<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><?xml-stylesheet type='text/xsl' href='http://t-djamaluddin.spaces.live.com/mmm2008-05-08_20.17/rsspretty.aspx?rssquery=en-US;http%3a%2f%2ft-djamaluddin.spaces.live.com%2fcategory%2fHisab-Rukyat%2ffeed.rss' version='1.0'?><rss version="2.0" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:msn="http://schemas.microsoft.com/msn/spaces/2005/rss" xmlns:live="http://schemas.microsoft.com/live/spaces/2006/rss" xmlns:dcterms="http://purl.org/dc/terms/" xmlns:cf="http://www.microsoft.com/schemas/rss/core/2005" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"><channel><title>Dokumentasi T. Djamaluddin: Hisab-Rukyat</title><description /><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/?_c11_BlogPart_BlogPart=blogview&amp;_c=BlogPart&amp;partqs=catHisab-Rukyat</link><language>en-US</language><pubDate>Sun, 27 Apr 2008 05:14:53 GMT</pubDate><lastBuildDate>Sun, 27 Apr 2008 05:14:53 GMT</lastBuildDate><generator>Microsoft Spaces v1.1</generator><docs>http://www.rssboard.org/rss-specification</docs><ttl>60</ttl><cf:parentRSS>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/feed.rss</cf:parentRSS><live:type>blogcategory</live:type><live:identity><live:id>-3235950824713060393</live:id><live:alias>t-djamaluddin</live:alias></live:identity><cf:listinfo><cf:group ns="http://schemas.microsoft.com/live/spaces/2006/rss" element="typelabel" label="Type" /><cf:group ns="http://schemas.microsoft.com/live/spaces/2006/rss" element="tag" label="Tag" /><cf:group element="category" label="Category" /><cf:sort element="pubDate" label="Date" data-type="date" default="true" /><cf:sort element="title" label="Title" data-type="string" /><cf:sort ns="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" element="comments" label="Comments" data-type="number" /></cf:listinfo><item><title>Saudi Bikin Masalah Lagi</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!256.entry</link><description>&lt;div style="text-align:center"&gt;  &lt;font size=5&gt;Penyatuan Hari Raya dan Masalah Idul Adha&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;div style="text-align:left"&gt;&lt;div style="text-align:center"&gt;T. Djamaluddin (LAPAN)&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;Di Indonesia kita sedang mengupayakan penyatuan hari raya. Dua metode, hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), kini harus dipandang setara dan bisa dipersatukan. Kedua metode itu bisa bersatu keputusannya bila kriterianya disepakati sama. Jalan menuju itu mulai terbuka. Kita mengupayakan mencari titik temu kriteria hisab rukyat Indonesia agar awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha, serta bulan-bulan hijriyah lainnya bisa seragam. Namun penyatuan kriteria masih akan menyisakan masalah perbedaan terkait dengan Idul Adha.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Masalah perbedaan Idul Adha tidak sepenuhnya terkiat dengan kriteria. Ya, di Indonesia sebagian besar ulama bersepakat untuk mendasarkan pada hasil hisab rukyat Indonesia. Artinya, dengan penyatuan kriteria kita bisa berharap bersatu melaksanakan Idul Adha. Namun masih ada sebagian saudara kita, antara lain dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia (DDII) yang berpendapat bahwa Idul Adha sangat terkait dengan pelaksanaan wukuf di Arafah, sehingga Idul Adha selalu tergantung keputusan Arab Saudi.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Mengikut keputusan Arab Saudi potensi perbedaan sangat besar. Selain masalah garis tanggal, masyarakat astronomi sering mengingatkan bahwa keputusan Saudi sering bermasalah. Setidaknya dalam 3 tahun terakhir 1425 (2005), 1427 (2006), dan 1428 (2007) keputusan Majlis Al-Qadha Al-'Ala (Dewan Mahkamah Tinggi) Arab Saudi sangat kontroversial. Kesaksian rukyat diterima begitu saja, padahal secara astronomi bulan telah terbenam. Ini menimbulkan masalah. Pada hari Ahad, 9 Desember 2007, ada laporan kesaksian rukyatul hilal, padahal ijtima (new moon, bulan baru astronomis) belum terjadi. Tidak tahu apa yang mereka lihat. Dengan kesaksian itu Arab Saudi memutuskan wukuf jatuh pada 18 Desember dan Idul Adha pada 19 Desember 2007.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Sebelumnya kita berharap Idul Adha tahun ini bisa seragam, khususnya di Indonesia. Secara praktek hisab rukyat di Indonesia, seperti juga diputuskan dalam sidang itsbat di Depag RI pada Rabu, 12 Desember 2007, memang semua bersepakat beridul Adha kamis 20 Desember 2007. Namun, adanya pengumuman Arab Saudi, potensi adanya dua kali shalat Idul Adha sangat terbuka. Saudara-saudara kita yang berpendapat Idul Adha tergantung pelaksanaan wukuf, akan melaksanakan shalat Idul Adha pada 19 Desember 2007.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Penyeragaman Idul Adha tidak dapat dilakukan dengan pendekatan astronomis, dengan penyatuan kriteria, kecuali kalau kita bisa mengajak Majlis Al-Qadha Al'Ala yang merupakan otoritas di Arab Saudi. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan ukhuwah. Seorang perwakilan dari DDII di Badan Hisab Rukyat, pernah menyatakan bahwa DDII menerima nasihat dari Ulama di Arab saudi agar menjaga ukhuwah diutamakan, daripada mengikuti keputusan Arab Saudi tetapi berbeda dengan saudara-saudara lainnya. Di lain pihak Dewan Syariat Pusat Partai Keadilan Sejahtera memberikan jalan tengah yang baik dalam menjaga ukhuwah, yaitu melaksanakan shaum Arafah sama harinya dengan hari wukuf, tetapi menunda shalat Idul Adha seperti keputusan pemerintah RI yang menjadi acuan sebagian besar saudara-saudara Muslim. Itu artinya, mereka shaum Arafah pada Selasa 18 Desember 2007, tetapi ikut melaksanakan shalat Idul Adha pada Kamis 20 Desember 2007. Mendahulukan ukhuwah ini merupakan titik temu penyeragaman Idul Adha, di samping pendekatan penyatuan kriteria hisab rukyat.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Saudi+Bikin+Masalah+Lagi&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!256.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!256.entry</guid><pubDate>Wed, 12 Dec 2007 15:07:21 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!256/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!256.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2007-12-12T15:07:21Z</dcterms:modified></item><item><title>Kita Bisa Bersatu</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!255.entry</link><description> 

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;font size=5&gt;Jalan Menuju Titik
Temu Makin Terbuka&lt;/font&gt;

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt; 

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt; 

&lt;p&gt;Upaya untuk mengakhiri perbedaan hari raya di kalangan
ummat Islam di Indonesia serius dilakukan. Dua ormas besar NU dan Muhammadiyah
secara intensif telah bermusyawarah untuk menemukan titik temu. Upaya paling
dimulai pemanasan informal dengan pertandingan sepakbola menjelang Ramadhan
yang digagas Wapres Jusuf Kalla. Kemudian Wapres JK memfasilitasi pertemuan dua
pimpinan ormas Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah pada Senin 24
September&lt;br&gt;
2007/ 12 Ramadhan 1428. Pada saat itu disepakati kedua ormas menyamakan
persepsi yang akan dilanjutkan dengan pertemuan teknis antara pakar hisab
rukyat.

&lt;p&gt; 

&lt;p&gt;Pertemuan pertama antara Mejelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah
dan Lajnah Falakiyah PBNU dilaksanakan pada 2 Oktober 2007/ 20 Ramadhan 1428 di
kantor PBNU.Jakarta. Pertemuan kedua diadakan pada 6 Desember 2007/ 26
Dzulqaidah 1428 di kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selanjutnya akan dilakukan pertemuan di UIN Jakarta.&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;

&lt;p style=""&gt;Titik
terang semakin nyata. Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Syamsul
Anwar menyatakan, “Sudah saatnya NU dan Muhammadiyah mengalah untuk ummat,
sehingga harus ada kesepakatan bersama agar ummat tidak lagi bingung akibat
keputusan yang dihasilkan. Sementara itu tokoh lajnah falakiah PBNU Slamet
Hambali mengatakan, “Sudah bukan saatnya lagi NU dan Muhammadiyah bertahan pada
argumentasinya masing-masing.” Ditegaskannya pula, “Pada dasarnya NU juga
menerima perubahan”.

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Alhamdulillah, pertemuan kedua
semakin membuka titik terang bahwa kita bisa bersatu. Kesepahaman bahwa kita
perlu mengalah untuk ummat dan kita bisa menerima perubahan, adalah suatu
langkah maju untuk bersatu. Hisab dan rukyat, secara astronomis tidak dapat
dipisahkan. Keduanya saling melengkapi. Kesalahpahaman yang menjadikannya
seolah berbeda dan tidak dapat disatukan. Penyatuan kriteria hisab rukyat
adalah titik temu keduanya. 

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Semoga pertemuan lanjutan di UIN
Jakarta mulai membahas hal teknis kriteria apa yang akan digunakan bersama.
Apakah langsung pada upaya penyatuan kalender internasional dengan kriteria
internasional, atau sementara gunakan kriteria lokal untuk penyatuan kalender
nasional? Karena kesepakatan kriteria ini bukan hanya bagi Muhammadiyah dan NU,
ormas lain dan pakar terkait pun diharapkan ikut serta untuk mendorong upaya
penyatuan kriteria ini. Insya Allah, kita bisa bersatu kalau punya kemauan.

&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Kita+Bisa+Bersatu&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!255.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!255.entry</guid><pubDate>Mon, 10 Dec 2007 01:51:09 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!255/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!255.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2007-12-10T01:51:09Z</dcterms:modified></item><item><title>Titik Temu Berhari raya</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!246.entry</link><description>&lt;font size=6&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;font size=3&gt;Media Indonesia, 10 Oktober 2007&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;font size=5&gt;Menuju Titik Temu Menentukan 1 Syawal&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;
					
					
					&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Penulis:
T Djamaluddin, Peneliti Utama Astronomi Astrofisika, Kepala Pusat
Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan, Bandung, Anggota Badan
Hisab Rukyat, Depag RI&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Ilmu
hisab untuk menghitung posisi bulan dan matahari, sebagai bagian
astronomi, bukanlah ilmu langka. Kini banyak yang menguasainya,
termasuk ormas Islam, seperti Muhammadiyah, NU, dan Persis.&lt;/span&gt;
&lt;p&gt;Bahkan dengan banyaknya program komputer, siapa pun yang bisa
mengoperasikannya dengan mudah dapat menghitung posisi bulan dan
matahari. Masalahnya, tidak semua orang mengerti arti angka dalam
penentuan awal bulan Qamariyah, khususnya dalam penentuan awal Ramadan,
Idul Fitri, dan Idul Adha.
&lt;p&gt;Kini, dengan metode astronomi yang sama, bahkan dengan program
komputer, hasil hitungan pasti akan sama. Tidak peduli siapa yang
menghitung, apakah Muhammadiyah, NU, Persis, atau orang awam. Terlalu
naif, ada yang merasa hasil hisabnya lebih unggul dan seolah metodenya
beda dengan metode ormas lain yang menggunakan rukyat. Padahal tidak
ada bedanya, semua ormas bisa menghitung dengan hasil yang sama.
&lt;p&gt;Dalam astronomi, yang menjadi induk ilmu hisab dan &lt;i&gt;rukyat&lt;/i&gt;, tidak ada dikotomi hisab (perhitungan) dan &lt;i&gt;rukyat&lt;/i&gt;
(observasi). Keduanya saling mendukung dan tidak bertentangan.
Kekisruhan yang terjadi dalam perbedaan penentuan Idul Fitri
semata-mata lebih bernuansa kesalahpahaman hisab &lt;i&gt;rukyat&lt;/i&gt; yang diperparah dengan ego keormasan.
&lt;p&gt;Kalau kita kaji akar masalahnya, sebenarnya sederhana solusinya.
Samakan kriterianya dalam menafsirkan angka-angka hasil hisab. Banyak
yang pesimistis menyatukan pendapat antara Muhammadiyah dan NU, karena
berbeda keyakinan dalam memahami dalil syariat. Banyak juga yang
mengira sumber perbedaan adalah pertentangan antara kubu hisab dan
rukyat.


&lt;p&gt;Belajarlah dari ilmu induknya, astronomi, untuk menafsirkan makna angka-angka hasil hisab yang seharusnya tidak bertentangan dengan hasil rukyat. Penyatuan hasil hisab dan rukyat dalam menyimpulkan masuk
awal bulan atau belum, terletak pada kriteria awal bulan. Kini ada dua
kriteria yang digunakan dua ormas yang sering menimbulkan kesimpulan
berbeda ketika posisi bulan di Indonesia berada pada ketinggian di
antara dua kriteria tersebut, seperti terjadi pada 2006 dan 2007.
&lt;p&gt;Muhammadiyah menggunakan kriteria &lt;i&gt;wujudul hilal&lt;/i&gt; (bulan telah wujud di atas ufuk) dengan prinsip &lt;i&gt;wilayatul hukmi&lt;/i&gt;
(berlaku di seluruh Indonesia sebagai satu kesatuan hukum). Sementara
itu, NU menggunakan ketinggian minimal 2 derajat dengan prinsip
menunggu hasil rukyat. Kedua kriteria itu adalah kriteria lama yang
secara astronomi dianggap ketinggalan zaman. Sebenarnya sangat
memalukan bila masih ada pihak yang tetap mempertahankannya. Apalagi
bila dianggapnya sesuatu yang &lt;i&gt;qath'i&lt;/i&gt; (mutlak benarnya) secara
hukum. Kita bisa bersatu kalau kita menyempurnakan kriteria kemudian
menyepakatinya sebagai kriteria hisab rukyat yang baru. Dalam konsep
ini, bukan meminta yang satu naik yang lain turun, tetapi mengajak
semua pihak sama-sama maju selangkah.
&lt;p&gt;&lt;b&gt;Muhammadiyah&lt;/b&gt;
&lt;p&gt;Bagaimana Muhammadiyah harus melangkah tanpa meninggalkan
keyakinannya bahwa hisab dapat digunakan sebagai penentu awal bulan.
Kita coba pendekatan lain menuju titik temu. Tidak menggunakan alur
lama ketika membahas dalil, tetapi alur alternatif untuk mencari titik
temu.
&lt;p&gt;Secara ringkas, alur alternatif itu; Dalam Alquran (QS) 2:185 diperintahkan berpuasa bila telah menyaksikan &lt;i&gt;syahr&lt;/i&gt; (bulan kalender,&lt;i&gt;month&lt;/i&gt;, bukan &lt;i&gt;moon&lt;/i&gt;). Apa tandanya &lt;i&gt;syahr&lt;/i&gt;
QS 2:189 menjelaskan tentang hilal sebagai penentu waktu bagi manusia
dan penentu pelaksanaan ibadah haji. Bagaimana memanfaatkan hilal untuk
penentu &lt;i&gt;syahr&lt;/i&gt;? Muhammadiyah biasanya menggunakan QS 36:39-40
yang menjelaskan bahwa matahari tidak mungkin mengejar bulan dan malam
pun tidak mungkin mendahului siang. Tafsir singkatnya, &lt;i&gt;syahr&lt;/i&gt; dapat ditentukan ketika matahari mulai mengejar bulan (mendahului terbenam) pada peralihan siang dan malam, yaitu kriteria &lt;i&gt;wujudul hilal&lt;/i&gt;.
Ini adalah kriteria paling sederhana, tetapi mengabaikan aspek rukyat.
Untuk mencari titik temu, alurnya diubah ke dalil lain yang juga kuat.
&lt;p&gt;Apakah tandanya &lt;i&gt;syahr&lt;/i&gt;, Rasulullah SAW menjelaskan secara
eksplisit, &amp;quot;Berpuasalah bila melihatnya (hilal) dan berbukalah bila
melihatnya.&amp;quot; Maka hilal sebagai penentu &lt;i&gt;syahr&lt;/i&gt; adalah yang
terlihat. Dengan perkembangan ilmu, posisi bulan bisa dihitung dengan
ilmu hisab. Lalu apa syaratnya agar terlihat? Ini dirumuskan dengan
suatu kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; (kemungkinan rukyat) atau kriteria
visibilitas hilal yang didasarkan pada pengalaman rukyat jangka panjang
dan dihitung dengan ilmu hisab.
&lt;p&gt;Banyak ahli hisab yang terkesan antikriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt;,
dengan ungkapan &amp;quot;Kalau sudah menghisab, mengapa harus membahas rukyat.&amp;quot;
Kepada mereka perlu dijelaskan, angka-angka hasil hisab tidak bisa
langsung ditafsirkan menjadi awal bulan Qamariyah tanpa menggunakan
kriteria. Kriteria itu bisa sekadar wujud di atas ufuk (&lt;i&gt;wujudul hilal&lt;/i&gt;) dan bisa juga kemungkinan untuk dirukyat. Komunitas astronomi  merujuk pada kemungkinan untuk dirukyat (&lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; atau visibilitas hilal). Untuk mencapai titik temu, kriteria yang harus dipilih adalah kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt;.
Inilah yang disebut maju selangkah, memilih kriteria yang menuju titik
temu. Muhammadiyah nantinya perlu merumuskan bersama kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; yang bagaimana yang diusulkan. Apakah berdasarkan rukyat lokal atau hasil analisis internasional.
&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;NU&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;

