cukup klik di titik lokasi, kita akan mendapatkan info waktu mulai gerhana pada setiap tahapnya. Tetapi harus diingat, waktu yang tercantum adalah Universal Time (UT)/GMT, jadi untuk mendapatkan WIB harus ditambahkan 7. Contohnya, di Bandar Lampung, gerhana sebagian mulai pukul 08.19 UT atau 15.19 WIB. Gerhana matahari cincin terjadi mulai 16.38 – 16.44 WIB. Proses gerhana akan selesai pukul 17.51 WIB. Shalat gerhana dilakukan dalam rentang waktu mulai sampai akhir gerhana sebagian. Disarankan, kalau cuaca cerah, pada saat gerhana matahari cincin yang hanya berlangsung 6 menit jamaah dapat melihat fenomena itu dan bertasbih memuji keagungan Allah.

  Di Jakarta yang teramati adalah gerhana matahari sebagian dengan penutupan piringan matari 91%. Gerhana mulai 15.20 – 17.50 WIB. Pada rentang waktu itulah dilakukan shalat gerhana. Di Bandung penutupan piringan matahari 88%. Gerhana mulai pukul 15.20 – 17.49 WIB.


2009年1月

Purnama-Bulan Baru Pemicu Gempa?

LAGI, KAJIAN TAMBAHAN

PURNAMA DAN BULAN BARU SALAH SATU PEMICU GEMPA

 

            Sewaktu wartawan Kompas bertanya soal prakiraan cuaca umum selama Januari 2009, saya singgung juga kemungkinan efek penguatan potensi oleh pasang maksimum saat bulan purnama dan bulan baru. Artinya, bila cuaca buruk yang berpotensi banjir, dampaknya akan bertambah parah kalau itu terjadi saat bulan purnama (sekitar 11 Januari 2009) atau sekitar bulan baru (sekitar 26 Januari 2009). Pembicaraan kemudian menyinggung juga dampak lain dari pasang surut bulan-matahari. Saya ceritakan kemungkinan pengaruhnya sebagai pemicu gempa. [Sebenarnya saya beralih posisi nara sumber. Ketika berbicara tentang cuaca dan iklim kapasitas saya adalah Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim. Tetapi ketika bicara soal bulan baru dan purnama, kapasitas saya adalah Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika]  Ini beritanya:

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/06/2153442/bulan.baru.dan.purnama.jadi.alternatif.peringatan.dini

Bulan Baru dan Purnama Jadi Alternatif Peringatan Dini

 

Selasa, 6 Januari 2009 | 21:53 WIB

BANDUNG, SELASA — Fenomena bulan baru dan bulan purnama berpotensi dijadikan alternatif lain sistem peringatan dini menjelang kejadian bencana alam gempa bumi. Fenomena bulan baru dan purnama dikatakan berpotensi menyebabkan pelepasan energi di lempeng bumi.

Demikian dikatakan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaludin, Selasa (6/1), terkait alternatif astronomi dalam sistem peringatan dini gempa bumi.

Menurut Thomas, hal itu disebabkan perbedaan dua arah gaya bumi, menuju dan menjauhi bulan atau matahari. Hal itu dikatakannya rentan mengganggu atau melepaskan energi dalam struktur lempeng bumi, khususnya di daerah perbatasan waktu pagi dan magrib.

"Dengan adanya kejadian ini, sangat mungkin lempengan yang sudah rawan lantas bergerak," katanya.

Bulan purnama, dikatakan Thomas, terjadi ketika bumi berada di antara bulan dan matahari. Untuk Januari 2009, bulan purnama pada tanggal 11 Januari. Sementara itu, bulan baru ketika bulan berada di antara matahari dan bumi dan terjadi tanggal 26 Januari 2009.

Thomas memberikan beberapa contoh gempa bumi yang terjadi di Indonesia beberapa waktu terakhir. Beberapa di antaranya bahkan berkekuatan tinggi dan memakan banyak korban jiwa.

Di antaranya, gempa Alor pada 12 November 2004 terjadi menjelang bulan baru, 28 Ramadhan 1425 dan gempa Nabire pada 26 November 2004 terjadi menjelang purnama, 13 Syawal 1425.

Selain itu, gempa Aceh pada 26 Desember 2004 terjadi saat purnama, 14 Dzulqaidah 1425; gempa Simeulue pada 26 Februari 2005 terjadi setelah purnama, 16 Muharram 1426; dan gempa Nias pada 28 Maret 2005 terjadi setelah purnama, 17 Safar 1426. Gempa Mentawai pada 10 April 2005 terjadi pada bulan baru, 1 Rabiul Awal 1426, dan gempa Yogya pada 27 Mei 2006, terjadi menjelang bulan baru, 29 Rabiuts Tsaniah 1427, juga termasuk di dalamnya.

Oleh karena itu, ia mengharapkan agar para ahli dan pakar gempa bumi bisa menimbang hal ini sebagai salah satu sumbangan peringatan dini gempa bumi. Diharapkan, dalam bulan baru dan purnama, kewaspadaan bisa ditingkatkan. Tujuannya, agar kejadian gempa bumi tidak menimbulkan korban.

Bagi masyarakat, hal ini bisa dijadikan pegangan. Bagi mereka yang hidup di daerah rawan bencana gempa bumi, hal ini merupakan sumbangan peringatan dini lainnya. Dengan begitu, mereka diharapkan bisa mandiri mempersiapkan sebelumnya atau menyelamatkan diri ketika terjadi gempa bumi. CHE

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sebelumnya, pemaparan saya yang serupa pernah dimuat juga oleh media lain

http://www.detiknews.com/read/2006/09/07/102136/670405/10/antara-gerhana-bulan-gempa-dan-gunung-meletus

http://www.antara.co.id/arc/2007/5/23/bulan-purnama-picu-pelepasan-energi-di-lempeng-bumi/ dan http://www.ristek.go.id/index.php?mod=News&conf=v&id=1821

 

Mengapa purnama dan bulan baru bisa menjadi pemicu, secara sederhana teman geologist memaparkannya dalam dongeng geologinya

http://rovicky.wordpress.com/2007/10/26/mengapa-efek-bulan-menjadi-pemicu-trigger-gempa/

Dukungan kajian ilmiahnya bisa juga dilihat di

http://rovicky.wordpress.com/2006/06/18/efek-bulan/

 

Kemarin saya mengkaji data yang agak panjang, data gempa di Indonesia selama tahun 2000 sampai 3 Januari 2009 yang magnitudonya lebih dari 6. Ada hal yang menarik (ini juga saya sampaikan kepada wartawan Kompas tadi pagi), dari 208 kejadian gempa 86 diantaranya bersesuaian dengan kejadian purnama dan bulan baru (dalam rentang plus minus dua hari, artinya efek pasang maksimum bulan-matahari masih ada). Kalau dilihat jam kejadiannya, sebagian besar dari 86 gempa tersebut terjadi sekitar tengah hari atau tengah malam dan pagi atau maghrib (plus minus 2 jam). Namun frekuensi kejadiannya lebih banyak sekitar tengah malam atau tengah hari.

 

Contohnya, gempa Aceh 26 Desember 2004 terjadi pada saat bulan purnama pada pagi hari pukul 07.59 WIB (secara astronomi pukul 07.22 waktu lokal). Gempa Padang-Mentawai 8 April 2005 terjadi saat bulan baru pada tengah hari pukul 12:48 WIB. Gempa Yogya 26 Mei 2006 terjadi sekitar bulan baru pada 05:53 WIB.

 

Bagaimana mekanisme kejadian gempa sekitar tengah malam atau tengah hari dan pagi atau maghrib? Saya menduga itu terkait dengan gaya pasang surut yang memicu gempa. Kejadian sekitar tengah malam atau tengah hari berarti gaya pemicunya arahnya vertikal, semacam mengangkat salah satu bagian lempeng sehingga terjadi pelepasan energi berupa gempa. Kejidian sekitar pagi atau maghrib arah gaya pasang surutnya relatif mendatar ke arah Barat-Timur. Bisa jadi, mekanisme pemicu pelepasan energi relatif lebih mudah untuk gaya vertikal sehingga frekuensi kejadiannya lebih banyak. Ditambah lagi dengan persyaratan arah patahan. Untuk gaya horizontal, arah patahan yang membentang Utara-Selatan yang berpotensi terpicu oleh gaya yang arahnya Barat-Timur. Untuk gaya vertikal, arah patahan tidak menjadi prasyarat.

2009年1月

Matahari Maksimum-Minimum

Q&A Sekitar Aktivitas Matahari

Terkait isu kiamat 2012 dan puncak aktivitas matahari 2011-2012,  http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!475.entry

beberapa wartawan mewawancarai saya via telepon dan via e-mail. Berikut kutipan wawancara tertulis dan jawaban saya untuk melengkapi catatan saya tersebut.

