<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><?xml-stylesheet type='text/xsl' href='http://t-djamaluddin.spaces.live.com/mmm2008-04-25_07.02/rsspretty.aspx?rssquery=en-US;http%3a%2f%2ft-djamaluddin.spaces.live.com%2fcategory%2fAneka%2bCatatan%2ffeed.rss' version='1.0'?><rss version="2.0" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:msn="http://schemas.microsoft.com/msn/spaces/2005/rss" xmlns:live="http://schemas.microsoft.com/live/spaces/2006/rss" xmlns:dcterms="http://purl.org/dc/terms/" xmlns:cf="http://www.microsoft.com/schemas/rss/core/2005" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"><channel><title>Dokumentasi T. Djamaluddin: Aneka Catatan</title><description /><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/?_c11_BlogPart_BlogPart=blogview&amp;_c=BlogPart&amp;partqs=catAneka%2bCatatan</link><language>en-US</language><pubDate>Sun, 27 Apr 2008 05:14:53 GMT</pubDate><lastBuildDate>Sun, 27 Apr 2008 05:14:53 GMT</lastBuildDate><generator>Microsoft Spaces v1.1</generator><docs>http://www.rssboard.org/rss-specification</docs><ttl>60</ttl><cf:parentRSS>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/feed.rss</cf:parentRSS><live:type>blogcategory</live:type><live:identity><live:id>-3235950824713060393</live:id><live:alias>t-djamaluddin</live:alias></live:identity><cf:listinfo><cf:group ns="http://schemas.microsoft.com/live/spaces/2006/rss" element="typelabel" label="Type" /><cf:group ns="http://schemas.microsoft.com/live/spaces/2006/rss" element="tag" label="Tag" /><cf:group element="category" label="Category" /><cf:sort element="pubDate" label="Date" data-type="date" default="true" /><cf:sort element="title" label="Title" data-type="string" /><cf:sort ns="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" element="comments" label="Comments" data-type="number" /></cf:listinfo><item><title>Selamatkan Bumi</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!280.entry</link><description>&lt;h1&gt;Bumi dan Peran Kita&lt;/h1&gt;(Dimuat Pikiran Rakyat 22 April 2008)&lt;br&gt;http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&amp;amp;id=19831&lt;br&gt;&lt;br&gt;
				&lt;font size=2&gt;
&lt;/font&gt;&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Oleh T. Djamaluddin&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;BANJIR kini telah menjadi hal yang
hampir selalu terjadi setiap hujan dalam skala kecil maupun besar.
Walau kecil, banjir cileuncang telah menyusahkan banyak orang,
setidaknya memacetkan lalu lintas dan menyusahkan penghuni di
sekitarnya. Jalan dan gang banyak yang berubah menjadi sungai deras
saat hujan lebat. Kadang kita menyalahkan pihak lain, tanpa mau
menyadari bahwa bisa jadi kitalah salah satu pihak yang menyebabkannya.
Sampah yang kita buang sembarang telah menyumbat saluran air dan
resapan di halaman kita telah tertutup lapisan semen.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Kota juga semakin terasa panas dan
pengap. Kicau burung semakin langka. Pendingin udara semakin menjadi
kebutuhan vital di kota-kota besar. Lagi-lagi kita sering menyalahkan
pihak lain sebagai penyebabnya, tanpa mau menyadari bahwa bisa jadi
kita salah satu penyebabnya. Pohon sering dianggap pengganggu sehingga
dibiarkan mati di pinggir jalan atau ditebang saat membangun rumah,
tanpa menggantikannya. Halaman rumah dibiarkan gersang sekadar karena
alasan lahan sempit dan sibuk.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Sering kita berpikir terlalu global
dan mengabaikan hal kecil yang ada di sekitar kita. Padahal, kita bisa
berbuat banyak sesuai peran masing-masing untuk menyelamatkan
lingkungan bumi kita. Ketika sampah menggunung, kita hanya berharap
pemerintah yang menyelesaikan, padahal kita bisa juga membantu
menyelesaikannya, setidaknya dengan mengurangi sampah yang dibuang.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Tiga contoh kecil itu sekadar pembuka
kesadaran pentingnya kepedulian kita pada lingkungan untuk tujuan yang
lebih besar, penyelamatan planet bumi. Bukan untuk kepentingan planet
bumi tentunya, melainkan untuk kita sendiri dan anak-anak kita. &lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Setidaknya, peringatan Hari Bumi 22
April dan pencanangan Tahun Internasional Planet Bumi sebagai momentum
yang tepat untuk kembali merenungkan posisi kita masing-masing. Tidak
sekadar berharap pihak lain yang berbuat untuk kita, tetapi kembalikan
tanyakan apa yang bisa kita perbuat.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Menyelamatkan bumi&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Hari Bumi 22 April diperingati oleh
banyak negara untuk mengingatkan pentingnya penyelamatan bumi. Ini
diawali dengan keprihatinan makin meluasnya kerusakan lingkungan di
Amerika Serikat. Kemudian, aktivis lingkungan, Senator Gaylord Nelson,
menggalang Hari Bumi di Amerika Serikat pada 22 April 1970 yang diikuti
lebih dari 20 juta orang. Siswa SD sampai mahasiswa serta masyarakat
umum bersatu dalam demonstrasi menuntut pembenahan lingkungan. Gerakan
berhasil membangun kesadaran masyarakat dan mendobrak tradisi proses
politik yang terkait dengan penyelamatan lingkungan.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Hasilnya luar biasa. Banyak
undang-undang tentang lingkungan hidup kemudian berhasil dikeluarkan.
Badan perlindungan lingkungan AS didirikan. Keberhasilan itu kemudian
diikuti oleh banyak negara.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Hari Bumi 2008 punya arti lebih
penting karena tahun 2008 telah dicanangkan oleh Majelis Umum PBB
(Perserikatan Bangsa-Bangsa) sebagai Tahun Internasional Planet Bumi.
Dengan pencanangan itu diharapkan adanya upaya peningkatan kesadaran
akan peran ilmu-ilmu kebumian dalam mencapai pembangunan berkelanjutan
dan mendukung langkah-langkah lokal, nasional, regional, dan
internasional. &lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Bumi makin rusak&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Secara kasat mata kita merasakan
betapa bumi kita makin rusak. Sekadar contoh, hasil-hasil kajian
peneliti di Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, Lapan (Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional) memberikan gambaran kerusakan yang
perlu diwaspadai semua pihak. Pemerintah, lembaga legislatif, dan
masyarakat perlu merenungkannya untuk mengambil langkah yang tepat.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Kajian perubahan suhu di Jakarta
menunjukkan bahwa dalam 100 tahun (tahun 1901-2002) suhu cenderung
terus naik. Pada awal 1900-an suhu rata-rata di Jakarta sekitar 260 C,
pada awal 2000-an mencapai sekitar 280 C. Penelitian lebih rinci dengan
data satelit di beberapa kota besar menunjukkan kecenderungan pemanasan
kota yang disebut urban heat island (pulau panas perkotaan). Disebut
pulau panas karena pemanasan hanya bersifat lokal di tengah kota dengan
daerah sekitarnya relatif lebih dingin. Pemanasan kota lebih disebabkan
berkurangnya tanaman dan bertambahnya bangunan serta jalan beraspal.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Di Bandung, daerah panas dengan suhu
tinggi 30-350 C yang umumnya terletak di sekitar pusat kota bertambah
dengan laju per tahun 4,47% atau kira-kira 12.606 ha. Laju
pertambahannya di Semarang 8,4% (12.174 ha) dan di Surabaya 4,8% (1.512
ha). Hal ini terkait dengan laju pertumbuhan per tahun kawasan
terbangun di Bandung 0,36% (1.029 ha), di Semarang 0,83% (1.200 ha),
dan di Surabaya 1,69% (531 ha).&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Perkembangan pembangunan yang
berdampak pada peningkatan polusi udara juga berpotensi meningkatkan
keasaman air hujan. Fenomena hujan asam perlu diwaspadai karena terkait
dengan potensi kerusakan pada bangunan dan usaha pertanian. Pengukuran
keasaman hujan asam di Bandung mulai memberi sinyal lampu kuning. Sejak
1996 air hujan di Bandung cenderung berada di bawah batas keasaman dan
mulai mengindikasikan fenomena hujan asam. Bahkan, pada tahun 1999-2000
mencapai batas terendah dengan keasaman (pH) sekitar 4 yang mungkin
juga sebagian disebabkan oleh sumber-sumber dari gunung berapi. Sulfur
dioksida dan nitrogen dioksida dari polusi udara dari kendaraan
bermotor dan industri menjadi faktor yang perlu diwaspadai dari
fenomena hujan asam.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Curah hujan rata-rata di Jawa Barat
dan Banten ada kecenderungan berkurang, dari 2.596 mm pada 1901-1930
menjadi 2.215 mm pada 1973-2002. Secara spasial, daerah yang mengalami
penurunan curah hujan terutama di daerah Jawa Barat bagian selatan.
Banyak faktor yang berpengaruh, selain faktor lokal dan regional,
sangat mungkin juga dipengaruhi faktor global.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Secara global diyakini perubahan
iklim telah terjadi akibat pemanasan global yang terkait peningkatan
gas rumah kaca (terutama CO2) akibat aktivitas manusia. Suhu rata-rata
global makin panas, naik sekitar 0,70 C dalam 50 tahun. Tampaknya
kenaikannya kecil, tetapi diduga kuat berperan pada peningkatan tinggi
permukaan air laut dan mencairnya es di kutub. Bila emisi CO2 dari
industri, transportasi, dan aktivitas manusia lainnya terus bertambah,
sedangkan hutan sebagai penyerap CO2 makin berkurang, bumi akan makin
panas dan curah hujan juga berubah. &lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Bila itu terjadi, Indonesia bagian
utara cenderung akan makin tinggi curah hujannya, sedangkan Indonesia
bagian selatan (termasuk Jawa) cenderung berkurang curah hujannya.
Dengan suhu makin tinggi produksi padi dan jagung juga cenderung
menurun, kecuali bila ditemukan bibit unggul baru.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Mari berbuat&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Kecenderungan makin rusaknya bumi,
baik dalam skala lokal maupun global, bukan sekadar wacana ilmiah.
Perlu langkah konkret untuk mengatasinya. Langkah-langkahnya mulai dari
lingkup global, nasional, regional, sampai lokal, bahkan personal.
Kalau kita biarkan, potensi bencana mengancam kita, manusia saat ini
maupun generasi anak-anak kita.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Di tingkat global telah diupayakan
perjanjian-perjanjian internasional untuk penyelamatan bumi. Misalnya,
Protokol Montreal untuk perlindungan lapisan ozon dan Protokol Kyoto
untuk pengendalian pemanasan global walau masih ada kendala
pelaksanaannya. Di tingkat nasional perlu terus diupayakan adanya
peraturan perundangan yang menjamin kelestarian hutan, tata guna lahan
yang ramah lingkungan, pengendalian pencemaran, dan segala aspek
lainnya yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan demi
penyelamatan bumi dan kehidupannya.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Menjelang Hari Bumi 22 April ada
berita menggembirakan dengan disahkannya Undang-Undang tentang
Pengelolaan Sampah. Beberapa aspek mendasar serta strategis yang
ditekankan dalam UU ini antara lain adanya kewajiban pengelola kawasan
permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, tempat
umum, tempat sosial juga bagi tempat-tempat lainnya untuk menyediakan
fasilitas pemilahan sampah. Ada juga larangan bagi masyarakat membuang
sampah tidak pada tempatnya atau membakar sampah yang tidak sesuai
dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Pembuat kebijakan tentu berperan pada
langkah-langkah strategis pada lingkup global, nasional, dan lokal
kota/kabupaten. Akan tetapi, aksi penyelamatan bumi bisa juga pada
lingkup personal. Setidaknya perilaku individual itu dapat mengurangi
kerusakan lingkungan secara langsung atau tidak langsung dari perubahan
perilaku masyarakat secara kolektif.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Perubahan perilaku individu dan
masyarakat terkait dengan sampah sangat penting ditekankan. Sikap egois
dan tidak peka terhadap masalah lingkungan masih sering dijumpai
sehingga seenaknya membuang sampah di mana saja. Perilaku untuk memilah
sampah dalam konteks 3R (reduce, reuse, recycle atau kurangi, pakai
ulang, daur ulang) perlu terus diupayakan. Pemilahan mulai tingkat
rumah tangga bukanlah hal yang rumit bila dibiasakan. Menyediakan tiga
tempat sampah di rumah dapat mengurangi masalah sampah. Sampah organik
bisa sekadar ditimbun di halaman dengan lubang bergilir untuk
menyuburkan tanah. Sampah yang bisa didaur ulang (misalnya kertas,
karton, dan botol) bisa diserahkan kepada pemulung atau pengumpul
sampah daur ulang. Tempat sampah ketiga untuk sampah lainnya. Dengan
pembiasaan kita pasti bisa berdisiplin agar saluran air tak tersumbat
sampah dan gunung sampah tak pernah terjadi lagi.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Tanam dan pelihara pohon harus
diintensifkan untuk mengurangi dampak pemanasan karena efek gas rumah
kaca lokal maupun global. Pohon akan menyerap CO2 di udara untuk diubah
menjadi batang, daun, dan buah. Dengan berkurangnya CO2, udara panas
dari permukaan bumi dapat langsung dilepaskan ke angkasa tanpa
hambatan. Semakin besar dan semakin banyak pohon dipelihara, semakin
baik pengurangan pemanasan kota dan global. Namun, dalam skala kecil
pun, tanaman dalam pot yang ditempatkan di dalam dan sekitar rumah dan
gedung perkantoran dapat menciptakan efek pendinginan selain menambah
unsur keindahan.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Penghematan listrik bukan hanya
faktor ekonomi, melainkan juga faktor penting dalam penyelamatan
lingkungan bumi. Saat ini pembangkit listrik banyak yang bergantung
pada bahan bakar minyak dan batu bara. Pembakaran bahan bakar minyak
dan batu bara berpotensi memperbanyak emisi CO2 yang menambah pemanasan
bumi. Pada lingkup individu, kita bisa berbuat dengan menggunakan
listrik secara bijak. Lampu dan AC hanya digunakan bila diperlukan.
Gunakan sebanyak mungkin cahaya alami dan upayakan sistem pendinginan
sirkulasi udara alami.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Di perkantoran selain mengupayakan
penanaman pohon, pemilahan sampah, dan penghematan listrik, upaya
penyelamatan bumi bisa dengan penghematan penggunaan kertas. Secara
umum, semakin banyak kertas digunakan akan semakin banyak pohon
ditebang sebagai bahan baku kertas. Jadi jika tidak diperlukan, jangan
membuat cetakan dokumen. Gunakan transfer informasi tertulis secara
digital.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Contoh-contoh itu hanyalah sebagian
kecil langkah yang bisa kita lakukan dalam menyelamatkan planet bumi.
Bencana atau ketidaknyamanan yang kita alami dan saksikan akibat
kerusakan lingkungan bumi tentunya tidak kita inginkan makin parah.
Kasih sayang kita pada anak-anak harus kita wujudkan dengan mewariskan
lingkungan bumi yang lebih baik. Kota yang semakin hijau dan sejuk.
Sungai yang semakin bersih dan tertata. Udara yang semakin segar dan
langit semakin biru.***&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Penulis, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, Lapan Bandung.&lt;/font&gt;&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Selamatkan+Bumi&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!280.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!280.entry</guid><pubDate>Sun, 27 Apr 2008 05:14:53 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!280/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!280.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2008-04-27T05:14:53Z</dcterms:modified></item><item><title>Amanah Itu Datang lagi ...</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!225.entry</link><description>&lt;p&gt;Jabatan Struktural Jangan Dikejar Jangan Ditolak&lt;p&gt;&lt;br&gt;&lt;p&gt;T. Djamaluddin, Peneliti Utama Astronomi-astrofisika, LAPAN&lt;br&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Menjadi peneliti adalah pilihan
hidup saya, astronomi adalah jalannya. Dengan menjadi peneliti, saya dapat
merancang sendiri jenjang karir dengan pemacuan yang dimungkinkan peraturan
kepegawaian. Sejak jabatan fungsional saya ajukan, nilai angka kredit saya
memungkinkan cepat naik jabatan dan tentunya dapat naik pangkat setiap dua
tahun. Ketika pulang dari tugas belajar, pangkat PNS telah IIIb. Kemudian
mengalami satu kali kenaikan pangkat reguler 4 tahunan menjadi IIIc.
Selanjutnya naik pangkat setiap 2 tahun menjadi IVc, berarti empat kali naik
pangkat pilihan. Dengan angka kredit peneliti saya 1.047, April 2007 saya
diusulkan untuk naik pangkat lagi menjadi IVd. Saya sudah menyiapkan penambahan
angka kredit peneliti untuk melewati batas 1050 untuk mencapai puncak karir
peneliti pada 2009 sebagai Peneliti Utama IVe dan profesor riset. (Lihat:
Astronomi Jalan Hidup: &lt;span style=""&gt;Cita-cita,
Kecintaan, dan Pengembangan Karir Peneliti, dalam&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;a href="?_c11_BlogPart_BlogPart=blogview&amp;amp;_c=BlogPart&amp;amp;partqs=cat%3dAneka%2bCatatan"&gt;Dokumentasi
T. Djamaluddin: Aneka Catatan&lt;/a&gt;). Hal itu saya ungkapkan bukan untuk
menyombongkan diri, karena semua peneliti bisa melakukannya dan banyak peneliti
yang bisa melaju lebih cepat dari saya. Catatan ini untuk memberikan semangat
kepada para peneliti pemula untuk mengejar karir fungsional peneliti.