&lt;p&gt;NU pun harus maju selangkah, tanpa harus mengubah keyakinan, rukyat yang menentukan. Kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; yang selama ini
digunakan perlu diubah. Kriteria 2 derajat berasal dari data pengamatan
yang menyatakan hilal terendah yang berhasil diamati ketinggiannya 2
derajat. Dalam kompilasi hasil sidang isbat Depag memang ada data pada
16 September 1974 dilaporkan rukyat berhasil dilihat di 3 lokasi dengan
jumlah saksi 10 orang, tanpa gangguan Venus. Hasil analisis hisab
menunjukkan tinggi bulan 2,19 derajat. Setelah itu tidak ada lagi data
yang cukup meyakinkan mendukung ketinggian 2 derajat.
&lt;p&gt;Analisis yang dilakukan Lapan dari kompilasi hasil sidang isbat
1962-1997 itu dijumpai kenyataan, pada umumnya tinggi bulan yang rendah
hanya dilaporkan dari 1 atau 2 lokasi pengamatan dari sekian banyak
titik pengamatan. Hal itu menunjukkan besarnya kemungkinan salah lihat
objek bukan hilal. Bahkan sebagian di antaranya mengindikasikan
pengamat terkecoh cahaya planet Venus (bintang Kejora) yang posisinya
dekat posisi bulan.
&lt;p&gt;Dari analisis itu diusulkan kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; dengan
ketinggian bulan yang tergantung beda azimut (beda jarak horizontal di
kaki langit) antara bulan dan matahari. Bila jaraknya jauh dari
matahari, ketinggian minimal 2 derajat, tetapi makin dekat dengan
matahari ketinggiannya harus makin tinggi, tidak pukul rata 2 derajat
seperti kriteria lama. Bila bulan tepat berada di atas matahari, saat
matahari terbenam ketinggiannya perlu lebih dari 8,3 derajat. Kriteria
itu masih bisa dikaji ulang. Kalau kriteria limit Danjon (batas minimal
jarak bulan-matahari) diperhitungkan, kriterianya akan makin mendekati
kriteria internasional dengan ketinggian minimal 3 derajat.
&lt;p&gt;Bila nanti kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; sudah ditetapkan, masalah lain yang harus diselesaikan adalah bila hilal sudah di atas kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt;,
tetapi tidak ada kesaksian hilal. Demi mencapai titik temu, Fatwa MUI
1981 dapat digunakan, seperti halnya saat sidang isbat penetapan awal
Ramadan 1407/1987. Salah satu butir fatwa itu menyatakan bila ahli
hisab telah sepakat bahwa malam itu sudah &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; tetapi hilal tidak dapat dilihat karena terhalang, keesokan harinya dapat ditetapkan tanggal 1 bulan baru. Artinya, kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; cukup menentukan. NU harus maju satu langkah dengan memperbaiki kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; dan menerima fatwa MUI 1981 tersebut. Bila masih keberatan dengan fatwa MUI tersebut, perlu juga diingat bahwa kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; juga didasari pada hasil rukyat masa lalu. Jadi pada dasarnya menggunakan kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt;
dalam mengambil keputusan tidak berarti mengabaikan rukyat pada saat
itu. Dengan kriteria imkan rukyat dapat juga ditolak kesaksian yang di
bawah kriteria karena kemungkinan terkecoh objek bukan hilal, kecuali
bila dilaporkan dari banyak tempat dan tidak ada pengganggu dari planet
Venus atau Merkurius.
&lt;p&gt;&lt;b&gt;Bersatu ber-Idul Fitri&lt;/b&gt;
&lt;p&gt;Tampaknya, kalau pun Muhammadiyah dan NU mau maju satu langkah menunjuk titik temu kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt;
yang baru, implementasinya tidak bisa dilaksanakan untuk mengubah
potensi perbedaan Idul Fitri 1428 H. Mekanisme organisasi tampaknya
akan menghambatnya. Muhammadiyah tetap akan ber-Idul Fitri 12 Oktober
dan NU ber-Idul Fitri 13 Oktober. Persis yang mendasarkan pada hisab,
tetapi dengan kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; yang disederhanakan menjadi &lt;i&gt;wujudul hilal&lt;/i&gt; di seluruh Indonesia, juga sudah mengumumkan Idul Fitri jatuh 13 Oktober 2007.
&lt;p&gt;Pertanyaan, dengan perbedaan itu mungkinkah merayakan Idul Fitri
bersama? Jawabnya, mungkin dengan menunda salat ied agar bersama. Dalam
salah satu kesempatan rapat Badan Hisab Rukyat, wakil dari Dewan Da'wah
Islamiyah Indonesia menyampaikan berdasarkan saran dari ulama di Arab
Saudi, mendahulukan ukhuwah (persaudaraan) yang wajib lebih utama
daripada salat id yang sunah. Karenanya menunda salat id keesokan
harinya demi menjaga ukhuwah sangat dianjurkan, walaupun pada 12
Oktober sudah tidak berpuasa.

&lt;p&gt;Menunda salat id dalilnya merujuk pada hadis riwayat Ahmad, Abu
Daud, Al-Nasai, dan Ibn Majah. Diriwayatkan Rasulullah SAW tidak
melihat hilal Syawal sehingga pada hari ke-30 Ramadan itu mereka masih
berpuasa. Namun, kemudian pada penghujung siang (menjelang zuhur) datanglah rombongan yang mengabarkan mereka melihat hilal. Maka,
Rasul segera menyuruh mereka untuk berbuka pada hari itu dan menunaikan
salat id pada keesokan harinya.
&lt;p&gt;Dalil ini diperdebatkan untuk menunda salat id untuk alasan lain
selain terlambat melihat hilal. Tetapi dari riwayat diketahui bahwa
rombongan yang melihat hilal pun ikut menunda salat sampai
melaporkannya kepada Rasul dan kemudian diperintahkan untuk salat id
keesokan harinya. Alangkah indahnya kalau saudara-saudara kita yang
sudah meyakini Idul Fitri jatuh 12 Oktober membatalkan puasa pada hari
itu, tetapi menunda salat idnya bersama saudara-saudara yang ber-Idul
Fitri 13 Oktober. Ini bersifat ijtihadiyah. Kalau pun salah, setelah
dikaji matang-matang, tidaklah berdosa. Namun, tujuan menjaga &lt;i&gt;ukhuwah&lt;/i&gt;  (persaudaraan) dan memperkuat syiar tercapai dengan bersalat Idul Fitri bersama.


&lt;p&gt;Langkah menyatukan Idul Fitri bisa dimulai dengan bersama salat id, walau berbeda keputusan mengakhiri Ramadan. Kelak, setelah kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; yang baru dapat disepakati, kita dapat
mengakhiri Ramadan dan ber-Idul Fitri benar-benar bersama. Kalender
Islam pun mendapatkan kepastian dan keseragaman. Kita bisa bersatu.&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Titik+Temu+Berhari+raya&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!246.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!246.entry</guid><pubDate>Wed, 10 Oct 2007 02:53:11 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!246/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!246.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2007-10-10T03:15:43Z</dcterms:modified></item><item><title>Lagi, Ayo Bersatu Berhari Raya</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!243.entry</link><description>&lt;div align=center&gt;&lt;span style="white-space:nowrap"&gt;&lt;/span&gt;&lt;font face="Times New Roman" size=6&gt;Kita Bisa Bersatu&lt;/font&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;pre&gt;&lt;font face="Times New Roman" size=3&gt;&lt;br&gt;Dr. T. Djamaluddin&lt;br&gt;Peneliti Utama Astronomi dan Astrofisika, LAPAN Bandung&lt;br&gt;Anggota Badan Hisab Rukyat Jawa Barat dan Depag RI&lt;br&gt;&lt;br&gt;        Alhmadulillah, Wapres JK telah memfasilitasi pertemuan dua pimpinan ormas Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah pada Senin 14 September&lt;br&gt;2007. Kemudian pada 2 Oktober telah dilakukan pertemuan antara Mejelis Tarjih Muhammadiyah dan Lajnah Falakiyah PBNU di kantor PBNU. Selanjutnya akan diadakan pertemuan di kantor PP Muhammadiyah Ini menjadi awal sangat penting sebagai komitmen tingkat tinggi dalam mencari titik temu penentuan awal bulan Islam, khususnya terkait&lt;br&gt;penentuan awal Ramdhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.&lt;br&gt;        Mari kita upayakan mencari titik temu dengan masing-masing pihak maju selangkah menujuk kriteria baru yang disepakati. Kini disadari, masalah&lt;br&gt;utama bukanlah perbedaan hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), tetapi kriterianya. Saat ini sesama penganut hisab bisa berbeda&lt;br&gt;keputusannya karena beda kriteria. Muhammadiyah dengan kriteria wujudul hilal dan prinsip wilayatul hukmi telah mengumumkan Idul Fitri jatuh pada&lt;br&gt;12 Oktober 2007. Sementara Persis dengan kriteria wujudul hilal di seluruh Indonesia memutuskan Idul Fitri 13 Oktober 2007. Sementara itu&lt;br&gt;dengan kriteria beda, sesama penganut rukyat juga bisa berbeda keputusannya. Kasus 1998 dan 2006 menunjukkan terhadap kesaksian rukyat,&lt;br&gt;ada pihak yang menerimanya dan ada yang menolak, karena perbedaan kriteria.&lt;br&gt;        Mari kita belajar pada kesepakatan kriteria jadwal shalat. Kasus penentuan jadwal shalat sangat mirip dengan penentuan awal bulan.&lt;br&gt;Dalilnya berdasarkan pengamatan (rukyat) fenomena di langit yang menunjukkan waktu-waktu shalat. Setelah ilmu hisab berkembang, maka&lt;br&gt;dirumuskan fenomena di langit itu terkait dengan posisi matahari.  Ada berbedaan kriteria soal posisi matahari itu, misalnya untuk waktu shubuh&lt;br&gt;ada yang menyebutkan jarak zenit 110 derajat atau 108 derajat. Perbedaan waktunya bisa sekitar 10 menit dan itu bisa terkait dengan batal tidaknya&lt;br&gt;puasa ketika mengakhiri sahur.&lt;br&gt;        Tanpa kita sadari bersama, semua ormas Islam di Indonesia sudah bersepakat dengan kriteria jadwal shalat yang ditetapkan Departeman&lt;br&gt;Agama. Kini ada yang masih melihat fenomena langit seperti fajar, terbit, zawal (tengah hari), panjang bayangan, terbenam, dan syafak merah untuk&lt;br&gt;menentukan masuk waktu shalat atau belum. Banyak pula yang sepenuhnya percaya pada jadwal yang sudah dihitung. Rukyat dan hisab sama-sama&lt;br&gt;dihargai dan dengan kriteria yang sama, kita bisa bersepakat dalam penentuan waktu shalat.&lt;br&gt;        Belajar pada kesepakatan itu, kita juga bisa mengupayakan kriteria awal bulan yang berlaku bagi metode hisab dan rukyat. Secara astronomis itu&lt;br&gt;mudah, hanya perlu kesepakatan dan penyesuaian dengan syariat. Bila tidak ada kendala aturan organisasi, pada dasarnya kriteria tersebut bisa&lt;br&gt;segera ditetapkan untuk menentukan Idul Fitri mendatang. Tetapi bila ada kendala aturan organisasi, maka penerapan kriteria baru bisa ditunda&lt;br&gt;tahun mendatang. Tetapi kita pun masih punya peluang bersatu dalam merayakan Idul Fitri mendatang.&lt;br&gt;        Penentuan Idul Fitri adalah masalah ijtihadiyah. Ada satu dalil yang menyebutkan Rasulullah mengajarkan kemungkinan menunda shalat Idul Fitri.&lt;br&gt;Pada hari terakhir Ramadhan Rasulullah SAW masih berpuasa. Pada siang hari datanglah informasi bahwa hilal awal Syawal telah terlihat.&lt;br&gt;Rombongan yang datang tahu bahwa itu sudah masuk 1 Syawal, tetapi menunda shalat Idul Fitri sampai besoknya sesuai perintah Rasulullah, walau puasa&lt;br&gt;sudah dibatalkan.&lt;br&gt;        Analogi dengan dalil itu, dengan dasar menjaga ukhuwah (persaudaraan) bisa saja saudara-saudara kita yang meyakini Idul Fitri 12 Oktober pada&lt;br&gt;hari itu tidak berpuasa. Tetapi shalat idul fitri bisa bersama menunggu keputusan pemerintah. Bila itu diterima, shalat Idul Fitri bisa seragam,&lt;br&gt;syiar Islam bisa diperkuat, dan ukhuwah dapat terjaga. &lt;/font&gt;&lt;/pre&gt;&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Lagi%2c+Ayo+Bersatu+Berhari+Raya&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!243.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!243.entry</guid><pubDate>Mon, 08 Oct 2007 03:42:30 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!243/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!243.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2007-10-08T03:42:30Z</dcterms:modified></item><item><title>Mari Bersatu Berhariraya</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!242.entry</link><description>&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;font size=6&gt;Kesalahpahaman
Sekitar Hisab Rukyat&lt;/font&gt;

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt; T. Djamaluddin, LAPAN Bandung

&lt;p&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Salah
satu penghambat menuju titik temu adalah masih adanya kesalahpahaman di tingkat
ormas, baik di tingkat pimpinan (selain pimpinan organ ormas yang menangani khusus
hisab rukyat) maupun di tingkat anggota akar rumput. Berikut catatan saya
menanggapi kesalahpahaman di situs http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=609&amp;amp;Itemid=2&amp;amp;lang=en&lt;br&gt;Saya berharap ini menjelaskan masalah sesungguhnya. Kalau persepsi sudah kita samakan, insya Allah hasil
kajian teknis tentang upaya titik temu lebih mudah diterapkan. &lt;br&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Komentar simpatisan ormas:

&lt;ol style="margin-top:0in" start=1&gt;&lt;li style="text-align:justify"&gt;Jangan sampai penyamaan persepsi merubah pendirian
     Muhammadiyah selama ini dalam penentuan awal bulan qamariyah, yaitu jika
     bulan telah medahului matahari saat matahari terbenam,asal sudah terlihat
     sabit kecil. Patokan pada ilmu falak saja.&lt;li style="text-align:justify"&gt;Menurut saya, ini adalah masalah KEYAKINAN. jadi gak
     perlu satu pihak harus mengalah dan merubah keyakinannya hanya untuk
     memenuhi keinginan sebagian orang untuk ber hari raya pada waktu yang
     bersamaan. Bagi saya, kalau PP Muhammadiyah bersedia &amp;quot;mengikuti&amp;quot;
     PBNU, atau sebaliknya NU yang &amp;quot;mengikuti Muhammadiyah, sama saja artinya
     dengan mengingkari keyakinan kita sendiri, atau mengakui &amp;quot;sesalahan
     keyakinan&amp;quot; kita selama ini. Dan itu teramat susah buat saya.&lt;li style="text-align:justify"&gt;Dengan peradaban dunia yang semaikin tinggi,
     kemungkinan kecil perhitungan (hisab) meleset, bisa jadi perpecahan dan
     perbedaan ini dimanfaatkan oleh umat nonmuslim (kristian) untuk
     memrongrong keutuhan persaudaraan islam, Dilihat dari kutipan maklumat PP
     Muhammadiyah 1428 H, bengapa dasar alqur'an dan hadist ini tidak dipahami
     umat muslim pada umumnya. Tapi semua ini moga semua ini tidak mengurangi
     makna ibadah itu sendiri.&lt;/ol&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Tanggapan TD:

&lt;p&gt;Sedikit pesan untuk teman-teman yang tampaknya
begitu teguh memegang keyakinan. Pliiisss dong fahami masalahnya.
Menyebut-nyebut &amp;quot;patokan pada ilmu falak saja&amp;quot; tidak cukup. Sekarang
ini semua palaku hisab rukyat sudah berpatokan pada ilmu hisab, ilmu falak/astronomi. Teman-teman Muhammadiyah, NU, Persis
juga banyak yang jago ilmu hisab. Hitungan NU, Muhammadiyah, Persis, dan
astronom sudah sama. Mengapa kesimpulannya beda? Karena kriterianya beda.
Muhammadiyah menggunakan kriteria wujudul hilal (sejujurnya, secara ilmu
falak/astronomi ini dipermasalahkan) + prinsip wilayatul hukmi. Ini yang
menyebabkan keputusannya Idul Fitri 12 Oktober. Kalau kriterianya diubah
(sesuai perkembangan ilmu falak/astronomi modern), keputusannya akan beda. Nah,
yang kini diupayakan adalah mencari kriteria yang disepakati bersama oleh
Muhammadiyah, NU, dan ormas-ormas lainnya dengan masukan dari pakar-pakar
astronomi. Jadi, sangat mungkin untuk dipersatukan kriterianya tanpa mengubah
keyakinan metode hisab atau rukyat. Pliiiis deh fahami masalahnya. Kita ingin
bersatu, mengapa dianggap sulit. Mudah kok, kalau mau...

