![]() |
|
Spaces home Dokumentasi T. Djamaludd...PhotosProfileFriendsMore ![]() | ![]() |
Beberapa publikasi/dokumentasi saya yang dapat diakses di internet
|
Dokumentasi T. DjamaluddinArsip lama bisa juga dilihat di http://media.isnet.org/isnet/Djamal/index.html ************* Bila ingin kontak, silakan e-mail ************************* t_djamal@bdg.lapan.go.id; t_djamal@hotmail.com
April 27 Selamatkan BumiBumi dan Peran Kita(Dimuat Pikiran Rakyat 22 April 2008)http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=19831 Oleh T. Djamaluddin BANJIR kini telah menjadi hal yang hampir selalu terjadi setiap hujan dalam skala kecil maupun besar. Walau kecil, banjir cileuncang telah menyusahkan banyak orang, setidaknya memacetkan lalu lintas dan menyusahkan penghuni di sekitarnya. Jalan dan gang banyak yang berubah menjadi sungai deras saat hujan lebat. Kadang kita menyalahkan pihak lain, tanpa mau menyadari bahwa bisa jadi kitalah salah satu pihak yang menyebabkannya. Sampah yang kita buang sembarang telah menyumbat saluran air dan resapan di halaman kita telah tertutup lapisan semen. Kota juga semakin terasa panas dan pengap. Kicau burung semakin langka. Pendingin udara semakin menjadi kebutuhan vital di kota-kota besar. Lagi-lagi kita sering menyalahkan pihak lain sebagai penyebabnya, tanpa mau menyadari bahwa bisa jadi kita salah satu penyebabnya. Pohon sering dianggap pengganggu sehingga dibiarkan mati di pinggir jalan atau ditebang saat membangun rumah, tanpa menggantikannya. Halaman rumah dibiarkan gersang sekadar karena alasan lahan sempit dan sibuk. Sering kita berpikir terlalu global dan mengabaikan hal kecil yang ada di sekitar kita. Padahal, kita bisa berbuat banyak sesuai peran masing-masing untuk menyelamatkan lingkungan bumi kita. Ketika sampah menggunung, kita hanya berharap pemerintah yang menyelesaikan, padahal kita bisa juga membantu menyelesaikannya, setidaknya dengan mengurangi sampah yang dibuang. Tiga contoh kecil itu sekadar pembuka kesadaran pentingnya kepedulian kita pada lingkungan untuk tujuan yang lebih besar, penyelamatan planet bumi. Bukan untuk kepentingan planet bumi tentunya, melainkan untuk kita sendiri dan anak-anak kita. Setidaknya, peringatan Hari Bumi 22 April dan pencanangan Tahun Internasional Planet Bumi sebagai momentum yang tepat untuk kembali merenungkan posisi kita masing-masing. Tidak sekadar berharap pihak lain yang berbuat untuk kita, tetapi kembalikan tanyakan apa yang bisa kita perbuat. Menyelamatkan bumi Hari Bumi 22 April diperingati oleh banyak negara untuk mengingatkan pentingnya penyelamatan bumi. Ini diawali dengan keprihatinan makin meluasnya kerusakan lingkungan di Amerika Serikat. Kemudian, aktivis lingkungan, Senator Gaylord Nelson, menggalang Hari Bumi di Amerika Serikat pada 22 April 1970 yang diikuti lebih dari 20 juta orang. Siswa SD sampai mahasiswa serta masyarakat umum bersatu dalam demonstrasi menuntut pembenahan lingkungan. Gerakan berhasil membangun kesadaran masyarakat dan mendobrak tradisi proses politik yang terkait dengan penyelamatan lingkungan. Hasilnya luar biasa. Banyak undang-undang tentang lingkungan hidup kemudian berhasil dikeluarkan. Badan perlindungan lingkungan AS didirikan. Keberhasilan itu kemudian diikuti oleh banyak negara. Hari Bumi 2008 punya arti lebih penting karena tahun 2008 telah dicanangkan oleh Majelis Umum PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) sebagai Tahun Internasional Planet Bumi. Dengan pencanangan itu diharapkan adanya upaya peningkatan kesadaran akan peran ilmu-ilmu kebumian dalam mencapai pembangunan berkelanjutan dan mendukung langkah-langkah lokal, nasional, regional, dan internasional. Bumi makin rusak Secara kasat mata kita merasakan betapa bumi kita makin rusak. Sekadar contoh, hasil-hasil kajian peneliti di Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) memberikan gambaran kerusakan yang perlu diwaspadai semua pihak. Pemerintah, lembaga legislatif, dan masyarakat perlu merenungkannya untuk mengambil langkah yang tepat. Kajian perubahan suhu di Jakarta menunjukkan bahwa dalam 100 tahun (tahun 1901-2002) suhu