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Tetapi, karir peneliti juga
bersinggungan dengan karir struktural. Pemacuan kenaikan pangkat, juga berarti
pemacuan untuk naiknya urutan dalam Daftar Urut Kepangkatan (DUK). Bila unsur
lain terpenuhi (a.l. kemampuan dan kepemimpinan), peluang untuk dicalonkan
sebagai pejabat struktural sangat terbuka. Saya sudah sangat senang dengan posisi
sebagai peneliti. Karenanya ketika tahun 1999 saya ditugasi untuk menjadi
Kepala Komputer Induk LAPAN Bandung (Eselon IV),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saya katakan “Kalau boleh memilih, saya lebih suka sebagai
peneliti, tetapi saya berprinsip kalau diberi amanah tidak boleh menolak.”
Memang Islam mengajarkan, amanah jabatan tidak boleh dikejar, tetapi kalau
diberi amanah jangan ditolak, karena Allah akan membantu kita.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal serupa saya katakan juga ketika ditugasi
menjadi Kepala Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN (Eselon III) pada 2001. 

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Dalam hadits riwayat
Bukhari-Muslim, Rasulullah SAW berpesan kepada Abdurrahman bin Sumurah, “Jangan
menuntut jabatan kepemimpinan. Jika engkau diserahi jabatan tanpa meminta,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;engkau akan dibantu Allah melaksanakannya.
Jika engkau mendapat jabatan karena permintaanmu, maka itu menjadi bebanmu
sendiri.”

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Adanya ketentuan edaran BKN
tentang rangkap jabatan dalam surat nomor K.26-4/V.15-54/99 tanggal 27 Agustus
2001 menyebabkan usulan kenaikan pangkat saya terganjal. Mestinya pada Oktober
2002 saya bisa naik menjadi IVb karena jabatan fungsional peneliti saya
Peneliti Madya. Saya tidak mengerti&lt;span style=""&gt; 
&lt;/span&gt;dasarnya, padahal dalam PP Nomor 29/1997 diizinkan peneliti menduduki
jabatan rangkap sebagai pejabat struktural. Penghargaan kenaikan pangkat
pilihan adalah penghargaan yang sangat berarti bagi pegawai negeri.
Penundaannya bisa ditafsirkan juga karena nilai DP3 (Daftar Penilaian Pekerjaan
Pegawai) ada yang kurang. Saya tidak ingin ada kesan itu. Karenanya saya
mengusulkan pengunduran diri sebagai Kepala Bidang untuk pengembangan karir
peneliti saya, dengan komitmen tetap membantu tugas-tugas Kabid baru.
Alhamdulillah, 20 Maret 2003 pengunduran diri saya diterima dan saya dapat naik
pangkat menjadi IVb pada April 2003. Selanjutnya setiap 2 tahun kenaikan pangkat
pilihan dapat saya peroleh. Pada April 2005 menjadi IVc dan saya berharap
lancarnya proses kenaikan pangkat April 2007 menjadi IVd. 