&lt;p style="margin-left:0in"&gt; 

&lt;p style="margin-left:0in"&gt;Tanggapan simpatisan ormas:

&lt;p&gt;Pak Thomas, memang kriteria ga' boleh beda?
Sejujurnya juga, apakah kriteria imkanur-rukyat bebas dari masalah? Mnrt sy
justru lbh bermasalah. Bapak sbg 'orang pintar' justru jgn memancing dg
menunjuk kesalahan satu pihak. Baca berita dong, bgmn ustadz Hasyim Muzadi dan
ustadz Quraish Shihab berkomentar. Sangat menyejukkan. Sy setuju dibangun
kesepakatan. Tp, kesepakatan kan tdk hrs dipaksakan memilih satu kriteria yg
sama. Sepakat utk berbeda, mungkin saja terjadi. Persoalan ini jangan dibawa
kepada isu persatuan vs perpecahan. Itu provokator namanya.

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Tanggapan TD:

&lt;p&gt;Menjelang Ramadhan PP Muhammadiyah mengelar
simposium penyatuan kalender. Dalam konsepsi hisab rukyat, penyatuan kalender
bermakna penyatuan kriteria.Kriteria itu mancakup kriteria hisab dengan dasar rukyat. Kalau kriterianya beda, sampai kapanpun jangan
bermimpi soal penyatuan kalender. Tenang saja, di tingkat Majelis Tarjih
Muhammadiyah (biasanya diwakili Pak Oman Fathurohman), Lajnah Falakiyah NU (biasa diwakili
Kyai Ghazali Masruri), Dewan Hisab Persis (biasa diwakili Kyai Abdurrahman KS),
dan organ ormas sejenis di tiap ormas Islam hal ini sudah difahami. Kami sudah
biasa mendiskusikannya di Badan Hisab Rukyat Depag RI. Catatan saya untuk
penyadaran bagi semua warga ormas yang belum faham masalah sesungguhnya.
Pertemuan yang difasilitas Wapres Senin 24 September 2007 itu untuk memperkuat hasil diskusi di tingkat BHR
tersebut yang selama ini terbentur hanya sampai tingkat teknis. Sekarang
tingkat pimpinan puncaknya sudah berkomitment untuk samakan persepsi. Di tingkat
teknis, itu bermakna mencari kriteria bersama. Kita tinggalkan kriteria wujudul hilal, kita tinggalkan krietria imkan rukyat 2 derajat, mari kita rumuskan kriteria hisab rukyat yang baru. Masing-masing manju selangkah. Kita bisa bersatu, walau metode
berbeda (hisab atau rukyat) dengan menyepakati kriteria bersama. Tingggal satu
langkah lagi. Mari kita dukung.&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Mari+Bersatu+Berhariraya&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!242.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!242.entry</guid><pubDate>Wed, 26 Sep 2007 05:56:08 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!242/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!242.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2007-09-26T05:56:08Z</dcterms:modified></item><item><title>Mari Bersatu Berhari Raya</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!241.entry</link><description>&lt;font size=6&gt;&lt;span style="font-weight:bold"&gt;Kita Bisa Bersatu Berhari Raya&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;br&gt;T. Djamaluddin, LAPAN Bandung&lt;br&gt;&lt;br&gt;Muhammadiyah telah mengumumkan Idul Fitri 12 Oktober 2007. Beritanya dan maklumatnya termuat di situs resminnya. Kebetulan situs tersebut juga memuat tanggapan pembacanya, maka saya pun turut menulis tanggapan saya dan saran saya kepada Muhammadiyah khususnya dan semua ormas Islam di Indonesia pada umumnya. Ini bisa dilihat di&lt;br&gt;http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=588&amp;amp;Itemid=2&amp;amp;lang=en&lt;br&gt;Agar bisa juga dibaca secara utuh, tanggapan tersebut saya masukan juga di blog saya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Kini bukan zamannya mempertentangkan hisab atau rukyat. Kita yakin
hasil keduanya bersifat ijtihadiyah. Hitungan astronomi memang akurat,
tetapi memutuskan &amp;quot;masuknya tanggal 1&amp;quot; adalah hasil ijtihad, yang bisa
salah dan bisa benar. Muhammadiyah berijtihad masuknya tanggal 1
didasarkan pada kriteria &amp;quot;wujudul hilal&amp;quot; + prinsip wilyahtul hukmi
untuk menetapkan 1 syawal jatuh pada 12 Oktober. Persis juga
berlandaskan hisab, tetapi berijtihad dengan kriteria &amp;quot;wujdul hilal di
seluruh Indonesia&amp;quot; sehingga memutuskan 1 Syawal 13 Oktober 2007. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Secara
astronomi, keputusan kapan 1 Syawal bisa berbeda-beda tergantung
kriterianya. Sebagai hasil ijtihad, kriteria mestinya bisa berubah.
Mari kita maju selangkah untuk mencari kriteria bersama yang bisa
menyatukan ummat Islam, baik yang berpegang rukyat maupun hisab. Semua
Ormas bisa melakukanya.&lt;br&gt;
&lt;br&gt;
Keputusan sudah diambil, masih mungkinkah kita bersatu?
Mungkin. Secara fiqih masih dimungkinkan tidak shaum pada 12 Oktober
(karena dianggap sudah Idul Fitri), tetapi menunda shalat ied 13
Oktober (kalau keputusan sidang itsbat seperti itu). seperti dilakukan
Dewan Syariah PKS Pusat tahun lalu yang membuat edaran bolehnya menunda
shalat Ied demi kemashlahatan ummat. Memang banyak ulama yang
membolehkannya. Salah satu alasannya, para perukyat yang sudah
tahu melihat hilal awal Syawal tidak melaksanakan sendiri, tetapi
melaporkan dulu kepada Nabi lalu Nabi memerintahkan shalat Idul Fitri
hari berikutnya. Analog atau qiyasnya, Muhammadiyah yang berpendapat
Idul Fitri 12 Oktober kemudian melaporkan kepada Sidang Itsbat, dan --
misalkan nanti keputusannya 13 Oktober-- mengumumkan shalt Idul Fitri
13 Oktober (walau sudah tidak shaum 12 Oktober).&lt;br&gt;&lt;br&gt;Ayo bersatu. Jangan buat dikhotomi Pemerintah vs Ormas atau NU vs Muhammadiyah atau rukyat vs hisab.
Penentuan awal Ramadhan dan hari raya, juga awal bulan qamariyah
lainnya adalah masalah ijtihadiyah pada kriteria. Banyak orang terlalu picik
menyebut hisab lebih unggul dari rukyat atau sebaliknya rukyat lebih
unggul dari hisab. Dari segi astronomi, keduanya berkedudukan sama.&lt;br&gt;&lt;br&gt;
Mengapa Idul Fitri sebaiknya bersatu? Karena Idul fitri, bukan hanya
dimensi ibadah, tetapi ada dimensi sosial (ibadah masal) dan punya
nilai syiar yang sangat bagus untuk menunjukkan ukhuwah. Menjaga
ukhuwah adalah wajib dan melaksanakan shalat Idul Fitri adalah sunnah,
maka utamakan yang wajib.&lt;br&gt;&lt;br&gt;
Ayo kita bersatu demi ukhuwah. Malu kita ditertawakan orang non-Islam
dan ditertawakan oleh komunitas astronomi sendiri (banyak loh orang
yang tak faham astronomi bicara banyak soal aspek teknis sekadar untuk
memperkuat argumen fikihnya). Kita bisa bersatu. Pemerintah sudah
beritikad baik mengakomadasi semua kepentingan masyarakat Islam melalui
sidang itsbat, mari kita hargai tanpa curiga.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Mari kita belajar pada kesepatakan jadwal shalat. Jadwal shalat pada
dasarnya sama dengan penentuan awal bulan. Pada awalnya dengan
pengamatan (rukyat) dari keadaan langit (fajar, terbit, zawal,
terbenam, syafak) dan bayangan matahari. Lalu ketika berkembang ilmu
hisab, maka dirumuskan ketinggian matahari sekian derajat untuk
masing-masing waktu shalat. Sebenarnya masih ada perdebatan soal kriteria itu. Lalu
semua ormas bisa bersepakat untuk mengambil kriteria yang ditetapkan
Departemen Agama bahwa shubuh z=110, Dzuhur tengah hari + ikhtiati,
asar= tan(za) = tan(zd) + 1, maghrib = terbenam + ikhtiyati, isya
z=108. Kalau mau rukyat lihat fenomena langit dan bayangan silakan,
kalau percaya pada hisab yang tertera pada jadwal shalat silakan.
Rukyat dan hisab pada penentuan jadwal shalat dianggap sama kedudukannya. Semua ormas sudah sepakat dengan
kriteria yang dibuat pemerintah untuk jadwal shalat dan eksistensi
rukyat dan hisab tetap dihargai. Kita sedang menuju ke sana untuk penentuan awal bulan qamariah. Badan
Hisab Rukyat Depag sedang mengupayakan kesepakatan kriteria untuk
dijadikan kriteria bersama awal bulan semua pihak. Nanti kriteria
Muhammadiyah soal wujudul hilal, krietrai NU yang tingginya 2 derajat,
kriteria Persis wujudul hilal di seluruh Indonesia, semuanya maju
selangkah menuju kriteria bersama. Mari kita dukung untuk bersatu,
hilangkan egoisme ormas demi ukhuwah. Kita bisa bersatu.&lt;br&gt;&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Mari+Bersatu+Berhari+Raya&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!241.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!241.entry</guid><pubDate>Mon, 24 Sep 2007 02:09:53 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!241/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!241.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2007-09-24T02:09:53Z</dcterms:modified></item><item><title>Garis Tanggal Ramadhan dan Syawal 1428/2007</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!234.entry</link><description>&lt;p style="text-align:center" align=left&gt;Garis tanggal 1428 H/2007 M&lt;p style="text-align:center" align=left&gt;Dihitung oleh T. Djamaluddin&lt;p style="text-align:center" align=left&gt;Peneliti Utama Astronomi Astrofisika LAPAN Bandung, Anggota Badan Hisab Rukyat Depag RI 



&lt;p style="text-align:justify"&gt;Garis tanggal Ramadhan dan Syawal adalah peta kemungkinan masuknya awal bulan Ramadhan dan Syawal berdasarkan kriteria tertentu. Di Indonesia biasanya digunakan kriteria wujudul hilal (wujudnya bulan di atas ufuk, digunakan oleh Muhammadiyah dengan prinsip wilayatul hukmi dan Persis dengan prinsip harus wujud di seluruh Indonesia) dan kriteria ketinggian minimal 2 derajat (kriteria MABIMS, digunakan juga oleh sebagian ahli hisab NU untuk pembuatan kalendernya). Kriteria ijtimak qablal ghurub (bulan baru sebelum maghrib) juga digunakan sebagai pelengkap kriteria wujudul hilal. Dalam upaya menyatukan antara penganut hisab dan rukyat, LAPAN mengusulkan kriteria baru (sementara dinamai kriteria LAPAN) yang didasarkan pada analisis data kesaksian hilal di Indonesia sejak 1962 yang dianalisis secara astronomis. Dengan garis tanggal kita bisa melihat secara global kemungkinan awal bulan dengan berbagai kriteria yang ada di Indonesia, termasuk kemungkinan perbedaan penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri kalau kriterianya berbeda.&lt;br&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;Ijtima’
awal Ramadhan 1428 pada 11 September&lt;span style=""&gt; 
&lt;/span&gt;2007 pukul&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;19:45 WIB. &lt;span style="" lang=SV&gt;Pada saat maghrib 12 September&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2007&lt;span style=""&gt; 
&lt;/span&gt;bulan telah berumur&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lebih dari 8
jam. Semua kriteria (kriteria LAPAN, MABIMS, wujudul hilal, dan ijtima' qablal
ghurub) menyimpulkan &lt;b style=""&gt;1 Ramadhan 1428
jatuh pada 13 September 2007&lt;/b&gt;.&lt;/span&gt;