 

T: Apa yang dimaksud aktivitas matahari?

J: Aktivitas matahari adalah kondisi dinamik di matahari akibat perubahan medan magnetiknya yang terutama ditunjukkan dengan variasi jumlah bintik matahari (sunspot), termasuk ledakan matahari (flare), semburan gas matahari (prominensa atau filamen), dan lontaran materi korona (CME, Coronal mass ejection).

 

T: Apa yang dimaksud dengan siklus matahari? Bagaimana cara mengamati dan menentukan siklus matahari?

J: Jumlah bintik matahari diketahui bervariasi dengan periode sekitar 11 tahun (kenyataannya antara 9 - 12 tahun). Variasi periodik ini disebut siklus matahari (solar cycle). Pengamatan siklus matahari terutama dari bintik matahari dan pancaran gelombang radio dari matahari (fluks radio matahari). Bilangan bintik matahari (sunspot number = R) didefinisikan dengan R=k (10g+s), k faktor koreksi tergantung teleskop dan pengamatnya -- untuk standarisasi internasional, g jumlah kelompok bintik matahari, s jumlah bintik individual di seluruh kelompok. R diamati setiap hari di seluruh dunia, termasuk di LAPAN, kemudian akan digabungkan untuk mendapatkan R internasional.

 

T: Apa yang dimaksud dengan aktivitas matahari maksimum?

J: Aktivitas matahari maksimum (solar maximum) terjadi saat puncak aktivitas magnetiknya. Pada saat itu bilangan bintik matahari maksimum. Pada rentang waktu 1900 - sekarang bilangan bintik matahari saat matahari maksimum sekitar 63 - 190.

 

T: Apa karakteristik matahari pada titik maksimum? Misalnya Flare itu apa? Sunspots? coronal mass ejections (CME's)?

J: Pada saat matahari maksimum karakteristik utamanya adalah jumlah bilangan bintik matahari maksimum, radiasi matahari maksimum, fluks radio juga maksimum. Pada saat itu frekuensi kejadian flare dan CME juga meningkat. Badai matahari adalah kondisi ketika terjadi flare atau CME tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa saat matahari maksimum itu frekuensi kejadian badai matahari juga mencapai maksimum.

 

T: Adakah partikel yang dihasilkan saat terjadi titik maksimum tersebut?

J: Partikel berenergi yang dilontarkan dari matahari terutama proton dan elektron.

 

T: Sebelumnya kapan itu terjadi? Diperkirakan akan terjadi kapan lagi?

Tahun-tahun puncak aktivitas matahari 1905, 1917, 1928, 1937, 1947, 1957, 1968, 1979, 1989, dan 2000. Diperkirakan siklus berikutnya (disebut siklus 24) maksimum tahun 2011-2012.

 

T: Dampak (badai matahari)? Bagi bumi dan ruang antar planet? 

J: Pada saat terjadi badai matahari dengan lontaran proton dan elektron berenergi tinggi berpotensi mengganggu satelit dan membahayakan astronot. Operasional satelit bisa terganggu pada saat itu. Karena lontaran partikel itu juga membawa medan magnetik matahari, kejadian itu juga bisa mengganggu medan magnetik bumi dan ionosfer.  Gangguan pada medan magnetik bumi dapat menyebabkan terbukanya celah medan magnetik bumi sekitar kutub sehingga partikel bermuatan itu (proton dan elektron) dapat masuk ke atmosfer bumi yang dapat membentuk aurora dan dapat menginduksi jaringan listrik di negara-negara dekat kutub. Tahun 1989 trafo di Quebec Kanada terkena induksi hingga terbakar dan mematikan listrik di daerah yang luas. Induksi terhadap jaringan listrik tidak mungkin terjadi di wilayah ekuator, seperti di Indonesia. Gangguan medan megnetik juga mengganggu migrasi burung yang menggunakan medan magnetik sebagai pemandu arahnya. Gangguan ionosfer mengganggu komunikasi radio gelombang pendek yang menggunakan ionosfer sebagai pemantul, sehingga komunikasi radio bisa terputus.

 

T: Apa yang harus diwaspadai?
J: Pada saat itu kemungkinan gangguan satelit mungkin saja terjadi sehingga semua fasilitas yang memanfaatkan satelit bisa saja terganggu. Jadi, harus waspada kemungkinan terganggunya siaran televisi, komunikasi telepon, dan jaringan ATM.

 

T: Apa antisipasinya?

J: Untuk mengantisipasi kemungkinan dampak negatif itu, operator satelit harus mengikuti terus prakiraan badai matahari dan mengambil langkah-langkah pengamatan. Beberapa satelit sistemnya dimatikan pada saat terjadi badai matahari untuk mengantisipasi kemungkinan kerusakan instrumennya yang peka terhadap masuknya partikel bermuatan.

 

T: Mengapa pucak titik maksimum dari aktivitas matahari yang diperediksi pada 2012 begitu heboh dari sebelumnya?

J: Bisa jadi karena dikaitkan dengan ramalan dalam kalender suku Maya bahwa 21 Desember 2012 akan terjadi kiamat yang banyak dirujuk media massa. Secara saintifik dan akidah agama, prakiraan kiamat tidak mempunyai dasar.

 

T: Apa yang dimaksud dengan aktivitas matahari pada titik minimum? Karakteristik dari matahari pada titik minimum?

J: Aktivitas matahari minimum (solar minimum) adalah kondisi tenang matahari, yang ditandai dengan sedikitnya atau tidak adanya bintik matahari di permukaannya. Pada saat itu tidak ada flare, CME, dan radiasi matahari pun minimum.

 

T: Sebelumnya kapan itu terjadi? Diperkirakan akan terjadi kapan lagi?

J: Tahun-tahun matahari minimum 1901, 1913, 1923, 1933, 1944, 1954, 1964, 1976, 1986, dan 1996. Diperkirakan selanjutnya 2016.

 

T: Manfaatnya?

J: Pada saat matahari minimum potensi gangguan badai matahari tidak ada. Sehingga aktivitas astronot dan eksperimen antariksa yang memerlukan kondisi tenang banyak dilakukan. Pada saat itu kerapatan atmosfer bumi juga minimum sehingga hambatan udara pada satelit juga minimum, sehingga satelit orbit rendah yang diluncurkan saat matahari minimum berpotensi lebih lama mengorbit.

 

2008年12月

Isu Kiamat 2012

Puncak Aktivitas Matahari 2011-2012 terkait Isu Kiamat 2012?

T. Djamaluddin
Peneliti Utama Astronomi Astrofisika, LAPAN

Ini catatan terlambat, tetapi belum basi. Rasanya klarifikasi ini perlu dilakukan karena LAPAN disebut-sebut juga terkait dengan isu kiamat 2012 yang sempat beredar di internet. Keterkaitannya adalah bersumber dari berita yang seolah-olah prakiraan puncak aktivitas matahari 2011 - 2012 dikaitkan dengan isu tersebut. Ini beritanya:

Kompas 26 November 2006
Isu Kiamat Tahun 2012 yang Meresahkan
http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/26/13072198/Isu.Kiamat.Tahun.2012.yang.Meresahkan
Rabu, 26 November 2008 | 13:07 WIB

Oleh Yuni Ikawati

Di internet saat ini tengah dibanjiri tulisan yang membahas prediksi suku Maya yang pernah hidup di selatan Meksiko atau Guatemala tentang kiamat yang bakal terjadi pada 21 Desember 2012.

Pada manuskrip peninggalan suku yang dikenal menguasai ilmu falak dan sistem penanggalan ini, disebutkan pada tanggal di atas akan muncul gelombang galaksi yang besar sehingga mengakibatkan terhentinya semua kegiatan di muka Bumi ini.

Di luar ramalan suku Maya yang belum diketahui dasar perhitungannya, menurut Deputi Bidang Sains Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Bambang S Tedjasukmana, fenomena yang dapat diprakirakan kemunculannya pada sekitar tahun 2011-2012 adalah badai Matahari. Prediksi ini berdasarkan pemantauan pusat pemantau cuaca antariksa di beberapa negara sejak tahun 1960-an dan di Indonesia oleh Lapan sejak tahun 1975.

... dst (dipenggal)
Di beberapa milis, tampaknya sampai awal Desember isu kiamat 2012 masih dibahas. Termasuk juga di Forum Elshinta ada yang menanyakan:
http://www.elshinta.com/v2003a/forum/topic.asp?TOPIC_ID=180 :
Posted - 12/02/2008 :  21:50:45  Show Profile  Reply with Quote


Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) saat ini sedang gencar melakukan langkah-langkah antisipasi untuk menekan dampak badai antariksa yang diprediksi terjadi pada 2011-2012.

Suku Maya yang hidup jaman dahulu kala di dekat sekitar Mexico, yang punya penanggalan akurat, percaya bahwa kiamat akan tiba pada tgl. 20 Desember 2012.