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Pangkat berpengaruh pada Daftar
Urut Kepangkatan (DUK) untuk mengisi jabatan struktural Kepala Pusat (Eseleon
II). Dengan pangkat IVc saat ini (dalam proses ke IVd) saya masuk dalam daftar
calon yang diusulkan. Ketika ditanya kesediaan, jawaban saya pun sama seperti
dulu: saya lebih suka sebagai peneliti, tetapi amanat tugas tidak boleh
ditolak. Saya serahkan kepada penilaian dinas. Ternyata saya diberi amanat
sebagai Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim pada 23 April 2007.
Semoga saya tetap istiqamah dalam menjalankan amanat ini. Tiga rencana kerja
segera saya siapkan: peningkatan kinerja SDM, peningkatan kinerja lembaga, dan
peningkatan kerjasama. Semoga Allah membantu saya menuju kemajuan bersama dan semoga
upaya saya memberi manfaat seluas-luasnya.&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Amanah+Itu+Datang+lagi+...&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!225.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!225.entry</guid><pubDate>Thu, 26 Apr 2007 01:25:27 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!225/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!225.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2007-04-26T02:23:34Z</dcterms:modified></item><item><title>Astronomi Jalan Hidup</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!145.entry</link><description>&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:14pt"&gt;ASTRONOMI: Cita-cita, Kecintaan, dan
Pengembangan Karir Peneliti&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;span style="font-size:14pt"&gt;&lt;/span&gt;





&lt;p style="text-align:center" align=center&gt; T. Djamaluddin&lt;br&gt;Peneliti Astronomi
dan Sains Antariksa, LAPAN Bandung&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saya
belajar astronomi hanya bermodalkan tekad mewujudkan cita-cita. Pada masa
mahasiswa, minimnya dukungan ekonomi orang tua tidak menjadi alasan hambatan
dalam studi, walau kadang mengganggu semangat. Dengan doa orang tua, Allah membukakan
jalan-Nya sehingga banyak pihak secara langsung atau tak langsung membantu
kelancaran studi saya. Bagaimana pun semangat kadang &lt;i&gt;down&lt;/i&gt; juga. Semuanya
saya catatkan pada buku pribadi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(dengan
tulisan sandi), dengan disertai tekad dan motto pembangkit semangat. Fenomena
astronomis terbitnya matahari, dijadikan motto pembangkit semangat ketika
muncul perasaan tertekan dan semangat jatuh. Astronomi telah menjadi bagian
rasa cinta dan jalan hidup.

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;u&gt;CITA-CITA&lt;/u&gt;

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Sewaktu kecil
saya bercita-cita menjadi tentara angkatan udara, padahal ayah saya seorang
tentara angkatan darat. Tetapi akhirnya beralih. Saya teringat ketika kelas I
SMP di SMPN 1 Cirebon, pada suatau pelajaran, Guru memerintahkan semua siswa
menuliskan cita-citanya. Dengan yakin saya tuliskan “jadi peneliti”. Sejak
kecil memang saya mempunyai keingintahuan yang besar dan berupaya mencari
jawabannya sendiri. Ketika naik pohon jambu, bukan hanya mencari buah yang
matang, tetapi saya juga memperhatikan bunganya sampai menjadi buah. Ketika
musim hujan, saya gemar mencari tanaman baru yang tumbuh dari biji-biji yang
dibuang sebarang, seperti mangga, rambutan, dan kedondong. Ketika menemukan
kunci gembok berkarat sehingga mudah dihancurkan untuk melihat isinya, saya
berlama-lama meneliti cara kerjanya. 

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Dua kali saya
mengikuti lomba karya ilmiah remaja waktu SMP dan SMA, walau gagal. Tetapi itu
memberikan pengalaman penelitian yang menarik dan memacu kreativitas. Pertama
tentang kromatografi kertas, menguraikan warna tinta menjadi warna dasarnya
pada kertas saring. Ketiadaan fasilitas gelas ukur yang dicontohkan di TV, saya
gantikan dengan wadah plastik dan semprong lampu minyak tanah. Lomba kedua saya
ajukan ide asli saya, mendeteksi (saya sebut waktu itu) bakteri atau cacing di
mata dengan lubang jarum pada kertas yang dirahkan ke sumber cahaya. Dengan
lubang jarung tersebut terlihat bentuk transparan seperti rantai manik-manik
betuknya mirip bakteri atau sejenid cacing. Saya gunakan teori optik dan
referensi biologi seadanya tentang bakteri dan cacing. Sampai sekarang saya
belum mendapatkan jawaban pertanyaan saya dulu tersebut. 

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Pada kelas III
SMP pada 1975/76 terbit majalah “Mekatronika” dan “Scientiae” yang dalam
beberapa edisinya membahas tentang tentang UFO (&lt;i&gt;Unidentified Fly Objects&lt;/i&gt;)
dan antariksa. Ketika masuk SMAN 2 Cirebon, perpustakaannya cukup mendukung
keingintahuan saya. Buku Eric von Daniken tentang misteri makhluk luar angkasa
sangat kuat memancing rasa ingin tahu sehingga saya baca berulang kali.
Akhirnya saya tertarik untuk menulis artikel “UFO Bagaimana Menurut Agama”.
Untuk menulis artikel tersebut saya perlu banyak bahan bacaan tambahan tentang
antariksa. Alhamdulillah, banyak buku tersedia di perpustakaan walau semuanya
berbahasa Inggris. Rujukan utama tentang &lt;i&gt;universe&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;astronomy&lt;/i&gt;
saya dapatkan dari &lt;i&gt;Encyclopedia Americana&lt;/i&gt; di perpustakaan SMAN 2
Cirebon. Hasil bacaan dituangkan dalam tulisan. Karena saya tidak punya mesin
tik, saya minta tolong teman untuk mengetiknya. Alhamdulillah, tulisan saya
dimuat majalah Scientiae. Mungkin tidak ada yang menduga tulisan itu hanya
hasil analisis siswa kelas I SMA. Selanjutnya gambar-gambar astronomi yang
menarik dan segala misteri yang terkait dengan makhluk antariksa menarik saya
untuk membaca lebih banyak tentang astronomi.

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Ketika ada
tawaran Proyek Perintis II (masuk perguruan tinggi tanpa tes, termasuk ITB)
pada 1981, saya ikut mendaftar dan dalam surat
permohonan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;langsung saya tuliskan
keinginan saya masuk jurusan astronomi. Saya sudah memantapkan untuk menjadi
peneliti astronomi. Alhamdulillah, saya diterima di ITB. Tetapi menjelang
berangkat ke Bandung,
saya baca artikel di “Pikiran Rakyat”. Intinya, untuk hidup dan sekolah di Bandung tidaklah murah.
Diceritakan, minimal untuk biaya hidup mahasiswa perlu sekitar Rp 50.000,-
padahal uang pensiun ayah saya hanya Rp 81.000. Bagian akhir tulisan itu saya
kliping dan saya beri catatan pembangkt semangat.&lt;p style="text-align:justify"&gt;            Saya
jalani masa mahasiswa dengan segala keterbatasan. Alhamdulillah, nyatanya saya
dapat bertahan dengan biaya hidup Rp 15.000 per bulan untuk semuanya (makan
masak sendiri dengan menu sederhana asal bergizi, untuk fotokopi, dan lainnya).
ITB ternyata juga tidak menakutkan seperti dugaan semula. Setelah semester
pertama membayar SPP penuh, semester selanjutnya membayar SPP hanya 50%
kemudian bebas SPP. Pada tahun ketiga dan keempat saya mendapat beasiswa BPPA
(Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik) Rp 25.000/bulan dan beasiswa Aji Dharma
Bakti (Yayasan Sosial Ajinomoto) Rp 30.000/bulan, jumlah yang tergolong besar
bagi saya sehingga bisa juga membantu biaya sekolah adik-adik. &lt;br&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Perasaan
gagal dan kecewa kadang muncul ketika hasil ujian tidak sesuai harapan. Kadang
semangat jatuh. Semuanya saya catatkan dalam buku catatan pribadi dan selalu
saya tutup dengan pembangkit semangat dan doa. Saya selalu berupaya
membangkitkan semangat dari dalam diri untuk terus maju. Saya membuat motto
diri dari fenonema astronomis matahari terbit: “Hidup ini adalah perjuangan
lahir batin dengan iman, ilmu, dan amal. Matahari telah terbit. Hari ini adalah
hari perjuangan dengan semangat baru. Majulah! Majulah! Majulah!” Saya juga
teringat pesan Imam Al-Ghazali, bahwa jadilah manusia seperti matahari, bersinar
karena kualitas pribadinya dan mampu menerangi sekitarnya. Jadi, tak ada jalan
lain untuk maju selain selalu berupaya meningkatkan kualitas pribadi.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Selain
kuliah, saya aktif di masjid Salman menjadi mentor. Menjadi pembina berarti
harus memberi contoh yang baik. Inilah yang membantu membangkitkan semangat
untuk terus bertahan dan mencapai yang terbaik. Bagaimana pun hasil bukan
ukuran utama, tetapi usaha keras itu yang harus dilakukan. Aktivitas di masjid
memang cukup menyita waktu, sehingga tidak mungkin mengambil kegiatan lain,
selain di Himastron. Kuliah dan membina di masjid dianggap sama
pentingnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kegiatan di masjid menjadi
bagian pembinaan diri bersosialisasi, untuk memahami masalah-masalah nyata di
masyarakat dan merumuskan kemungkinan solusinya dari sudut pandang agama.
Beberapa buku keislaman untuk pegangan mentoring berhasil saya susun. 