cenderung terus naik. Pada awal 1900-an suhu rata-rata di Jakarta sekitar 260 C, pada awal 2000-an mencapai sekitar 280 C. Penelitian lebih rinci dengan data satelit di beberapa kota besar menunjukkan kecenderungan pemanasan kota yang disebut urban heat island (pulau panas perkotaan). Disebut pulau panas karena pemanasan hanya bersifat lokal di tengah kota dengan daerah sekitarnya relatif lebih dingin. Pemanasan kota lebih disebabkan berkurangnya tanaman dan bertambahnya bangunan serta jalan beraspal. Di Bandung, daerah panas dengan suhu tinggi 30-350 C yang umumnya terletak di sekitar pusat kota bertambah dengan laju per tahun 4,47% atau kira-kira 12.606 ha. Laju pertambahannya di Semarang 8,4% (12.174 ha) dan di Surabaya 4,8% (1.512 ha). Hal ini terkait dengan laju pertumbuhan per tahun kawasan terbangun di Bandung 0,36% (1.029 ha), di Semarang 0,83% (1.200 ha), dan di Surabaya 1,69% (531 ha). Perkembangan pembangunan yang berdampak pada peningkatan polusi udara juga berpotensi meningkatkan keasaman air hujan. Fenomena hujan asam perlu diwaspadai karena terkait dengan potensi kerusakan pada bangunan dan usaha pertanian. Pengukuran keasaman hujan asam di Bandung mulai memberi sinyal lampu kuning. Sejak 1996 air hujan di Bandung cenderung berada di bawah batas keasaman dan mulai mengindikasikan fenomena hujan asam. Bahkan, pada tahun 1999-2000 mencapai batas terendah dengan keasaman (pH) sekitar 4 yang mungkin juga sebagian disebabkan oleh sumber-sumber dari gunung berapi. Sulfur dioksida dan nitrogen dioksida dari polusi udara dari kendaraan bermotor dan industri menjadi faktor yang perlu diwaspadai dari fenomena hujan asam. Curah hujan rata-rata di Jawa Barat dan Banten ada kecenderungan berkurang, dari 2.596 mm pada 1901-1930 menjadi 2.215 mm pada 1973-2002. Secara spasial, daerah yang mengalami penurunan curah hujan terutama di daerah Jawa Barat bagian selatan. Banyak faktor yang berpengaruh, selain faktor lokal dan regional, sangat mungkin juga dipengaruhi faktor global. Secara global diyakini perubahan iklim telah terjadi akibat pemanasan global yang terkait peningkatan gas rumah kaca (terutama CO2) akibat aktivitas manusia. Suhu rata-rata global makin panas, naik sekitar 0,70 C dalam 50 tahun. Tampaknya kenaikannya kecil, tetapi diduga kuat berperan pada peningkatan tinggi permukaan air laut dan mencairnya es di kutub. Bila emisi CO2 dari industri, transportasi, dan aktivitas manusia lainnya terus bertambah, sedangkan hutan sebagai penyerap CO2 makin berkurang, bumi akan makin panas dan curah hujan juga berubah. Bila itu terjadi, Indonesia bagian utara cenderung akan makin tinggi curah hujannya, sedangkan Indonesia bagian selatan (termasuk Jawa) cenderung berkurang curah hujannya. Dengan suhu makin tinggi produksi padi dan jagung juga cenderung menurun, kecuali bila ditemukan bibit unggul baru. Mari berbuat Kecenderungan makin rusaknya bumi, baik dalam skala lokal maupun global, bukan sekadar wacana ilmiah. Perlu langkah konkret untuk mengatasinya. Langkah-langkahnya mulai dari lingkup global, nasional, regional, sampai lokal, bahkan personal. Kalau kita biarkan, potensi bencana mengancam kita, manusia saat ini maupun generasi anak-anak kita. Di tingkat global telah diupayakan perjanjian-perjanjian internasional untuk penyelamatan bumi. Misalnya, Protokol Montreal untuk perlindungan lapisan ozon dan Protokol Kyoto untuk pengendalian pemanasan global walau masih ada kendala pelaksanaannya. Di tingkat nasional perlu terus diupayakan adanya peraturan perundangan yang menjamin kelestarian hutan, tata guna lahan yang ramah lingkungan, pengendalian pencemaran, dan segala aspek lainnya yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan demi penyelamatan bumi dan kehidupannya. Menjelang Hari Bumi 22 April ada berita menggembirakan dengan disahkannya Undang-Undang tentang Pengelolaan Sampah. Beberapa aspek mendasar serta strategis yang ditekankan dalam UU ini antara lain adanya kewajiban pengelola kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, tempat umum, tempat sosial juga bagi tempat-tempat lainnya untuk menyediakan fasilitas