![]() |
|
Spaces home Dokumentasi T. Djamaludd...PhotosProfileFriends | ![]() |
|
April 27 Selamatkan BumiBumi dan Peran Kita(Dimuat Pikiran Rakyat 22 April 2008)http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=19831 Oleh T. Djamaluddin BANJIR kini telah menjadi hal yang hampir selalu terjadi setiap hujan dalam skala kecil maupun besar. Walau kecil, banjir cileuncang telah menyusahkan banyak orang, setidaknya memacetkan lalu lintas dan menyusahkan penghuni di sekitarnya. Jalan dan gang banyak yang berubah menjadi sungai deras saat hujan lebat. Kadang kita menyalahkan pihak lain, tanpa mau menyadari bahwa bisa jadi kitalah salah satu pihak yang menyebabkannya. Sampah yang kita buang sembarang telah menyumbat saluran air dan resapan di halaman kita telah tertutup lapisan semen. Kota juga semakin terasa panas dan pengap. Kicau burung semakin langka. Pendingin udara semakin menjadi kebutuhan vital di kota-kota besar. Lagi-lagi kita sering menyalahkan pihak lain sebagai penyebabnya, tanpa mau menyadari bahwa bisa jadi kita salah satu penyebabnya. Pohon sering dianggap pengganggu sehingga dibiarkan mati di pinggir jalan atau ditebang saat membangun rumah, tanpa menggantikannya. Halaman rumah dibiarkan gersang sekadar karena alasan lahan sempit dan sibuk. Sering kita berpikir terlalu global dan mengabaikan hal kecil yang ada di sekitar kita. Padahal, kita bisa berbuat banyak sesuai peran masing-masing untuk menyelamatkan lingkungan bumi kita. Ketika sampah menggunung, kita hanya berharap pemerintah yang menyelesaikan, padahal kita bisa juga membantu menyelesaikannya, setidaknya dengan mengurangi sampah yang dibuang. Tiga contoh kecil itu sekadar pembuka kesadaran pentingnya kepedulian kita pada lingkungan untuk tujuan yang lebih besar, penyelamatan planet bumi. Bukan untuk kepentingan planet bumi tentunya, melainkan untuk kita sendiri dan anak-anak kita. Setidaknya, peringatan Hari Bumi 22 April dan pencanangan Tahun Internasional Planet Bumi sebagai momentum yang tepat untuk kembali merenungkan posisi kita masing-masing. Tidak sekadar berharap pihak lain yang berbuat untuk kita, tetapi kembalikan tanyakan apa yang bisa kita perbuat. Menyelamatkan bumi Hari Bumi 22 April diperingati oleh banyak negara untuk mengingatkan pentingnya penyelamatan bumi. Ini diawali dengan keprihatinan makin meluasnya kerusakan lingkungan di Amerika Serikat. Kemudian, aktivis lingkungan, Senator Gaylord Nelson, menggalang Hari Bumi di Amerika Serikat pada 22 April 1970 yang diikuti lebih dari 20 juta orang. Siswa SD sampai mahasiswa serta masyarakat umum bersatu dalam demonstrasi menuntut pembenahan lingkungan. Gerakan berhasil membangun kesadaran masyarakat dan mendobrak tradisi proses politik yang terkait dengan penyelamatan lingkungan. Hasilnya luar biasa. Banyak undang-undang tentang lingkungan hidup kemudian berhasil dikeluarkan. Badan perlindungan lingkungan AS didirikan. Keberhasilan itu kemudian diikuti oleh banyak negara. Hari Bumi 2008 punya arti lebih penting karena tahun 2008 telah dicanangkan oleh Majelis Umum PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) sebagai Tahun Internasional Planet Bumi. Dengan pencanangan itu diharapkan adanya upaya peningkatan kesadaran akan peran ilmu-ilmu kebumian dalam mencapai pembangunan berkelanjutan dan mendukung langkah-langkah lokal, nasional, regional, dan internasional. Bumi makin rusak Secara kasat mata kita merasakan betapa bumi kita makin rusak. Sekadar contoh, hasil-hasil kajian peneliti di Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) memberikan gambaran kerusakan yang perlu diwaspadai semua pihak. Pemerintah, lembaga legislatif, dan masyarakat perlu merenungkannya untuk mengambil langkah yang tepat. Kajian perubahan suhu di Jakarta menunjukkan bahwa dalam 100 tahun (tahun 1901-2002) suhu cenderung terus naik. Pada awal 1900-an suhu rata-rata di Jakarta sekitar 260 C, pada awal 2000-an mencapai sekitar 280 C. Penelitian lebih rinci dengan data satelit di beberapa kota besar menunjukkan kecenderungan pemanasan kota yang disebut urban heat island (pulau panas perkotaan). Disebut pulau panas karena pemanasan hanya bersifat lokal di tengah kota dengan daerah sekitarnya relatif lebih dingin. Pemanasan kota lebih disebabkan berkurangnya tanaman dan bertambahnya bangunan serta jalan beraspal. Di Bandung, daerah panas dengan suhu tinggi 30-350 C yang umumnya terletak di sekitar pusat kota bertambah dengan laju per tahun 4,47% atau kira-kira 12.606 ha. Laju pertambahannya di Semarang 8,4% (12.174 ha) dan di Surabaya 4,8% (1.512 ha). Hal ini terkait dengan laju pertumbuhan per tahun kawasan terbangun di Bandung 0,36% (1.029 ha), di Semarang 0,83% (1.200 ha), dan di Surabaya 1,69% (531 ha). Perkembangan pembangunan yang berdampak pada peningkatan polusi udara juga berpotensi meningkatkan keasaman air hujan. Fenomena hujan asam perlu diwaspadai karena terkait dengan potensi kerusakan pada bangunan dan usaha pertanian. Pengukuran keasaman hujan asam di Bandung mulai memberi sinyal lampu kuning. Sejak 1996 air hujan di Bandung cenderung berada di bawah batas keasaman dan mulai mengindikasikan fenomena hujan asam. Bahkan, pada tahun 1999-2000 mencapai batas terendah dengan keasaman (pH) sekitar 4 yang mungkin juga sebagian disebabkan oleh sumber-sumber dari gunung berapi. Sulfur dioksida dan nitrogen dioksida dari polusi udara dari kendaraan bermotor dan industri menjadi faktor yang perlu diwaspadai dari fenomena hujan asam. Curah hujan rata-rata di Jawa Barat dan Banten ada kecenderungan berkurang, dari 2.596 mm pada 1901-1930 menjadi 2.215 mm pada 1973-2002. Secara spasial, daerah yang mengalami penurunan curah hujan terutama di daerah Jawa Barat bagian selatan. Banyak faktor yang berpengaruh, selain faktor lokal dan regional, sangat mungkin juga dipengaruhi faktor global. Secara global diyakini perubahan iklim telah terjadi akibat pemanasan global yang terkait peningkatan gas rumah kaca (terutama CO2) akibat aktivitas manusia. Suhu rata-rata global makin panas, naik sekitar 0,70 C dalam 50 tahun. Tampaknya kenaikannya kecil, tetapi diduga kuat berperan pada peningkatan tinggi permukaan air laut dan mencairnya es di kutub. Bila emisi CO2 dari industri, transportasi, dan aktivitas manusia lainnya terus bertambah, sedangkan hutan sebagai penyerap CO2 makin berkurang, bumi akan makin panas dan curah hujan juga berubah. Bila itu terjadi, Indonesia bagian utara cenderung akan makin tinggi curah hujannya, sedangkan Indonesia bagian selatan (termasuk Jawa) cenderung berkurang curah hujannya. Dengan suhu makin tinggi produksi padi dan jagung juga cenderung menurun, kecuali bila ditemukan bibit unggul baru. Mari berbuat Kecenderungan makin rusaknya bumi, baik dalam skala lokal maupun global, bukan sekadar wacana ilmiah. Perlu langkah konkret untuk mengatasinya. Langkah-langkahnya mulai dari lingkup global, nasional, regional, sampai lokal, bahkan personal. Kalau kita biarkan, potensi bencana mengancam kita, manusia saat ini maupun generasi anak-anak kita. Di tingkat global telah diupayakan perjanjian-perjanjian internasional untuk penyelamatan bumi. Misalnya, Protokol Montreal untuk perlindungan lapisan ozon dan Protokol Kyoto untuk pengendalian pemanasan global walau masih ada kendala pelaksanaannya. Di tingkat nasional perlu terus diupayakan adanya peraturan perundangan yang menjamin kelestarian hutan, tata guna lahan yang ramah lingkungan, pengendalian pencemaran, dan segala aspek lainnya yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan demi penyelamatan bumi dan kehidupannya. Menjelang Hari Bumi 22 April ada berita menggembirakan dengan disahkannya Undang-Undang tentang Pengelolaan Sampah. Beberapa aspek mendasar serta strategis yang ditekankan dalam UU ini antara lain adanya kewajiban pengelola kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, tempat umum, tempat sosial juga bagi tempat-tempat lainnya untuk menyediakan fasilitas pemilahan sampah. Ada juga larangan bagi masyarakat membuang sampah tidak pada tempatnya atau membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah. Pembuat kebijakan tentu berperan pada langkah-langkah strategis pada lingkup global, nasional, dan lokal kota/kabupaten. Akan tetapi, aksi penyelamatan bumi bisa juga pada lingkup personal. Setidaknya perilaku individual itu dapat mengurangi kerusakan lingkungan secara langsung atau tidak langsung dari perubahan perilaku masyarakat secara kolektif. Perubahan perilaku individu dan masyarakat terkait dengan sampah sangat penting ditekankan. Sikap egois dan tidak peka terhadap masalah lingkungan masih sering dijumpai sehingga seenaknya membuang sampah di mana saja. Perilaku untuk memilah sampah dalam konteks 3R (reduce, reuse, recycle atau kurangi, pakai ulang, daur ulang) perlu terus diupayakan. Pemilahan mulai tingkat rumah tangga bukanlah hal yang rumit bila dibiasakan. Menyediakan tiga tempat sampah di rumah dapat mengurangi masalah sampah. Sampah organik bisa sekadar ditimbun di halaman dengan lubang bergilir untuk menyuburkan tanah. Sampah yang bisa didaur ulang (misalnya kertas, karton, dan botol) bisa diserahkan kepada pemulung atau pengumpul sampah daur ulang. Tempat sampah ketiga untuk sampah lainnya. Dengan pembiasaan kita pasti bisa berdisiplin agar saluran air tak tersumbat sampah dan gunung sampah tak pernah terjadi lagi. Tanam dan pelihara pohon harus diintensifkan untuk mengurangi dampak pemanasan karena efek gas rumah kaca lokal maupun global. Pohon akan menyerap CO2 di udara untuk diubah menjadi batang, daun, dan buah. Dengan berkurangnya CO2, udara panas dari permukaan bumi dapat langsung dilepaskan ke angkasa tanpa hambatan. Semakin besar dan semakin banyak pohon dipelihara, semakin baik pengurangan pemanasan kota dan global. Namun, dalam skala kecil pun, tanaman dalam pot yang ditempatkan di dalam dan sekitar rumah dan gedung perkantoran dapat menciptakan efek pendinginan selain menambah unsur keindahan. Penghematan listrik bukan hanya faktor ekonomi, melainkan juga faktor penting dalam penyelamatan lingkungan bumi. Saat ini pembangkit listrik banyak yang bergantung pada bahan bakar minyak dan batu bara. Pembakaran bahan bakar minyak dan batu bara berpotensi memperbanyak emisi CO2 yang menambah pemanasan bumi. Pada lingkup individu, kita bisa berbuat dengan menggunakan listrik secara bijak. Lampu dan AC hanya digunakan bila diperlukan. Gunakan sebanyak mungkin cahaya alami dan upayakan sistem pendinginan sirkulasi udara alami. Di perkantoran selain mengupayakan penanaman pohon, pemilahan sampah, dan penghematan listrik, upaya penyelamatan bumi bisa dengan penghematan penggunaan kertas. Secara umum, semakin banyak kertas digunakan akan semakin banyak pohon ditebang sebagai bahan baku kertas. Jadi jika tidak diperlukan, jangan membuat cetakan dokumen. Gunakan transfer informasi tertulis secara digital. Contoh-contoh itu hanyalah sebagian kecil langkah yang bisa kita lakukan dalam menyelamatkan planet bumi. Bencana atau ketidaknyamanan yang kita alami dan saksikan akibat kerusakan lingkungan bumi tentunya tidak kita inginkan makin parah. Kasih sayang kita pada anak-anak harus kita wujudkan dengan mewariskan lingkungan bumi yang lebih baik. Kota yang semakin hijau dan sejuk. Sungai yang semakin bersih dan tertata. Udara yang semakin segar dan langit semakin biru.*** Penulis, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, Lapan Bandung. April 11 Tujuh Langit bisa bermakna Langit ghaib dan bukan tujuh lapisTujuh LangitT.
Djamaluddin (LAPAN Bandung) Banyak orang di masa lalu—jauh sebelum Al-Qur'an diturunkan—percaya bahwa langit berlapis tujuh. Ini berkaitan dengan pengetahuan mereka tentang adanya tujuh benda langit utama dengan jarak yang berbeda-beda. Kesimpulan ini lahir dari pengamatan mereka atas gerakan benda-benda tersebut. Benda langit yang lebih cepat geraknya di langit dianggap lebih dekat jaraknya. Lalu mereka menggambarkan seolah-olah benda-benda tersebut berada pada lapisan langit yang berbeda-beda, mengelilingi Bumi yang berada di tengah-tengah. Di langit pertama ada Bulan, benda langit yang bergerak tercepat sehingga disimpulkan sebagai yang paling dekat. Langit ke dua ditempati Merkurius (Bintang Utarid). Venus (Bintang kejora) berada di langit ke tiga. Sedangkan matahari ada di langit ke empat. Di langit ke lima ada Mars (Bintang Marikh). Di langit ke enam ada Jupiter (Bintang Musytari). Langit ke tujuh ditempati Saturnus (Bintang Siarah/Zuhal). Inilah keyakinan lama yang menganggap Bumi sebagai pusat alam semesta. Orang-orang dahulu (khususnya Romawi dan Yunani) juga percaya bahwa ketujuh benda langit itu adalah dewa-dewa yang mempengaruhi kehidupan di Bumi. Pengaruhnya bergantian dari jam ke jam dengan urutan mulai dari yang terjauh (menurut pengetahuan mereka) yaitu Saturnus, sampai yang terdekat yakni Bulan. Pada jam 00.00, Saturnuslah yang dianggap berpengaruh pada kehidupan manusia. Karena itu, hari pertama disebut Saturday (hari Saturnus) dalam bahasa Inggris, atau Sabtu dalam bahasa Indonesia. Ternyata, jika kita menghitung mundur hari sampai tahun 1 Masehi, tanggal 1 Januari tahun 1 memang jatuh pada hari Sabtu. Bila diurut selama 24 jam, jam 00.00 berikutnya jatuh pada Matahari. Jadilah hari itu sebagai hari Matahari (Sunday). Setelah Sun’s day adalah Moon’s day (Monday). Hari berikutnya adalah Tiw’s day (Tuesday). Tiw adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Mars (dewa perang Romawi kuno). Berikutnya adalah Woden’s day (Wednesday). Woden adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Merkurius (dewa perdagangan Romawi kuno). Berikutnya lagi Thor’s day (Thursday). Thor adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Jupiter (dewa petir, raja para dewa Romawi). Terakhir adalah Freyja’s day (Friday). Freyja adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewi Venus (dewi kecantikan Romawi kuno). Jumlah hari yang ada tujuh itu dipakai juga oleh orang-orang Arab. Dalam bahasa Arab nama-nama hari disebut berdasarkan urutan: satu, dua, tiga, ..., sampai tujuh, yakni ahad, itsnain, tsalatsah, arba'ah, khamsah, sittah, dan sab'ah. Bahasa Indonesia mengikuti penamaan Arab ini sehingga menjadi Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at, dan Sabtu. Hari ke enam disebut secara khusus: Jum'at, sebab itulah penamaan yang diberikan Allah di dalam Al-Qur'an, yang menunjukkan adanya kewajiban shalat Jum'at berjamaah. Penamaan Minggu berasal dari bahasa Portugis, Dominggo yang berarti hari Tuhan. Ini berdasarkan kepercayaan Kristen bahwa pada hari itu Yesus bangkit. Tetapi orang Islam tidak mempercayai hal itu, sehingga lebih menyukai pemakaian "Ahad" daripada "Minggu". Tujuh langit dalam Isra’ & Mi’rajPemahaman tentang istilah ”tujuh langit” sebagai tujuh lapis langit dalam Islam, mungkin bukan sekadar pengaruh konsep geosentris lama, tetapi juga diambil dari kisah mi’raj Rasulullah SAW. Mi’raj adalah perjalanan dari Masjid Aqsha ke sidratul muntaha yang secara harfiah berarti 'tumbuhan sidrah yang tak terlampaui', suatu perlambang batas yang tak ada manusia atau makhluk lain yang bisa memahaminya lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur'an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan seperti sidratul muntaha itu. Secara sekilas kisah mi’raj di dalam hadits shahih sebagai berikut. Mula-mula Rasulullah SAW memasuki langit dunia. Di sana Beliau menjumpai Nabi Adam yang dikanannya berjejer ruh para ahli surga dan di kirinya ruh para ahli neraka. Perjalanan kemudian Beliau teruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya Baitul Ma'mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi. Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam ('pena'). Dari sana dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (batin) di surga, dan dua sungai fisik (dhahir) di dunia: Sungai Eufrat di Irak dan Sungai Nil di Mesir. Jibril juga mengajak Rasulullah SAW melihat surga yang indah. Hal ini dijelaskan pula dalam Al-Qur'an Surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya. Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib. Lapisan Langit: Dhahir atau Bathin?Langit (samaa' atau samawat di dalam Al-Qur'an) secara astronomis berarti segala sesuatu yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu, dan gas yang bertebaran. Lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit, sama sekali tidak dikenal dalam astronomi. Ada yang berpendapat bahwa langit itu memang berlapis-lapis dengan berdalil pada QS Al-Mulk:3 dan Nuh:15 yang menyebutkan sab'a samaawaatin thibaqaa. Tafsir Depag mengartikan kalimat itu sebagai "tujuh langit berlapis-lapis" atau "tujuh langit bertingkat-tingkat". Walaupun demikian, ini tidak berarti langit memang berlapis tujuh. Makna thibaqaa, bukan berarti berlapis-lapis seperti kulit bawang, tetapi dapat bermakna ”bertingkat-tingkat, bertumpuk, satu di atas yang lain.” Pengertian ini berdasarkan tafsir/terjemah Yusuf Ali, A. Hassan, Hasbi Ash-Shidiq, dll. "Bertingkat-tingkat" berarti jaraknya berbeda-beda. Walaupun kita melihat benda-benda langit seperti menempel pada bola langit, sesungguhnya jaraknya tidak sama. Rasi-rasi bintang yang dilukiskan mirip kalajengking, mirip layang-layang, dan sebagainya sebenarnya jaraknya berjauhan, tidak sebidang seperti titik-titik pada gambar di kertas. Lalu apa makna ”tujuh langit” bila bukan berarti tujuh lapis langit? Di dalam Al-Qur'an ungkapan ”tujuh” atau ”tujuh puluh” sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung banyaknya. Dalam matematika kita mengenal istilah "tak berhingga" yang berarti bilangan yang sedemikian besarnya, yang jauh lebih besar dari yang kita bayangkan. Kira-kira seperti itu pula makna ungkapan "tujuh" dalam beberapa ayat Al-Qur'an. Misalnya, di dalam Q.S. Luqman:27 diungkapkan, ”Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah.” Istilah ”tujuh lautan” bukanlah menunjukkan jumlah eksak, sebab dengan delapan lautan lagi atau lebih kalimat Allah tak akan ada habisnya. Sama halnya dalam Q.S. At-Taubah:80: "...Walaupun kamu mohonkan ampun bagi mereka (kaum munafik) tujuh puluh kali, Allah tidak akan memberi ampun...." Jelas, ungkapan "tujuh puluh" bukan berarti bilangan eksak. Allah tidak mungkin mengampuni mereka meski kita mohonkan ampunan lebih dari tujuh puluh kali. Jadi, ”tujuh langit” semestinya dipahami pula sebagai benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit. Bagaimana dengan makna langit pertama, ke dua, sampai ke tujuh dalam kisah mi’raj Rasulullah SAW? Muhammad Al-Banna dari Mesir menyatakan bahwa beberapa ahli tafsir berpendapat Sidratul Muntaha itu adalah Bintang Syi'ra, yang berarti menafsirkan tujuh langit dalam makna fisik. Tetapi sebagian lainnya, seperti Muhammad Rasyid Ridha (juga dari Mesir), berpendapat bahwa tujuh langit dalam kisah Isra’ & Mi’raj adalah langit gaib. Dalam kisah mi’raj, peristiwa fisik bercampur dengan peristiwa gaib. Misalnya pertemuan dengan ruh para Nabi, melihat dua sungai di surga dan dua sungai di bumi, serta melihat Baitul Ma’mur, tempat ibadah para malaikat. Jadi, saya sependapat dengan Muhammad Rasyid Ridha bahwa pengertian langit dalam kisah mi’raj itu memang bukan langit fisik yang berisi bintang-bintang, tetapi langit gaib.
March 03 Belajar pada Thawafnya Alam SemestaJanji Hakiki T. Djamaluddin Dimuat Hikmah Republika, 23 Maret 2000
Dia (Allah) berkata kepada langit dan bumi, "Datanglah kalian dengan taat atau terpaksa". Keduanya menjawab, "Kami datang dengan taat". (QS 41:11) Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi (QS 7:172) Setelah Allah menciptakan alam semesta dan manusia, kemudian Allah ‘melantiknya’ dengan mengambil janji. Langkah ini pula yang kita tiru ketika kita menetapkan seseorang menjadi pejabat pemegang amanat. Maksudnya, tentu agar setiap langkah dan tindakannya tidak lepas dari janji yang pernah diucapkannya. Langit dan bumi adalah makluk fisik yang tidak berjiwa, tidak mempunyai kemampuan berkreasi. Mereka mengerjakan sebatas ‘program’ yang telah ditetapkan penciptanya, tidak ada kemampuan lebih dari itu. Karenanya ketika amanat diberikan Allah mereka menolaknya. Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (QS 33:72). Bukti ketaatan langit dan bumi mudah dilihat dari gerakan mengitari pusat massanya. Gunung-gunung mengitari pusat bumi. Bulan mengitari bumi. Bumi dan planet-planet mengitari matahari. Matahari dan ratusan milyar bintang mengitari pusat galaksi. Dalam bahasa fisika, gerakan benda-benda langit akibat gaya gravitasi. Dalam bahasa Alquran, gerakan itu bukti ketaatan kepada Khaliq-nya, tanpa tawar-menawar sesuai janjinya. Jasad manusia pun benda fisik yang tidak berbeda dengan alam. Unsur kimiawinya yang didominasi karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen juga terdapat di alam.Gerakannya pun mengikuti hukum yang berlaku di alam. Bila terpeleset akan jatuh ke bawah, sama seperti jatuhnya batu. Bila mati akan terurai bersatu kembali dengan tanah. Secara jasmaniah, manusia memang sudah terikat dengan janji ketika langit dan bumi tercipta. Namun manusia bukan sekadar jasmani, tetapi ada bagian ruhani yang menjadi ciri dasar kemuliaan dan kelebihan manusia dibandingkan makhluk lainnya (QS 17:70). Manusia dipercaya sebagai khalifah di bumi dan diberi pengajaran yang tidak diberikan kepada malaikat (QS 2:30-31), hingga malaikat pun diperintahkan Allah untuk bersujud. Allah memang menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS 95:4). Namun keistimewaan itu bersyarat, bila sejumlah keterbatasannya dapat dikendalikan agar tidak mendominasi. Manusia punya kecenderungan tidak sabar, banyak berkeluh kesah, dan kikir (QS 70:19). Manusia juga lemah (QS 4:28) dan bersifat tergesa-gesa (QS 17:11). Kelemahan-kelemahan seperti itu terkait dengan catatan Allah bahwa manusia itu zalim dan bodoh, walaupun sanggup memegang amanat yang berat. Dengan segala potensi keunggulan dan kelemahannnya
itu manusia pun bisa jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya bila tidak
disertai iman dan amal shalih (QS 95:5). Memelihara amanat dan janji adalah
salah satu kunci mengatasi kelemahan manusia (QS 70:32) dan menjadi ciri
keimanan (QS 23:8). Thawaf saat berhaji yang menirukan gerakan langit dan bumi mengingatkan akan janji hakiki saat awal makhluk diciptakan-Nya. Setidaknya kita semua diingatkan dengan bacaan Al-Fatihah setiap rakaat shalat akan janji hakiki pengakuan keberadaan Allah. Memegang janji yang hakiki itu menjadi dasar untuk menjaga janji dan amanat yang lebih luas.
