T. さんのプロフィールDokumentasi T.Djamaluddi...フォトブログリスト ツール ヘルプ

ブログ


    2009年11月

    Isra' Mi'raj Dipahami dengan Sains (3)

    TUJUH LANGIT PADA KISAH ISRA’ MI’RAJ

     

    Dua tulisan saya sebelumnya tentang tujuh langit dalam kisah isra’ mi’raj dan perjalanan antar dimensi dapat di lihat di link berikut ini. Tulisan ketiga ini hanyalah menataulang dan melengkapinya dalam satu uraian utuh.

     

    http://t-djamaluddin.spaces.live.com/default.aspx?_c01_BlogPart=blogentry&_c=BlogPart&handle=cns!D31797DEA6587FD7!292

     

    http://t-djamaluddin.spaces.live.com/default.aspx?_c01_BlogPart=blogentry&_c=BlogPart&handle=cns!D31797DEA6587FD7!300

     

    Pada kisah isra’ mi’raj, “tujuh langit” tampaknya bukan langit fisik benda-benda langit, tetapi langit non-fisik. Karena dalam kisah itu bercampur fenomena fisik dan banyak fenomena non-fisik. Fenomena fisik misalnya perjalanan dari Mekkah ke Palestina, melihat kafilah dalam perjalanan yang menjadi bukti perjalanan Rasulullah, dan Rasulullah SAW meminum susu ketika ditawari dua bejana minuman. Tetapi banyak juga fenomena non-fisik yang dialami Rasulullah SWA, misalnya perjalanan bersama malaikat Jibril, pertemuan dengan beberapa Nabi, dan melihat Sidratul Muntaha yang tidak ada penjelasan konsisi dan lokasi fisiknya.

                Perjalanan Rasulullah dalam dalam kisah isra’ mi’raj lebih tepat dimaknai sebagai perjalanan antardimensi, karena ada fenomena fisik yang kita kenal dalam dimensi ruang-waktu, tetapi banyak juga fenomena di luar dimensi ruang-waktu.

     

    "Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui." (QS 17:1)

     

     “Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,  (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS 53:13:18)

     

    Perjalanan antardimensi bermakna bahwa Rasulullah SAW bersama Jibril diajak keluar dari dimensi ruang-waktu, menuju dimensi yang lebih tinggi. Apakah dimensi itu? Dimensi adalah suatu kerangka acuan yang menggambarkan alam ini. Dimensi satu berupa garis, dengan gerak maju atau mundur saja. Dua dimensi berupa bidang dengan gerak yang lebih bebas: maju, mundur, ke kiri, atau ke kanan. Dimensi tiga lebih bebas lagi, selain gerak di bidang datar, bisa juga ke atas atau ke bawah. Dimensi empat geraknya bukan hanya di ruang, tetapi juga gerak waktu. Kita hidup di dimensi emapt, ruang-waktu. Karenanya kita selalu mengukur berdasarkan ukuran ruang (seperti besar, kecil, jauh, dekat) dan waktu (seperti masa lalu, sekarang, masa depan, lama, sebentar).

    Untuk memahami perjalanan antarwaktu, kita ibaratkan ada  alam dua dimensi berbentuk bidang “U” besar. Sebut saja makhluk di alam itu serupa semut. Semut tersebut untuk berpindah dari ujung “U” yang satu ke ujung yang lain harus menempuh jarak yang jauh.. Kita yang hidup di ruang tiga dimensi dengan mudahnya mengangkat semut tersebut dari satu ujung ke ujung lainnya. Mengajak semut tersebut keluar dari dimensi dua menuju dimensi tiga. Jaraknya jelas lebih pendek. Demikianlah analogi sederhana perjalanan antardimensi. Mekanismenya di luar kemampuan sains, tetapi Allah telah memperjalankan hamba-Nya, Rasulullah SAW bersama Jibril yang memang berada di luar dimensi rlebih tinggi dari dimensi ruang-waktu. Logika sains seperti itu hanya untuk menunjukkan bahwa Isra’ Mi’raj dengan jasadnya (bukan sekadar dengan ruh) bukan hal yang mustahil.

    Bersama Jibril Rasulullah SAW keluar dari dimensi ruang-waktu yang membatasi pola pikir manusia pada jarak dan waktu. Sedangkan waktu dalam dimensi ruang waktu tidak mungkin berjalan mundur. Dengan keluar dimensi ruang-waktu Rasulullah tidak lagi terikat oleh jarak dan waktu. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dapat dilakukan sekejap, sementara Rasulullah masih bisa mengamati kafilah dalam perjalanannya dan tetap bisa merasakan fenonema fisik dimensi ruang-waktu, seperti minum susu yang ditawarkan Jibril. Rasulullah pun dapat berdialog dengan para Nabi karena tidak ada lagi batasan waktu. Rasulullah pun mendapat gambaran surga dan neraka yang juga bukan fenomena ruang-waktu kita, sehingga tidak mungkin dijelaskan secara tepat di mana dan kapan adanya.