Percaya atau tidak, apa antisipasi kita (paling tidak) terhadap badai antariksa yang akan mematikan cellphone, GPS, dll.?


Oleh karenanya radio Elshinta menelpon saya dan mengangkatnya dalam dialog interaktif 2 Desember 2008 mulai pukul 23.00 WIB bertopik 'Ancaman Badai Matahari Terhadap Bumi, Nyata atau Isapan Jempol?' Dalam dialog interaktif dengan penyiar dan pendengar, saya menjelaskan bahwa aktivitas matahari adalah fenomena biasa yang mempunyai siklus 11 tahunan, sehingga tidak terkait dengan isu kiamat. Kalau pun terjadi kerusakan yang dikhawatirkan, lebih disebabkan karena makin banyaknya teknologi manusia yang ditempatkan di antariksa atau pun di bumi yang rentan terhadap badai matahari. Ini berita tentang dialog interaktif itu  http://www.elshinta.com

3/12/2008 0:05 WIB - [ TEKNOLOGI ]
Peneliti : ''Waspadai Ancaman Badai Matahari''


Suwiryo - Newsroom, 'Ancaman Badai Matahari Terhadap Bumi, Nyata atau Isapan Jempol?' Demikian topik Diskusi Interaktif Radio Elshinta, Selasa, 2 Desember 2008 dengan menghadirkan nara sumber DR. Thomas Jamaluddin yang adalah peneliti utama astronomi Astrofisika, LAPAN.

Menurut Thomas, badai matahari merupakan bagian dari cuaca di antariksa, dimana kondisi dinamis di ruang antara matahari dan bumi. Semua ini mirip dengan cuaca di bumi hanya saja sifatnya yang berbeda. Penggerak kondisi di antariksa adalah matahari.

Dikatakan Thomas, dalam kondisi tertentu matahari juga melepas partikel berenergi, yang disebut badai matahari. Dimana terjadi peningkatan aktivitas matahari yang mendadak yang berpengaruh terhadap ruang antar planet.

Thomas menjelaskan, secara umum badai matahari memang tidak berdampak langsung pada manusia, namun yang jelas mendapat dampak adalah benda-benda dan astronot yang berada di antariksa.

Sedangkan pengaruhnya pada bumi, adalah di wilayah kutub yang akan menerima dampak pertama kali dari badai matahari itu, kata Thomas.  

Dampak berbahaya dari badai matahari utamanya adalah bagi fasilitas teknologi manusia, seperti yang terjadi pada aktivitas matahari 2000 lalu dimana puncak aktivitas matahari dalam kondisi tertentu banyak kejadian gangguan pada satelit komunikasi, dan kerusakan pada sistem pada satelit itu.

Yang pasti harus disiapkan antisipasi untuk menghadapi badai matahari yang merupakan siklus 11an tahun itu, tandas Thomas. (sik)


Selanjutnya  di Forum Elshinta ( http://www.elshinta.com/v2003a/forum/topic.asp?TOPIC_ID=180 ) saya tambahkan:
"Ada yang harus diluruskan. Tahun 2011-2012 adalah puncak aktivitas matahari siklus 24. Siklus aktivitas matahari mempunyai periode sekitar 11 tahun. Puncak aktivitas matahari sebelumnya 1979, 1989, dan 2000. Pada saat puncak aktivitas itu, bintik matahari akibat aktivitas magnetiknya meningkat jumlahnya. Pada saat-saat itu badai matahari berupa lontaran partikel berenergi tinggi dan emisi gelombang elektromagnetik (berupa flare) frekuensi kejadianya juga meningkat. Tetapi badai matahari tidaklah berakibat kiamat. Gangguan yang perlu dicermati hanya pada sistem teknologi yang ditempatkan di antariksa (satelit komunikasi dan navigasi) serta sistem teknologi di bumi yang rentang terhadap induksi partikel energetik dari matahari yang masuk ke bumi lewat kutub. Bila terjadi badai matahari potensi bahaya hanyalah kemungkinan rusaknya atau terganggunya satelit. Akibatnya antara lain gangguan telepon, siaran TV yang memanfaatkan satelit, jaringan ATM. Juga navigasi pada sistem penerima GPS frekuensi tunggal akibat adanya gangguan ionosfer. Gangguan ionosfer juga berakibat gangguan siaran radio gelombang pendek (HF). Transformastor listrik di negara-negara dekat kutub juga rentan kena induksi yang bisa mematikan jaringan listrik dalam wilayah yang luas (seperti pernah terjadi 1989 di Kanada)."


Go to Top of Page


2008年12月

Penyatuan Idul Adha: Mungkin, perlu basis ukhuwah

Pengantar:
Tahun 1429/2008 insya-allah Idul Adha akan seragam. Arab Saudi telah mengumumkan wukuf 7 Desember 2008 sehingga Idul Adha di Arab Saudi 8 Desember. Di Indonesia juga kemungkinan besar Idul Adha 8 Desember 2008. Saat yang baik ini kita gunakan untuk meerenungkan upaya penyeragaman hari raya, termasuk Idul Adha. Berbeda dengan masalah Idul Fitri, upaya penyatuan Idul Adha tidak semata-mata masalah kriteria hisab rukyat, tetapi juga terkait dengan masalah kesamaan dengan Arab Saudi. Terlepas dari kontroversi penentuan hari wukuf di Arab Saudi yang sering bermasalah, perlu kita pikirkan upaya menjaga ukhuwah terkait dengan penyeragaman Idul Adha. Tulisan lama ini (ditulis dan dipublikasi di koran 2005) dimaut di blog saya untuk jadi bahan pemikiran bersama.

Penetapan Wukuf Kontroversial

MENYIKAPI PERBEDAAN IDUL ADHA

(Dimuat di Pikiran Rakyat 19 Jan 2005)


T. Djamaluddin

Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN Bandung

Anggota Badan Hisab Rukyat Jabar dan Depag

 

            Semula keputusan Majelis Tinggi Arab Saudi, Majlis Al-Qadla' Al-'Ala, yang menetapkan 1 Dzulhijjah 1425 pada 12 Januari 2005, hari wukuf 9 Dzulhijjah 1425 pada 20 Januari, dan Idul Adha 21 Januari disambut gembira oleh banyak pihak. Kekhawatiran terjadinya kontroversi, seperti sering terjadi lenyaplah sudah. Majelis mengumumkan tidak ada kesaksian hilal pada akhir Dzulqaidah. Di Indonesia, keputusan itu pun disambut dengan lega. Rapat Badan Hisab Rukyat Departeman Agama pada 22 Desember 2004 lalu sempat mengkhawatirkan terjadinya kontroversi keputusan Arab Saudi yang menyebabkan perbedaan dengan keputusan pemerintah RI.

            Ternyata kelegaan tidak lama, Sabtu 15 Januari tersiar kabar melalui mailing list pengamat hilal (bulan sabit pertama) dan media massa bahwa Arab Saudi mengubah keputusannya. Berdasarkan laporan terlihatnya hilal pada 10 Januari 2005, maka diputuskan awal Dzulhijjah jatuh pada 11 Januari 2005. Akibatnya hari wukuf berubah menjadi 19 Januari dan Idul Adha di Arab Saudi pada 20 Januari 2005. Tentu saja perubahan ini menyebabkan perbedaan dengan Idul Adha di Indonesia dan menimbulkan kebingungan bagi orang awam.

            Kalangan astronomi jelas menolak kesaksian tersebut karena pada saat maghrib 10 Januari 2005 di wilayah Arab bulan telah berada di bawah ufuk. Di Mekkah bulan terbenam pukul 18.53 kemudian disusul matahari pukul 18:56. Bagaimana mungkin terlihat hilal padahal bulan telah terbenam. Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) mengeluarkan pernyataan bahwa kesaksian tersebut keliru.

 

Garis Tanggal

            Untuk melihat kemungkinan rukyatul hilal di seluruh dunia, biasa digunakan hisab (perhitungan) secara global dan digambarkan sebagai garis tanggal. Pada peta garis tanggal diketahui di daerah mana bulan dan matahari terbenam bersamaan. Inilah garis tanggal wujudul hilal (wujudnya hilal di kaki langit). Dengan garis tersebut diketahui bahwa di wilayah sebelah timur garis tanggal pada saat maghrib hilal berada di bawah ufuk, sedangkan di wilayah baratnya hilal telag di atas ufuk.