&lt;p&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt; &lt;/span&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;Ijtima’ awal Syawal 1428 pada 11
Oktober&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2007 pukul&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;12.02 WIB. Pada saat maghrib 11 Oktober&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2007&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bulan
telah wujud di wilayah Barat Indonesia, sehingga berdasarkan kriteria wujudul
hilal dengan prinsip wilayatul hukmi disimpulkan 1 Syawal 1428 jatuh pada 12
Oktober 2007. Tetapi, bulan berumur&lt;span style=""&gt; 
&lt;/span&gt;kurang dari 8 jam dan belum memenuhi kriteria imkanur rukyat LAPAN dan
kriteria MABIMS, sehingga disimpulkan &lt;b style=""&gt;1
Syawal 1428 jatuh pada 13 Oktober 2007&lt;/b&gt;. &lt;b style=""&gt;Sesuai fatwa Majelis Ulama Indonesia, bila terjadi perbedaan, ikuti
keputusan Pemerintah yang telah mempertimbangkan berbagai pendapat .&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;table cellspacing="0" border="0"&gt;&lt;tr height="8"&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://byfiles.storage.live.com&amp;#47;y1pXVuLJ-iAarPAUJ0HWLfrnN2vhogu6ZYaZtA21XLPh9F1_GNVX_Ezd8XxsnaajMrfK-zqhdTJwrI"&gt;&lt;img src="http://storage.live.com&amp;#47;items&amp;#47;D31797DEA6587FD7&amp;#33;237&amp;#58;thumbnail" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="15"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Garis+Tanggal+Ramadhan+dan+Syawal+1428%2f2007&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!234.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!234.entry</guid><pubDate>Mon, 13 Aug 2007 09:17:24 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!234/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!234.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2007-08-15T09:26:22Z</dcterms:modified></item><item><title>Waktu Ibadah, perlukah Waktu Mekkah?</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!224.entry</link><description>
&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Antara
Kalender Gregorian, waktu Ibadah, dan Waktu Ka’bah&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;T. Djamaluddin&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Peneliti
Utama Astronomi Astrofisika&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Anggota
Badan Hisab Rukyat Depag RI&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Ada
teman yang memforward pertanyaan terkait dengan diskusi waktu ibadah dan usulan
untuk menggunakan KUT (Ka’bah Universal Time) atau pada kesempatan lain
diusulkan Mekkan Mean Time (MMT) untuk menggantikan GMT (Greenwich Mean Time)
atau UT (Universal Time) yang saat ini digunakan. Kalender Gregorian pun
dianggap bermasalah dalam kaitan dengan waktu ibadah Jumat. Berikut tanggapan singkat
saya.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Pertama,
tidak ada masalah dengan kalender Gregorian. Islam menghargai dua sistem
kalender, karena baik matahari maupun bulan beredar berdasarkan perhitungan.
Baca QS. 10: 5 “Dia-lah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang menjadikan
matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah
(tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan
tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu melainkan dengan hak” dan QS. 55:5 “&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Matahari
dan bulan (beredar) menurut perhitungan”. Hanya saja untuk keperluan ibadah,
Allah dan Rasulul-Nya mengajarkan untuk untuk melihat hilal, sebagai cara
termudah melihat pergantian tanggal.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Kedua, tidak ada masalah juga pada GMT (Greenwich Mean Time)
atau UT (Universal Time) karena itu hanya berdasarkan definisi agar pergantian
hari matahari terjadi di wilayah tanpa penduduk di Pasifik. Kalau diganti
dengan Ka’bah Universal Time, harus disepakati secara universal, bukan hanya
ummat Islam agar sifat universal benar adanya. Tentu saja harus ada alasan
logis. Secara astronomis, tidak ada keuntungan mengubah UT menjadi sistem waktu
universal lainnya, karena posisi pergantian hari harus diperhitungkan. Selain
itu, mengubah sistem dari UT ke KUT hanyalah mengubah konversi waktu saja (plus
atau minus sekian jam) yang tidak bermakna hakiki. &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Ketiga,
harus disadari bersama persoalan waktu ibadah adalah persoalan waktu lokal.
Baca QS. 17:78 “&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai
gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu
disaksikan (oleh malaikat)” dan QS. 62:9-10 “Hai orang-orang beriman, apabila
diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat
Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika
kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di
muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya
kamu beruntung.” Waktu shalat ditentukan berdasarkan ketampakan matahari.
Shalat Jumat pun di tentukan berdasarkan waktu lokal. Kalau mengikuti waktu
shalat Jumat di Mekkah, waktu kerja (mencari karunia Allah) bisa-bisa sudah
malam hari saat orang beristirahat.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Ke-empat,
masalah hari Jumat. Di manakah pergantian hari yang terbaik? Sistem sekarang
dengan pergantian hari di garis tanggal di Pasifik adalah cara yang paling
optimal. Pemisahan hari terjadi di wilayah yang terpisah luas oleh lautan. Jadi
hari Jumat berawal dari Pasifik Barat, lalu ke Asia Timur &amp;amp; Australia, Asia
Tenggara, Asia Tengah, Timur Tengah, Eropa &amp;amp; Afika, berakhir di benua
Amerika. Shalat Jumat dilakukan sesudah tengah hari menurut waktu lokal. Soal
pergantian hari sejak maghrib, tidak masalah, karena itu hanya mengikuti pada penentuan
awal tanggal yang bermula saat rukyatul hilal saat maghrib.&lt;/span&gt;

&lt;p style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Jadi,
kesimpulannya tidak perlu ada KUT. KUT bisa menambah kerumitan baru antara
Universal Time yang benar telah diterima universal dengan Ka’bah Universal Time
yang hanya bersifat “universal” semu kelompok tertentu.&lt;/span&gt;

&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Waktu+Ibadah%2c+perlukah+Waktu+Mekkah%3f&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!224.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!224.entry</guid><pubDate>Thu, 19 Apr 2007 09:47:01 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!224/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!224.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2007-04-19T09:51:38Z</dcterms:modified></item><item><title>Kala Sunda Perlu Direvisi</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!151.entry</link><description>&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;KALA SUNDA DALAM
TINJAUAN ASTRONOMIS



&lt;p style="text-align:center"&gt;T. Djamaluddin, &lt;p style="text-align:center"&gt;Peneliti
Utama Astronomi dan Astrofisika, LAPAN Bandung&lt;p style="text-align:center"&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;SEBUAH
perayaan Tahun Baru Kala Sunda yang bertepatan tanggal 28 Desember 2006, yakni
pada Respati, 1 Kartika, Saka 1929, akan menjadi momen penting bagi masyarakat
Sunda. Demikian awal berita PR 27/12/2006 tentang ”Nalika Kala Sunda”,
Penyadaran Warisan Leluhur. Pencantuman tahun Saka 1929 mungkin keliru,
seharusnya 1940, tetapi ada aspek lain yang harus diluruskan. Sebelum terlanjur
terlalu jauh melangkah melestarikan budaya Sunda dengan kalender yang
kontroversial, alangkah baiknya Kala Sunda dikaji ulang dari berbagai segi.
Tulisan ini akan meninjaunya dari segi astronomis.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Saya mengenal
Kala Sunda pertama kali saat kolokium Ali Sastramijaya di Observatoarium
Bosscha ITB di Lembang, pada 5 Desember 1987 dengan topik “Kalangider” (sebut
saja “Sumber 1”). Sampai saat ini Kala Sunda yang dipopulerkan kembali kepada
publik pada awal 2005 oleh Ali Sastramijaya masih membawa persoalan. Tulisan
Edi S. Ekadjati “Kala Sunda dan Rekonstruksi Sejarah” (PR, 22/2/2005, “Sumber 2”)
merupakan kritik pertama yang dijawab dengan tulisan Ali Sastramijaya “Revisi
Tahun Masehi tentang Sejarah Jawa Dwipa” (PR, 5/4/2005, “Sumber 3”). Kemudian
kritik tajam disampaikan Irfan Anshory dalam tulisan “Mengenal Kalender
Hijriah” (PR, 28/1/2006) yang kemudian ditanggapi tak kalah tajamnya sekaligus
dengan dua tulisan, “Kala Sunda dan Orang Awam” (Nandang Rusnadar, “Sumber 4”)
dan “Matematika Dalam Kala Sunda” (Roza Rahmadjasa Mintaredja, “Sumber 5”) (PR,
2/2/2006). 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Persoalan
pokok yang harus dijawab terlebih dahulu oleh Tim Kala Sunda adalah mengapa
awal bulan dimulai dari bulan separuh (kira-kira tanggal 7 atau 8 qamariyah –
berdasarkan bulan) dan peristiwa apa yang dijadikan rujukan awal tahunnya.
Tahun baru Kala Sunda 1941 jatuh pada 18 Januari 2005 (7 Dzulhijjah 1425 H),
tahun baru Kala Sunda 1942 jatuh pada 8 Januari 2006 (8 Dzulhijjah 1426 H), dan
tahun baru Kala Sunda 1943 jatuh pada 28 Desember 2006 (7 Dzulhijjah 1427 H). Secara
astronomis penentuan awal bulan pada saat bulan separuh memang janggal, tidak
lazim dalam sistem kalender qamariyah. Pada sistem kalender qamariyah, umumnya
awal bulan ditandai dengan bulan baru atau hilal (sabit pertama) atau bulan
mati (saat sama sekali tidak ada cahaya pada bulan).

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tulisan
ini mencoba untuk mengkaji Kala Sunda secara astronomis, sebagai pelengkap
tinjauan rekonstruksi sejarah tersebut di atas. Bagaimana pun hal prinsip yang
harus dikaji oleh peneliti kalender adalah konsistensi astronomis dan historis.
Bila kedua hal tersebut terbukti, sistem kalender tersebut dapat dianggap andal
untuk rekonstruksi sejarah atau untuk keperluan keseharian terkait dengan
kegiatan atau ritual tertentu dalam masyarakatnya. Kala Surya (syamsiah,
berbasis matahari) umumnya digunakan untuk kegiatan yang terkait musim, seperti
pertanian, migrasi, dan penangkapan ikan. Kala Candra (qamariyah, berbasis
bulan) yang perubahan tanggalnya mudah dikenali dari bentuk-bentuk bulan dari
sabit – purnama – sabit kembali umumnya digunakan untuk kegiatan ritual
keagamaan yang memerlukan ketepatan tanggal. 

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Dalam analisis
ini sumber utama kajian Kala Sunda hanya dari Ali Sastramijaya yang dinyatakan
merujuk pada kakek beliau pada tahun 1950-an sebelum meninggal pada 1965.
Memang ada kelemahannya, kita tidak bisa membedakan aturan kalender yang asli
Kala Sunda dan aturan hasil intrepretasi dan pengembangan Ali Sastramijaya
sendiri. Budaya tutur yang lebih dominan daripada budaya tulis dalam masyarakat
kita juga tidak memungkinkan lengkapnya alih pengetahuan yang bersifat
matematis. Ungkapan kakek beliau, “...&lt;i&gt;engke oge kapendak ku anjeun&lt;/i&gt;”
(“Sumber 3”) menunjukkan tidak lengkapnya alih pengetahuan Kala Sunda. Sehingga
patut diduga sebagian besar aturan Kala Sunda berasal dari interpretasi dan
pengembangan Ali Sastramijaya.

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;TIDAK LAZIM

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Tidak dapat
dibantah bahwa adanya lingga, tonggak batu panjang, menunjukkan bahwa
masyarakat Sunda dahulu mempunyai cara memperhatikan posisi matahari yang
berkaitan dengan pembuatan kalender matahari (Kala Surya). Mirip dengan
Stonehenge di Inggris, tonggak batu itu berfungsi untuk mengamati perubahan
posisi matahari dari arah bayangan matahari. Dari siklus posisi matahari dapat
didefinisikan satu tahun matahari. Awal tahun menurut Kala Surya Saka Sunda,
menurut Ali Sastramijaya, adalah saat matahari paling selatan pada 23 Desember
yang dapat diketahui dari posisi bayangan lingga. Ini mudah di mengerti karena
titik awal tahun mudah dikenali dari alam, tidak seperti kalender Masehi yang
menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun tanpa ada tanda di alam.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Tiga bulan pertama
(menurut “Sumber 1”) pada Kala Surya Saka Sunda (Kaso, Karo, dan Latiga)
masing-masing berumur 30 hari. Kemudian lima bulan berikutnya (Kapat, Kalima,
Kanem, Kapitu, dan Kawalu) masing-masing berumur 31 hari. Selanjutnya tiga
bulan berikutnya (Kasanga, Kadasa, dan Desta) kembali berumur 30 hari. Bulan
terakhir (Sada) berumur 30 hari untuk tahun pendek dan 31 hari untuk tahun
panjang (kabisat). Tetapi menurut artikel Ali Sastramijaya yang dipublikasi di
internet, aturannya kini berselang-seling 30 dan 31, Kaso 30, Karo 31, dan
seterusnya, kecuali untuk Sada berumur 30 hari untuk tahun pendek dan 31 hari
untuk tahun panjang (kabisat). Perubahan ini menunjukkan bahwa aturannya bukan
digali dari dokumen asli Kala Sunda, tetapi hasil pemikiran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ali Sastramijaya sendiri. 

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Aturan tahun
kabisat Kala Surya Saka Sunda sama dengan aturan Julian, angka tahun yang habis
dibagi 4 menjadi tahun kabisat, tetapi ada kekecualiannya yaitu tahun yang
habis dibagi 128 tidak boleh kabisat walau habis dibagi 4. Artinya, setiap 128
dihilangkan satu tahun kabisat. Ini berbeda dari aturan kalender Gregorian yang
menyatakan setiap 400 tahun dihilangkan 3 tahun kabisat dengan cara tahun
ratusan yang tidak habis dibagi 400 (misalnya, 1700, 1800, dan 1900) menjadi
tahun pendek walau angkanya habis dibagi 4. Perbedaan aturan tersebut akan
menyebabkan perbedaan akurasinya. 

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Di samping Kala
Surya, Saka Sunda juga menggunakan Kala Candra (qamariyah, berbasis bulan) yang
disebut Kala Candra Caka Sunda. “Caka” digunakan untuk membedakan dengan “Saka”
yang digunakan pada Kala Surya. Satu tahun pada Kala Candra berumur 354 hari
(tahun pendek) atau 355 hari (tahun panjang). Umur masing-masing bulan
berselang-seling antara 30 dan 29, seperti umumnya hisab urfi pada kalender
Hijriyah. Dua belas bulan tersebut adalah Kartika (30 hari),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Margasira (29), Posya (30), Maga (29),
Palguna (30), Setra (29), Wesaka (30), Yesta (29), Asada (30), Srawana (29),
Badra (30), dan Asuji (29 hari untuk tahun pendek atau 30 hari untuk tahun
panjang). Satu bulan dibagi dalam dua bagian: Suklapaksa (1 – 15) dan
Kresnapaksa (1 – 14 atau 15).

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Namun ada yang
tidak lazim pada Kala Candra Caka Sunda, Suklapaksa didefinisikan sebagai “&lt;i&gt;parocaang&lt;/i&gt;”
atau bulan separuh terang, dari bulan setengah lingkaran sekitar tanggal 7 atau
8 qamariyah sampai 15 hari kemudian, dengan melewati masa terang purnama. Dan
selanjutnya Kresnapaksa yang didedifisikan bulan gelap selama 14 atau 15 hari
yang melewati bulan mati atau bulan baru. Bagaimana pun, terminologi Suklapaksa
dan Kresnapaksa tidak terlepas dari tradisi Hindu. Suklapaksa (dari Bahasa
Sansekerta, sukla = terang, paksha = setengah bulan) dalam tradisi Hindu
bermakna rentang 15 hari pertama saat bulan makin terang, sejak bulan baru
sampai bulan purnama. Sedangkan Kresnapaksa adalah setengah bulan berikutnya
saat bulan makin gelap, dari purnama sampai bulan mati. Terminologi Suklapaksa
(Shuklapaksha) dan Kresnapaksa (Krishnapaksha) kini masih digunakan pada
kalender Hindu di India yang disebut Pachang.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Informasi adanya
beda pasaran Jawa dan Sunda yang ada di buku peninggalan kakek beliau (“Sumber
3”) tampaknya menjadi awal ketidaklaziman penafsiran Suklapaksa dan
Kresnapaksa. Urutan pasaran menurut Sunda: Manis, Pahing, Pon, Wage, Kaliwon
dipadankan dengan pasaran menurut Jawa: Wage, Kliwon, Manis/Legi, Pahing, Pon.
Pada “Sumber 3” diungkapkan padanan tanggal peresmian keraton Mataram yang
menjadi awal Kala Saka Jawa, yang menurut Kala Candra Saka Jawa itu terjadi
pada Jumat Legi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;1 Muharram 1555
bersesuaian dengan 17 Kapitu 1555 Kala Surya Saka Sunda, 8 Juli 1633 Masehi,
Jumat Pon 8 Kresnapaksa Kartika 1558 Kala Candra Caka Sunda. Dari informasi
tersebut ada hal menarik untuk mengungkap kemungkinan sumber ketidaklazimannya.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Urutan pasaran
yang berselisih beberapa hari antara Saka Jawa dan Caka Sunda, sulit kita bayangkan
asal usulnya. Dari kesamaan nama pasaran, dapat dipastikan baik Saka Jawa
maupun Saka Sunda dulunya bersesuaian. Mengapa terjadi lompatan pasaran? Urutan
hari atau urutan pasaran tidak mungkin melompat. Kalau pun terjadi penyesuaian
kalender, hal yang terjadi hanyalah lompatan tanggal. Misalnya pada kalender
Masehi saat reformasi Gregorius, dari Kamis 4 Oktober 1582 menjadi Jumat 15
Oktober 1582, tanpa mengubah urutan hari. Demikian juga pada Saka Jawa, pernah
terjadi perubahan awal tahun yang menyimpang dari aturan baku tentang windu,
tetapi tanpa mengubah urutan hari. Misalnya, awal tahun seharusnya Rabu Wage
menjadi Selasa Pon (hari sebelumnya), karena tahun yang segera habis dinyatakan
sebagai tahun pendek, bukan tahun panjang seperti seharusnya.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Penyebab yang
mungkin terjadinya lompatan pasaran hanya kesalahan pencatatan. Karena Saka
Jawa adalah kalender yang hidup di masyarakat, tidak mungkin ada kekhilafan
pencatatan urutan pasaran sejak pertama kali dideklarasikan pada tahun 1555
Saka Jawa sampai saat ini 1940 Saka Jawa, walau sempat terjadi penyimpangan
aturan kalender pada penentuan awal tahun Saka Jawa. Hal yang mungkin adalah
kesalahan pencatatan tentang perbedaan pasaran Jawa dan Sunda pada sumber Kala
Sunda yang tunggal, yaitu buku peninggalan kakek beliau.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Perbedaan
pasaran Jawa dan Sunda tersebut kemudian ditafsirkan menjadi definisi
Suklapaksa dan Kresnapaksa, seperti diungkapkan di “Sumber 3”. Saya mencoba
menganalisis bagaimana hubungan perbedaan pasaran Jawa dan Sunda bisa berkaitan
dengan pengertian Suklapaksa dan Kresnapaksa pada Kala Sunda. Pertama, urutan
pasaran dideretkan sampai delapan hari: Manis, Pahing, Pon, Wage, Kaliwon,
Manis, Pahing, Pon. Kemudian, misalkan tanggal 1 Saka Jawa jatuh pada pasaran
Manis, seperti 1 Muharram (Suro) 1555 yang jatuh pada Jumat Manis, maka Pon
jatuh pada tanggal 3 atau 8 qamariyah. Tanggal 3 tidak ada fenomena apapun.
Tetapi tanggal 8 terkait dengan bulan separuh. Maka Suklapaksa ditafsirkan
sebagai &lt;i&gt;parocaang &lt;/i&gt;yang dimulai sejak bulan separuh tersebut. Ini jelas
berbeda dengan sistem kalender Hindu yang menjadi asal-usul terminologi
Suklapaksa dan Kresnapaksa. 