    Langit pada kisha Isra’ Mi’raj pun bukan langit fisik seperti “tujuh langit” dalam ungkapan Al-Quran. QS 17:1 dan QS 53:13-18 yang menceritakan sekilas tentang Isra’ dan Mi’raj tidak menyebutkan tujuh langit. Sebutan langit pertama sampai ke tujuh pada kisah Isra’ dan Mi’raj hanya da dalam hadits dan yang menggambarkan perjalanan  yang tidak lazim menurut kebiasaan manusia, tetapi diyakini benar terjadi. Dimensi ruang waktu tidak lagi membatasi. Setelah Isra’ dari Masjid Haram ke Masjidil Aqsha, Rasulullah mi’raj ke langit. Di langit pertama sampai langit ke tujuh Rasulullah bertemu dengan para Nabi. Di langit pertama bertemu Nabi Adam. Di Langit kedua bertemu Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ketujuh. Jelas pertemuan dengan para Nabi itu bukan di planet-planet tertentu di langit, karena para Nabi yang telah wafat tidaklah berada di planet-palnet tertentu.

    Sidratul Muntaha pun bukan suatu tempat dan saat yang keberadaannya dalam dimensi ruang-waktu. Keyakinan adanya dimensi lain di alam juga didasari pada keyakinan adanya Jin dan Malaikat  yang berada di luar dimensi ruang-waktu. Dua jenis makhluk Allah itu tidak dibatasi ruang sehingg dengan mudahnya pergi ke mana pun dan tidak dibatasi waktu  sehingga tidak ada kematian bagi mereka, kecuali dengan ketentuan Allah. Kalau mengikuti analogi makhluk di dimensi dua tersebut di atas, kita yang hidup di dimensi ruang dimensi tiga bisa melihat tingkah laku makhluk serupa semut tersebut, tetapi makhluk  itu tidak mengetahui keberadaan kita karena di luar dimensinya. Demikian juga halnya manusia tidak mengetahui keberadaan Jin dan Malaikat, walau kita tahu mereka ada di alam (dimensi) mereka dan mampu mengetahui gerak-gerik kita.

                Kisah isra’ mi’raj tidak dapat dianalisis dengan teori relativitas dengan anggapan Rasulullah berjalan dengan kecepatan cahaya dengan buraq. Bila kita gunakan teori relativitas fenomena yang terjadi justru kebalikannya. Menurut teori relativitas, pada kerangka yang bergerak dengan kecepatan mendekati cahaya, waktunya yang tercatat di jam menjadi lebih lambat. Artinya, orang yang berjalan mendekati kecepatan cahaya akan merasa lebih muda dan waktu yang dialaminya lebih singkat dibandingkan dengan orang yang ditinggalkannya. Oleh karenannya kita mengenal “paradox anak kembar” (twin paradox) pada teori relativitas, saudara kembar yang merantau dengan kecepatan mendekati cahaya akan mendapati saudaranya yang ditinggalkan lebih tua dari dirinya menurut rekaman waktu yang dibawanya. Yang dialami Rasulullah SAW, justru kebalikannya. Rasulullah meengalami perjalanan waktu sangat panjang sehingga bertemu dengan para Nabi dan berbagai peristiwa lainnya, sedangkan para sahabat yang ditinggalkannya hanya merasakan waktu satu malam.

                Logika sains untuk menggambarkan perjalanan Rasulullah SAW sebagai perjalanan antardimensi hanyalah upaya untuk menjelaskan bahwa isra’ dan mi’raj benar adanya dan dilakukan dengan fisik, bukan sekadar mimpi atau perjalanan dengan ruh. Perjalanan antardimensi oleh manusia biasa memang belum memungkinkan secara eksperimen, tetapi konsep dimensi fisik yang lebih dari sekadar dimensi ruang-waktu dikenal dalam sains. Sains dapat membantu memperkuat aqidah kita, tanpa harus mereka-reka dalam cerita psudosains (sains semu, karena tidak didasarkan sains yang benar).

    コメント

    しばらくお待ちください。
    入力されたコメントは長すぎます。短くしてください。
    何も入力されていません。もう一度やり直してください。
    現在、コメントを追加できません。後でもう一度やり直してください。
    コメントと書くには、保護者 (ほごしゃ) の方の許可 (きょか) をもらってください。許可をリクエストする
    保護者 (ほごしゃ) の方が、あなたがコメントを書けないようにしています。
    現在、コメントを削除できません。後でもう一度やり直してください。
    1 日に投稿できるコメントの最大数を超えました。24 時間経過してから、もう一度やり直してください。
    あなたが他のユーザーに対して迷惑行為を行っている可能性があると確認されたため、お使いのアカウントによるコメントの投稿を無効にしています。誤って無効にされたと思われる場合は、Windows Live のサポートにお問い合わせください。
    コメントを投稿する前に、以下のセキュリティ チェックを完了してください。
    セキュリティ チェックに入力する文字は、画像に表示されている文字または音声で流れた文字と一致していなければいけません。
    Djamaluddi​n T. さんはこのページのコメント投稿機能を無効にしています。

    トラックバック

    この記事を参照しているブログ
    • なし