 Garis tanggal wujudul hilal untuk awal Dzulhijjah melintasi Amerika Utara, Afrika, Yaman, dan lautan Hindia sebelah selatan Indonesia. Terlihat bahwa Arab Saudi dan Indonesia berada pada satu wilayah garis tanggal. Pada tanggal 10 Januari 2005, baik di Arab Saudi maupun Indonesia bulan telah berada di bawah ufuk saat maghrib. Jadi tidak mungkin ada kesaksian melihat hilal pada hari itu. Dengan demikian tidak mungkin juga 1 Dzulhijjah 1425 jatuh pada 11 Januari 2005 dan tidak mungkin Idul Adha 20 Januari 2005. Dari gambar garis tanggal beserta beberapa kriteria selain wujudul hilal, dapat disimpulkan bahwa 1 Dzulhijjah jatuh pada 12 Januari 2005 dan Idul Adha 21 Januari.

Kriteria kemungkinan teramatinya hilal di Indonesia yang disepakati MABIMS (menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) adalah tinggi minimal 2 derajat dan umur hilal minimal 8 jam. Garis tanggal ketinggian bulan 2 derajat juga digambarkan pada peta garis tanggal yang melintasi Amerika Utara, Afrika, dan Australia. Karena bulan baru atau ijtimak terjadi pada pukul 19:04 WIB 10 Januari, maka saat maghrib 11 Januari umur hilal telah lebih dari 8 jam. Karenanya baru pada 11 Januari hilal kemungkinan dapat terlihat. Maka 1 Dzuhijjah 1425 dapat disimpulkan jatuh pada 12 Januari 2005. Demikian juga dengan kriteria-kriteria lainnya.

Kesaksian hilal pada 10 Januari 2005 secara astronomi harus ditolak, karena tidak mungkin terjadi bulan yang telah terbenam dapat dilihat berada di atas ufuk. Dapat dipastikan ada kekeliruan pengamatan. Dari kalangan pengamat hilal seluruh dunia yang bergabung dalam ICOP (International Crescent Observation Project), tidak ada laporan terlihatnya hilal di seluruh dunia pada hari itu. Baru pada 11 Januari dilaporkan pengamatan hilal dari berbagai tempat di dunia. Seperti ditunjukkan pada peta garis tanggal, pada 11 Januari hampir seluruh dunia berkesempatan melihat hilal yang cukup tinggi. Salah satu pengamat di Iran berhasil memotretnya dalam kondisi kaki langit yang berawan.

Dari analisis garis tanggal dan laporan rukyatul hilal seluruh dunia, semestinya 1 Dzulhijjah jatuh pada 12 Januari 2005, hari wukuf 9 Dzulhijjah pada 20 Januari, dan Idul Adha pada 21 Januari 2005. Pemerintah Indonesia telah memutuskan dalam ketetapan Menteri Agama RI bahwa Idul Adha jatuh pada 21 Januari.

 

Menyikapi Perbedaan

            Dalam masalah ibadah, pertimbangan syariat lebih diutamakan daripada pertimbangan lainnya. Walaupun secara astronomi keputusan Arab Saudi dinilai kontroversial dan keliru, namun secara syariat tetap dianggap sah. Laporan saksi yang dianggap adil telah cukup dijadikan dasar tanpa perlu konfirmasi apa pun. Itulah keyakinan Majelis Tinggi Arab Saudi. Karenanya di Arab Saudi dan negara-negara sekitarnya yang mengikutinya sah bagi mereka untuk beridul adha 20 Januari 2005. 

            Masalahnya kemudian timbul kebingungan pada sebagian masyarakat di Indonesia yang akan beridul adha 21 Januari 2004. Sahkah shaum Arafah pada 20 Januari 2005 saat saudara-saudara kita di Arab Saudi beridul adha? Kita ketahui, shaum pada hari raya haram hukumnya. Masalah ini sederhana saja. Dalam ibadah kita tidak boleh ada keraguan, pilih mana yang kita yakini.

            Bila kita yakin mengikuti Arab Saudi, shaum pada 20 Januari jelas haramnya karena kita yakin hari itu Idul Adha. Tetapi lain masalahnya kalau kita mengikuti ketetapan pemerintah Indonesia yang menganggap 20 Januari masih 9 Dzuhijjah, maka sunnah untuk shaum Arafah pada hari itu. Tidak haram shaum karena yakin hari itu bukan Idul Adha. Tidak boleh ada keraguan dengan mengikuti Idul Adha seperti ketetapan di Indonesia, tetapi juga meyakini Idul Adha seperti di Arab Saudi. Tidak ada dua kali Idul Adha yang diyakini, salah satunya harus ditinggalkan.

Keyakinan untuk merayakan Idul Adha berdasarkan penetapan 1 Dzulhijjah di masing-masing tempat telah dilaksanakan di banyak negara. Dewan Fiqih Islamic Society of North America (ISNA) akhirnya juga beralih mengikuti rukyatul hilal setempat, walau sebelumnya selalu mengikuti Arab Saudi dalam penetapan Idul Adha. Keputusan itu diambilnya, antara lain setelah berkonsultasi dengan ulama Arab Saudi yang menyatakan tidak ada beda penetapan Idul Fitri dan Idul Adha. Kita harus konsisten, bila Idul Fitri ditetapkan berdasarkan rukyat setempat, demikian pula dengan Idul Adha.

Sebagian kalangan masih banyak yang berpendapat bahwa Idul Adha semestinya mengacu pada hari wuquf di Arafah. Namun tidak ada dalil yang kuat yang menyatakan Idul Adha mesti sehari sesudah wukuf., semuanya bersifat ijtihadiyah yang bisa diperdebatkan. Tidak salah juga Idul Adha dilaksanakan 10 Dzulhijjah, karena wukuf 9 Dzulhijjah. Dan 10 Dzulhijjah dapat berbeda di setiap tempat tergantung saat terlihatnya hilal. Ada juga yang berpendapat Idul Adha (hari raya qurban), bukanlah Idul Hajj (hari raya haji) yang terikat dengan ritual di tanah suci dan hanya ada di tanah suci. Sehingga tidak semestinya Idul Adha selalu mengacu pada hari wukuf. Bagaimana pun juga tidak mungkin disamakan waktunya dengan waktu di tanah suci.

            Itulah perbedaan pendapat yang ada di masyarakat. Silakan ikuti mana yang dianggap paling meyakinkan dan menentramkan dalam beribadah. Kita tidak bisa memaksakan pendapat dalam hal ini. Persaudaraan tetap harus dijaga. Shalat Idul Adha hukumnya sunnah, namun menjaga persaudaraan wajib hukumnya.

            Untuk menentramkan ummat ketika terjadi perbedaan dalam penentuan hari raya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa nomor 2/2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Fatwa MUI menyatakan bahwa penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode rukyat (pengamatan hilal, bulan sabit pertama) dan hisab (perhitungan astronomi) oleh pemerintah cq Menteri Agama dan berlaku secara nasional. Ini menegaskan bahwa kedua metode yang selama ini dipakai di Indonesia berkedudukan sejajar. Keduanya merupakan komplemen yang tidak terpisahkan. Masing-masing punya keunggulan, namun juga punya kelemahan kalau berdiri sendiri. Otoritas diberikan kepada pemerintah sebagai "Ulil Amri" yang wajib ditaati secara syariat. Fatwa MUI juga menegaskan bahwa seluruh umat Islam Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Otoritas syar'iyah pemerintah RI (dalam hal ini dilaksanakan oleh Menteri Agama) tentu tidak boleh dilaksanakan secara sembarang. Karenanya fatwa itu menyatakan wajib bagi menteri Agama berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia, ormas-ormas Islam, dan instansi terkait. Hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal dirukyat walau pun di luar wilayah Indonesia yang mathla'-nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan pedoman oleh Menteri Agama RI. Ini menyatakan bahwa di mana pun ada kesaksian hilal yang mungkin dirukyat dalam wilayah hukum Indonesia (wilayatul hukmi) maka kesaksian tersebut dapat diterima. Juga kesaksian lain di wilayah sekitar Indonesia yang telah disepakati sebagai satu mathla', yaitu negara-negara MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

            Terkait masih banyaknya kalangan yang mengikuti Arab Saudi dalam penetapan Idul Adha sehingga berbeda dengan penetapan di Indonesia, ada yang menarik dari penuturan seorang wakil di Badan Hisab Rukyat dari ormas Islam yang biasa mengikut Arab Saudi. Seorang mufti Arab Saudi pernah memberikan tausiyah (nasihat) bahwa menjaga ukhuwah lebih diutamakan daripada memisahkan diri dalam pelaksanaan Idul Adha demi mengikuti Arab Saudi. Karenanya ormas Islam tersebut kemudian mengikuti penetapan Idul Adha di Indonesia, walau belakangan kembali lagi pada sikap semula.