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Belajar
astronomi berarti juga belajar bagaimana menjelaskan sains yang rumit menjadi
menarik dan mudah difahami. Pak Winardi dalam kuliah astrofisika selalu
mendorong mahasiswanya untuk membaca juga buku-buku astronomi populer. Karena
dengan itu, konsep fisika – matematika lebih mudah difahami dengan ilustrasi
dan contoh fenomena di alam yang dibahas secara populer. Selain itu, dengan
seringnya membaca astronomi populer, mahasiswa juga mampu untuk menjelaskan
astronomi kepada masyarakat awam. Kemampuan untuk berbicara sains dengan bahasa
populer juga dilatihkan dengan penugasan menjadi penceramah di Observatorium
Bosscha, menuliskan artikel populer, dan menjawab pertanyaan awam tentang
astronomi. Tulisan populer saya yang pertama yang ditugaskan Pak Bambang
tentang gerhana matahari total 11 Juni 1983 dimuat di Pikiran Rakyat menjelang
Ramadhan 1403 H.

&lt;p style="text-align:justify"&gt; &lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Astronomi
bola yang diajarkan Pak Moedji mengantarkan saya untuk memahami masalah hisab
rukyat (perhitungan dan pengamatan) penentuan awal bulan hijriyyah. Masalah
hisab rukyat, bukan hanya menuntut penguasaan masalah astronomisnya, tetapi
juga masalah syariat yang terkait dengannya. Hal yang lebih pelik dan sulit
diselesaikan (namun kita berharap bisa diatasi) adalah masalah tradisi
organisasi massa
Islam. Masalah hisab rukyat tidak diajarkan secara formal di jurusan astronomi,
tetapi harus digali sendiri. Untuk menambah wawasan tentang hisab rukyat,
beberapa kali saya berdiskusi dengan pengajar hisab rukyat di Fakultas Syariah
UNISBA untuk memahami masalah syariatnya. Pengalaman ini sangat berguna untuk
terlibat secara langsung pada upaya penyelesaian masalah perbedaan hari raya,
terutama dengan tulisan-tulisan di media massa.    &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ada satu kesalahan fatal
yang hampir menghancurkan cita-cita saya. Malam Sabtu, 31 Agustus/1 September
1984 saya mengalami kekacauan konsentrasi dalam bekerja di teropong Schmidt
karena kondisi fisik mengantuk dan lapar. Mula-mula timer di kamar gelap secara
tak sengat jatuh. Dan yang paling fatal adalah memecahkan filter G11 dalam
kondisi hilang konsentrasi saat pengamatan dini hari. Filter kaca tanpa sadar
disatukan dengan plat film saat pemasangan pada plate holder yang permukaannya
cembung. Ketika terdengar bunyi kaca remuk baru sadar ada kesalahan fatal.
Cita-cita saya akan hancur sampai di sini? Pak Bambang Hidayat tentu saja marah
dan melarang saya ikut pengamatan. Tetapi alhamdulillah, masalahnya akhirnya
dianggap selesai pada 23 November 1984, sepulang Pak Bambang dari Jepang.
Filter pengganti telah diperoleh dari Jepang. Dan pada Januari 1985 Pak Bambang
menjadi pembimbing tugas akhir untuk mengolah hasil pemotretan Pak Bambang di
Observatorium Kiso, Jepang, untuk menganalisis distribusi bintang OB di lengan galaksi ke arah rasi Puppis. Bukan hanya
bimbingan, tetapi juga honor penelitian saya peroleh dari dana riset Pak
Bambang. Honor itu sangat membantu saya.&lt;span style="display:none"&gt;&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="display:none"&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="display:none"&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="display:none"&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="display:none"&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="display:none"&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="display:none"&gt; &lt;/span&gt;



&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt; Ada satu cita-cita untuk menjadi dosen, di
samping sebagai pengajar juga peneliti. Sayangnya formasi dosen tampaknya
sedang kosong pada waktu itu. Pengangkatn dosen terakhir pada waktu itu adalah
Pak Moedji, setelah itu tidak ada lagi. Tetapi Jurusan Astronomi tampaknya
mengupayakan penambahan staf dosen baru. Pada 20 Mei 1986 saya mendapat
informasi dari TU Observatorium Bosscha bahwa nama saya termasuk salah satu
yang diusulkan untuk menjadi calon staf dosen untuk matakuliah
astronomi-astrofisika II. Saya sangat gembira dan berdoa agar hal itu dapat
terwujud. Tampaknya surat
itu tidak ada tindak lanjutnya, mungkin memang formasi dosen astronomi kosong.
Sampai menjelang penyelesaian tugas akhir, saya tidak mendapat jawaban dari Pak
Bambang kemungkinan untuk jadi staf dosen. 

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Ketika pada 1
Agustus 1986 datang Mezak dan Mas Bambang Setiahadi menawarkan untuk bekerja di
LAPAN dengan janji akan disekolahkan ke luar negeri, saya masih ragu menerima
tawaran jadi peneliti atau menunggu jadi dosen. Akhirnya saya mantapkan jadi
peneliti setelah diajak menghadap Kepala LAPAN Bandung pada 5 Agustus 1986.
Keesokan harinya langsung diminta mengajukan lamaran kerja dan mengikuti
psikotes, saya dianggap sudah lulus. Akhir Agustus baru saya sampaikan kepada
Pak Bambang bahwa saya telah melamar ke LAPAN. Pak Bambang tampak kecewa dan
sempat menghentikan bimbingan penyelesaian akhir skripsi. Pak Winardi dan Pak
Paulus yang dimintai pendapat hanya menyatakan perlunya memperkuat kelompok
struktur galaksi, tetapi tidak memberi informasi kemungkinan pengangkatan
dosen, hanya dijanjikan akan dibahas dalam rapat Jurusan Astronomi pada 3
September. Saya tidak tahu hasil rapatnya, tetapi tampaknya masuknya saya ke
LAPAN kemudian tidak dipersoalkan lagi oleh Pak Bambang sehingga saya dapat
menyelesaikan tugas akhir dan ikut sidang sarjana pada 1 Oktober 1986. Seusai
sidang saya dapat informasi bahwa saya lulus dengan nilai A dan diusulkan untuk
Cum Laude, walau saya sadar nilai kumulatif saya belum mencukupi untuk Cum
Laude. Setelah wisuda pada 18 Oktober 1986, saya mulai masuk kerja di LAPAN 1
November 1986. Alhamdulillah, saya hanya jadi penganggur 2 pekan.

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;u&gt;KECINTAAN&lt;/u&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di
LAPAN saya masuk pada kelompok penelitian antariksa, dengan fokus penelitian
matahari, lingkungan antariksa, dan astronomi. Penelitian struktur galaksi
tidak mungkin lagi dilakukan, tetapi prinsip-prinsip dasar astronomi sangat
mendukung kegiatan penelitian. Delapan belas bulan bekerja di LAPAN, saya
mendapat tugas belajar ke Jepang dengan beasiswa Monbusho. &lt;i&gt;Solar physic&lt;/i&gt;
and &lt;i&gt;galactic astronomy &lt;/i&gt;saya pelajari, tetapi akhirnya kembali pada &lt;i&gt;galactic
astronomy&lt;/i&gt; dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;fokus pada &lt;i&gt;interstellar
matter&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;star forming ragions&lt;/i&gt; serta terlibat juga dalam penelitian
&lt;i&gt;large scale galaxy distribution&lt;/i&gt;. Pengamatan malam di observatorium wajib
dilaksanakan. Ada
trauma untuk bekerja dengan teleskop, khawatir kesalahan fatal terjadi lagi.
Alhamdulillah, trauma dapat diatasi dan pengamatan bisa berjalan lancar di
observatorium terbesar di Jepang (Okayama Astrophysical Observatory) dan di
observatorium milik Kyoto
 University (Ouda
Observatory) di Nara. Kadang seorang diri beberapa malam mengamat di
observatorium Ouda yang sangat sepi.

&lt;p style="text-align:justify"&gt; &lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Pengamatan
malam dalam kesunyian memberikan kesan yang mendalam betapa menyenangkannya
jadi astronom. Di balik kerlip bintang yang bertaburan, terdapat banyak
informasi yang menantang untuk digali. Dari spektrumnya dapat dipelajari
informasi fisisnya. Dari pelemahan magnitudonya dapat dipalajari adanya materi
antarbintang. Dari warnanya (dalam definisi astronomis, perbedaan magnitudo
antara dua filter atau perbedaan flux density pada dua panjang gelombang)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan luminositasnya, dapat ditelusur
evolusinya. Teknologi CCD telah memberikan kemudahan dalam pengamatan, sehingga
data bisa direkam dalam komputer dan diolah dengan program pengolah citra
secara lebih cepat. Tracking dalam pengamatan lama cukup dilakukan dari layar
monitor. &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Penyelesaian program S3 dengan
topik evolusi protostar tidak dilakukan dengan pengamatan teleskop, tetapi
lebih banyak mengolah data dan menginterpretasikannya dari data pengamatan
satelit infra merah, IRAS. Mempelajari bagaimana bintang lahir dari awan
antarbintang membuka rahasia tersembunyi tentang alam semesta. Astronomi bukan
sekadar bagian dari studi dan penelitian, tetapi telah menjadi bagian dari rasa
cinta dan kesenangan. 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Karena
kesenangan pada astronomi, sangat beralasan kalau itu diabadikan pada nama tiga
putra-putri saya disertai harapan dan doa akan makna dibalik namanya: Vega Isma
Zakiah, Gingga Ismu Muttaqin, dan Venus Hikaru Aisyah. &lt;span style=""&gt;Vega merupakan salah satu dari segi tiga musim panas. Di Jepang terlihatnya
Vega berkaitan dengan festival bintang (&lt;i style=""&gt;Tanabata
Matsuri&lt;/i&gt;). Bintang Vega adalah bintang standar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;astronomi, paling baik diamati pada bulan
Juli. Vega Isma Zakiah lahir di Kyoto,
Jepang, 10 Juli 1992. Diharapkan akan secemerlang bintang Vega, rendah hati
menyadari kekecilan dirinya bagai debu materi antarbintang (InterStellar Matter,
Isma) yang senantiasa menjaga kesucian (Zakiah) lahir dan batin. Gingga dalam
bahasa Jepang berarti sungai perak atau galaksi Bimasakti, tempat ratusan
milyar bintang. Pada bulan Juli, Gingga tampak cemerlang di langit berdampingan
dengan Vega,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terbentang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di langit dari selatan ke utara. Gingga Ismu
Muttaqin lahir di Bandung,
7 Juli 1996. Diharapkan gagah cemerlang seperti galaksi Gingga, merendah
menyadari dirinya kecil di tengah keluasan ruang antarbintang (InterStellar
MediUm, Ismu), dan senantiasa menjaga ketaqwaan (Muttaqin). Venus, bintang
Kejora atau bintang timur adalah “bintang” (sesungguhnya planet) yang paling
terang. Tampak cemerlang di ufuk barat saat maghrib atau di ufuk timur saat
pagi. Shubuh Oktober 1999 Venus tampak cemerlang di langit timur. Venus Hikaru
Aisyah lahir di Bandung,
13 Oktober 1999. Diharapkan anggun cemerlang seperti Venus, bersinar (Hikaru,
dalam bahasa Jepang) meneladani Ummul Mu’minin Siti Aisyah.&lt;/span&gt;