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Selain hal
tersebut, ada ketidakakuratan perhitungan pada penentuan konversi kalender saat
peresmian Keraton Mataram. Kalau konsisten bahwa awal tahun Kala Surya Saka
Sunda pada 23 Desember, semestinya 8 Juli 1633 M bersesuaian dengan 28 Kanem
1555 Kala Surya Saka Sunda, bukan 17 Kapitu 1555. Tampaknya selisih 9 hari dari
23 Desember ke 1 Januari ditambahkan pada tanggal 8, sehingga muncul tanggal
17, semestinya dikurangkan menjadi tanggal 28 bulan sebelumnya (Kanem). Mungkin
hanya khilaf dalam perhitungan.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;AKURASI

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aturan
Kala Surya Saka Sunda Kalender dengan menghilangkan satu tahun kabisat setiap
128 tahun menghasilkan penyimpangan hanya&lt;span style=""&gt; 
&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;0.0000022 hari per tahun atau
penyimpangan 1 hari dalam 454.545 tahun. “Hebat bukan?”, menurut “Sumber 4”.
Bandingkan dengan aturan kalender Masehi Gregorian yang menghilangkan 3 tahun
kabisat setiap 400 tahun. Penyimpangan pada kalender Masehi Gregorian 0.0003
hari per tahun atau penyimpangan 1 hari dalam 3.333 tahun. Sedangkan Kala
Candra Caka Sunda dan Kalender Hijriyah berbasis hisab urfi mempunyai akurasi
sampai 2.420 tahun.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Kita tidak bisa
berbangga dengan akurasi sekian ribu tahun, karena hal itu secara astronomis
tidak bermakna keunggulan. Kalau mau, kalender Masehi pun bisa menggunakan
koreksi setiap 128 tahun. Saya kira astronom penasihat Paus Gregorius memahami
adanya berbagai alternatif. Secara matematis, mudah dihitung koreksi berapa
tahun yang harus dilakukan untuk mendapatkan tingkat akurasi tertentu. Apakah
angka 128 asli aturan Kala Surya Saka Sunda dari dokumen sejarah atau hasil
hitungan matematika abad 20?

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Dalam kajian
kalender, hal yang harus diperhatikan juga adalah segi kemudahan sehingga dapat
diterapkan dalam kehidupan keseharian.. Manakah yang lebih mudah diingat
menghilangkan tiga tahun kabisat setiap 400 tahun atau menghilangkan satu tahun
kabisat setiap 128 tahun? Pada tahun Masehi tahun kabisat yang harus
dihilangkan dari aturan Julian adalah tahun kelipatan 100 yang tidak habis
dibagi 400, misalnya 1700, 1800, dan 1900. Bandingkan dengan angka tahun
kelipatan 128 yang dijadikan bukan tahun kabisat, seperti 1664, 1792, 1920, dan
2048. Tentunya angka kelipatan 100 lebih mudah diingat daripada angka kelipatan
128 tersebut. Angka akurasi bukan ukuran keunggulan suatu sistem kalender.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Memang ketika
baru mempelajari sistem kalender penyataan akurasi sekian ribu tahun berkesan
mengagumkan, seperti tulisan saya yang pertama ketika masih mahasiswa astronomi
22 tahun lalu di majalah Kiblat 1984, “Penanggalan Tahun Hijriyah Mempunyai
Ketepatan Tinggi: Hanya berbeda Satu hari Dalam Masa 2419 Tahun”. Khusus untuk
kelender qamariyah, termasuk Kala Candra Caka Sunda dan kalender Hijriyah,
angka akurasi tersebut sesungguhnya tidak bermakna apa-apa bila dibandingkan
dengan realitas bulanan yang bisa menyimpang satu hari dari fenomena bulan
separuh atau bulan sabit. Sistem tahun kabisat, hisab urfi yang berganti 29 dan
30 hari, dan cara koreksi sejenisnya memang memberikan angka akurasi jangka
panjang. Semakin banyak koreksinya akan semakin akurat, namun perlu
dipertanyakan siapa yang berwenang menjaganya untuk jangka panjang. 

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Menjaga
konsistensi kalender berarti memberikan koreksi yang ditentukan pada aturan
sistem kalender. Kalender Masehi dulu dikoreksi oleh Paus berdasarkan saran
astronom, saat ini dikontrol oleh lembaga-lembaga astronomi. Kalender Saka Jawa
ditentukan oleh Sultan berdasarkan perhitungan para ahli kalender keraton.
Kalender hijriyah dulu dikeluarkan oleh Khalifah, Raja, atau Sultan, kini
banyak ahli hisab dapat membuatnya dengan panduan kriteria yang disepakati
secara internal organisasi Islam, nasional, atau regional. Kalender hijriyah
modern tidak menggunakan aturan hisab urfi, berselang-seling 29 dan 30 hari,
tetapi selalu disesuaikan dengan kriteria hisab rukyat. Perbedaan yang terjadi
bukan disebabkan oleh akurasi yang rendah, tetapi lebih banyak disebabkan belum
diterimanya satu kriteria yang disepakati.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Kala Sunda yang
diklaim mempunyai akurasi sekian ribu tahun pun tidak akan punya makna apa-apa
bila dalam realitasnya tidak ada otoritas yang menjaganya, seperti memberikan
koreksi setiap 128 tahun pada Kala Surya atau setiap 120 tahun pada Kala Candra.
Adanya otoritas yang menjaganya terkait juga dengan kemanfaatan kalender Sunda
pada masyarakatnya. Tanpa ada manfaatnya, seperti untuk keperluan kegiatan atau
ritual tertentu, masyarakat akan melupakannya.

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;SUMBANG SARAN

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ada
hal menarik dari perbedaan tahun 1555 Kala Surya Saka Sunda dan 1558 Kala
Candra Caka Sunda pada informasi tanggal peresmian Keraton Mataram. Tahun Saka
Jawa dianggap (dalam “Sumber 3”) diambil dari Kala Surya Saka Sunda. Karenanya
selalu ada perbedaan 3 tahun antara Saka Jawa dan Caka Sunda. Sekarang Saka
Jawa 1940, sedangkan Caka Sunda 1943. Perbedaan antara Kala Surya Saka Sunda
dengan Kala Candra Caka Sunda pada tahun 1555 Kala Surya Saka Sunda, telah
mencapai 1.063 hari. Karena perbedaan antara Kala Surya dan Kala Candra rata-rata
10,9 hari, maka dapat dihitung bahwa sekitar 98 (dari 1.063/10.9) tahun candra
sebelumnya, yaitu sekitar tahun 1460 (dari 1558 – 98) Kala Candra Caka Sunda
sama bilangan tahunnya dengan bilangan tahun Kala Surya Saka Sunda.

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Perhitungan
bisa dilakukan dengan lebih rinci dengan program konversi kalender
Hijriyah-Masehi yang saya buat. Mengingat selisih Kala Candra Caka Sunda 1558
dan kalender Hijriyah 1043 adalah 515 tahun dan selisih Kala Surya Saka Sunda
1555 dan Masehi 1633 adalah –78 tahun, maka dapat dihitung beberapa kemungkinan
sehingga bilangan tahun tahun Kala Candra Caka Sunda sama dengan bilangan tahun
Kala Surya Saka Sunda. Hasilnya, tahun 1441 – 1471 berpeluang bilangan tahun
Kala Surya Saka Sunda dan Kala Candra Caka Sunda sama, yang berarti dalam
rentang tahun Masehi 1519 – 1549. Tahun 1441 bila tahun baru Kala Candra jatuh
pada bulan Desember dan tahun 1471 bila tahun baru Kala Candra jatuh pada bulan
Januari. 

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Bila kasus ini
sama dengan pengadopsian bilangan tahun Kala Surya Saka Sunda&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menjadi bilangan tahun pada Kala Candra Saka
Jawa, apakah mungkin pada rentang tahun 1441 - 1471 Saka (1519 - 1549 M) juga
terjadi reformasi Kalender Sunda, yaitu mulai digunakannya dua sistem kalender.
Ada yang berdasarkan kala surya dan ada yang menjadi kala candra. Bila benar
terjadi reformasi Kala Sunda, pertanyaannya siapa tokohya?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menurut “Sumber 2”, dari kajian sejarah
tafsir mutakhir Prasasti Batutulis terungkap bahwa tahun yang tertera pada
prasasti tersebut menyatakan tahun 1455 Saka = 1533 M. Bisa jadi ada kaitan
peristiwa pembuatan prasasti dengan reformasi kalender Sunda. Bila memang
demikian, Kala Candra Caka Sunda tidaklah berlaku terlalu jauh mundur ke
belakang. Artinya, tidak ada tahun 0 atau 1 seperti halnya pada tahun Saka
Jawa. Analisis hipotetik ini bisa menjadi jawaban atas pertanyaan peristiwa
yang menjadi rujukan awal tahun Kala Candra Caka Sunda.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Mungkinkah Kala
Surya Saka Sunda dan Kala Candra Caka Sunda dirunut jauh ke belakang? Secara
hitungan matematis-astronomis mungkin saja dilakukan. Tahun 0 Kala Candra Caka
Sunda bersesuaian dengan tahun 44 Kala Surya Saka Sunda pada tahun 122 Masehi.
Tetapi harus dapat dibuktikan adanya suatu peristiwa besar yang dijadikan titik
awal tahun Kala Candra Caka Sunda saat itu. Tanpa pembuktian itu, semuanya
hanya spekulasi yang sulit digunakan untuk rekonstruksi sejarah. 

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Fungsi kajian
kalender selain untuk rekonstruksi sejarah, juga untuk memberi bantuan kepada
masyarakat untuk mengadakan kegiatan atau ritual menurut ketentuan waktu
tertentu. Kalender yang hidup sampai saat ini hanyalah kalender yang digunakan
oleh masyarakatnya secara luas. Kalender Masehi terus digunakan dalam kegiatan
sehari-hari karena sifat globalnya dan keterkaitan dengan musim. Kalender
Hijriyah terpelihara karena diperlukan untuk kegiatan ibadah ummat Islam.
Sedangkan kalender Saka Jawa terlestarikan karena terkait dengan ritual tradisi
Jawa. Lalu, apa peran Kala Sunda di masyarakatnya? Sampai saat ini belum ada
kegiatan atau ritual di masyarakat Sunda yang tergantung pada penentuan tanggal
menurut Kala Sunda, sehingga informasi tahun baru Caka Sunda pun menjadi tidak
bermakna.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Kalau kita akan
menghidupkan kembali Kala Sunda, kita harus menggali kejadian-kejadian penting
dalam sejarah Sunda yang bersifat positif untuk selalu dirayakan. Ulang tahun
kota-kota di Jawa Barat yang terkait dengan sejarah Sunda sudah selayaknya
menggunakan Kala Sunda, seperti yang dilakukan Cirebon yang merayakan ulang
tahun setiap 1 Suro/Muharram, bukan berdasarkan kalender Masehi. Tetapi untuk
menggali sejarah suatu kota, sistem kalender perlu disempurnakan terlebih
dahulu. Konsep Suklapaksa dan Kresnapaksa pada Kala Sunda saat ini perlu
ditinjau ulang karena berbeda dari definisi aslinya pada tradisi Hindu yang
melatarbelakanginya. Selain itu awal bulan Kala Candra dimulai dari bulan
separuh, bukan saat bulan baru, dianggap tidak lazim menurut analisis kalender
astronomis. Tanpa peninjauan ulang, bahkan cenderung membela secara fanatik
buta, tidaklah mungkin menggalang kesepakatan rekonstruksi sejarah dengan alat
analisis yang masih kontroversial.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Kala+Sunda+Perlu+Direvisi&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!151.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!151.entry</guid><pubDate>Mon, 22 Jan 2007 08:41:03 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!151/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!151.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2007-01-22T08:41:03Z</dcterms:modified></item><item><title>Usulan Penyatuan Kriteria saat Sidang Itsbat 22 Oktober 2006</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!149.entry</link><description>&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14pt"&gt;MENUJU TITIK TEMU&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14pt"&gt; HISAB
RUKYAT 2007/1428&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14pt"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size:14pt"&gt;(Edaran yang saya bagikan sebelum sidang itsbat 22 Oktober 2006)&lt;br&gt;&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Kondisi Saat
ini&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;

&lt;p style="text-align:left" align=left&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Ijtima’ awal Syawal 1427 pada
22 Oktober 2006&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pukul 12:14&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;WIB. Pada saat maghrib&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;22 Oktober 2006&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bulan telah wujud di sebagian wilayah Indonesia, tetapi tingginya
kurang dari 2 derajat dan umurnya kurang dari 8 jam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menurut kriteria ijtima' qablal ghturub dan wujudul hilal [1]
menggunakan prinsip &amp;quot;wilayatul hukmi&amp;quot; (digunakan Muhammadiyah) , 1
Syawal 1427 jatuh pada &lt;b&gt;23 Oktober 2006&lt;/b&gt;. Namun, kriteria MABIMS [2]
(digunakan dalam Taqwin Standar Indonesia – dasar penetapan hari libur nasional
--, PERSIS, dan sebagian Almanak NU) dan kriteria imkan rukyat LAPAN [3]
menyimpulkan &lt;span style=""&gt;1&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Syawal 1427 jatuh pada &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;24 Oktober 2006&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;.&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt; &lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;Rukyatul hilal tidak mungkin terjadi pada
saat maghrib 22 Oktober 2006, &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;berdasarkan
pengalaman dan data terpercaya rukyatul hilal di Indonesia sejak 1962&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;, karena posisi hilal sangat rendah (kurang
dari 1 derajat), umurnya terlalu muda (kurang dari 8 jam), jaraknya terlalu
dekat dengan matahari (hanya 3 derajat). Bila ada yang melaporkan kesaksian
hilal, besar kemungkian karena salah lihat objek bukan hilal (Misalnya bintang
Arcturus – bintang ke-4 paling terang-- pada ketinggian 0,8 derajat azimut 289
derajat, 34 derajat sebelah kanan posisi bulan, atau awan tipis yang terang)
dan pengaruh hasil hisab taqribi (pendekatan) yang kurang akurat yang
menyatakan tinggi hilal lebih dari 2 derajat.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt; &lt;br&gt;&lt;div style="text-align:center"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Kasus Mirip
Sebelumnya&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;



&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;i&gt;Idul Fitri
1418/1998&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Tinggi hilal kurang dari 1
derajat, jarak dari matahari terlalu dekat (hanya 3,5 derajat), umurnya terlalu
muda (kurang dari 8 jam). Waktu itu Muhammadiyah memutuskan Idul Fitri 29
Januari 1998 berdasarkan hisab dengan kriteria wujudul hilal. PERSIS memutuskan
idul fitri 30 Januari 1998 berdasarkan hisab dengan krietria tinggi minimal 2
derajat. PW NU Jatim dan Jateng memutuskan idul fitri 29 Januari berdasarkan
rukyatul hilal di Cakung dan Bawean. PB NU dalam sidang itsbat menolak
kesaksian rukyat karena hilal terlalu rendah dan berdasarkan pengalaman tidak
mungkin terlihat. Sidang Itsbat memutuskan Idul Fitri 30 januari 1998.