February 01 Sensor Manusiawi Bernama QalbuTertutupnya Qalbu (Dimuat Hikmah, Republika, 15 Feb 2000) T. Djamaluddin Upaya mendapatkan cahaya (petunjuk) Allah memang ibarat astronom yang berupaya menangkap cahaya alam dengan sistem teleskop besar yang sangat peka, manusia pun harus menggunakan kalbu (qalbu) yang sangat peka. Kalbu manusia memang merupakan detektor yang sangat peka. Namun sering kali kepekaannya bisa berkurang atau bahkan menghilang ketika kalbu itu mulai tertutup debu-debu dosa dan tak ada upaya membersihkannya. Perilaku kalbu itu pun memang mirip dengan fungsi teleskop dan detektornya. Bayangkan astronom yang bekerja dengan teleskopnya menangkap cahaya alam. Malam cerah tak berawan, cahaya bintang begitu cemerlang menembus teleskop dan direkam detektor kamera CCD. Berpuluh megabite data dapat terekam semalaman siap untuk diolah. Namun upaya itu percuma ketika analisis citra menunjukkan adanya "ghost image", gambar aneh yang merusakkan kecemerlangan cahaya bintang. Ternyata detektor peka itu terselubung titik-titik embun. Walaupun sekadar embun tipis, hal itu cukup untuk menghilangkan makna cahaya bintang. Apalagi bila debu tebal yang menutupinya, pasti cahaya tak mungkin masuk. Kalbu pun demikian, bila debu-debu dosa menyelimutinya, kepekaannya makin hilang. Jangankan berfungsi sebagai detektor yang bisa membimbing manusia, untuk sekadar menangkap cahaya Allah pun mustahil. Padahal kalbu berfungsi sebagai detektor pembeda yang baik dan yang buruk. Rasulullah SAW telah berpesan, "Mintalah fatwa pada kalbumu; kebajikan adalah segala yang menentramkan jiwa dan kalbu sedangkan dosa adalah segala yang meragukan dalam jiwa dan hati, walaupun orang lain membenarkannya" (HR Ahmad & Addarimi). Kemunafikan dapat menutup kalbu (QS 63:3), apalagi kekafiran (QS 2:7, 2:88). Kalbunya tidak dapat dibersihkan lagi (5:41). Bahkan kalbunya menjadi sangat keras, tanpa celah yang dapat ditembus (QS 2:74). Kalbu yang demikian sama sekali tak dapat lagi menerima cahaya Allah, termasuk cahaya Alquran (QS 6:25). Dan sesungguhnya Kami jadikan (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai kalbu, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS 7:179). Walau pun mata dan telinga berfungsi juga sebagai detektor fisis, tetapi dalam hal menangkap cahaya Allah kalbu lah yang paling berperan. Pokok pangkal kesesatan itu bukan karena butanya mata atau tulinya telinga, tetapi karena tidak berfungsinya kalbu (QS 22:46). Kalbu yang tidak berfungsi baik, karena telah tertutup atau mengeras, cenderung membentuk perilaku manipulatif. Korupsi, kolusi, dan segala ketidakadilan bersumber dari tidak berfungsinya kalbu. Pembenaran atas segala tindakan dosa selalu dilakukannya, termasuk bila memungkinkan menggunakan ayat-ayat yang tak tegas maknanya (mutasyabihat) (QS 3:7). Hanya dengan iman dan dzikir kalbu dapat dipelihara kepekaannya (QS 64:11) dan menjadi tentram (QS 13:28) hingga mampu bergetar setiap cahaya Allah menyentuhnya (QS 8:2). January 01 IstiqamahJalan Lurus (Dimuat Hikmah, Republika, 20 Apr 2000)
T. Djamaluddin
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada ketakutan bagi mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS 46:13). Fenomena fisika, bagian dari sunnatullah, bisa menjadi teladan yang baik bagi manusia. Contohnya laser, yang kini mulai banyak dikenal, mulai dari pertunjukan sinar laser sampai pointer mungil yang dijual di kaki lima. Laser (light amplification by stimulated emission of radiation) adalah penguatan cahaya dengan pancaran radiasi yang distimulasi. Di alam kita kenal maser (microwave amplification by stimulated emission of radiation), penguatan gelombang mikro dengan pancaran radiasi yang distimulasi, yang dipancarkan oleh awan antarbintang. Garis kehidupan seorang Muslim idealnya ibarat mengikuti garis penjalaran sinar laser yang lurus tersebut. Titik awalnya adalah niat yang ikhlas dan titik sasarannya adalah mardlatillah, keridlaan Allah. Proses di titik awal amat menentukan sampai tidaknya sinar mencapai sasaran yang dituju. Niat yang lemah bisa menyebabkan tidak sampainya pada tujuan. Sedikit saja hambatan yang dihadapi, sasaran tidak tercapai. Pada laser atau maser, cahaya atau gelombang mikro itu diproses dan diperkuat sehingga dapat terpancar sangat kuat, lurus tidak menyebar, dan dapat menempuh jarak yang sangat jauh. Seperti itu pula hendaknya niat diproses dan diperkuat agar tetap lurus dalam bertindak dan mampu menembus hambatan-hambatan yang dihadapi. Untuk mendapatkan penguatan tersebut, ada proses pemompaan energi pada titik awal tersebut. Pada perangkat laser, pemompaan energi dilakukan dengan penyinaran atau pemberian medan listrik. Pada fenomena maser dari awan antarbintang, pemompaan energi dilakukan oleh radiasi inframerah dari bintang-bintang di dekatnya.. Pada diri manusia "pemompaan energi" untuk penguatan niat dilakukan dengan tempaan iman dan doa yang terus menerus. Allah menyerukan, "Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS 3:139). Rasullullah SAW berpesan, "Doa itu senjatanya orang mu'min" (HR Hakim dan Abu Ya'la) Jalan mencapai tujuan mardlatillah tentu tidak mulus. Ada saja hambatan dan godaan. Sedangkan manusia tidak luput dari kelalaian dan dosa. Kemalasan menyebabkan amal terhenti. Riya (pamer) dan bangga diri menghanguskan nilai amal. Penyelewengan menyeret kita keluar dari jalur yang lurus. Tetapi, Allah memberikan mekanisme untuk meluruskan kembali perjalanan kita: segera ingat Allah dan mohon ampunan (QS 3:135). Hal yang terpenting adalah menjaga konsistensi diri, beristiqamah (QS 46:13), setelah memantapkan iman berbekal doa (QS 3:8) yang memperkuati niat. Istiqamah memang mudah diucapkan, tetapi berat melaksanakannya. Idealisme yang bergelora pada masa muda atau semasa mahasiswa, kerap tak bisa dipertahankan ketika berhadapan dengan realitas dalam perjuangan profesi sesungguhnya. Tuntutan keluarga, silaunya iming-iming harta, dorongan mendapatkan dan mempertahankan jabatan, serta upaya meningkatkan status sosial tidak jarang menggoyah jiwa. Awalnya menggunakan pembenaran-pembenaran, selanjutnya hilang rasa malu. Sebelum
tersesat jauh, luruskan kembali perjalanan hidup kita. Memang beristiqamah
terasa pahit secara lahiriyah, tetapi tentram secara batiniyah.