            Upaya penyatuan Idul Adha memerlukan pendekatan ukhuwah, bukan dengan memperdebatkan dalil dan logika ilmiah yang mungkin tidak berujung. Shaum arafah dapat dilaksanakan berdasarkan pendapat masing-masing, mengikuti hari wukuf di Arafah atau tanggal 9 Dzuhijjah di Indonesia. Shaum bersifat pribadi, sehingga tidak tampak perbedaannya di masyarakat. Namun untuk pelaksanaan Idul Adha mestinya dapat diseragamkan. Sebagian besar ulama membolehkan melaksanakan shalat Idul Adha selama hari tasyrik, sehingga ada toleransi bagi yang mengikuti Arab Saudi untuk menunda shalat Idul Adha untuk bersama dengan saudara-saudara lainnya di Indonesia. Pelaksanaan qurban juga bisa dilaksanakan selama hari tasyrik, sehingga tidak bermasalah dalam hal ini. Alangkah indahnya bila ukhuwah diutamakan dalam menghadapi perbedaan pendapat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2008年11月

Pelajaran Bagi Bumi

Pemacuan Efek Rumah Kaca di Venus
(
Pengembangan tulisan T. Djamaluddin,
"Bumi makin panas: Belajar Efek Rumah Kaca pada Venus", PR 3/05/96
)

T. Djamaluddin
Peneliti Astronomi-Astrofisika, LAPAN


            Pada senja hari kita sering melihat sebuah "bintang" terang di langit Barat. Orang menyebutnya itu Bintang Kejora. Bila muncul di timur pada dini hari orang menyebutnya Bintang Timur. Sebenarnya itu bukan bintang, tetapi sebuah planet.

            Karena sangat terangnya, planet ini sangat mudah dikenali. Sesaat setelah Matahari terbenam, sebelum bintang-bintang lain terlihat, planet itu tampak terang. Semakin malam semakin cemerlang. Bila dilihat dengan teleskop, yang tampak adalah benda terang berbentuk sabit, seperti bulan sabit. Sama seperti bulan sabit, cahaya Venus sabit pun berasal dari cahaya Matahari.

            Kecerlangan puncaknya dicapai saat ini karena dalam perjalanan pada orbitnya Venus makin mendekati Bumi dan "sabit" Venus masih cukup besar. Pada awal Juni 1996 jaraknya paling dekat ke Bumi, sekitar 45 juta km. Pada saat itu Venus tidak akan terlihat Venus berada pada arah Matahari yang sangat terang dan tidak ada cahaya Matahari yang dipantulkan ke arah Bumi, seperti keadaan bulan tanggal 30 qamariyah (bulan mati).

            Karena ukuran dan sifatnya yang hampir sama dengan Bumi, planet ini sering disebut saudara kembar Bumi. Namun, saudara Bumi ini jauh lebih panas daripada Bumi. Bukan hanya karena jaraknya ke Matahari lebih dekat daripada Bumi, tetapi juga karena efek rumah kaca (green house effect). Bumi bisa belajar banyak tentang akibat efek rumah kaca pada saudara kembarnya, Venus.

 

Efek Rumah Kaca

            Global warming (pemanasan global) belakangan ini menjadi topik pembicaraan hangat. Dunia makin menghangat suhunya. Penyebabnya adalah efek rumah kaca. Namun banyak yang salah menafsirkanya. Seolah-olah efek rumah kaca adalah efek pemanasan akibat banyaknya gedung-gedung berkaca di kota-kota besar yang memantulkan cahaya Matahari ke lingkungan sekitarnya. Tetapi pengertian sebenarnya bukan itu, walaupun tampaknya secara logika efek pemanasan terjadi juga pada lingkungan terbatas di sekitarnya. Efek rumah kaca bersifat global, seluruh tempat di permukaan bumi merasakannya.

            Efek rumah kaca adalah efek pemanasan akibat terperangkapnya panas yang tidak dapat dilepaskan ke luar angkasa. Penamaan itu untuk memberikan gambaran prosesnya seperti yang terjadi pada rumah kaca yang biasa digunakan untuk melindungi tanaman (bunga-bungaan atau sayur-sayuran) di daerah pegunungan atau negara bermusim dingin agar tetap hangat. Cahaya Matahari masuk menembus kaca dan menghangatkan tanah dan udara di dalamnya. Namun panas itu tidak bisa ke luar karena terperangkap oleh kaca itu. Makin lama suhu di dalam rumah kaca itu akan makin panas.

            Venus kini mengalami efek seperti itu. Bumi juga merasakannya. Bukan kaca yang menyebabkan panas di Venus atau di Bumi itu terperangkap tetapi awan, uap air, dan gas-gas penyerap panas yang disebut "gas rumah kaca" (GRK) seperti CO2 (karbon dioksida), CH4 (metan), CFC (klorofluorkarbon), dan NOx (oksida Nitrogen).

  

Planet terpanas

            Venus letaknya lebih dekat ke Matahari daripada Bumi. Jaraknya ke Matahari sekitar 105 juta km. Sedangkan jarak Bumi dari Matahari sekitar 150 juta km. Karena itu Venus lebih panas daripada Bumi. Tetapi yang menjadikan Venus sangat panas bukan karena jaraknya relatif dekat dengan Matahari. Planet Merkurius yang paling dekat dengan Matahari panasnya hanya sekitar 430 derajat C. Sedangkan Venus panasnya mencapai 460 derajat C.

            Carl Sagan dalam desertasi doktornya tahun 1960-an menjelaskan bahwa ada proses efek rumah kaca yang sangat hebat di Venus yang menyebabkan planet ini makin lama makin panas. Hasil pengamatan pesawat antariksa yang dikirim meneliti Venus, Venera dan Pioneer, menunjukkan bahwa atmosfer Venus hampir seluruhnya terdiri dari CO2 (96,5 %). Bandingkan dengan CO2 di atmosfer Bumi yang hanya sekitar 0,05 %. Awan tebal yang selalu menyelimuti Venus berada pada ketinggian 30-60 km dan terdiri dari awan asam sulfat (H2SO4, sejenis dengan air keras pada aki).

            Kandungan CO2 yang sangat tinggi menyebabkan hebatnya efek rumah kaca. Cahaya Matahari yang menerobos sela-sela awan tebal kemudian memanaskan permukaan Venus. Panasnya yang dipantulkan lagi tidak bisa ke luar ke angkasa tetapi segera diserap oleh CO2 yang menyebabkan suhu atmosfernya makin panas.

            Dari berbagai penelitian disimpulkan bahwa Venus pada awalnya mungkin mempunyai air seperti halnya bumi. Efek rumah kaca akibat kandungan uap air dan CO2 menyebabkan suhu atmosfer Venus makin panas. Akibatnya, uap air makin banyak di udara. Tambahan uap air menyebabkan penyerapan panas lebih banyak lagi sehingga suhunya atmosfer makin panas. Karena pemanasan yang makin hebat batuan kapur (CaCO3) pun mengalami perubahan menjadi CaO dan melepaskan CO2. Semakin banyak CO2 dan uap air di udara pemanasan oleh efek rumah kaca semakin hebat. Dan seterusnya pemanasan menyebabkan semakin banyak uap air dan CO2. Terjadilah pemacuan efek rumah kaca (runaway greenhouse effect) yang menyebabkan pemanasan makin cepat.

            Uap air bereaksi dengan gas SO2 yang mungkin dilepaskan oleh gunung berapi di Venus. Akibatnya terjadilah awan asam sulfat. Sementara itu uap air (H2O) dengan pengaruh sinar ultra violet Matahari akan pecah menjadi atom Hidrogen (H) dan Oksigen (O). Atom Hidrogen akan lepas ke luar angkasa, kecuali yang bermassa besar yang disebut Deutorium. Sedangkan oksigen bereaksi dengan batuan di permukaan Venus. Karena uap air tidak berproses lagi menjadi awan dan hujan, air di Venus makin hilang.

 

Pelajaran bagi Bumi

            Bumi menerima panas dari Matahari. Tetapi hanya sekitar 45 % yang mencapai permukaan Bumi. Sebanyak 40 % dipantulkan lagi ke angkasa luar oleh awan dan debu-debu di atmosfer atas, terutama debu-debu dari letusan gunung berapi. Dan 15 % lainnya diserap oleh atmosfer. Sinar ultra violet diserap oleh lapisan ozon. Sinar infra merah terutama diserap oleh uap air dan CO2.

            Bumi yang terpanasi kemudian akan memancarkan lagi panas (dalam bentuk sinar infra merah) ke atas. Panas itu sebagian diserap oleh uap air, gas-gas GRK (terutama CO2), dan awan. Sebagian sisanya dilepaskan ke luar angkasa. Awan yang menghangat juga kemudian akan memancarkan lagi panasnya ke bawah. Inilah proses efek rumah kaca yang menyebabkan pada malam hari pun atmosfer Bumi terasa masih cukup hangat. Tanpa efek rumah kaca, panas Matahari tidak tersimpan yang bisa mengakibatkan perubahan suhu yang drastis antara siang dan malam.