&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;&lt;span style=""&gt;Kegemaran pada astronomi sering saya padukan
dengan upaya peningkatan kualitas iman dan itu diwujudkan pada artikel-artikel
di koran dan majalah. Ada
tiga alasan saya menulis di koran. Pertama. Karena kegemaran membaca dan
menulis. Kedua, ada keinginan berbagi ilmu yang menyenangkan (astronomi) dan
menyebarkan gagasan dalam mencari solusi. Ketiga, ada keuntungan dari segi
angka kredit peneliti dan honor tulisan. Alhamdulillah, sampai saat ini sudah
saya publikasi 87 tulisan populer terkait dengan astronomi, termasuk astronomi
untuk masyarakat dalam mencari solusi perbedaan hari raya (Idul Fitri dan Idul
Adha). Sebagian diantaranya dimuat di situs web &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;a href="http://media.isnet.org/isnet/Djamal"&gt;http://media.isnet.org/isnet/Djamal&lt;/a&gt;
dan &lt;/span&gt;&lt;span style="display:none"&gt;&lt;/span&gt;dikumpulkan
dalam bentuk buku&lt;span style=""&gt;: “Menggagas Fiqih
Astronomi: Telaah Hisab Rukyat dan Pencarian Solusi Perbedaan Hari Raya”
(Penerbit Kaki Langit, Bandung, 2005) dan
“Menjelajah Keluasan Langit Menembus Kedalaman Al-Quran” (Penerbit Khazanah,
Grup Percikan Iman, Bandung,
2006). Ada juga buku kecil untuk anak-anak dan remaja tentang “Bertanya pada
Alam: 13 Worthy to Know Facts” (Penerbit Shofie Media, Grup Percikan Iman,
Bandung, 2006), berisi jawaban atas 13 pertanyaan fenomena sehari-hari,
seperti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengapa terjadi malam dan siang,
mengapa sepekan 7 hari, mengapa matahari di kaki langit tampak besar, dan
mengapa wajah bulan tidak berubah.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;u&gt;KARIR PENELITI&lt;/u&gt;

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Kuliah
astronomi, dengan mahasiswa yang sedikit (terutama dulu) memang unik. Pola
mengajar bisa lebih bersifat personal, seperti pola bimbingan. Pernah terjadi
kuliah pilihan bintang ganda diikuti oleh satu mahasiswa (Pak Hakim Malasan),
tetapi dosennya dua (Pak Winardi dan Pak Bambang). Pak Djoni mengajar dengan
cara memberi tugas menterjemahkan buku Atmosfer Bintang kemudian
dipresentasikan. Sehingga mahasiswa sering mengatakan “akan memberikan kuliah”,
bukan “akan mengikuti kuliah”. Pak Bambang lebih banyak menunjukkan
makalah-makalah referensi, sehingga selepas kuliah mahasiswa sibuk mencarinya
di perpustakaan. Untungnya perpustakaan astronomi di Observatorium Bosscha
sangat lengkap dan penuh jurnal-jurnal terbaru. Pola pembelajaran di
Jurusan/Departemen/Program Studi Astronomi seperti itu menjadi bekal untuk
menjadi peneliti yang mandiri. Di LAPAN, peneliti alumni astronomi umumnya
sudah bisa langsung dilepas menjadi peneliti, tidak terlalu banyak harus
dibina, karena sudah terbiasa dengan budaya penelitian. Terbiasa mencari
referensi jurnal sebagai rujukan perkembangan sains terbaru (bukan sekadar buku
teks yang berisi informasi baku),
terbiasa presentasi ilmiah, dan terbiasa membuat makalah.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Saya telah
memilih profesi peneliti astronomi dan sains antariksa di LAPAN. Peneliti
adalah suatu jabatan fungsional yang memerlukan profesionalisme, bukan kerja
sambilan. Menjadi pegawai negeri peneliti adalah suatu pilihan di antara banyak
daya tarik luar lainnya. Sebagai pegawai negeri, ada jaminan kesejahteraan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sampai hari tua, tetapi dalam batasan
minimal. Karena batasan minimal tersebut, ada daya tarik luar yang kadang
menggoda untuk mencari tambahan. Biasanya, daya tarik terkuat adalah mengajar,
baik mengajar pada bidangnya atau kadang mengajar bukan pada bidangnya asal ada
tambahan penghasilan. Pada awalnya saya masih sempat merangkap jadi peneliti
dan mengajar di luar. Ketika jam kerja sampai pukul 14.00, pulang kantor masih
bisa mengajar sampai malam. Mengajar hanya di luar jam kantor karena saya tidak
ingin terjerumus pada “korupsi terselubung” dengan korupsi waktu. Karenanya
ketika jam kerja berubah menjadi 5 hari kerja dan jam kerja sampai pukul 16.00
saya tidak mungkin lagi mengajar. Hari Sabtu bukan pilihan yang baik untuk
mengajar.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Godaan terberat
untuk berbagi peran sebagai peneliti pegawai negeri dan pengajar sambilan
terasa ketika saya baru tiba dari Jepang. Ada
perubahan drastis, dari biaya hidup yang bersumber dari dana beasiswa bulanan
dalam Yen yang lebih dari cukup menjadi gaji murni sebagai PNS tanpa tunjangan
fungsional (karena baru tiba) yang sangat minim. Dari penghasilan bulanan
setara Rp 4.000.000 (menurut kurs 1994) menjadi hanya sekitar Rp200.000. Ada
peneliti lulusan luar negeri yang tidak tahan dengan kondisi seperti itu dan
mengikuti daya tarik luar yang kuat dan menggiurkan, walau menutup mata (sadar
atau tak sadar) dengan perilaku korupsi terselubung (seolah hal yang lumrah). Ada yang masih bisa
mengendalikan diri hingga profesi penelitinya tetap terjaga, tetapi ada juga
yang terlalu jauh terlena dengan daya tarik luar. Kalau mau jujur dan tidak mau
terjebak korupsi terselubung, tidak mungkin menjadi peneliti yang produktif dan
berhasil pula sebagai pengajar yang baik (ini kasus yang berbeda untuk dosen
yang memang profesinya mengajar dan meneliti). Pasti salah satunya rusak atau
kedua-duanya rusak atau setidaknya bisa terlaksana “sekadarnya”. Saya pilih
jadi peneliti saja, walau pahit pada awalnya.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Karir peneliti
memang menjanjikan untuk perbaikan kesejahteraan, setidaknya lebih baik dari
batas minimal sebagai pegawai negeri. Dengan struktur tunjangan peneliti
seperti saat ini (pada tabel berikut ini), saya mencoba menghitung secara
ekonomi berapa nilai rupiah hasil karya peneliti.

&lt;p style="text-align:center;text-indent:0.5in" align=center&gt; 

&lt;div align=center&gt;

&lt;table style="border:medium none;width:319px;border-collapse:collapse;height:313px" border=1 cellpadding=0 cellspacing=0&gt;
 &lt;tbody&gt;&lt;tr style="page-break-inside:avoid"&gt;
  &lt;td colspan=2 width=312&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Struktur Lama&lt;/span&gt;
  
  &lt;td width=161&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Struktur baru&lt;/span&gt;
  
 
 &lt;tr style="page-break-inside:avoid"&gt;
  &lt;td width=214&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Assiten Peneliti Muda
  (IIIa), 100 AK&lt;/span&gt;
  
  &lt;td width=97&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Rp&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;130.000&lt;/span&gt;
  
  &lt;td rowspan=2 width=161&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;PenelitiPertamaIIIa,100AK&lt;/span&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;PenelitiPertamaIIIb,150AK&lt;/span&gt;
  
 
 &lt;tr style="page-break-inside:avoid"&gt;
  &lt;td width=214&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Asisten Peneliti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Madya(IIIb),150AK&lt;/span&gt;
  
  &lt;td width=97&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Rp&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;253.000&lt;/span&gt;
  
 
 &lt;tr style="page-break-inside:avoid"&gt;
  &lt;td width=214&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Ajun Peneliti Muda (IIIc),
  200AK&lt;/span&gt;
  
  &lt;td width=97&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Rp&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;377.000&lt;/span&gt;
  
  &lt;td rowspan=2 width=161&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Peneliti Muda IIIc,200AK&lt;/span&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Peneliti Muda IIId,300AK&lt;/span&gt;
  
 
 &lt;tr style="page-break-inside:avoid"&gt;
  &lt;td width=214&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Ajun Peneliti Madya
  (IIId), 300AK&lt;/span&gt;
  
  &lt;td width=97&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Rp&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;500.500&lt;/span&gt;
  
 
 &lt;tr style="page-break-inside:avoid"&gt;
  &lt;td width=214&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Peneliti Muda (IVa),400AK&lt;/span&gt;
  
  &lt;td width=97&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Rp&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;624.000&lt;/span&gt;
  
  &lt;td rowspan=3 width=161&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Peneliti MadyaIVa,400AK&lt;/span&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Peneliti MadyaIVb,550AK&lt;/span&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Peneliti MadyaIVc,700AK&lt;/span&gt;
  
 
 &lt;tr style="page-break-inside:avoid"&gt;
  &lt;td width=214&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Peneliti Madya (IVb),
  550AK&lt;/span&gt;
  
  &lt;td width=97&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Rp&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;747.500&lt;/span&gt;
  
 
 &lt;tr style="page-break-inside:avoid"&gt;
  &lt;td width=214&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Ahli Peneliti Muda (IVc),
  700AK&lt;/span&gt;
  
  &lt;td width=97&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Rp&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;871.000&lt;/span&gt;
  