December 12 Saudi Bikin Masalah Lagi Penyatuan Hari Raya dan Masalah Idul Adha T. Djamaluddin (LAPAN) Di Indonesia kita sedang mengupayakan penyatuan hari raya. Dua metode, hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), kini harus dipandang setara dan bisa dipersatukan. Kedua metode itu bisa bersatu keputusannya bila kriterianya disepakati sama. Jalan menuju itu mulai terbuka. Kita mengupayakan mencari titik temu kriteria hisab rukyat Indonesia agar awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha, serta bulan-bulan hijriyah lainnya bisa seragam. Namun penyatuan kriteria masih akan menyisakan masalah perbedaan terkait dengan Idul Adha.Masalah perbedaan Idul Adha tidak sepenuhnya terkiat dengan kriteria. Ya, di Indonesia sebagian besar ulama bersepakat untuk mendasarkan pada hasil hisab rukyat Indonesia. Artinya, dengan penyatuan kriteria kita bisa berharap bersatu melaksanakan Idul Adha. Namun masih ada sebagian saudara kita, antara lain dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia (DDII) yang berpendapat bahwa Idul Adha sangat terkait dengan pelaksanaan wukuf di Arafah, sehingga Idul Adha selalu tergantung keputusan Arab Saudi. Mengikut keputusan Arab Saudi potensi perbedaan sangat besar. Selain masalah garis tanggal, masyarakat astronomi sering mengingatkan bahwa keputusan Saudi sering bermasalah. Setidaknya dalam 3 tahun terakhir 1425 (2005), 1427 (2006), dan 1428 (2007) keputusan Majlis Al-Qadha Al-'Ala (Dewan Mahkamah Tinggi) Arab Saudi sangat kontroversial. Kesaksian rukyat diterima begitu saja, padahal secara astronomi bulan telah terbenam. Ini menimbulkan masalah. Pada hari Ahad, 9 Desember 2007, ada laporan kesaksian rukyatul hilal, padahal ijtima (new moon, bulan baru astronomis) belum terjadi. Tidak tahu apa yang mereka lihat. Dengan kesaksian itu Arab Saudi memutuskan wukuf jatuh pada 18 Desember dan Idul Adha pada 19 Desember 2007. Sebelumnya kita berharap Idul Adha tahun ini bisa seragam, khususnya di Indonesia. Secara praktek hisab rukyat di Indonesia, seperti juga diputuskan dalam sidang itsbat di Depag RI pada Rabu, 12 Desember 2007, memang semua bersepakat beridul Adha kamis 20 Desember 2007. Namun, adanya pengumuman Arab Saudi, potensi adanya dua kali shalat Idul Adha sangat terbuka. Saudara-saudara kita yang berpendapat Idul Adha tergantung pelaksanaan wukuf, akan melaksanakan shalat Idul Adha pada 19 Desember 2007. Penyeragaman Idul Adha tidak dapat dilakukan dengan pendekatan astronomis, dengan penyatuan kriteria, kecuali kalau kita bisa mengajak Majlis Al-Qadha Al'Ala yang merupakan otoritas di Arab Saudi. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan ukhuwah. Seorang perwakilan dari DDII di Badan Hisab Rukyat, pernah menyatakan bahwa DDII menerima nasihat dari Ulama di Arab saudi agar menjaga ukhuwah diutamakan, daripada mengikuti keputusan Arab Saudi tetapi berbeda dengan saudara-saudara lainnya. Di lain pihak Dewan Syariat Pusat Partai Keadilan Sejahtera memberikan jalan tengah yang baik dalam menjaga ukhuwah, yaitu melaksanakan shaum Arafah sama harinya dengan hari wukuf, tetapi menunda shalat Idul Adha seperti keputusan pemerintah RI yang menjadi acuan sebagian besar saudara-saudara Muslim. Itu artinya, mereka shaum Arafah pada Selasa 18 Desember 2007, tetapi ikut melaksanakan shalat Idul Adha pada Kamis 20 Desember 2007. Mendahulukan ukhuwah ini merupakan titik temu penyeragaman Idul Adha, di samping pendekatan penyatuan kriteria hisab rukyat. December 10 Kita Bisa BersatuJalan Menuju Titik Temu Makin Terbuka
Upaya untuk mengakhiri perbedaan hari raya di kalangan
ummat Islam di Indonesia serius dilakukan. Dua ormas besar NU dan Muhammadiyah
secara intensif telah bermusyawarah untuk menemukan titik temu. Upaya paling
dimulai pemanasan informal dengan pertandingan sepakbola menjelang Ramadhan
yang digagas Wapres Jusuf Kalla. Kemudian Wapres JK memfasilitasi pertemuan dua
pimpinan ormas Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah pada Senin 24
September
Pertemuan pertama antara Mejelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dan Lajnah Falakiyah PBNU dilaksanakan pada 2 Oktober 2007/ 20 Ramadhan 1428 di kantor PBNU.Jakarta. Pertemuan kedua diadakan pada 6 Desember 2007/ 26 Dzulqaidah 1428 di kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta. Selanjutnya akan dilakukan pertemuan di UIN Jakarta. Titik terang semakin nyata. Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Syamsul Anwar menyatakan, “Sudah saatnya NU dan Muhammadiyah mengalah untuk ummat, sehingga harus ada kesepakatan bersama agar ummat tidak lagi bingung akibat keputusan yang dihasilkan. Sementara itu tokoh lajnah falakiah PBNU Slamet Hambali mengatakan, “Sudah bukan saatnya lagi NU dan Muhammadiyah bertahan pada argumentasinya masing-masing.” Ditegaskannya pula, “Pada dasarnya NU juga menerima perubahan”. Alhamdulillah, pertemuan kedua semakin membuka titik terang bahwa kita bisa bersatu. Kesepahaman bahwa kita perlu mengalah untuk ummat dan kita bisa menerima perubahan, adalah suatu langkah maju untuk bersatu. Hisab dan rukyat, secara astronomis tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling melengkapi. Kesalahpahaman yang menjadikannya seolah berbeda dan tidak dapat disatukan. Penyatuan kriteria hisab rukyat adalah titik temu keduanya.
Semoga pertemuan lanjutan di UIN Jakarta mulai membahas hal teknis kriteria apa yang akan digunakan bersama. Apakah langsung pada upaya penyatuan kalender internasional dengan kriteria internasional, atau sementara gunakan kriteria lokal untuk penyatuan kalender nasional? Karena kesepakatan kriteria ini bukan hanya bagi Muhammadiyah dan NU, ormas lain dan pakar terkait pun diharapkan ikut serta untuk mendorong upaya penyatuan kriteria ini. Insya Allah, kita bisa bersatu kalau punya kemauan. December 03 Berharap Cahaya AllahCahaya(Dimuat di Hikmah Repubika, 4 Feb 2000)
T. Djamaluddin
Dalam arti fisis maupun kiasan, cahaya memegang peran penting bagi manusia. Dalam arti fisis, cahaya adalah bagian dari gelombang elektromagnetik yang sejenis dengan gelombang radio, infra merah, ultra violet, sinar-X, dan sinar gamma. Dalam makna kiasan, cahaya adalah petunjuk Allah. Cahaya fisis di alam adalah bahasa universal yang dengan itu manusia bisa membaca ayat-ayat kauniyah. Dengan itu pula hakikat makluk Allah dapat kita kenal. Benda-benda langit bercerita hakikat dirinya dengan bahasa cahaya tersebut. Tentu ada juru bahasanya, astrofisika. Matahari bercerita bahwa dirinya bersuhu permukaan sekitar 6000 derajat dari warna kuningnya. Bintang berwarna merah mengindikasikan bersuhu lebih rendah dan yang berwarna biru bersuhu lebih tinggi. Galaksi berkisah bahwa dirinya sedang berlari menjauh dengan pergeseran spektrum cahayanya ke arah merah. Demikian juga pergeseran spektrum pada bintang-bintang menceritakan tentang rotasinya. Ternyata 90% atau lebih materi di alam semesta tak memancarkan cahaya atau gelombang elektromagnetik lainnya. Itulah yang dinamakan materi gelap, antara lain Black Hole, objek "bintang gagal" (kerdil coklat), atau partikel-partikel subelementer. Hakikat materi gelap itu hanya diketahui dari isyarat-isyarat tak langsung. Dalam bahasa tauhid, bercahaya atau tidaknya benda-benda langit bukan sekadar persoalan fisis, tetapi ada peran Allah. Allah adalah pemberi cahaya