            Masalahnya bila efek rumah kaca terjadi peningkatan. Bila panas yang diserap oleh uap air dan GRK meningkat, suhu atmosfer akan meningkat. Ini akan mengakibatkan melelehnya gunung es di kutub yang akan menaikkan ketinggian air laut. Kalau itu terjadi, banyak pulau dan daerah pantai yang tenggelam.

            Di samping itu, peningkatan efek rumah kaca bisa mengubah iklim secara global. Bukan hanya suhu atmosfer yang meningkat, pola curah hujan pun akan berubah. Karena itu pemantauan dan penelitian tentang efek rumah kaca serta dampaknya pada perubahan iklim kini makin digiatkan. Di Indonesia, LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung sangat peduli dengan penelitian GRK dan pengaruhnya pada perubahan iklim. Pemantauan GRK dan penelitian model iklim yang dipengaruhinya, khususnya di Indonesia, merupakan salah satu bagian penelitiannya.

            Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan suhu di permukaan Bumi selama ribuan tahun sangat dipengaruhi oleh konsentrasi CO2 dan metan dalam kurun waktu itu. Sementara itu penelitian lain menunjukkan bahwa peningkatan 15% CO2 selama seabad ini telah meningkatkan suhu rata-rata atmosfer di permukaan Bumi sekitar 0,25 - 0,50 derajat C.

            Perkembangan industri dan pemakaian kendaraan bermotor memacu peningkatan jumlah CO2 di atmosfer. Penelitian di Mauna Loa, Hawaii, dalam waktu lebih dari 30 tahun menunjukkan bahwa konsentrasi CO2 terus mengingkat dengan laju peningkatan 0,4 persen per tahun. Jika keadaan ini terus berlangsung, pada awal abad 21 mendatang konsentrasi CO2 di atmosfer akan menjadi dua kali lipat dari konsentrasinya sebelum zaman industri.

            Di Indonesia peningkatan GRK juga terjadi sebagai hasil dampak perkembangan indistri dan pemakaian kendaraan bermotor. Salah satu hasil pemantauan yang dilakukan LAPAN Bandung sejak 1989 menunjukkan kecenderungan peningkatan konsentrasi CO2 di kota Bandung. baik pada musim kemarau (Juni) maupun musim hujan (Desember). Walaupun pengaruhnya pada peningkatan suhu kota Bandung belum terlihat untuk jangka pendek ini, namun dalam jangka panjang perubahan suhu itu akan terasa. Bandung yang terkenal sejuk, makin lama akan makin panas bila efek rumah kaca terus meningkat.

            Dari berbagai skenario perubahan iklim yang mungkin terjadi akibat pelepasan GRK oleh aktivitas manusia, disimpulkan bahwa suhu global pada abad mendatang akan naik sekitar 0,1 - 0,3 derajat per dekade. Suhu di negara-negara industri di Eropa dan Amerika Utara mungkin akan meningkat lebih tinggi dari rata-rata itu yang diikuti dengan penurunan curah hujan dan tanah relatif lebih kering.

            Untuk Indonesia, termasuk juga daerah tropik dan negara-negara di belahan Bumi selatan, belum banyak diketahui skenario perubahannya. Peneliti-peneliti di LAPAN Bandung, dengan menggunakan model iklim yang ada dan yang akan dikembangkan, berusaha mengetahui skenario perubahan iklim di Indonesia akibat peningkatan efek rumah kaca dan faktor-faktor lainnya. Pengaruh variabilitas Matahari pada perubahan iklim merupakan faktor lain yang turut diperhitungkan.

            Peningkatan suhu global pada abad 21 mendatang, diperkirakan akan meningkatkan tinggi pemukaan air laut sekitar 6 cm per dekade, terutama akibat pengembangan air laut dan pencairan lapisan es di kutub. Menjelang tahun 2030 tinggi air laut rata-rata dunia meningkat sekitar 20 cm dibandingkan saat ini. Di beberapa wilayah mungkin lebih dari itu dan di wilayah lain mungkin kurang dari itu. Namun itu cukup mengkhawatirkan. Dalam jangka panjang beberapa pulau akan hilang dan laut menggenangi daerah pinggiran pantai.

            Hal yang dikhawatirkan adalah terjadinya pemacuan efek rumah kaca di Bumi. Kenaikan suhu atmosfer bukan hanya menaikkan ketinggian air laut, tetapi juga menyebabkan makin cepatnya penguapan dan kekeringan. Uap air di atmosfer merupakan penyerap panas yang baik seperti GRK lainnya. Bila itu ditambah dengan pelepasan CO2 yang tak terkendali dari kendaraan bermotor, industri, dan kebakaran hutan, efek rumah kaca akan dipacu makin cepat. Akibatnya, suhu akan makin cepat meningkat.

            Belajar pada Venus, saudara kembar Bumi, pemacuan efek rumah kaca berdampak sangat hebat. Dengan pemacuan efek rumah kaca, bukan tidak mungkin Bumi kita bisa menjadi seperti Venus.

2008年10月

Hoax Astronomi Lagi

Hoax: Matahari Bersinar 36 Jam

Kemarin (16 Okt 2008) wartawan Kompas menelpon saya menanyakan tentang adanya kabar yang tersebar via milis dan SMS, isinya:
Pada tanggal 17 Oktober 2008, matahari akan terus menyinari kita selama 36 jam (1.5 hari). Dan selama itu Amerika dan tetangga2nya akan gelap 1.5 hari.Ini akan mengkonversi 3 hari menjadi 2 hari besar.Ini terjadi setiap 2400 tahun sekali.Kita beruntung dapat menyaksikan dan merasakannya,beri tahu teman2 yah.

-------- Ini Beritanya --------

http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/16/05523492/bohong.matahari.terlihat.36.jam

Bohong, Matahari Terlihat 36 Jam

Kamis, 16 Oktober 2008 | 05:52 WIB

 

JAKARTA - Informasi dari internet yang beredar di kalangan masyarakat akhir-akhir ini mengenai matahari akan terlihat atau menyinari selama 36 jam pada 17 Oktober 2008 di wilayah Indonesia merupakan kabar bohong. Matahari akan tetap bersinar selama rata-rata 12 jam di Indonesia.

Demikian dikemukakan peneliti utama bidang astronomi astrofisika pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaludin, serta Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mezak Arnold Ratag secara terpisah, Rabu (15/10) di Jakarta.

”Pada sistem rotasi bumi sering disebut memiliki gerak gasing dengan kemiringan sumbu 23,5 derajat, tetapi tetap tidak memungkinkan wilayah ekuator mendapatkan sinar matahari sampai 36 jam dalam 2.400 tahun sekali seperti dinyatakan di dalam kabar bohong itu,” kata Thomas Djamaludin.

Mezak menuturkan, penyinaran matahari di wilayah ekuator termasuk Indonesia yang memiliki batas koordinat 11 derajat Lintang Selatan (LS) sampai 6 derajat Lintang Utara (LU), rata- rata melihat sinar matahari hanya selama 12 jam plus atau minus 45 menit. Kemungkinan matahari dapat terlihat selama 36 jam sangat tidak mungkin.

Thomas menjelaskan, kabar bohong mengenai astronomi tidak hanya terjadi sekali ini saja. Ia mencontohkan, pada 27 Agustus 2004 juga pernah beredar informasi berupa purnama ganda. ”Ketika itu yang dimaksudkan purnama pada bulan dan planet Mars secara bersamaan. Tetapi, tetap saja tidak dapat dikatakan purnama ganda karena keduanya terlihat dari bumi tampak sama sekali berbeda ukurannya,” kata Thomas.

--------------------------------------

Kemudian saya coba browsing di internet mencari sumber kabar bohong itu. Menurut museum hoax (kabar bohong) http://www.museumofhoaxes.com/hoax/weblog/permalink/will_the_sun_rise_for_36_hours_on_october_17_2008/

kabar itu tampaknya berasal dari India dan telah menyebar sejak pertengahan Agustus 2008 yang tersebar melalui lebih dari 15.000 posting. Dalam versi bahasa Inggris kabar bohong itu berbunyi

Coming October 17, 2008 the sun will rise continuously for 36 hrs (1.5 days). During this time the US countries will be dark for 1.5 days. It will convert 3 days into 2 big days. It will happen once in 2400 yrs. We're very lucky to see this. Forward it to all your friends.

 

Sebagai penjelasan tambahan untuk mencerdaskan kita semua, panjang siang (terlihatnya matahari) ditentukan oleh posisi kemiringan bumi relatif terhadap matahari akibat kemiringan sumbu rotasi bumi 23,5 derajat terhadap sumbu tegak bidang ekliptika (bidang edar bumi mengelilingi matahari). Di wilayah ekuator, seperti Indonesia, variasi siang dan malam tidak terlalu terasa. Wilayah di lintang tinggi (lebih dari 30 derajat, utara atau selatan) akan merasakan sekali adanya variasi siang dan malam yang terkait dengan musim. Pada musim panas, siang hari lebih panjang daripada malam hari. Misalnya, di lintang 30 derajat siang 14 jam dan malam 10 jam. Di lintang 45 derajat siang 15,5 jam dan malam 8,5 jam. Di lintang 65 derajat siang 22 jam dan malam senja bersambung fajar (tanpa malam gelap) 2 jam.