 
 &lt;tr style="page-break-inside:avoid"&gt;
  &lt;td width=214&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Ahli Peneliti Madya
  (IVd),850AK&lt;/span&gt;
  
  &lt;td width=97&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Rp&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;994.500&lt;/span&gt;
  
  &lt;td rowspan=2 width=161&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Peneliti Utama IVd,850AK&lt;/span&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;PenelitiUtamaIVe,1050AK&lt;/span&gt;
  
 
 &lt;tr style="page-break-inside:avoid"&gt;
  &lt;td width=214&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Ahli Peneliti Utama
  (IVe),1000AK&lt;/span&gt;
  
  &lt;td width=97&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:10pt"&gt;Rp 1.118.000&lt;/span&gt;
  
 
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;

&lt;/div&gt;

&lt;p style="text-align:center;text-indent:0.5in" align=center&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Ambil salah satu contoh kasus.
Ajun peneliti untuk naik jenjang perlu 100 AK. Satu makalah hasil penelitian
oleh penulis tunggal (menurut sistem penilaian lama) bernilai 25, sehingga
untuk naik jenjang perlu 4 makalah yang harus terpenuhi selama 4 tahun. Artinya,
setiap tahun harus menghasilkan 1 makalah penelitian penulis tunggal. Namun
hasilnya akan ada tambahan tunjangan fungsional sebesar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kira-kira Rp 120.000,00 per bulan. Sehingga
kalau dikonversikan nilainya selama satu tahun menjadi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;12 x Rp 120.000,00 = Rp 1.440.000. Untuk
menghasilkan 1 makalah penelitian, biasanya seorang peneliti di LAPAN
melaksanakan program penelitian dengan diberikan honor bulanan (untuk saat ini)
sebesar Rp 10.625,00 per jam (setelah potong pajak 15%). Karena satu bulan maksimum
hanya diperkenankan 80 jam, maka honor total selama satu tahun untuk
menghasilkan satu makalah menjadi 12 x &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;80
x Rp 12.500,00 = Rp 10.200.000,00. Jadi satu makalah penelitian yang dihasilkan
seorang peneliti dinilai Rp 1.440.000 + Rp10.200.000,00 = Rp11.640.000,00,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;suatu jumlah yang tidak sedikit. Sebenarnya,
harus juga diperhitungkan dengan gaji dan tunjangan fungsionalnya, kira-kira Rp
1.500.000 per bulan, sehingga secara kumulatif total nilainya menjadi Rp
29.640.000,00. Pada saat banyak orang mencari pekerjaan, satu buah makalah
bernilai sebesar itu menunjukkan bahwa profesi pegawai negeri peneliti bukan
main-main.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Pilihan karir
jadi peneliti &lt;i&gt;fulltime&lt;/i&gt;, ternyata juga memberikan kepuasan batin karena
sesuai cita-cita dan jenjang karir ditentukan oleh diri sendiri, bukan orang
lain. Menjadi peneliti, naik jabatan (termasuk tunjangan jabatannya) ditentukan
oleh kinerja pribadinya. Nilainya harus baik dalam penilaian pretasi kerjanya
sebagai pegawai negeri (dinyatakan dalam DP3, Daftar Penilaian Pekerjaan
Pegawai). Juga hasil kegiatan sebagai peneliti juga harus baik. Bila itu
terlaksana, tiap tahun naik jabatan dimungkinkan bila nilai angka kredit
penelitinya mencukupi untuk naik jenjang. Pangkatnya sebagai pegawai negeri
juga dimungkinkan untuk dinaikkan setiap 2 tahun (dengan kenaikan pangkat
pilihan), dua kali lebih cepat daripada kenaikan reguler setiap 4 tahun.
Pilihan saya ternyata jalan yang tepat. Sejak jabatan fungsional saya ajukan,
nilai angka kredit saya memungkinkan cepat naik jabatan dan tentunya dapat naik
pangkat setiap dua tahun. Ketika pulang dari tugas belajar, pangkat PNS telah
IIIb. Kemudian mengalami satu kali kenaikan pangkat reguler 4 tahunan menjadi
IIIc. Selanjutnya naik pangkat setiap 2 tahun menjadi IVc, berarti empat kali naik
pangkat pilihan. Dengan angka kredit peneliti saya 1.047, memungkinkan saya
untuk naik pangkat lagi menjadi IVd pada 2007 dan berharap mencapai puncak
karir peneliti pada 2009 sebagai Peneliti Utama IVe (sebagai profesor riset).
Hal ini saya ungkapkan bukan untuk menyombongkan diri (karena tidak ada yang
istimewa, setiap orang bisa melakukannya), tetapi semata-mata ingin menunjukkan
bahwa jenjang karir peneliti bisa direncanakan oleh diri sendiri, tidak
tergantung pada orang lain. Berbeda dari jejang karir struktural yang
tergantung juga pada pilihan atasan kita.

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt; &lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Astronomi+Jalan+Hidup&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!145.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!145.entry</guid><pubDate>Fri, 13 Oct 2006 07:13:39 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!145/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!145.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2006-10-13T07:54:50Z</dcterms:modified></item><item><title>Khutbah Idul Adha 1421</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!138.entry</link><description>&lt;p&gt;&lt;u&gt;Khutbah Idul Adha 1421, Masjid Nurul Jamil, Dago, Bandung&lt;/u&gt;

&lt;p&gt;HAJI DAN QURBAN:

&lt;p&gt;REPOSISI DIRI DI HADAPAN ALLAH DAN SESAMA MANUSIA

&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:9pt;font-weight:normal"&gt;(Disampaikan oleh T. Djamaluddin, LAPAN Bandung)&lt;/span&gt;

&lt;p&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style="font-weight:bold"&gt;(Teks Arab, tidak tertulis)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;



&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;Katakanlah,
&amp;quot;Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada (Allah) yang menciptakan bumi
dalam dua masa dan kamu adakan sekutu‑sekutu bagiNya? (Allah itulah) Rabb
semesta alam. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung‑gunung yang kokoh,
memberkahinya, dan menentukan padanya kadar makanan‑makanan (penghuni-)nya
dalam empat masa (sejak penciptaan bumi). (Itulah jawaban) bagi orang‑orang
yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit yang berupa kabut. Dia berkata kepada
langit dan bumi, &amp;quot;Datanglah kalian dengan taat atau terpaksa&amp;quot;.
Keduanya menjawab, &amp;quot;Kami datang dengan taat&amp;quot;. Maka Dia menjadikannya
tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap‑tiap langit urusannya.
Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang‑bintang yang cemerlang dan Kami
memeliharanya dengan sebaik‑baiknya. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Maha
Perkasa lagi Maha Mengetahui.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;(Q. S. 41:9-12)&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p&gt;&lt;i style=""&gt;Dan (ingatlah),
ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap
jiwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mereka (seraya berfirman):
&amp;quot;Bukankah Aku ini Tuhanmu?&amp;quot; Mereka&lt;span style=""&gt; 
&lt;/span&gt;menjawab: &amp;quot;Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi (QS 7:172)&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pagi ini di hari raya qurban – Idul
Adha – ketika jutaan manusia sedang melaksanakan rangkaian ibadah haji di tanah
suci, ketika jutaan ternak siap diqurbankan, sejenak kita merenungi kembali
posisi kita di hadapan Allah dan sesama manusia. Ibadah Haji mengingatkan
sejarah manusia sejak penciptaan alam semesta hingga reformasi logika tauhid
manusiawi yang dicontohkan Nabi Ibrahim AS. Ibadah Qurban mengingatkan
perjuangan hidup manusia dalam penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah dan
manifestasinya dalam kehidupan bermasyarakat. &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Walaupun tidak dijelaskan secara
tegas di dalam Al-Quran dan Hadits tentang makna setiap kegiatan ibadah haji,
kita coba mencari maknanya yang berkaitan dengan kehidupan manusia yang
direkonstruksikan dalam ibadah haji tersebut. &lt;i style=""&gt;Pertama,&lt;/i&gt; makna asasi tentang ketaatan alam semesta kepada Allah
sejak penciptaannya yang disimbolkan dengan thawaf, mengelilingi kab’bah. &lt;i style=""&gt;Kedua&lt;/i&gt;, makna dari kisah ketauhidan Nabi
Ibrahim AS dan keluarganya yang direpresentasikan dengan sai, melontar jumrah,
dan qurban. &lt;i style=""&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, makna persamaan
dengan sesama manusia dan kerendahan diri di hadapan Allah yang diajarkan saat
wuquf.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style=""&gt;&lt;span style="letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Makna yang pertama&lt;/b&gt; dapat ditarik dari
fenomena thawaf. Ratusan ribuan orang yang berthawaf, silih berganti tanpa
henti, terlihat seperti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ribuan
asteroid, komet, dan planet yang mengitari matahari. Atau seperti milyaran
bintang di galaksi bima sakti yang mengitari pusat galaksi. Mereka adalah
miniatur alam semesta yang tak pernah membangkang kehendak Khaliqnya, Allahu
Rabbul ‘alamin. Sejak penciptaannya mereka tetap taat mengikuti hukum-hukum
Allah. &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Makhluk langit (bintang-bintang dan
benda-benda langit lainnya) 'disempurnakan' (&lt;i style=""&gt;fasawwahaa&lt;/i&gt;) dengan kematian dan kelahiran bintang-bintang. Hukum
Allah mengendalikan evolusinya dan dinamikanya yang dicirikan dengan gerakan
mengitari pusat massanya. Bulan mengitari bumi. Bumi dan planet-planet
mengitari matahari. Matahari dan milyaran bintang mengitari pusat galaksi.
Dalam bahasa fisika, gerakan benda-benda langit akibat gaya gravitasi. Dalam
bahasa Alquran, gerakan itu bukti ketaatan langit dan bumi kepada &lt;i style=""&gt;Khaliq&lt;/i&gt;-nya, tanpa tawar-menawar sesuai
janjinya .&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt; &lt;/span&gt;



&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt; &lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;Dia
(Allah) berkata kepada langit dan bumi, &amp;quot;Datanglah kalian dengan taat atau
terpaksa&amp;quot;. Keduanya menjawab, &amp;quot;Kami datang dengan taat&amp;quot;. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;(QS 41:11)&lt;/span&gt;