bagi langit dan bumi (QS 24:35). Cahaya-Nya berlapis-lapis, cahaya di atas cahaya. Pada sisi lain Allah memberikan perumpamaan tentang kegelapan yang amat sangat hingga tak ada cahaya sedikit pun yang terpancar atau terpantul. Tanpa cahaya itu, tak satu benda pun akan tampak, termasuk tangan sendiri (QS 24:40). Ungkapan Allah tentang cahaya alam semesta itu selalu dikaitkan dengan dimensi kemanusiaan. Dalam dimensi kemanusiaan, "cahaya" bisa bermakna sebagai "cahaya agama" atau hidayah. Dalam hal ini pun ada peran Allah. "Allah menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya kepada cahaya" (QS 24:35). "Siapa yang tak diberi cahaya oleh Allah tiada baginya cahaya" (QS 24:40). Namun, manusia dengan kalbunya bukanlah makhluk pasif yang sekadar menanti pemberian cahaya Allah. Ibarat astronom yang berupaya menangkap cahaya alam dengan teleskop besar yang sangat peka, manusia pun harus menggunakan kalbunya untuk menangkap cahaya Allah. Banyak sumber cahaya Allah. Hanya kalbu yang peka yang mampu menangkap sebanyak mungkin cahaya itu. Sumber utama adalah Alquran yang merupakan cahaya yang diturunkan Allah (QS 64:8) yang dengan itu dibimbing-Nya hamba-hamba yang dikehendaki-Nya (QS 42:52). Alquran itu pula yang akan mengeluarkan manusia dari kegelapan aqidah kepada cahaya (QS 57:9). Dengan cahaya itu bukan hanya terbimbing kehidupan kita di dunia, tetapi cahaya itu juga akan terbawa sampai akhirat. Allah mengungkapkan bahwa orang beriman kelak pada hari perhitungan akan diliputi dengan cahaya di sekelilingnya (QS 57:12). Seperti halnya benda langit, tidak banyak manusia yang mendapat cahaya Allah. Maka beruntunglah orang yang mendapat cahaya Allah dengan kalbunya yang peka. November 09 Merenungi LangitLangit Hikmah Republika, 13 Sep 1999 Oleh T. Djamaluddin
Ada sesuatu yang hilang dari kehidupan masyarakat kota: keindahan langit. Gemerlap lampu kota telah merampas hak kerlip bintang-bintang di langit untuk menembus setiap kalbu. Sementara gedung-gedung tinggi menghalangi indahnya matahari terbit dan terbenam yang penuh makna. Mungkin hal itu salah satu sebab kurang pekanya kalbu kita membaca ayat-ayat-Nya di alam. Padahal Allah mengingatkan dalam firman-Nya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi....(Q. S. 3:190-191). Menurut riwayat, setelah ayat itu turun Rasulullah SAW menangis. Bilal yang menemuinya pada waktu shubuh bertanya mengapa Rasulullah sampai menangis. Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa malam itu turun ayat yang amat berat maknanya. Padahal sedikit umatnya yang merenungkannya. Mungkin banyak di antara kita terbiasa membaca tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil, tetapi sebatas formalitas dzikir sesudah shalat. Sehingga fenomena yang biasa kita lihat adalah mengejar kuantitas jumlah bacaan, kadang dengan ucapan yang kurang sempurna. Dzikir sebenarnya tidak hanya diucapkan sesudah shalat, tetapi berlaku sepanjang kehidupan. Sayangnya suasana lingkungan dan kesibukan kota kadang melalaikan. Bila setiap hari hanya kemacetan dan gedung-gedung tinggi yang mewarnai suasana hati, mungkin dzikir terlupakan. Berganti dengan keresahan dan kejenuhan. Beruntunglah bila masih sempat menikmati langit malam menjelang tidur atau menjelang shubuh. Matikan lampu luar beberapa saat. Pandangi langit bertabur bintang. Bila beruntung berada di lokasi yang tidak terlalu parah terkena polusi cahaya, "sungai perak" galaksi Bimasakti yang memiliki ratusan milyar bintang akan terlihat membujur di langit. Sesekali mungkin terlihat meteor seperti bintang jatuh. Dalam keheningan malam, ingatlah Allah. Renungkan ayat-ayat-Nya yang terlukis indah di langit. Ucapan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil saat itu akan lebih mendalam merasuk kalbu daripada sekadar ucapan yang berpacu dengan hitungan biji tasbih atau buku-buku jari. Di tengah keluasan langit, kita sadari bumi kita hanyalah planet mungil di keluarga matahari. Sedangkan matahari sendiri hanya sekadar bintang kecil di galaksi Bimasakti. Masih banyak bintang raksasa yang diameternya ratusan kali diameter matahari. Galaksi dihuni oleh milyar bintang serta gas dan debu bahan pembentuk bintang-bintang baru. Padahal jumlah galaksi yang ada di alam semesta ini tak terhitung banyaknya. Rabbana maa khalaqta haadza baathilaa, subhaanaka faqinaa 'adzaabannar, "Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia, Mahasuci Engkau! (Hanya Engkau yang Mahasempurna, kami manusia dhaif penuh kesalahan). Karenanya (ampunilah kami), jauhkan kami dari siksa neraka" (Q.S. 3:191). Semakin dalam bertafakur, semakin sadar akan kelemahan dan kekecilan diri manusia. Dari segi substansi materinya, jasad manusia tidak ada bedanya dengan debu-debu antarbintang, sama-sama terbentuk di inti bintang. Namun nafsu manusia kadang menghanyutkan pada ketakaburan, merasa diri besar. Setiap yang besar, pasti ada yang lebih besar. Hanya Dia yang Mahabesar. Patutkah kita masih menyombongkan diri? October 10 Titik Temu Berhari rayaMedia Indonesia, 10 Oktober 2007 Menuju Titik Temu Menentukan 1 Syawal Penulis:
T Djamaluddin, Peneliti Utama Astronomi Astrofisika, Kepala Pusat
Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan, Bandung, Anggota Badan
Hisab Rukyat, Depag RI Ilmu hisab untuk menghitung posisi bulan dan matahari, sebagai bagian astronomi, bukanlah ilmu langka. Kini banyak yang menguasainya, termasuk ormas Islam, seperti Muhammadiyah, NU, dan Persis. Bahkan dengan banyaknya program komputer, siapa pun yang bisa mengoperasikannya dengan mudah dapat menghitung posisi bulan dan matahari. Masalahnya, tidak semua orang mengerti arti angka dalam penentuan awal bulan Qamariyah, khususnya dalam penentuan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Kini, dengan metode astronomi yang sama, bahkan dengan program komputer, hasil hitungan pasti akan sama. Tidak peduli siapa yang menghitung, apakah Muhammadiyah, NU, Persis, atau orang awam. Terlalu naif, ada yang merasa hasil hisabnya lebih unggul dan seolah metodenya beda dengan metode ormas lain yang menggunakan rukyat. Padahal tidak ada bedanya, semua ormas bisa menghitung dengan hasil yang sama. Dalam astronomi, yang menjadi induk ilmu hisab dan rukyat, tidak ada dikotomi hisab (perhitungan) dan rukyat (observasi). Keduanya saling mendukung dan tidak bertentangan. Kekisruhan yang terjadi dalam perbedaan penentuan Idul Fitri semata-mata lebih bernuansa kesalahpahaman hisab rukyat yang diperparah dengan ego keormasan. Kalau kita kaji akar masalahnya, sebenarnya sederhana solusinya. Samakan kriterianya dalam menafsirkan angka-angka hasil hisab. Banyak yang pesimistis menyatukan pendapat antara Muhammadiyah dan NU, karena berbeda keyakinan dalam memahami dalil syariat. Banyak juga yang mengira sumber perbedaan adalah pertentangan antara kubu hisab dan rukyat. Belajarlah dari ilmu induknya, astronomi, untuk menafsirkan makna angka-angka hasil hisab yang seharusnya tidak bertentangan dengan hasil rukyat. Penyatuan hasil hisab dan rukyat dalam menyimpulkan masuk awal bulan atau belum, terletak pada kriteria awal bulan. Kini ada dua kriteria yang digunakan dua ormas yang sering menimbulkan kesimpulan berbeda ketika posisi bulan di Indonesia berada pada ketinggian di antara dua kriteria tersebut, seperti terjadi pada 2006 dan 2007. Muhammadiyah