 

Di atas lintang 65 derajat pada musim panas matahari tidak pernah terbenam, artinya siang terus. Di lintang 66 derajat utara kejadian siang terus berlangusng mulai 12 Juni – 30 Juni, artinya 18 hari matahari terus terlihat (tentunya bila tidak mendung). Di lintang 80 derajat utara siang terus berlangsung mulai 14 April sampai 29 Oktober (lebih dari 5 bulan).

 

Adakah daerah yang mengalami siang 36 jam pada 17 Oktober? Tidak ada! Di lintang 83 derajat selatan (di wilayah Antartika) siang terus menerus memang terjadi mulai 17 Oktober, tetapi berlangung sampai 26 Februari (lebih dari 4 bulan!).

 

2008年10月

Enam Hari Penciptaan Alam

Al-Quran Merinci Evolusi Alam

T. Djamaluddin

Kita sering membaca ungkapan di dalam Al-Quran "sittati ayyam" (enam hari) tentang penciptaan alam. Banyak penulis yang menguraikan enam hari penciptaan alam dengan mengaitkan sains modern hanya berdasarkan logika teori Big Bang, hanya merinci saat-saat awal pembentukan alam semesta. Padahal secara tersirat Al-Quran merincinya di QS An-Naziat:27 – 33, bahwa makna enam hari penciptaan alam merentang seluruh proses evolusi alam sejak penciptaan alam sampai saat ini.

 

Tulisan saya yang panjang tentang evolusi alam bisa dibaca di http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!143.entry .

Terkait dengan pembahasan itu, ada seseorang yang men-share slide presentasi saya tentang kajian ayat-ayat kauniyah, di http://www.scribd.com/doc/3173556/Kajian-Ayat-Kauniyah-Dr-T-Djamaluddin. Bahasannya mencakup 4 tema: "Menembus Keluasan Langit", "Asal Usul Alam Semesta & Evolusinya", "Mencari Jejak Kehidupan di Luar Bumi", dan "Skenario Kehancuran Kehidupan Bumi & Alam Semesta." Tetapi slide itu masih versi awal yang belum memasukkan kajian “enam hari” penciptaan alam semesta dalam bahasan evolusi alam.

 

Slide kajian “Ayat-yat Kauniyah” versi baru telah memasukkan bahasan enam hari penciptaan alam dalam bagian Evolusi Alam Semesta. Salim Rusli (dari LPI, Lembaga Pengkajian Islam, Masjid Salman ITB) menyarikan presentasi saya tentang tafsir ilmiah “enam hari” penciptaan alam semesta, termasuk menyertakan beberapa gambar ilustrasi dari slide saya, di http://misykatulanwar.wordpress.com/2008/06/10/proses-penciptaan-alam-semesta-dalam-enam-masa/

Tetapi ada beberapa bagian yang perlu saya sempurnakan. Resume tersebut saya tulis ulang di bawah ini.

 

”Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya [27] Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya [28] dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang [29] Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya [30] Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya [31] Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh [32] (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu [33]”

(Q.S. An-Nazi’at: 27-33)

Dari sejumlah ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan enam masa, Surat An-Nazi’at ayat 27-33 tersebut dapat menjelaskan tahapan enam masa secara kronologis. Urutan masa tersebut sesuai dengan urutan ayatnya, sehingga dapat diuraikan sebagai berikut:

  • Masa I (”Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya [27]): penciptaan langit pertama kali

Pada Masa I, alam semesta pertama kali terbentuk dari ledakan besar yang disebut ”big bang”, kira-kira 13,7 milyar tahun lalu. Bukti dari teori ini ialah adanya radiasi kosmik di langit yang berasal dari semua arah. Bigbang adalah awal penciptaan runag, waktu, dan materi. Mareti awal awal Hidrogen. Hidrogen menjadi bahan pembentuk bintang, dalam bahasa Al-Quran disebut dukhan. Awan hidrogen itu berkondensasi sambil berputar dan memadat. Ketika temperatur dukhan mencapai 20 juta derajat celcius, mulailah terjadi reaksi nuklir yang membentuk Helium. Reaksi nuklir inilah yang menjadi sumber energi bintang dengan mengikuti persamaan E=mc2, besarnya energi yang dipancarkan sebanding dengan selisih massa (m) Hidrogen dan Helium.

Selanjutnya, angin bintang menyembur dari kedua kutub bakal bintang itu (protostar), menyebar dan menghilangkan debu yang mengelilinginya. Sehingga, selimut gas yang tersisa berupa piringan, yang kemudian membentuk planet-planet. Awan Hidrogen dan bintang-bintang terbentuk dalam kumpulan besar yang disebut galaksi.

Di alam semesta galaksi sangta banyak membentuk struktur filamen (untaian) dan void (rongga). Jadi, alam semesta yang kita kenal sekarang bagaikan kapas, terdapat bagian yang kosong dan bagian yang terisi

  • Masa II (Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya [28]): pengembangan dan penyempurnaan

Dalam ayat 28 di atas terdapat kata ”meninggikan bangunan” dan ”menyempurnakan”. Kata ”meninggikan bangunan” ditafsirkan dengan alam semesta yang mengembang, sehingga galaksi-galaksi saling menjauh dan langit terlihat makin tinggi. Ibaratnya sebuah roti kismis yang semakin mengembang, dengan kismis tersebut dianggap sebagai galaksi. Jika roti tersebut mengembang maka kismis tersebut pun akan semakin menjauh satu sama lain.

Mengembangnya alam semesta sebenarnya adalah kelanjutan big bang. Jadi, pada dasarnya big bang bukanlah ledakan dalam ruang (seperti meledaknya bom), melainkan proses pengembangan ruang alam semesta secara cepat.

Sedangkan kata ”menyempurnakan”, menunjukkan bahwa alam ini tidak serta merta terbentuk, melainkan dalam proses evolusi yang terus berlangsung. Kelahiran dan kematian bintang yang terus terjadi. Penyempurnaan alam terus berlangsung.

  • Masa III (Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang [29): pembentukan tata surya termasuk Bumi

Surat An-Nazi’ayat 29 menyebutkan bahwa Allah menjadikan malam yang gelap gulita dan siang yang terang benderang. Ayat tersebut dapat ditafsirkan sebagai penciptaan matahari sebagai sumber cahaya dan Bumi yang berotasi, sehingga terjadi siang dan malam. Pembentukan tata surya sama dengan proses pembentukan bintang umumnya, dari dukhan, walau sudah tidak murni Hidrogen lagi.

  • Masa IV (bumi sesudah itu dihamparkan-Nya [30]): Evolusi Bumi

Penghamparan yang disebutkan dalam ayat 30, dapat diartikan sebagai pembentukan superkontinen Pangaea di permukaan Bumi yang kemudian terpisah-pisah menjadi beberapa benua.

Masa III hingga Masa IV ini juga bersesuaian dengan Surat Fushshilat ayat 9 yang artinya, “Katakanlah: ‘Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya?’ (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam”.

  • Masa V (Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya [31]): pengiriman air ke Bumi melalui komet

Ayat ini menceritakan mulai adanya air di bumi dan makhluk hidup yang pertama adalah tumbuhan. Air di bumi, berdasarkan kajian astronomi tidak dihasilkan sendiri oleh bumi, tetapi berasal dari komet yang menumbuk Bumi. Hal ini dibuktikan dari rasio Deuterium dan Hidrogen pada air laut yang sama dengan rasio pada komet. Deuterium adalah unsur Hidrogen yang massanya lebih berat daripada Hidrogen pada umumnya.

  • Masa VI (Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh [32] (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu [33]”): proses geologis serta lahirnya hewan dan manusia

Dalam ayat 32 di atas, disebutkan ”…gunung-gunung dipancangkan dengan teguh.” Artinya, gunung-gunung terbentuk setelah penciptaan daratan, pembentukan lautan air, dan munculnya tumbuhan pertama. Gunung-gunung terbentuk dari interaksi antar lempeng ketika superkontinen Pangaea mulai terpecah. Kemudian, setelah gunung mulai terbentuk, terciptalah hewan dan akhirnya manusia sebagaimana dalam suatu. Jadi, usia manusia relatif masih sangat muda dalam skala waktu geologi.

Jika diurutkan dari Masa III hingga Masa VI, maka empat masa tersebut dapat dikorelasikan dengan empat masa dalam Surat Fushshilat ayat 10 yang berbunyi, ”Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya”.

Demikianlah penafsiran enam masa penciptaan alam dalam Al-Qur’an, sejak kemunculan alam semesta hingga terciptanya manusia. Wallahu a’lam bishshowab.