&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;br style="page-break-before:always" clear=all&gt;
&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;i&gt;Idul Fitri
1423.2002&lt;/i&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Ijtima' awal Syawal 1423 terjadi
pada 4 Desember 2002 pukul 14.36 WIB. Pada saat maghrib 5 Desember bulan telah
berumur lebih dari 8 jam. Menurut kriteria kriteria wujudul hilal (digunakan
Muhammadiyah) atau ijtima' qablal ghurub Idul Fitri pada 5 Desember. Tetapi
menurut kriteria imkan rukyat LAPAN dan MABIMS semestinya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Idul
Fitri 1 Syawal 1423 jatuh pada 6 Desember 2002&lt;/span&gt;. Karena secara hisab
hilal dianggap terlalu rendah dan dari 53 titik pengamatan hilal tidak ada
laporan rukyatul hilal, maka sidang itsbat memutuskan Idul Fitri 6 Desember
2003.

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Kasus Mirip
Tahun Depan (2007)&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;Ijtima’ awal Syawal 1428 pada 11 Oktober&lt;span style=""&gt; 
&lt;/span&gt;2007 pukul&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;12.02 WIB. Pada saat
maghrib 11 Oktober&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2007&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bulan telah wujud di wilayah Barat
Indonesia, sehingga berdasarkan kriteria wujudul hilal dengan prinsip wilayatul
hukmi disimpulkan 1 Syawal 1428 jatuh pada &lt;b&gt;12 Oktober 2007&lt;/b&gt;. Tetapi,
bulan berumur&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kurang dari 8 jam dan
belum memenuhi kriteria imkanur rukyat LAPAN dan kriteria MABIMS, sehingga
disimpulkan 1 Syawal 1428 jatuh pada &lt;b&gt;13 Oktober 2007&lt;/b&gt;.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:18pt"&gt;MARI KITA UBAH KRITERIA &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:18pt"&gt;MENUJU &lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:18pt"&gt;KRITERIA HISAB RUKYAT
BARU&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:18pt"&gt;AGAR TAHUN DEPAN &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:18pt"&gt;TIDAK ADA LAGI PERBEDAAN &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt; 

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Rekomendasi
Fatwa MUI Nomor 2/2004&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt; &lt;/u&gt;&lt;/b&gt;

&lt;div&gt;

&lt;p&gt;Rekomendasi

&lt;p&gt; 

&lt;p&gt;Agar Majelis Ularna
Indonesia mengusahakan adanya kriteria penentuan awal. Ramadhan, Syawal, dan
Dzulhijah untuk dijadikan pedoman oleh Menteri Agama dengan membahasnya bersama
ormasormas Islam dan para ahli terkait.

&lt;/div&gt;

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt; &lt;/u&gt;&lt;/b&gt;

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt; 

&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;br style="page-break-before:always" clear=all&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Tindak Lanjut&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt; &lt;/u&gt;&lt;/b&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Pada rapat Badan Hisab Rukyat
Depag RI pada Desember 2005 telah disepakati 3 opsi kriteria baru:

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;div align=center&gt;

&lt;table border=1 cellpadding=0 cellspacing=0&gt;
 &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;
  &lt;td valign=top width=142&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;Opsi Kriteria
  
  &lt;td valign=top width=120&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;Keunggulan
  
  &lt;td valign=top width=120&gt;
  &lt;p style="text-align:center" align=center&gt;Kelemahan
  
 
 &lt;tr&gt;
  &lt;td valign=top width=142&gt;
  &lt;p style="text-align:justify"&gt;Kriteria hasil penelitian di
  LAPAN (kadang disebut sebagai kriteria LAPAN). Kriteria hisab rukyat ini
  didasarkan pada hasil analisis ilmiah astronomis atas data rukyat Indonesia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang mendekati kriteria astronomi
  internasional, yaitu umur hilal minimum 8 jam dan tinggi bulan minimum
  tergantung beda azimut bulan – matahari di suatu wilayah Indonesia. Bila beda
  azimutnya nol (bulan tepat berada di atas matahari saat terbenam), maka
  tinggi bulan minimum 8,3 derajat. Sedangkan bila beda azimut bulan matahari 6
  derajat, tinggi bulan minimumnya 2,3 derajat.
  
  &lt;td valign=top width=120&gt;
  &lt;p style="text-align:justify"&gt;Didasarkan pada data rukyat di
  Indonesia 1962 – 1994 sehingga&lt;span style=""&gt; 
  &lt;/span&gt;mempunyai landasan ilmiah dan dapat diterapkan dengan sistem hisab
  lama.
  &lt;p style="text-align:justify"&gt; 
  
  &lt;td valign=top width=120&gt;
  &lt;p style="text-align:justify"&gt;Masih terlalu rendah
  dibandingkan dengan kriteria astronomi internasional
  
 
 &lt;tr&gt;
  &lt;td valign=top width=142&gt;
  &lt;p style="text-align:justify"&gt;Kriteria hisab rukyat yang
  didasarkan pada analisis empirik kemungkinan terkecil terjadinya perbedaan
  awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha, bila dibandingkan dengan kriteria
  yang berlaku saat ini. Kriteria awal bulan adalah posisi bulan telah berada
  di atas ufuk pada saat maghrib di seluruh Indonesia.
  
  &lt;td valign=top width=120&gt;
  &lt;p style="text-align:justify"&gt;Kriteria ini paling sederhana
  sehingga sistem hisab lama pun bisa menerapkannya.
  
  &lt;td valign=top width=120&gt;
  &lt;p style="text-align:justify"&gt;Tidak mempunyai landasan
  astronomis yang kuat dan sulit dikembangkan untuk tingkat regional da-lam
  forum MABIMS
  
 
 &lt;tr&gt;
  &lt;td valign=top width=142&gt;
  &lt;p style="text-align:justify"&gt;Kriteria hisab rukyat yang
  didasarkan pada fraksi luas sabit bulan yang bisa diamati, F(%) = luas
  sabit/luas bundaran bulan x 100%. Kriteria ini merupakan salah satu kriteria
  astronomis yang memungkinkan terlihatnya hilal. Kriteria awal bulan bila
  fraksi luas sabit bulan lebih dari 1%.
  
  &lt;td valign=top width=120&gt;
  &lt;p style="text-align:justify"&gt;Kriteria ini mempunyai landasan
  astronomis yang kuat.
  
  &lt;td valign=top width=120&gt;
  &lt;p style="text-align:justify"&gt;Rumit dilakukan dengan sistem
  hisab lama, sehingga mungkin banyak ahli hisab yang tidak bisa menerapkannya
  
 
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;

&lt;/div&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Kita berharap semua ormas Islam
bersama Badan Hisab Rukyat mengkaji ketiga opsi tersebut untuk kemudian memilih
salah satunya sebagai kriteria bersama, “Kriteria Hisab Rukyat Indonesia” yang
menjamin kesatuan Idul Fitri dan kalender Islam di Indonesia. Bagaimana pun
keseragaman lebih menentramkan, walau perbedaan membawa rahmat.

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;div&gt;

&lt;p align=center&gt;Dr.
T. Djamaluddin, Peneliti Utama Astronomi dan Astrofisika, LAPAN Bandung

&lt;/div&gt;

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt; 

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt; 

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt; 

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt; &lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Usulan+Penyatuan+Kriteria+saat+Sidang+Itsbat+22+Oktober+2006&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!149.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!149.entry</guid><pubDate>Tue, 21 Nov 2006 04:45:04 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!149/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!149.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2006-11-21T07:30:47Z</dcterms:modified></item><item><title>Berita Sidang Itsbat 1427/2006</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!148.entry</link><description>&lt;span style="font-weight:bold"&gt;&lt;font size=5&gt;T. Djamaluddin (LAPAN) usulkan penyatuan kriteria &lt;br&gt;saat sidang itsbat 22 Oktober 2006&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;Dua berita singkat (hanya dipilih 2 yang singkat dari berita serupa di beberapa media massa)  saya cantumkan di bawah ini. &lt;br&gt;Usulan penyatuan krietria telah ada tindak lanjutnya dengan pertemuan di Dirjen Bimas Islam pada 13 November 2006 dengan merumuskan cara-cara upaya penyatuan kriteria, termasukan melengkapi dokumentasi 3 opsi yang telah disepakati sebelumnya untuk menjadi bahan kajian di masing-masing ormas Islam.&lt;br&gt;&lt;br&gt;http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/10/tgl/22/time/201513/idnews/699734/idkanal/10&lt;br&gt;&lt;font size=5&gt;Menag Meminta Perbedaan 1 Syawal Tidak Membuat Perpecahan&lt;/font&gt;&lt;br&gt;    Kris Fathoni W - detikcom&lt;br&gt;&lt;br&gt;    *Jakarta* -&lt;br&gt;    Masyarakat diminta bisa memahami adanya perbedaan 1 Syawal 1427 Hijriah atau Hari Raya Idul Fitri. Perbedaan ini jangan sampai menimbulkan perpecahan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;    &amp;quot;Kita harus pahami bahwa ada masyarakat yang punya keyakinan yang berbeda, seperti Muhammadiyah. Tapi, Mudah-mudahan kita bisa berjiwa besar dan menahan diri. Semoga perbedaan tersebut tidak membuat perpecahan,&amp;quot; ujar Menteri Agama M Maftuh Basyuni usai sidang Itsbat di Departemen Agama, Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Minggu (22/10/2006).&lt;br&gt;&lt;br&gt;    Seperti diketahui Menag M Maftuh Basyuni telah memutuskan 1 Syawal 1427 H jatuh pada hari Selasa 24 Oktober 2006, sebab sebagian besar  peserta sidang menyatakan belum melihat hilal. Sementara Muhammadiyah tetap berkeyakinan bahwa 1 Syawal 1427 H jatuh besok, Senin tanggal 23 Oktober 2006.&lt;br&gt;&lt;br&gt;    Sebelumnya, dalam pemberian pandangan dalam sidang tersebut, Jamaluddin dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyatakan, Muhammadiyah, Persis dan PBNU dalam menentukan almanak 1 Syawal selalu berbeda. Untuk mempersatukan pendapat yang berbeda tersebut diusulkan agar semua ormas Islam berkumpul sebelum bulan Ramadan berikutnya untuk menentukan kriteria bersama dalam menentukan 1 Syawal.&lt;br&gt;&lt;br&gt;    &amp;quot;Karena tahun 2007, perbedaan ini akan terjadi lagi, kalau kriterianya tetap seperti sekarang. Oleh karena itu, Menteri Agama&lt;br&gt;    harus memfasilitasi pertemuan tersebut,&amp;quot; pinta Jamaluddin. &lt;br&gt;&lt;br&gt;    Menanggapi penyataan tersebut, Maftuh Basyuni menyatakan dukungannya dan menyetujui serta berniat memfasilitasi pertemuan tersebut. &amp;quot;Cuma harus tolong diingatkan agar saya tidak lupa. Tahun lalu saya sudah janji. Semoga tidak janji palsu, pak Jamaluddin,&amp;quot; katanya sambil tersenyum.&lt;br&gt;&lt;br&gt; **(zal/zal)**&lt;br&gt;&lt;br&gt;http://www.suaramerdeka.com/harian/0610/23/nas13.htm&lt;br&gt; &lt;font size=5&gt;Menag Upayakan Titik Temu&lt;/font&gt;&lt;div&gt;

&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha&lt;/ul&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;JAKARTA - &lt;/b&gt;Menteri Agama M Maftuh Basyuni akan mengupayakan titik
temu penetapan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha antara berbagai
ormas Islam di Tanah Air.

&lt;p&gt; ''Saya setuju ormas Islam duduk bersama agar tak ada lagi perbedaan
hari raya. Tahun lalu saya sudah berjanji, tetapi mohon maaf belum juga,
mudah-mudahan ini bukan janji palsu,&amp;quot; kata Maftuh Basyuni saat membuka
sidang isbat (penetapan) di Jakarta, kemarin.

&lt;p&gt; Dengan demikian, dia berharap ke depan tidak ada lagi perbedaan hari
raya di antara umat Islam Indonesia. Ketua MUI Ma'ruf Amien mengatakan,
seluruh umat Islam seharusnya mengikuti ketetapan pemerintah atas dasar
sidang isbat yang dihadiri semua ormas Islam tersebut.

&lt;p&gt; Peneliti Utama Astronomi dan Astrofisika Lembaga Antariksa dan Penerbangan
Nasional (Lapan) Dr T Djamaluddin mengajukan tiga opsi kriteria untuk mencapai
titik temu yang semuanya memiliki keunggulan dan kelemahan.

&lt;p&gt; Opsi pertama adalah kriteria penelitian Lapan berdasarkan hasil analisis
ilmiah astronomis atas data rukyat Indonesia dan dapat diterapkan dengan
sistem hisab lama.

&lt;p&gt; Opsi kedua dengan kriteria hisab rukyat yang didasarkan pada analisis
empirik kemungkinan terkecil terjadinya perbedaan awal Ramadan, Idul Fitri,
dan Idul Adha bila dibandingkan dengan kriteria saat ini. &amp;quot;Kriteria
ini paling sederhana, tetapi tak punya landasan astronomis yang kuat,&amp;quot;
katanya. 

&lt;p&gt;Opsi ketiga didasarkan pada fraksi luas sabit bulan yang bisa diamati,
yang meski rumit, mempunyai landasan astronomis yang kuat. (ant-60n) 



&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Berita+Sidang+Itsbat+1427%2f2006&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!148.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!148.entry</guid><pubDate>Tue, 21 Nov 2006 03:43:21 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!148/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!148.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2006-11-21T04:35:18Z</dcterms:modified></item><item><title>Penyatuan Idul Fitri</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!146.entry</link><description>&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14pt"&gt;Pentingnya Peran Pemerintah
Menyatukan Ummat Beridul Fitri&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;(Dimuat Pikiran Rakyat 21 Oktober 2006, berjudul &amp;quot;Penyatuan Idul Fitri&amp;quot;)&lt;br&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14pt"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;







&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;Dr. T. Djamaluddin&lt;br&gt;Peneliti Utama
Astronomi-Astrofisika, LAPAN Bandung

&lt;p&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kekhawatiran
masyarakat akan terjadinya perbedaan Idul Fitri mulai terasa. Dalam diskusi di
milis internet, saat sosialisasi, atau pertanyaan via e-mail dan lisan
menyiratkan kerisauan ummat bila terjadi perbedaan idul fitri. Bermacam alasan,
utamanya kekhawatiran masuk pada perbuatan haram bila puasa pada saat orang
lain beridul fitri atau berbuka saat idul fitri pada saat orang lain masih
puasa. Tetapi terkesan ada sedikit keraguan masyarakat untuk menunggu keputusan
pemerintah pada malam Senin 22 Oktober 2006 karena kekhawatiran dan prasangka
terjadinya rekayasa. Sementara masyarakat yang bukan anggota ormas tertentu
juga terkesan kecewa dengan keputusan ormas-ormas Islam yang berbeda-beda.

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saya
ingin menjernihkan masalah ini, termasuk keinginan sebagian kalangan untuk
menghapus peran pemerintah dalam penetapan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul
Adha. Misalnya, Ketua Umum PP Muhammadiyah meminta agar pemerintah tidak perlu
ikut menentukan Idul Fitri, tetapi hanya menetapkan hari libur (Republika,
19/10-06). Alasannya, kalau pemerintah ikut menentukan, kesannya ada yang
dipegang dan ada yang dikesampingkan. Tetapi kehendak untuk menghapus peran
pemerintah juga menimbulkan ada kesan ada ormas yang ingin membiarkan
masyarakat sendiri yang mengatasi perbedaan. Padahal masyarakat umumnya risau
dengan adanya perbedaan, sehingga meminta pemimpin ummat untuk
menyelesaikannya.