menggunakan kriteria wujudul hilal (bulan telah wujud di atas ufuk) dengan prinsip wilayatul hukmi (berlaku di seluruh Indonesia sebagai satu kesatuan hukum). Sementara itu, NU menggunakan ketinggian minimal 2 derajat dengan prinsip menunggu hasil rukyat. Kedua kriteria itu adalah kriteria lama yang secara astronomi dianggap ketinggalan zaman. Sebenarnya sangat memalukan bila masih ada pihak yang tetap mempertahankannya. Apalagi bila dianggapnya sesuatu yang qath'i (mutlak benarnya) secara hukum. Kita bisa bersatu kalau kita menyempurnakan kriteria kemudian menyepakatinya sebagai kriteria hisab rukyat yang baru. Dalam konsep ini, bukan meminta yang satu naik yang lain turun, tetapi mengajak semua pihak sama-sama maju selangkah. Muhammadiyah Bagaimana Muhammadiyah harus melangkah tanpa meninggalkan keyakinannya bahwa hisab dapat digunakan sebagai penentu awal bulan. Kita coba pendekatan lain menuju titik temu. Tidak menggunakan alur lama ketika membahas dalil, tetapi alur alternatif untuk mencari titik temu. Secara ringkas, alur alternatif itu; Dalam Alquran (QS) 2:185 diperintahkan berpuasa bila telah menyaksikan syahr (bulan kalender,month, bukan moon). Apa tandanya syahr QS 2:189 menjelaskan tentang hilal sebagai penentu waktu bagi manusia dan penentu pelaksanaan ibadah haji. Bagaimana memanfaatkan hilal untuk penentu syahr? Muhammadiyah biasanya menggunakan QS 36:39-40 yang menjelaskan bahwa matahari tidak mungkin mengejar bulan dan malam pun tidak mungkin mendahului siang. Tafsir singkatnya, syahr dapat ditentukan ketika matahari mulai mengejar bulan (mendahului terbenam) pada peralihan siang dan malam, yaitu kriteria wujudul hilal. Ini adalah kriteria paling sederhana, tetapi mengabaikan aspek rukyat. Untuk mencari titik temu, alurnya diubah ke dalil lain yang juga kuat. Apakah tandanya syahr, Rasulullah SAW menjelaskan secara eksplisit, "Berpuasalah bila melihatnya (hilal) dan berbukalah bila melihatnya." Maka hilal sebagai penentu syahr adalah yang terlihat. Dengan perkembangan ilmu, posisi bulan bisa dihitung dengan ilmu hisab. Lalu apa syaratnya agar terlihat? Ini dirumuskan dengan suatu kriteria imkan rukyat (kemungkinan rukyat) atau kriteria visibilitas hilal yang didasarkan pada pengalaman rukyat jangka panjang dan dihitung dengan ilmu hisab. Banyak ahli hisab yang terkesan antikriteria imkan rukyat, dengan ungkapan "Kalau sudah menghisab, mengapa harus membahas rukyat." Kepada mereka perlu dijelaskan, angka-angka hasil hisab tidak bisa langsung ditafsirkan menjadi awal bulan Qamariyah tanpa menggunakan kriteria. Kriteria itu bisa sekadar wujud di atas ufuk (wujudul hilal) dan bisa juga kemungkinan untuk dirukyat. Komunitas astronomi merujuk pada kemungkinan untuk dirukyat (imkan rukyat atau visibilitas hilal). Untuk mencapai titik temu, kriteria yang harus dipilih adalah kriteria imkan rukyat. Inilah yang disebut maju selangkah, memilih kriteria yang menuju titik temu. Muhammadiyah nantinya perlu merumuskan bersama kriteria imkan rukyat yang bagaimana yang diusulkan. Apakah berdasarkan rukyat lokal atau hasil analisis internasional. NU NU pun harus maju selangkah, tanpa harus mengubah keyakinan, rukyat yang menentukan. Kriteria imkan rukyat yang selama ini digunakan perlu diubah. Kriteria 2 derajat berasal dari data pengamatan yang menyatakan hilal terendah yang berhasil diamati ketinggiannya 2 derajat. Dalam kompilasi hasil sidang isbat Depag memang ada data pada 16 September 1974 dilaporkan rukyat berhasil dilihat di 3 lokasi dengan jumlah saksi 10 orang, tanpa gangguan Venus. Hasil analisis hisab menunjukkan tinggi bulan 2,19 derajat. Setelah itu tidak ada lagi data yang cukup meyakinkan mendukung ketinggian 2 derajat. Analisis yang dilakukan Lapan dari kompilasi hasil sidang isbat 1962-1997 itu dijumpai kenyataan, pada umumnya tinggi bulan yang rendah hanya dilaporkan dari 1 atau 2 lokasi pengamatan dari sekian banyak titik pengamatan. Hal itu menunjukkan besarnya kemungkinan salah lihat objek bukan hilal. Bahkan sebagian di antaranya mengindikasikan pengamat terkecoh cahaya planet Venus (bintang Kejora) yang posisinya dekat posisi bulan. Dari analisis itu diusulkan kriteria imkan rukyat dengan ketinggian bulan yang tergantung beda azimut (beda jarak horizontal di kaki langit) antara bulan dan matahari. Bila jaraknya jauh dari matahari, ketinggian minimal 2 derajat, tetapi makin dekat dengan matahari ketinggiannya harus makin tinggi, tidak pukul rata 2 derajat seperti kriteria lama. Bila bulan tepat berada di atas matahari, saat matahari terbenam ketinggiannya perlu lebih dari 8,3 derajat. Kriteria itu masih bisa dikaji ulang. Kalau kriteria limit Danjon (batas minimal jarak bulan-matahari) diperhitungkan, kriterianya akan makin mendekati kriteria internasional dengan ketinggian minimal 3 derajat. Bila nanti kriteria imkan rukyat sudah ditetapkan, masalah lain yang harus diselesaikan adalah bila hilal sudah di atas kriteria imkan rukyat, tetapi tidak ada kesaksian hilal. Demi mencapai titik temu, Fatwa MUI 1981 dapat digunakan, seperti halnya saat sidang isbat penetapan awal Ramadan 1407/1987. Salah satu butir fatwa itu menyatakan bila ahli hisab telah sepakat bahwa malam itu sudah imkan rukyat tetapi hilal tidak dapat dilihat karena terhalang, keesokan harinya dapat ditetapkan tanggal 1 bulan baru. Artinya, kriteria imkan rukyat cukup menentukan. NU harus maju satu langkah dengan memperbaiki kriteria imkan rukyat dan menerima fatwa MUI 1981 tersebut. Bila masih keberatan dengan fatwa MUI tersebut, perlu juga diingat bahwa kriteria imkan rukyat juga didasari pada hasil rukyat masa lalu. Jadi pada dasarnya menggunakan kriteria imkan rukyat dalam mengambil keputusan tidak berarti mengabaikan rukyat pada saat itu. Dengan kriteria imkan rukyat dapat juga ditolak kesaksian yang di bawah kriteria karena kemungkinan terkecoh objek bukan hilal, kecuali bila dilaporkan dari banyak tempat dan tidak ada pengganggu dari planet Venus atau Merkurius. Bersatu ber-Idul Fitri Tampaknya, kalau pun Muhammadiyah dan NU mau maju satu langkah menunjuk titik temu kriteria imkan rukyat yang baru, implementasinya tidak bisa dilaksanakan untuk mengubah potensi perbedaan Idul Fitri 1428 H. Mekanisme organisasi tampaknya akan menghambatnya. Muhammadiyah tetap akan ber-Idul Fitri 12 Oktober dan NU ber-Idul Fitri 13 Oktober. Persis yang mendasarkan pada hisab, tetapi dengan kriteria imkan rukyat yang disederhanakan menjadi wujudul hilal di seluruh Indonesia, juga sudah mengumumkan Idul Fitri jatuh 13 Oktober 2007. Pertanyaan, dengan perbedaan itu mungkinkah merayakan Idul Fitri bersama? Jawabnya, mungkin dengan menunda salat ied agar bersama. Dalam salah satu kesempatan rapat Badan Hisab Rukyat, wakil dari Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia menyampaikan berdasarkan saran dari ulama di Arab Saudi, mendahulukan ukhuwah (persaudaraan) yang wajib lebih utama daripada salat id yang sunah. Karenanya menunda salat id keesokan harinya demi menjaga ukhuwah sangat dianjurkan, walaupun pada 12 Oktober sudah tidak berpuasa. Menunda salat id dalilnya merujuk pada hadis riwayat Ahmad, Abu Daud, Al-Nasai, dan Ibn Majah. Diriwayatkan Rasulullah SAW tidak melihat hilal Syawal sehingga pada hari ke-30 Ramadan itu mereka masih berpuasa. Namun, kemudian pada penghujung siang (menjelang zuhur) datanglah