 

2008年10月

Hujan Badai Meteor

Fenomena Cuaca Antariksa
MENGKAJI SIFAT BADAI METEOR LEONID
(Dimuat PR 19 Nov 1999)
T. Djamaluddin
(Peneliti Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa, LAPAN, Bandung)

             Badai meteor Leonid 18 November bukan hanya dipandang sebagai pertunjukan spektakuler penampakan ratusan atau ribuan meteor, tetapi yang utama harus dipandang sebagai fenomena cuaca antariksa yang harus diwaspadai sampai tahun 2002.

            Mirip dengan cuaca di bumi, di antariksa pun kita mengenal cuaca antariksa. Bila di bumi kita mengenal musim panas dan musim dingin, di antariksa kita kenal masa matahari aktif dan masa matahari tenang yang siklusnya sebelas tahun. Bila di bumi kita mengenal ledakan petir, di antariksa kita mengenal ledakan flare matahari.

            Di bumi kita mengenal musim hujan, di antariksa ada musim hujan meteor. Ada sekitar dua puluh musim hujan meteor, ada yang besar ada yang kecil. Di bumi sewaktu-waktu terjadi hujan badai atau topan. Di antariksa pun sewaktu waktu bisa terjadi hujan badai meteor. Badai Leonids adalah badai meteor yang paling hebat.

            Informasi cuaca antariksa terutama sangat berguna bagi penghuni antariksa, terutama satelit-satelit dan pesawat antariksa ulang-alik. Saat ini ada sekitar 500 satelit yang masih aktif mengorbit bumi. Jenisnya beragam, antara lain satelit komunikasi, satelit penginderaan jauh, satelit observatorium angkasa, satelit militer, dan satelit sistem penentuan posisi (GPS).

            Informasi cuaca antariksa itu dapat diperoleh di lembaga-lembaga keantariksaan. Di Indonesia, informasi itu bisa diperoleh antara lain dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) atau Observatorium Bosscha dan Jurusan Astronomi ITB. Indonesia yang kini banyak memanfaatkan jasa satelit komunikasi sudah semestinya peduli dengan masalah cuaca antariksa ini.

 

Hujan Meteor

            Sama halnya di bumi, matahari adalah penggerak utama cuaca antariksa. Di bumi energi matahari menggerakkan air dalam bentuk uap naik ke atas membentuk awan yang aknhirnya menjatuhkan hujan. Di antariksa pun peran matahari sangat besar dalam membentuk gugusan meteoroid (sumber meteor) atau boleh juga disebut "awan" meteor.

            Ketika komet mendekat matahari, energi matahari menguapkan dan menghamburkan es dan debu di inti komet membentuk ekor. Debu-debu ekor komet yang tertinggal di sepanjang lintasan orbitnya merupakan gugusan meteoroid yang bisa menyebabkan hujan meteor di bumi bila bumi melintasinya.

            Lagi-lagi mirip dengan cuaca bumi. Awan di bumi ada yang menghasilkan hujan lebat, tetapi ada juga yang hanya menurunkan gerimis. Gugusan meteoroid itu pun sifatnya berbeda-beda tergantung umurnya dan peluruhan meteoroidnya.

            Ada gugusan meteoroid yang masih padat tetapi terkonsentrasi di sekitar inti komet sehingga hanya akan menyebabkan hujan meteor periodik, sesuai dengan waktu kehadiran komet mendekat bumi. Golongan ini diwakili oleh hujan meteor Draconids (pada awal Oktober) tahun 1933, 1946, dan 1985 yang disebabkan oleh komet Giacobini-Zinner.

            Golongan ke dua adalah gugusan meteoroid tipis di sepanjang lintasannya, tetapi di dekat kometnya kerapatannya tinggi. Misalnya, gugusan meteoroid Leonid (penyebab hujan meteor 14-19 November) yang disebabkan oleh komet Tempel-Tuttle.

            Golongan ke tiga adalah gugusan meteoroid yang tersebar merata di sepanjang lintasannya yang menyebabkan hujan meteor yang hampir seragam intensitasnya setiap tahun. Misalnya, hujan meteor Geminids (11-16 Desember) yang disebabkan oleh komet yang telah mati, asteroid Phaethon. Makin tua umurnya, gugusan meteoroid itu makin tipis dan akhirnya tidak menunjukkan lagi gejala hujan meteor.

            Beberapa hujan meteor telah diidentifikasikan berkaitan dengan komet yang masih aktif. Hujan meteor Eta Aquarids (3-10  Mei) dan Perseids (7-15 Agustus) masing-masing disebabkan oleh komet Halley dan Swift-Tuttle. Beberapa lainnya dikaitkan dengan komet yang telah hancur, seperti hujan meteor Andromedids (5-23 November) dari debu komet Biela yang hancur sekitar 1860-an. Ada juga yang berasal dari komet yang telah mati, seperti hujan meteor Geminids yang diakibatkan oleh komet mati yang tinggal intinya berupa asteroid Phaethon. Dan beberapa hujan meteor lainnya yang belum diketahui komet-komet penyebabnya seperti hujan meteor Quadrantids 2 - 5 Januari.

 

Waspadai Leonid

            Hujan meteor Leonid (tampak berasal dari rasi Leo) berasal dari debu-debu komet Tempel-Tuttle yang berperiode 33 tahun. Komet Tempel-Tuttlenya telah dikenal sejak 1366 dan terakhir teramati mendekati bumi tahun 1965 dan awal 1998. Sedangkan hujan meteornya telah dikenal jauh sebelumnya, sejak tahun 585.

            Hujan meteor Leonid biasa (beberapa meteor per jam) sebenarnya tampak setiap tahun sekitar 14-19 November dengan puncaknya pada 17-18 November. Tetapi, sewaktu-waktu menjadi badai meteor bila komet induknya mendekati bumi. Badai meteor Leonid terakhir teramati 1965, 1966, dan 1998 lalu. Badai meteor Leonid 1966 merupakan badai meteor terbesar dengan jumlah sekitar 150.000 meteor per jam.

            Berdasarkan sifat pertemuan lintasan komet dan orbit bumi, sifat hujan meteor Leonid 1998-2000 tidak sama dengan tahun 1966. Badai meteor 1998 lalu hanya menampakkan sekitar 300 meteor per jam. Untuk tahun ini, dilaporkan puncak badai meteor terjadi sekitar pukul 09.15 WIB dengan jumlah 5000 meteor per jam. Ini berarti badai meteor tahun ini memang lebih hebat daripada tahun lalu.

            Berbeda dengan hujan meteor umumnya, Leonid merupakan hujan meteor yang paling deras. Rata-rata kecepatan partikel hujan meteor umumnya hanya sekitar 10.000 km/jam, sedangkan kecepatan partikel Leonid sekitar 250.000 km/jam. Kecepatan tinggi itu disebabkan arah orbit partikel Leonid hampir berlawanan dengan arah orbit bumi dengan sudut inklinasi sekitar 17 derajat dan perihelionnya (titik terdekat ke matahari dengan kecepatan orbit maksimum) relatif dekat dengan orbit bumi.

            Walaupun ukuran debunya kebanyakan hanya sebesar pasir halus, dengan semburan partikel kecepatan tinggi itu dan dalam jumlah besar, badan satelit yang mengorbit bumi serta panel surya, detektor, dan perangkat elektronik lainnya dapat mengalami gangguan.

            Makin tinggi orbit satelit akan mengalami semburan debu yang makin hebat karena berarti semakin dekat dengan bagian Leonid berkerapatan tinggi. Ini berarti satelit yang orbitnya sangat lonjong dengan apogee sangat jauh (sekitar 100.000 km) atau orbit geostasioner (ketinggian 36.000 km) akan lebih terancam daripada satelit berorbit rendah.

            Walaupun kemungkinannya hanya sebagian kecil satelit yang terganggu, tetapi gangguan terhadap satelit akibat meteor pernah terjadi. Ketika terjadi peningkatan hujan meteor Perseid pada Agustus 1993, satelit komunikasi Olympus mengalami kerusakan. Gangguan yang mungkin paling sering terjadi adalah timbulnya muatan listrik (plasma) akibat tumbukan dengan meteor halus yang mengganggu sistem elektronik satelit.

            Karena bumi berputar, potensi gangguan debu meteor Leonid berlaku untuk semua satelit selama masa bumi masuk dalam area gugusan meteoroidnya, 14-19 November. Memang masa paling kritis terjadi saat puncak badai meteor. Dengan jumlah debu yang maksimal kemungkinan tumbukan pun menjadi lebih besar.

            Dari segi risiko harian, saat paling kritis adalah saat dini hari. Karena pada saat itu gabungan kecepatan partikel meteor, orbit bumi, dan rotasi bumi adalah yang maksimal.