&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;'Mengelilingi sesuatu' disebut &lt;i style=""&gt;thawaf&lt;/i&gt;. Alam berthawaf sebagai bukti
ketaatannya kepada Allah. Secara jasmani, tubuh manusia pun taat pada hukum-Nya
dengan terus berthawaf bersama alam tanpa bisa kita tolak. Namun secara ruhani,
manusia berpotensi membangkang. Padahal, seperti halnya alam, manusia pun dalam
salah satu tahapan perkembangannya di rahim telah berjanji untuk taat kepada
Allah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;

&lt;p&gt;&lt;i style=""&gt;Dan (ingatlah),
ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap
jiwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mereka (seraya berfirman):
&amp;quot;Bukankah Aku ini Tuhanmu?&amp;quot; Mereka&lt;span style=""&gt; 
&lt;/span&gt;menjawab: &amp;quot;Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi (QS 7:172)&lt;/i&gt;



&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dengan merenungi ketaatan alam,
thawaf pada ibadah haji dan umrah semestinya menyadarkan akan janji manusia
tersebut. Tujuh kali mengitari kabah merupakan perlambang jumlah putaran yang
tidak berhingga, terus menerus, seperti thawafnya alam semesta. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;Langit dan bumi adalah makluk fisik yang
tidak berjiwa, tidak mempunyai kemampuan berkreasi. Mereka mengerjakan sebatas
‘program’ yang telah ditetapkan penciptanya, tidak ada kemampuan lebih dari
itu. Karenanya ketika amanat diberikan Allah mereka menolaknya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;Sesungguhnya
Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka
semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan
mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia
itu amat zalim dan amat bodoh (QS 33:72).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;/span&gt;

&lt;p&gt;Jasad manusia pun benda fisik yang tidak berbeda
dengan alam. Unsur kimiawinya yang didominasi karbon, hidrogen, oksigen, dan
nitrogen juga terdapat di alam. Gerakannya pun mengikuti hukum yang berlaku di
alam. Bila terpeleset akan jatuh ke bawah, sama seperti jatuhnya batu. Bila
mati akan terurai bersatu kembali dengan tanah. Secara jasmaniah, manusia
memang sudah terikat dengan janji ketika langit dan bumi diciptakan. Namun,
manusia bukan sekadar jasmani, tetapi ada bagian ruhani yang menjadi ciri dasar
kemuliaan dan kelebihan manusia dibandingkan makhluk lainnya.&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak
Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari
yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas
kebanyakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;makhluk yang telah Kami
ciptakan. &lt;span style="letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(QS 17:70). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt" lang=EN-GB&gt;Manusia dipercaya sebagai khalifah di bumi dan diberi
pengajaran yang tidak diberikan kepada malaikat (QS 2:30-32), hingga malaikat
pun diperintahkan Allah untuk bersujud. Allah memang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;menciptakan
manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
dalam bentuk yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebaik-baiknya. (QS
95:4). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Namun
keistimewaan itu bersyarat, bila&lt;span style=""&gt; 
&lt;/span&gt;sejumlah kelemahannya dapat dikendalikan agar tidak mendominasi. Manusia
punya kecenderungan tidak sabar, banyak berkeluh kesah, dan kikir .&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh
kesah lagi kikir. (QS 70:19). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Manusia
juga lemah.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;



&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan
manusia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dijadikan bersifat lemah. (QS 4:28). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Juga
bersifat tergesa-gesa.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Dan manusia mendo'a untuk kejahatan sebagaimana
ia mendo'a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(QS 17:11). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Kelemahan-kelemahan
seperti itu terkait dengan catatan Allah bahwa manusia itu zalim dan bodoh,
walaupun sanggup memegang amanat yang berat &lt;i style=""&gt;(QS
33:72)&lt;/i&gt;. Dengan segala potensi keunggulan dan kelemahannnya itu manusia pun
bisa jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya bila tidak disertai iman dan amal
shalih.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang
serendah-rendahnya (neraka)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(QS 95:5). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Thawaf
saat berhaji yang menirukan gerakan langit dan bumi mengingatkan akan janji
hakiki saat awal makhluk diciptakan-Nya. Alam semesta telah berjanji untuk taat
kepada Allah. Manusia pun telah berjanji untuk bertauhid kepada-Nya. Namun
manusia sering membangkang karena kejumudannya, kebekuan akalnya, hilang
rasionalitasnya. Kebenaran ilahiyah kadang diabaikannya karena kesombongan
duniawi yang ditonjolkan. &lt;/span&gt;