rombongan yang mengabarkan mereka melihat hilal. Maka, Rasul segera menyuruh mereka untuk berbuka pada hari itu dan menunaikan salat id pada keesokan harinya. Dalil ini diperdebatkan untuk menunda salat id untuk alasan lain selain terlambat melihat hilal. Tetapi dari riwayat diketahui bahwa rombongan yang melihat hilal pun ikut menunda salat sampai melaporkannya kepada Rasul dan kemudian diperintahkan untuk salat id keesokan harinya. Alangkah indahnya kalau saudara-saudara kita yang sudah meyakini Idul Fitri jatuh 12 Oktober membatalkan puasa pada hari itu, tetapi menunda salat idnya bersama saudara-saudara yang ber-Idul Fitri 13 Oktober. Ini bersifat ijtihadiyah. Kalau pun salah, setelah dikaji matang-matang, tidaklah berdosa. Namun, tujuan menjaga ukhuwah (persaudaraan) dan memperkuat syiar tercapai dengan bersalat Idul Fitri bersama. Langkah menyatukan Idul Fitri bisa dimulai dengan bersama salat id, walau berbeda keputusan mengakhiri Ramadan. Kelak, setelah kriteria imkan rukyat yang baru dapat disepakati, kita dapat mengakhiri Ramadan dan ber-Idul Fitri benar-benar bersama. Kalender Islam pun mendapatkan kepastian dan keseragaman. Kita bisa bersatu. October 08 Islamisasi Sains?Tadarus (PR, 8 Oktober 2007) Kesalahpahaman tentang Islamisasi Sains Seorang teman yang terobsesi dengan Islamisasi ilmu pengetahuan pernah bertanya mengapa dalam makalah-makalah ilmiah saya tidak tercantum ayat Alquran? Ia yakin, mencantumkan ayat Alquran dalam makalah ilmiah adalah salah satu upaya Islamisasi ilmu pengetahuan. Dalam makalah ilmiah ilmu sosial mungkin saja tercantum ayat Alquran yang terkait dengan perilaku atau sistem nilai manusia yang sedang dikaji. Dalam ilmu sosial, merujuk pada sumber Islami adalah sahih dan merupakan salah satu upaya Islamisasi ilmu sosial yang telah banyak diwarnai sistem nilai non-Islam. Namun, dalam sains yang mengkaji perilaku alam, tepatkah ayat Alquran dijadikan rujukan analisis ilmiahnya? Dan secara umum, perlukah Islamisasi sains? Ketika saya menulis skripsi untuk memperoleh gelar sarjana astronomi di ITB tentang gugusan bintang-bintang muda di galaksi Bimasakti yang mengindikasikan bidang galaksi melengkung, kutipan ayat Alquran (Q.S. 3:190-191 dan Q.S. 85:1) hanya saya cantumkan di halaman depan, tidak masuk dalam makalah. Alquran menjadi landasan iman dalam mengkaji ayat-ayat Allah di alam semesta, tapi tidak dapat digunakan untuk memperkuat argumentasi scientific-nya. Dalam sains, argumentasi ilmiah harus berpijak pada landasan yang dapat diterima setiap orang, apa pun agamanya. Ketika menyusun desertasi S3 di Jepang yang mengkaji tentang pembentukan bintang, saya sengaja menuliskan kalimat yang secara tersirat mengandung pengertian "bintang dibentuk" oleh Allah, bukan terbentuk dengan sendirinya. Profesor pembimbing saya pun mencoretnya dan mengganti kalimat itu sehingga netral tanpa nuansa konflik keyakinan akan ada tidaknya Tuhan pencipta alam. Perlukah Islamisasi sains? Ketika semangat Islamisasi ilmu pengetahuan muncul pada awal 1980-an, Direktur Direktorat Energi Nuklir Pakistan, Bashiruddin Mahmood, bersama teman-temannya mendirikan Holy Quran Research Foundation. Salah satu hasil kajiannya adalah buku Mechanics of the Doomsday and Life after Death: The Ultimate Fate of the Universe as Seen Through the Holy Quran (1987). Sayang, obsesinya mengislamkan sains tampaknya tidak mempunyai pijakan. Fenomena penciptaan dan kehancuran alam semesta yang katanya ditinjau dengan Alquran, dianalisis tanpa menggunakan sains secara utuh. Hasilnya, banyak kejanggalan dari segi sains. Upaya Islamisasi sains yang salah arah menimbulkan kritik tajam dari Dr. Pervez Hoodbhoy, pakar fisika partikel dan nuklir dari Quaid-e-Azam University, Islamabad. Atas saran Prof. Abdus Salam (Penerima hadiah Nobel Fisika 1979), Hoodbhoy memaparkan kritiknya dalam buku Islam and Science: Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality (1992). Baik Hoodbhoy maupun Salam sepakat bahwa upaya Islamisasi sains telah salah langkah. Secara spesifik, Hoodbhoy mengkritik beberapa kajian yang oleh para pemaparnya --di beberapa konferensi tentang Alquran dan sains-- dianggap sebagai sains Islam. Kajian-kajian yang dikritik tajam itu antara lain tentang formulasi matematis tingkat kemunafikan, analisis Isra Miraj dengan teori relativitas, jin yang terbuat dari api sebagai energi alternatif, dan formula kuantitatif pahala salat berjamaah sebagai fungsi dari jumlah jamaah. Sebenarnya, perlukah Islamisasi sains? Untuk menjawabnya, kita kaji lima ayat ini. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah yang mengajarkan dengan pena. Mengajar manusia hal-hal yang belum diketahuinya (Q. S. Al-Alaq:1-5). Lima ayat ini bukan sekadar perintah untuk membaca ayat quraniyah. Terkandung di dalamnya dorongan untuk membaca ayat-ayat kauniyah di alam. Manusia pun dianugerahi kemampuan analisis untuk mengurai rahasia di balik semua fenomena alam. Kompilasi pengetahuan itu kemudian didokumentasi dan disebarkan melalui tulisan yang disimbolkan dengan pena. Pembacaan ayat-ayat kauniyah ini akhirnya melahirkan sains. Ada astronomi, fisika, kimia, biologi, geologi, dan sebagainya. Maka dari esensinya, sains sudah Islami. Hukum-hukum yang digali dan dirumuskan sains seluruhnya tunduk pada hukum Allah. Pembuktian teori-teori sains pun dilandasi pencarian kebenaran, bukan pembenaran nafsu manusia. Dalam sains, kesalahan analisis dimaklumi, tetapi kebohongan adalah bencana. Hukum konservasi massa dan energi dinilai menentang tauhid hanya karena sering keliru disebut sebagai hukum kekekalan massa dan energi. Padahal, hukum ini adalah hukum Allah yang dirumuskan manusia, bahwa massa dan energi tidak bisa diciptakan dari ketiadaan dan tidak bisa dimusnahkan, alam dan manusia hanya bisa mengalihkannya menjadi wujud yang lain. Hanya Allah yang kuasa menciptakan dan memusnahkan. Bukankah itu sangat Islami? Jadi, Islamisasi sains sungguh keliru. Bukan pada tempatnya menjadikan ayat Alquran sebagai alat analisis sains. Dalam sains, rujukan yang dipakai mesti dapat dipahami siapa pun tanpa memandang sistem nilai atau agamanya. (catatan editor PiSQ; contoh tentang sains sejarah Nabi Nuh a.s., bila dapat dibuktikan keberadaan tokoh ini (kapan dan di mana) secara metode ilmiah (sains) maka tokoh Nuh a.s. akan menjadi tokoh sejarah penting untuk seluruh umat manusia walaupun bagi mereka yang tidak mengenal tokoh Nuh dalam kitab suci dan keyakinannya). Tidak ada sains Islam dan sains non-Islam, yang ada saintis Muslim dan saintis non-Muslim. Pada merekalah sistem nilai tidak mungkin dilepaskan. Memang tidak tampak dalam makalah ilmiahnya, tetapi sistem nilai yang dianut seorang saintis kadang tercermin dalam tulisan populer atau semi-ilmiah. "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan". Maka, riset saintis Muslim berangkat dari keyakinan bahwa Allah pencipta dan pemelihara alam serta hanya karena-Nya pangkal segala niat. Atas dasar itu, setiap tahapan riset yang menyingkap mata rantai rahasia alam disyukuri bukan dengan berbangga diri, melainkan dengan ungkapan "Rabbana maa khaalaqta haadza baathilaa". Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia (Q. S. 3:191). (Dr. T. Djamaluddin, peneliti Lapan Bandung, anggota Dewan PiSQ-ICMI)*** Lagi, Ayo Bersatu Berhari RayaKita Bisa Bersatu
|