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;u&gt;Sumber Perbedaan&lt;/u&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;u&gt; &lt;/u&gt;

&lt;div&gt;&lt;div style="text-align:center"&gt;





&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;Ijtima’ awal Syawal 1427
pada 22 Oktober 2006&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pukul 12:14&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;WIB. Pada saat maghrib&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;22 Oktober 2006&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bulan telah wujud di sebagian wilayah Indonesia, tetapi tingginya
kurang dari 2 derajat dan umurnya kurang dari 8 jam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menurut kriteria ijtima' qablal ghturub dan wujudul hilal
menggunakan prinsip &amp;quot;wilayatul hukmi&amp;quot;, 1 Syawal 1427 jatuh pada 23
Oktober 2006. Namun, kriteria imkan rukyat LAPAN dan MABIMS menyimpulkan &lt;b style=""&gt;1&lt;span style=""&gt; 
&lt;/span&gt;Syawal 1427 jatuh pada 24 Oktober 2006. Sesuai fatwa Majelis Ulama
Indonesia, bila terjadi perbedaan, ikuti keputusan Pemerintah yang telah
mempertimbangkan berbagai pendapat .&lt;/b&gt;

&lt;p&gt; 

&lt;/div&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ternjadinya
perbedaan Idul Fitri sudah jelas dengan keluarnya pengumuman PP Muhammadiyah
bahwa Idul Fitri pada 23 Oktober 2006 dan pengumuman PP PERSIS bahwa Idul Fitri
pada 24 Oktober 2006. Kedua ormas Islam ini mendasarkan keputusannya pada hasil
hisab (perhitungan astronomi). Namun yang perlu disadari bersama, keputusan
Muhammadiyah menentukan Idul Fitri jatuh pada 23 Oktober bukan semata-mata
hasil hisab. PP Persatuan Islam (PERSIS) juga mendasarkan pada hisab, tetapi
memutuskan idul fitri jatuh pada 24 Oktober. Hasil hitungannya sama, hanya
karena kriteria yang berbeda kesimpulannya berbeda. 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di
kalangan Nahdhatul Ulama (NU) yang mendasarkan pada rukyatul hilal (pengamatan
hilal, bulan sabit pertama) juga mulai tampak potensi perbedaan. Tetapi ini
justru bersumber dari perbedaan hasil hisab mereka. PW NU Jawa Timur menyatakan
hasil hisab mereka dengan sistem &lt;i&gt;Ittifaq Dzatil Bainy &lt;/i&gt;menyatakan
ketinggian hilal 2 derajat lebih. Sistem hisab tersebut tampaknya tergolong
sistem hisab taqribi (pendekatan, aproksimasi). Hasil hisab kalangan NU yang
menggunakan sistem hisab haqiqi (posisi sesungguhnya) justri menghasilkan hasil
hisab yang mirip dengan hasil ahli hisab Muhamamdiyah dan PERSIS, bahwa bulan
ketinggiannya pada saat maghrib 22 Oktober 2006 masih kurang dari 1 derajat
sehingga tidak mungkin dapat dirukyat. Perbedaan hasil hisab ini tampaknya akan
berpengaruh pada hasil rukyat, ada yang menerima kesaksian rukyat dan mungkin
ada yang menolaknya.

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kondisi
ini mirip denga kondisi saat penentuan Idul Fitri 1418/1998. Saat itu pada
sidang itsbat kalangan ahli hisab terpecah dua dan kalangan ahli rukyat juga
terpecah dua. PP Muhammadiyah waktu itu memutuskan Idul Fitri jatuh pada 29
Januari 1998 berdasarkan kriteria wujudul hilal. Sedangkan PERSIS memutuskan
Idul Fitri jatuh pada 30 Januari 1998 berdasarkan kriteria ketinggian hilal 2
derajat. Sementara itu di kalangan ahli rukyat PB NU menolak kesaksian rukyat
di Cakung dan Bawean karena ketinggian hilal kurang dari 1 derajat sehingga
mendukung keputusan pemerintah beridul fitri 30 Januari 1998. Tetapi PW NU Jawa
Timur dan Jawa Tengah menerima kesaksian di Cakung dan Bawean tersebut sehingga
mereka beridul fitri 29 Januari 1998.

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kondisi seperti itu akan berulang lagi tahun
depan (2007) kalau tidak ada perubahan kritria masing-masing ormas Islam.
Padahal ummat menghendaki adanya keseragaman. Mestinya kriteria itu bisa
dikajiulang, masing-masing ormas maju selangkah menuju titik temu untuk
mendapatkan kriteria yang seragam. Sebenarnya ini bagian teknis astronomis,
tidak lagi direpotkan dengan perdebatan dalil syariah. Kalau kriterianya bisa
sama, bukan hanya Muhammadiyah dan Persis yang sama-sama ahli hisab, tetapi
juga dengan NU yang ahli rukyat, keputusan Idul Fitri bisa seragam.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Upaya menuju
titik temu tersebut telah ada, hanya perlu tindak lanjut. Alhamdulillah, dalam
musyawarah para ahli hisab rukyat dari berbagai ormas Islam dan instansi
terkait pada Desember 2005 lalu telah ada langkah maju menuju titik temu
kriteria. Langkah maju yang telah tercapai adalah dirumuskannya tiga opsi
kriteria yang perlu dikaji oleh semua pihak. Bila tercapai kriteria bersama
yang disepakati, kriteria tersebut akan mengakhiri dikhotomi hisab dan rukyat
dan insya Allah menghilangkan perbedaan penentuan Idul Fitri. Kriteria hisab
rukyat tersebut harus dianggap sebagai kriteria dinamis yang terbuka untuk
dikaji ulang secara berkala berdasarkan data-data rukyatul hilal terbaru.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Opsi pertama
adalah tawaran kriteria hasil penelitian di LAPAN (kadang disebut sebagai
kriteria LAPAN). Kriteria hisab rukyat ini didasarkan pada hasil analisis
ilmiah astronomis atas data rukyat Indonesia&lt;span style=""&gt; 
&lt;/span&gt;yang mendekati kriteria astronomi internasional, yaitu umur hilal
minimum 8 jam dan tinggi bulan minimum tergantung beda azimut bulan – matahari
di suatu wilayah Indonesia. Bila beda azimutnya nol (bulan tepat berada di atas
matahari saat terbenam), maka tinggi bulan minimum 8,3 derajat. Sedangkan bila
beda azimut bulan matahari 6 derajat, tinggi bulan minimumnya 2,3 derajat.
Kriteria ini masih terlalu rendah dibandingkan dengan kriteria astronomi
internasional, tetapi mempunyai landasan ilmiah dan dapat diterapkan dengan
sistem hisab lama.

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Opsi
kedua adalah kriteria hisab rukyat yang didasarkan pada analisis empirik
kemungkinan terkecil terjadinya perbedaan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul
Adha, bila dibandingkan dengan kriteria yang berlaku saat ini. Kriteria awal
bulan adalah posisi bulan telah berada di atas ufuk pada saat maghrib di
seluruh Indonesia. Kriteria ini paling sederhana sehingga sistem hisab lama pun
bisa menerapkannya, tetapi tidak mempunyai landasan astronomis yang kuat dan
sulit dikembangkan untuk tingkat regional dalam forum MABIMS.

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Opsi
ketiga adalah kriteria hisab rukyat yang didasarkan pada fraksi luas sabit
bulan yang bisa diamati, F(%) = luas sabit/luas bundaran bulan x 100%. Kriteria
ini merupakan salah satu kriteria astronomis yang memungkinkan terlihatnya
hilal. Kriteria awal bulan bila fraksi luas sabit bulan lebih dari 1%. Kriteria
ini mempunyai landasan astronomis yang kuat, tetapi rumit dilakukan dengan
sistem hisab lama, sehingga banyak ahli hisab yang mungkin tidak bisa
menerapkannya.

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ketiga
opsi tersebut semestinya dikaji di masing-masing ormas Islam, mana yang dapat
diusulkan untuk menjadi kriteria bersama yang disepakati untuk menggantikan
kriteria ormas yang berbeda-beda. Pilihan masing-masing sebaiknya tidak
tunggal, tetapi ada alternatif lain di antara ketiga opsi tersebut untuk lebih
memudahkan menuju titik temu. Pilihan tersebut akan dibawa dalam pertemuan
nasional yang lebih besar untuk mencari kriteria bersama yang disepakati
sebagai kriteria hisab rukyat Indonesia. Insya Allah, dengan kriteria hisab
rukyat Indonesia yang disepakati, semua kalender Islam, termasuk taqwim standar
dan kalender yang diterbitkan masing-masing ormas Islam, dapat seragam.
Alangkah baiknya bila kemudian Kriteria Hisab Rukyat Indonesia tersebut dapat
segera diimplementasikan sehingga Idul Fitri 1428/2007 tahun depan (dengan
kondisi bulan matahari yang mirip tahun ini) tidak terjadi lagi perbedaan.

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;u&gt;Peran Pemerintah&lt;/u&gt;

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Kesan adanya
keraguan masyarakt pada Pemerintah yang diwakili oleh Menteri Agama dalam
penetapan awal ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha dimungkinkan karena tidak
diketahuinya mekanisme pengambilan keputusan tersebut. Mungkin masyarakat tidak
memperhatikan bahwa sesungguhnya keputusan Meteri Agama diambil melalui
mekanisme sidang itsbat (penetapan) yang dihadiri anggota Badan Hisab Rukyat,
perwakilan MUI, perwakilan ormas-ormas Islam, para pakar instansi terkait, dan
perwakilan negara-negara Islam. Semua pendapat ditampung, baik dari kalangan
ahli hisab dengan berbagai sistem maupun dari kalangan ahli rukyat. Kemudian
Menteri Agama mengambil keputusan yang paling optimal dengan persetujuan
peserta sidang. Apakah peran Pemerintah seperti itu perlu dihapuskan?

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Kalau kita
menengok penetapan Awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha secara
internasional, tidak ada yang ditetapkan secara perorangan. Pasti ada otoritas
yang menetapkan. Di negara yang mayoritas penduduknya Muslim, penetapannya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dilakukan oleh otoritas negara, mungkin
Menteri Agama, mufti, Dewan Mahkamah Tinggi, atau raja. Hanya di negara-negara
yang Muslimnya minoritas, otoritas penetapannya diserahkan kepada organisasi
masyarakat Islam setempat. Di Indonesia otoritas negara ada, yaitu Menteri
Agama dan perangkat sidang itsbat, tetapi peran organisasi massa Islam juga
dominan. Seandainya peran pemerintah dihilangkan, kemanakah rujukan sebagian
besar ummat yang tidak ikut ormas tertentu? 

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Dengan
menghilangkan peran pemerintah dalam penetapan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan
Idul Adha berarti ingin menjadikan ormas sebagai otoritas penentu. Hal itu
tidak menguntungkan karena itu berarti memaksa ummat yang bukan anggota ormas
mana pun untuk mengikuti keputusan ormas tertentu yang belum tentu
menentramkan. Potensi konflik pun lebih terbuka, karena kecenderungan
ormas-ormas mencari pendukung pendapatnya juga cukup kuat. Setidaknya akan ada
perebutan jamaah shalat ied untuk mengikut kelompoknya, baik dilakukan secara
halus melalui tabilgh atau ceramah atau secara terbuka dengan mengajak dari
rumah ke rumah. 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saya
cenderung mendukung fatwa MUI nomor 2/2004 yang menyatakan bahwa (1) penetapan
awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah dilakukan berdasarkan metode ru'yah dan
hisab oleh Pernerintah RI cq Menteri Agarna dan berlaku secara nasional, (2)
seluruh umat Islam di Indonesia wajib menaati ketetapan Pernerintah RI tentang
penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah, (3) dalam menetapkan awal
Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah, Menteri Agama wajib berkonsultasi dengan
Majelis Ulama Indonesia, ormas-ormas Islam, dan Instansi terkait. Fatwa itu
lebih menentramkan daripada ummat diberikan kebebasan memilih di antara sekian
keputusan ormas yang mungkin&lt;span style=""&gt; 
&lt;/span&gt;berbeda-beda.

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pada
fatwa itu juga ada rekomendasi agar Majelis Ularna Indonesia mengusahakan
adanya kriteria penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah untuk dijadikan
pedoman oleh Menteri Agama dengan membahasnya bersama ormasormas Islam dan para
ahli terkait. Kalau rekomendasi itu terlaksana dengan menindaklanjuti rumusan
opsi-opsi kriteria hisab rukyat, insya Allah potensi perbedaan Idul Fitri tahun
depan tidak akan ada lagi. Baik ormas Islam maupun pemerintah akan menggunakan
kriteria yang sama, sehingga keputusannya akan seragam. Bagaimana pun
keseragaman lebih menentramkan, walau pun perbedaan membawa rahmat.

&lt;p style="text-align:justify"&gt; &lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Penyatuan+Idul+Fitri&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!146.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!146.entry</guid><pubDate>Sun, 22 Oct 2006 03:23:39 GMT</pubDate><slash:comments>2</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!146/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!146.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2006-10-22T03:23:39Z</dcterms:modified></item><item><title>Menuju Penyatuan Kalender Islam di Indonesia</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!144.entry</link><description>&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;MENUJU&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;PENYATUAN KALENDER ISLAM DI INDONESIA&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;(Dimuat Republika 14 September 2006)&lt;br&gt;



&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;T. Djamaluddin

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;Peneliti Utama
Astronomi dan Astrofisika, LAPAN Bandung



&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Alhamdulillah,
awal tahun baru hijriyyah 1427 lalu kembali diisi dengan tekad bersama dua
ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, untuk
bersama-sama membentuk gerakan nasional membangkitkan moral bangsa setelah
sebelumnya bersama-sama mengadakan kampanye antikorupsi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seolah untuk mengukuhkan keakrabannya, bulan
lalu pimpinan kedua ormas tersebut terpilih menjadi pimpinan &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;World Conference on Religion for Peace&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; (WCRP).&lt;/span&gt; Alangkah indahnya kalau
kebersamaan semacam itu, antara NU dan Muhammadiyah serta ormas-ormas iSlam
lainnya, juga untuk membangun kesadaran bersama untuk mempersatukan bangsa yang
mayoritas beragama Islam, khususnya dalam merayakan dua hari raya, Idul Fitri
dan Idul Adha. Datangnya Ramadhan yang diakhiri dengan Idul Fitri, kembali
membangkitkan semangat untuk mencari solusi penyatuan kalender Islam.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Ada persoalan
krusial yang harus dipecahkan. NU dan Muhammadiyah berperan besar memberikan
solusi bersama. Perbedaan penentuan awal bulan Qamariyah antara metode rukyat
(pengamatan) oleh NU dan hisab (perhitungan) oleh Muhammadiyah, secara
astronomis mudah dipersatukan, asal ada kerelaan keduanya untuk maju menuju
satu titik temu. Kedua metode harus menggunakan kriteria yang sama. Kriteria
hisab rukyat bukanlah masalah dalil fiqih yang sekian lama menjadikan NU dan
Muhammadiyah seolah tidak dapat dipersatukan. Kriteria hisab rukyat adalah
hasil penggalian bersama antara metode hisab dan rukyat untuk mendapatkan
interpretasi astronomis atas dalil fiqih yang digunakan. 

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Perbedaan
kriteria penentuan awal bulan yang belum bisa dipersatukan, membuka peluang
terjadinya perbedaan Idul Fitri 1427 di Indonesia. Maklumat Pimpinan Pusat
Muhammdiyah 7 September 2006 menetapkan Idul Fitri jatuh pada 23 Oktober 2006
berdasarkan kriteria wujudul hilal (wujudnya hilal, bulan sabit pertama) dengan
prinsip wilayatul hukmi (Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah hukum). Dengan
prinsip wilyatul hukmi, wujudnya hilal di sebagian wilayah Indinesia dijadikan
dasar penetapan awal bulan untuk seluruh Indonesia. Tetapi PP Muhammadiyah juga
menyatakan menghargai warga Muhammadiyah di wilayah yang hilalnya belum wujud
untuk beridul fitri 23 Oktober atau 24 Oktober 2006 tergantung keyakinannya. 