&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Makna yang kedua&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;
kita ambil dari kisah Nabi Ibrahim AS dan keluarganya yang rasionalitasnya
dalam bertauhid dan ketaatannya yang luar biasa kepada Allah patut menjadi
teladan. Perbuatannya banyak direkonstruksikan para jemaah haji, seperti sa’i
dari bukit Shafa ke bukit Marwah, melontar jumrah, dan berqurban. Sa’i
mengingatkan keteguhan, keuletan, dan sikap tawakal Siti Hajar dalam memelihara
Ismail di tengah lingkungan alam yang sangat tandus. Melontar jumrah
mengingatkan perlawanan gigih keluarga Ibrahim AS melawan bujuk rayu syaithan.
Qurban mengingatkan ketaatan yang luar biasa antara ayah dan anak, Ibrahim AS
dan Ismail AS, yang diuji dengan perintah Allah untuk mengurbankan Ismail, yang
akhirnya digantikan Allah dengan seekor kambing besar.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Sesungguhnya Ibrahim
adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan
hanif (yang selalu berpegang kepada kebenaran dan tak pernah meninggalkannya).
Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).
(QS 16: 120)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Khatib
tidak akan berkisah rinci tentang sejarah asal mula sa’i, melontar jumrah, dan
berqurban. Tetapi menengok dasar tauhid yang melandasi segala aspek kehidupan
Nabi Ibrahim AS. Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim tidak bertaqlid pada tradisi,
tidak larut pada kesesatan lingkungannya, malah membuktikan kebenaran tauhid
secara rasional kepada ummatnya. Mari kita hayati suasana batin saat itu dalam
pembuktian ekistensi Tuhan yang hakiki dengan mengamati langit. &lt;span style="letter-spacing:-0.15pt"&gt;Seusai maghrib petang nanti bila langit cerah
tengoklah langit barat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Walaupun langit
belum terlalu gelap, sebuah bintang sangat cemerlang tampak cukup tinggi di
langit. Itulah bintang kejora. Sebenarnya itu bukan bintang, melainkan planet
Venus. Bayangkan diri kita bersama Nabi Ibrahim AS yang menghadapi kaumnya yang
tak bertauhid.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt" lang=EN-GB&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah
bintang (lalu) dia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berkata:
&amp;quot;Inilah Tuhanku&amp;quot;,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tetapi
tatkala bintang itu tenggelam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dia
berkata: &amp;quot;Saya tidak suka kepada yang tenggelam.&amp;quot; (6:76).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Sungguh
cemerlang bintang kejora di ufuk barat. Bintang sering jadi penunjuk arah.
Warnanya, konfigurasinya, atau kecemerlangannya sering diasosiasikan dengan
dewa-dewa tertentu. Bintang yang paling cemerlang sering didewakan pada waktu
itu. Namun, bintang tidak selamanya tampak. Sebentar juga terbenam. Tak
beralasan untuk menyembahnya.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Beberapa
hari mendatang kita akan melihat purnama terbit di ufuk timur. Ini lebih
terang. Malam yang biasanya gelap pun menjadi terang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia
berkata: &amp;quot;Inilah Tuhanku&amp;quot;. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia
berkata, &amp;quot;Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku,
pastilah aku termasuk orang yang sesat.&amp;quot; (QS 6:77)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Bulan
yang cemerlang pun tidak bertahan lama. Ada saatnya terbenam. Kemudian pada
pagi hari tampaklah matahari yang jauh lebih cemerlang dan tampak sangat besar
di kaki langit.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia
berkata: &amp;quot;Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar&amp;quot;. Maka tatkala
matahari itu terbenam, dia berkata: &amp;quot;Hai kaumku, sesungguhnya aku
berlepas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diri dari apa yang kamu
persekutukan. (QS 6:78).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;br&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Mungkin
kita tidak merasakan betapa beratnya menjelaskan ketauhidan pada zaman Nabi
Ibrahim AS, karena kita sudah diberi hidayah Allah atau terlahir dari keluarga
Muslim yang telah diajarkan ketauhidan. Namun, kita bisa merasakan betapa
susahnya kita menjelaskan dan melaksanakan pada diri dan keluarga akan makna
ketauhidan yang sesungguhnya. Tak jarang perbuatan berbau syirik masih kita
jumpai di tengah masyakarat, mungkin di dalam diri dan keluarga kita sendiri,
sadar atau tak sadar. Berapa banyak orang yang masih percaya pada benda-benda
atau tempat-tempat yang dikeramatkan. Atau kita berbuat &lt;i style=""&gt;riya&lt;/i&gt;, pamer dalam beribadah. Atau yang paling tersamar bentuk
kemusyrikan yang mungkin sering kita lakukan tanpa disadari adalah keraguan
akan kemurahan Allah ketika kita berdoa, ketidakyakinan diri bahwa Allah akan
mengabulkan doa kita. Padahal setiap shalat kita baca ungkapan Nabi Ibrahim AS:&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan
langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah
termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS 6:79)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Tidak
yakin akan kekuasaan Allah, termasuk syirik, menyekutukan Allah. Menurut para
ulama, ada tiga klasifikasi syirik itu. Ada syirik akbar (syirik berat), seperti
secara nyata menganggap Allah lebih dari satu atau menganggap ada kekuatan lain
selain Allah atau sekadar menyamakan kecintaan (&lt;i style=""&gt;mahabbah&lt;/i&gt;) kepada manusia atau benda seperti kecintaannya kepada
Allah. Ada syirik &lt;i style=""&gt;ashghar&lt;/i&gt; (syirik
kecil), yaitu berbuat &lt;i style=""&gt;riya&lt;/i&gt;. Amal
ibadahnya tidak ikhlas semata-mata karena Allah, tetapi ada terselip niat ingin
dipuji orang lain. Bila bershadaqah, ingin terlihat dan dianggap sebagai orang
dermawan. Bila shalat dan beribadah lainnya ingin orang lain mengetahuinya dan
memujinya sebagai orang shalih. Dan seterusnya. Ada juga syirik &lt;i style=""&gt;khafiy&lt;/i&gt; (tersamar), semisal ragu dalam
berdoa tersebut tadi. Karena tersamarnya Rasulullah mengibaratkannya sebagai
“semut hitam merayap di batu hitam pada malam yang gelap gulita”. Sangat
tersamar sehingga kita tidak menyadarinya bahwa itu salah satu bentuk syirik.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Syirik bermula dari sikap dan
perasaan merendahkan peran Allah. Bila peran Allah saja direndahkan, sangat
mungkin peran sesama manusia pun dilecehkan. Sikap angkuh atau arogan, merasa
tiada tandingan, sangat dekat dengan perilaku syirik. Fir’aun dengan
kekuasaanya yang tak terbatas demikian angkuhnya hingga mengklaim dirinya
tuhan. Kisah pembuktian tentang Tuhan yang hakiki oleh Ibrahim AS memberi
pelajaran penting. Kemegahan dan keunggulan relatif adalah sifat makhluk yang
berpotensi menipu manusia. Sejarah telah menunjukkan banyak kaum penyembah
bintang atau matahari, mempertuhankan raja, atau minimal mengkultuskan
seseorang. Untuk itu banyak juga yang mau berkorban demi mengagungkan sesuatu atau
figur yang dipujanya. Padahal kemegahan atau keunggulan itu bisa jadi bukan
sifat yang intrinsik pada objek itu. &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bintang kejora adalah contohnya.
Planet Venus itu tidak menghasilkan cahayanya sendiri. Planet yang dijuluki
saudara kembar bumi yang jelita sekadar memantulkan cahaya bintang induknya,
matahari. Kecemerlangannya diperoleh karena kedekatannya dengan matahari dan
berada tidak jauh dari bumi. Bintang kejora dipuji karena kecemerlangan
relatifnya. Dijadikan lagu yang dinyanyikan anak-anak. Tetapi tak banyak orang
tahu tentang hakikatnya, karena orang cukup kagum dengan kemegahan sinar
pantulannya. Orang terlanjur menyebutnya bintang, padahal sekadar planet.
Lingkungan planetnya pun sesungguhnya tidak bersahabat bagi kehidupan. Luar
biasa panasnya dengan efek rumah kaca karena kandungan karbon dioksida yang
sangat tinggi.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam dinamika hidup manusia
fenomena bintang kejora mudah ditemukan. Kolusi dan nepotisme pun mudah tumbuh
dari fenomena seperti itu. Karena masyarakat kehilangan daya kritis untuk
menelaah secara seksama sifat intrinsiknya, bila yang ditonjolkan sekadar sinar
pantulannya yang cemerlang. Satu-satunya cara menghindarkan diri dari tipuan
“fenomena bintang kejora” adalah meresapi makna doa iftitah yang menyambung
pernyataan Nabi Ibrahim tersebut: &amp;quot;Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup,
dan matiku hanyalah bagi Allah Tuhan semesta alam.&amp;quot; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Makna
ketiga&lt;/b&gt; adalah makna persamaan dengan sesama manusia dan kerendahan diri di
hadapan Allah yang diajarkan saat wuquf (berdiam) di Arafah. Dengan berbalutkan
pakaian ihram yang sama, tak tampak perbedaan strata sosial, semua jamaah haji
berkumpul di Arafah. Diharapkan ritual puncak ibadah haji ini melahirkan sikap
tawadhu, merendahkan diri di hadapkan Allah dan menghilangkan sikap diskriminatif
terhadap sesama manusia. Bayangkan kita berada di dataran yang luas,
berkubahkan langit biru, dan matahari terik di atas kepala. Ini hanya miniatur
padang mahsyar di yaumul akhir.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pada pagi yang suci ini, khatib
mengajak untuk menghayati makna tawadhu’ dan persamaan dalam suasana seperti
itu. Berada di padang luas berkubahkan langit akan terasa kecil di tengah
keluasan alam, apalagi di hadapan Allah pencipta alam raya ini. Coba kita
renungkan sejenak relativitas persepsi&lt;span style=""&gt; 
&lt;/span&gt;manusia yang sering membawa keangkuhan dan merendahkan sesama. Manusia
kadang terkecoh dengan persepsinya sendiri. Matahari yang terik di atas kepala
itu terlihat kecil ketika dibandingkan dengan langit yang sangat luas. Padahal
kita sering menganggapnya besar ketika berada di kaki langit pada pagi atau
sore hari. Ketika itu matahari dibandingkan dengan pepohonan atau gedung di
kejauhan yang tampak kecil. &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Manusia mengukur sesuatu hanya
berdasarkan perbandingan. Kita mengenal besar, karena adanya sikecil. Kita
merasakan panas karena pernah merasakan yang lebih dingin. Kita menganggapnya
kaya karena melihat yang miskin atau sebaliknya kita merasa miskin karena
dihadapan kita ada yang lebih kaya. Kita merasakan pandai ketika kita berbicara
dihadapan yang orang belum tahu. Kita merasakan kuat karena ada yang lebih
lemah. Lalu, kalau diseragamkan dengan pakaian ihram yang sama, masihkan
memperbandingkan status sosial atau derajat duniawi lainnya. Karena kelak,
ketika maut menjemput, tak satu pun benda duniawi yang menyertai ke liang lahad
selain kaif kafan, mirip dengan kain ihram tersebut.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style=""&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;Hai orang-orang yang beriman, janganlah
sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang
direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan
merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. (QS
49:11)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sebagai penutup, khatib sampaikan
hal pokok yang ingin disampaikan dalam khutbah ini. Idul Adha yang ditandai
dengan ibadah haji dan qurban hendaknya menjadi momentum terbaik bagi kita
semua, yang pernah melaksanakannya, yang merencanakan pada tahun mendatang,
atau sekadar menyaksikannya, untuk mereposisikan diri di hadapan Allah dan
sesama manusia sesuai dengan makna-makna yang terkandung di dalamnya. Sehingga
kita mampu meningkatkan sikap tawadlu di hadapan-Nya, menyempurnakan ketauhidan
dengan sesungguhnya, dan meningkatkan penghargaan terhadap sesama tanpa sikap
arogan karena pada dasarnya setiap manusia ada kekurangan dan kelebihan yang
bersifat relatif. Terakhir, mari kita akhiri khutbah ini dengan doa:&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;&amp;quot;Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri
kami sendiri. Maka jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk
orang-orang yang merugi. (QS 7:23)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;&amp;quot;Ya Tuhan kami, janganlah Engkau &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat
sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami,
janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.
Beri ma'aflah kami, ampunilah kami,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan
rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum
yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kafir.&amp;quot; (QS 2:286)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;&amp;quot;Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami
istri/suami dan keturunan sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami
pemimpim bagi orang-orang yang bertakwa. (QS25:74)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;&amp;quot;Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan
hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah
kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha
Pemberi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(karunia)&amp;quot;.(QS 3:8)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'" lang=EN-GB&gt;&amp;quot;Ya Tuhan kami,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan
peliharalah kami dari siksa neraka&amp;quot; (QS 2:201).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Khutbah+Idul+Adha+1421&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!138.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!138.entry</guid><pubDate>Sun, 02 Jul 2006 05:56:44 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!138/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!138.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2006-07-02T05:56:44Z</dcterms:modified></item><item><title>Bintang-bintang Bermakna</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!134.entry</link><description>&lt;p align=center&gt;&lt;span style="font-size:14pt" lang=EN-GB&gt;BINTANG-BINTANG BERMAKNA&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:14pt" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:14pt" lang=EN-GB&gt;VEGA merupakan salah satu dari segitiga musim panas. Di Jepang penampakan
VEGA berkaitan dengan festival bintang (&lt;i style=""&gt;Tanabata
Matsuri&lt;/i&gt;). Bintang VEGA adalah bintang standar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;astronomi, paling baik diamati pada bulan Juli. VEGA ISMA ZAKIAH
lahir di Kyoto, Jepang, 10 Juli 1992. Nama mengandung doa harapan agar putri saya secemerlang bintang VEGA, rendah hati
menyadari kekecilan dirinya bagai debu materi antarbintang (InterStellar
Matter, ISMA) yang senantiasa menjaga kesucian (ZAKIAH) lahir dan batin.&lt;/span&gt;

&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:14pt" lang=EN-GB&gt;GINGGA berarti sungai perak atau galaksi Bimasakti, tempat ratusan milyar
bintang. Pada bulan Juli, GINGGA tampak cemerlang di langit berdampingan dengan
VEGA,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terbentang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di langit dari selatan ke utara. GINGGA ISMU
MUTTAQIN lahir di Bandung, 7 Juli 1996. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:14pt" lang=EN-GB&gt;Nama mengandung doa harapan agar putra saya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:14pt" lang=EN-GB&gt;gagah cemerlang seperti galaksi GINGGA,
merendah menyadari dirinya kecil di tengah keluasan ruang antarbintang
(InterStellar MediUm, ISMU), dan senantiasa menjaga ketaqwaan (MUTTAQIN).&lt;/span&gt;

&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:14pt" lang=EN-GB&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;VENUS, bintang Kejora,
atau bintang timur adalah “bintang” (sesungguhnya planet) yang paling terang.
Tampak cemerlang di ufuk barat saat maghrib atau di ufuk timur saat pagi.
Shubuh Oktober 1999 VENUS tampak cemerlang di langit timur. VENUS HIKARU AISYAH
lahir di Bandung, 13 Oktober 1999. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:14pt" lang=EN-GB&gt;Nama mengandung doa harapan agar putri saya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:14pt" lang=EN-GB&gt;anggun cemerlang seperti VENUS, bersinar
(HIKARU dalam bahasa Jepang)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;meneladani
Ummul Mu’minin Siti AISYAH.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:14pt" lang=EN-GB&gt; &lt;/span&gt;&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Bintang-bintang+Bermakna&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!134.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!134.entry</guid><pubDate>Sun, 02 Jul 2006 05:08:43 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!134/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!134.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2006-07-02T05:08:43Z</dcterms:modified></item></channel></rss>