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Sementara itu PP
Persatuan Islam (Persis) yang sama dengan Muhammadiyah menganut metode hisab
(perhitungan astronomi) menetapkan Idul Fitri 1427 jatuh pada 24 Oktober 2006.
Persis menggunakan kriteria wujudul hilal di seluruh Indonesia. PB NU belum
menetapkan Idul Fitri, menunggu hasil rukyat (pengamatan) hilal pada 29
Ramadhan 1427. Namun karena kriteria hisabnya yang umumnya menggunakan
ketinggian minimal 2 derajat, dapat diprakirakan kemungkinan Idul Fitri
berdasarkan rukyat jatuh pada 24 Oktober 2006.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Tulisan ini
ingin mengajak semua pihak untuk terbuka mengkajiulang kriteria penentuan
kalender Islam agar hari raya dapat bersatu. Mari kita masuk pada fase tiga,
setelah fase pertentangan dan fase toleransi kita alami, kita menuju fase
pencarian titik temu. Masalah utama bukan pada perbedaan antara hisab dan
rukyat, tetapi pada perbedaan kriteria awal bulan yang digunakan. Hisab dan
rukyat bisa bersatu kalau kriterianya sama. Bila beberapa tahun lalu tidak
terjadi perbedaan, bukan berarti telah ada kesepakatan, tetapi lebih disebabkan
oleh posisi bulan dan matahari yang memungkinkan semua kriteria yang digunakan
di Indonesia menghasilkan kesimpulan yang sama. 

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Bagi sebagian
orang yang tidak faham hisab-rukyat, kriteria wujudul hilal, atau ketinggian
bulan 2 derajat, atau kriteria lainnya kadang dianggap sama kedudukannya dengan
dalil-dalil fiqih dari ayat Al-Quran dan hadits yang jadi landasannya. Sehingga
tidak jarang yang menganggapnya sebagai interpretasi final atas dalil Quran dan
hadits. Padahal sesungguhnya kriteria semacam itu hanya hasil ijtihad yang bisa
berubah, dengan mempertimbangkan&lt;span style=""&gt; 
&lt;/span&gt;perkembangan ilmu pengetahuan dan kemaslahatan ummat.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Adakah upaya
penyelesaian masalah perbedaan yang telah berlangsung lama ini? Alhamdulillah,
upaya itu sudah ada dan kita berharap nantinya menghasilkan kriteria penentuan
awal bulan yang disepakati oleh semua pihak, khususnya di Indonesia. Upaya
mutakhir adalah lahirnya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. 2/2004 tentang
wajibnya ummat Islam mengikuti keputusan pemerintah dalam hal penentuan awal
Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Pada fatwa tersebut juga ada rekomendasi
untuk mengupayakan kriteria penentuan awal bulan yang disepakati dan menjadi acuan
bersama. Secara tidak langsung fatwa tersebut juga didukung dengan hasil
Kongres Ummat Islam Indonesia 2005 yang menyatakan agar MUI menjadi payung
pemersatu ummat.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Upaya tersebut
kemudian dilanjutkan dengan pertemuan wakil-wakil ormas Islam dan para pakar
hisab-rukyat yang difasilitasi Departeman Agama pada Desember 2005 lalu yang
merumuskan beberapa opsi kriteria penentuan awal bulan Islam. Opsi kriteria
tersebut harus dikaji di tingkat ormas untuk kemudian dibahas dan dipilih satu
kriteria bersama dalam forum pertemuan yang lebih besar. Perumusan opsi
kriteria tersebut merupakan hal penting menuju penyatuan kalender Islam di
Indonesia, karena upaya serupa pada tahun 1990-an gagal meyakinkan semua ormas
Islam untuk menjadikan kriteria MABIMS (kesepakatan Menteri-menteri Agama
Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) sebagai kriteria yang
digunakan dalam pembuatan kalender hijriyah di Indonesia. Saat ini kriteria
MABIMS hanya digunakan pada pembuatan Takwim Standar Departemen Agama yang menjadi
rujukan hari-hari besar Islam di Indonesia. 

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Kita harus akui,
peranan ormas-ormas Islam (khususnya dua ormas besar NU dan Muhammadiyah) masih
dominan dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Hasil
keputusan pemerintah dalam sidang itsbat (sidang penetapan) awal Ramadhan atau
Idul Fitri yang dipimpin Menteri Agama dan dihadiri para wakil ormas Islam dan
para pakar hisab rukyat biasanya tidak berpengaruh pada keputusan yang
ditetapkan oleh pimpinan masing-masing ormas Islam tersebut. Kalau kriteria
baru penentuan awal bulan, sebut saja Kriteria Hisab Rukyat Indonesia, dapat
disepakati dan dapat menggantikan kriteria yang saat ini beragam yang digunakan
oleh masing-masing ormas Islam, insya Allah kesatuan penentuan hari raya dapat
tercapai. Setidaknya, semua kelender hijriyah yang diterbitkan berbagai Ormas
Islam akan sama dengan Taqwin Standar yang menjadi rujukan pemerintah. Memang,
kemungkinan terjadinya masalah perbedaan masih mungkin terjadi di luar masalah
hisab rukyat, misalnya karena keyakinan mengikuti keputusan Arab Saudi dalam
hal penentuan Idul Adha.

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;MAJU SELANGKAH

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tahun
1990-an pernah diusulkan kriteria MABIMS menjadi acuan bersama kriteria
penentuan kalender Islam di Indonesia dan juga di Brunei Darussalam, Malaysia,
dan Singapura. Kriteria itu menyatakan awal bulan ditentukan bila tinggi bulan
lebih dari 2 derajat, jarak sudut&lt;span style=""&gt; 
&lt;/span&gt;bulan-matahari lebih 3 derajat, dan umur bulan sejak ijtimak (bulan dan
matahari segaris bujur) lebih dari 8 jam, walau dalam prakteknya kriteria tinggi
dan umur bulan yang lebih banyak dipakai. Beberapa ormas Islam menerima
kriteria tersebut, tetapi ada juga yang tidak menerimanya. NU menggunakan
kriteria tinggi bulan minimal 2 derajat, sementara Muhammadiyah tetap
menggunakan kriteria wujudul hilal. Kriteria wujudul hilal menyatakan awal
bulan ditentukan bila bulan telah wujud di atas ufuk atau tinggi bulan positif
yang ditandai dengan bulan terbenam setelah matahari terbenam.

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Perbedaan
tinggi bulan minimal antara 2 derajat oleh NU dan 0 derajat oleh Muhammadiyah
sering menimbulkan perbedaan kesimpulan awal bulan yang berdampak pada
perbedaan penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Muhammadiyah juga
menggunakan prinsip wilayatul hukmi pada kriteria wujudul hilal, yaitu bila
hilal telah wujud di sebagian wilayah Indonesia maka hal itu dianggap berlaku
di seluruh wilayah hukum Indonesia. Hal ini berpotensi menambah besar perbedaan
hasil penentuan awal bulan. Masalah perbedaan juga sering diperparah dengan
hasil rukyatul hilal yang kontroversial oleh beberapa kalangan NU. Hasil rukyat
tersebut menjadi kontroversial karena secara hisab bulan terlalu rendah
sehingga tidak mungkin terlihat atau bahkan karena bulan sebenarnya telah
terbenam saat maghrib atau ketinggian bulan negatif.

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pada
Seminar Nasional Hisab Rukyat yang diselenggarakan oleh Badan Litbang Agama dan
Diklat Keagamaan, Departemen Agama RI, di Jakarta pada 20 – 22 Mei 2003 dan
dihadiri oleh perwakilan ormas-ormas Islam dan para pakar hisab rukyat telah
dicapai konvergensi pemikiran untuk mendapatkan titik temu. Titik temu tersebut
nantinya berupa kriteria baru sehingga masing-masing pihak maju selangkah,
bukan mengambil salah satu kriteria yang telah ada. Sayangnya titik temu
kriteria tersebut belum dirumuskan, walau telah ada usulan yang ditawarkan. 

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Tindak lanjut
terpenting dalam upaya mencari titik temu adalah keluarnya fatwa MUI Nomor
2/2004 hasil rumusan pertemuan para ulama pada Desember 2003. Fatwa tersebut
juga merekomendasikan adanya upaya penyatuan kriteria sebagai pedoman bagi
semua pihak. Alhamdulillah, rekomendasi tersebut akhirnya terlaksana dengan
Musyawarah Nasional Penyatuan Kalender Hijriyah yang difasilitasi Departemen
Agama pada Desember 2005. Sebuah langkah maju. 

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Walaupun belum
diputuskan satu kriteria hisab rukyat yang akan menjadi titik temu penyatuan
kalender Islam di Indonesia, setidaknya para peserta dari perwakilan ormas
Islam dan pakar hisab rukyat berhasil merumuskan tiga opsi kriteria yang akan
dikaji lagi baik dalam pertemuan di tingkat ormas Islam maupun pertemuan besar
ormas Islam dan pakar hisab rukyat untuk menentukan satu kriteria hisab rukyat
yang disepakati. Setidaknya dalam pertemuan besar tersebut, setiap ormas
diwakili beberapa orang pimpinan yang punya otoritas untuk memutuskan atau
punya peran besar dalam mengarahkan kebijakan ormas. Diharapkan, dengan
berpartisipinya para pimpinan ormas Islam, hasil pertemuan tersebut dapat
disosialisasikan secara lebih cepat ke tingkat bawah, tidak sekadar menjadi
catatan pribadi wakil ormas. 

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;OPSI KRITERIA

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Di kalangan ahli
hisab rukyat di Indonesia ada pemikiran untuk mengkaji ulang semua kriteria
yang selama ini digunakan, terutama yang digunakan oleh ormas-ormas besar yang
berpengaruh luas di masyarakat. Kita patut bersyukur dengan adanya keterbukaan
ormas-ormas Islam (setidaknya yang diungkapkan oleh para wakil mereka dalam
pertemuan hisab rukyat) untuk mengkaji ulang kriteria mereka berdasarkan ilmu
pengetahuan, khususnya astronomi. Hal itu merupakan langkah maju untuk mencari
kebenaran objektif yang tidak terbelenggu sikap taklid sebagian kalangan yang
sekadar mengikut pendapat para ulama pendahulu secara buta. Harus diakui bahwa
sikap taklid bisa mengunci mati pintu menuju titik temu. Dengan sikap taklid,
masing-masing pihak merasa pendapat yang diikutinya selama ini telah mutlak
benarnya, kadang diperparah dengan sikap bangga diri dengan merendahkan
pendapat pihak lain.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Padahal di
kalangan ahli hisab rukyat yang memahami perkembangan ilmu astronomi ada
kesadaran bahwa kriteria tersebut bersifat ijtihadiyah yang mungkin berubah
dengan penemuan-penemuan baru. Dalam ilmu pengetahuan, seperti juga dalam
konsep ijtihadiyah dalam fiqih, tidak ada pendapat yang dianggap benar secara
mutlak. Karena bisa jadi, dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan pemahaman manusia,
pendapat yang semula dianggap benar tidak lagi tepat untuk zaman sekarang.
Perlu ada pembaruan. Harus ada upaya semua pihak untuk mengkaji ulang kriteria
masing-masing menuju titik temu kriteria yang disepakati bersama. 

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Alhamdulillah,
dalam musyawarah para ahli hisab rukyat dari berbagai ormas Islam dan instansi
terkait pada Desember 2005 lalu telah ada langkah maju menuju titik temu
kriteria. Langkah maju yang telah tercapai adalah dirumuskannya tiga opsi
kriteria yang perlu dikaji oleh semua pihak. Bila tercapai kriteria bersama
yang disepakati, kriteria tersebut akan mengakhiri dikhotomi hisab dan rukyat.
Kriteria hisab rukyat tersebut harus dianggap sebagai kriteria dinamis yang
terbuka untuk dikaji ulang secara berkala berdasarkan data-data rukyatul hilal
terbaru.

&lt;p style="text-align:justify;text-indent:0.5in"&gt;Opsi pertama
adalah tawaran kriteria hasil penelitian di LAPAN (kadang disebut sebagai
kriteria LAPAN). Kriteria hisab rukyat ini didasarkan pada hasil analisis
ilmiah astronomis atas data rukyat Indonesia&lt;span style=""&gt; 
&lt;/span&gt;yang mendekati kriteria astronomi internasional, yaitu umur hilal
minimum 8 jam dan tinggi bulan minimum tergantung beda azimut bulan – matahari
di suatu wilayah Indonesia. Bila beda azimutnya nol (bulan tepat berada di atas
matahari saat terbenam), maka tinggi bulan minimum 8,3 derajat. Sedangkan bila
beda azimut bulan matahari 6 derajat, tinggi bulan minimumnya 2,3 derajat.
Kriteria ini masih terlalu rendah dibandingkan dengan kriteria astronomi
internasional, tetapi mempunyai landasan ilmiah dan dapat diterapkan dengan
sistem hisab lama.

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Opsi
kedua adalah kriteria hisab rukyat yang didasarkan pada analisis empirik
kemungkinan terkecil terjadinya perbedaan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul
Adha, bila dibandingkan dengan kriteria yang berlaku saat ini. Kriteria awal
bulan adalah posisi bulan telah berada di atas ufuk pada saat maghrib di
seluruh Indonesia. Kriteria ini paling sederhana sehingga sistem hisab lama pun
bisa menerapkannya, tetapi tidak mempunyai landasan astronomis yang kuat dan
sulit dikembangkan untuk tingkat regional dalam forum MABIMS.

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Opsi
ketiga adalah kriteria hisab rukyat yang didasarkan pada fraksi luas sabit
bulan yang bisa diamati, F(%) = luas sabit/luas bundaran bulan x 100%. Kriteria
ini merupakan salah satu kriteria astronomis yang memungkinkan terlihatnya hilal.
Kriteria awal bulan bila fraksi luas sabit bulan lebih dari 1%. Kriteria ini
mempunyai landasan astronomis yang kuat, tetapi rumit dilakukan dengan sistem
hisab lama, sehingga banyak ahli hisab yang mungkin tidak bisa menerapkannya.

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ketiga
opsi tersebut semestinya dikaji di masing-masing ormas Islam, mana yang dapat
diusulkan untuk menjadi kriteria bersama yang disepakati untuk menggantikan
kriteria ormas yang berbeda-beda. Pilihan masing-masing sebaiknya tidak
tunggal, tetapi ada alternatif lain di antara ketiga opsi tersebut untuk lebih
memudahkan menuju titik temu. Pilihan tersebut akan dibawa dalam pertemuan
nasional yang lebih besar untuk mencari kriteria bersama yang disepakati
sebagai kriteria hisab rukyat Indonesia. Insya Allah, dengan kriteria hisab
rukyat Indonesia yang disepakati, semua kalender Islam, termasuk taqwim standar
dan kalender yang diterbitkan masing-masing ormas Islam, dapat seragam.
Alangkah baiknya bila kemudian Kriteria Hisab Rukyat Indonesia tersebut dapat
segera diimplementasikan sehingga Idul Fitri 1428/2007 tahun depan (dengan
kondisi bulan matahari yang mirip tahun ini) tidak terjadi lagi perbedaan.&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Menuju+Penyatuan+Kalender+Islam+di+Indonesia&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!144.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!144.entry</guid><pubDate>Wed, 20 Sep 2006 09:21:57 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!144/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!144.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2006-09-20T09:21:57Z</dcterms:modified></item><item><title>Redefinisi Hilal menuju Titik Temu Kalender Hijriyyah</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!135.entry</link><description>&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;b&gt;REDEFINISI HILAL
MENUJU TITIK TEMU KALENDER HIJRIYAH&lt;/b&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:10pt;font-family:'Courier New'" lang=SV&gt;(Dimuat Pikiran Rakyat, 20 dan 21 Februari 2004)&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Alhamdulillah
awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha 1424 ini dapat dilaksanakan seragam.
Bahkan dalam beberapa tahun me