pemilahan sampah. Ada juga larangan bagi masyarakat membuang sampah tidak pada tempatnya atau membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah. Pembuat kebijakan tentu berperan pada langkah-langkah strategis pada lingkup global, nasional, dan lokal kota/kabupaten. Akan tetapi, aksi penyelamatan bumi bisa juga pada lingkup personal. Setidaknya perilaku individual itu dapat mengurangi kerusakan lingkungan secara langsung atau tidak langsung dari perubahan perilaku masyarakat secara kolektif. Perubahan perilaku individu dan masyarakat terkait dengan sampah sangat penting ditekankan. Sikap egois dan tidak peka terhadap masalah lingkungan masih sering dijumpai sehingga seenaknya membuang sampah di mana saja. Perilaku untuk memilah sampah dalam konteks 3R (reduce, reuse, recycle atau kurangi, pakai ulang, daur ulang) perlu terus diupayakan. Pemilahan mulai tingkat rumah tangga bukanlah hal yang rumit bila dibiasakan. Menyediakan tiga tempat sampah di rumah dapat mengurangi masalah sampah. Sampah organik bisa sekadar ditimbun di halaman dengan lubang bergilir untuk menyuburkan tanah. Sampah yang bisa didaur ulang (misalnya kertas, karton, dan botol) bisa diserahkan kepada pemulung atau pengumpul sampah daur ulang. Tempat sampah ketiga untuk sampah lainnya. Dengan pembiasaan kita pasti bisa berdisiplin agar saluran air tak tersumbat sampah dan gunung sampah tak pernah terjadi lagi. Tanam dan pelihara pohon harus diintensifkan untuk mengurangi dampak pemanasan karena efek gas rumah kaca lokal maupun global. Pohon akan menyerap CO2 di udara untuk diubah menjadi batang, daun, dan buah. Dengan berkurangnya CO2, udara panas dari permukaan bumi dapat langsung dilepaskan ke angkasa tanpa hambatan. Semakin besar dan semakin banyak pohon dipelihara, semakin baik pengurangan pemanasan kota dan global. Namun, dalam skala kecil pun, tanaman dalam pot yang ditempatkan di dalam dan sekitar rumah dan gedung perkantoran dapat menciptakan efek pendinginan selain menambah unsur keindahan. Penghematan listrik bukan hanya faktor ekonomi, melainkan juga faktor penting dalam penyelamatan lingkungan bumi. Saat ini pembangkit listrik banyak yang bergantung pada bahan bakar minyak dan batu bara. Pembakaran bahan bakar minyak dan batu bara berpotensi memperbanyak emisi CO2 yang menambah pemanasan bumi. Pada lingkup individu, kita bisa berbuat dengan menggunakan listrik secara bijak. Lampu dan AC hanya digunakan bila diperlukan. Gunakan sebanyak mungkin cahaya alami dan upayakan sistem pendinginan sirkulasi udara alami. Di perkantoran selain mengupayakan penanaman pohon, pemilahan sampah, dan penghematan listrik, upaya penyelamatan bumi bisa dengan penghematan penggunaan kertas. Secara umum, semakin banyak kertas digunakan akan semakin banyak pohon ditebang sebagai bahan baku kertas. Jadi jika tidak diperlukan, jangan membuat cetakan dokumen. Gunakan transfer informasi tertulis secara digital. Contoh-contoh itu hanyalah sebagian kecil langkah yang bisa kita lakukan dalam menyelamatkan planet bumi. Bencana atau ketidaknyamanan yang kita alami dan saksikan akibat kerusakan lingkungan bumi tentunya tidak kita inginkan makin parah. Kasih sayang kita pada anak-anak harus kita wujudkan dengan mewariskan lingkungan bumi yang lebih baik. Kota yang semakin hijau dan sejuk. Sungai yang semakin bersih dan tertata. Udara yang semakin segar dan langit semakin biru.*** Penulis, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, Lapan Bandung. April 11 Tujuh Langit bisa bermakna Langit ghaib dan bukan tujuh lapisTujuh LangitT.
Djamaluddin (LAPAN Bandung) Banyak orang di masa lalu—jauh sebelum Al-Qur'an diturunkan—percaya bahwa langit berlapis tujuh. Ini berkaitan dengan pengetahuan mereka tentang adanya tujuh benda langit utama dengan jarak yang berbeda-beda. Kesimpulan ini lahir dari pengamatan mereka atas gerakan benda-benda tersebut. Benda langit yang lebih cepat geraknya di langit dianggap lebih dekat jaraknya. Lalu mereka menggambarkan seolah-olah benda-benda tersebut berada pada lapisan langit yang berbeda-beda, mengelilingi Bumi yang berada di tengah-tengah. Di langit pertama ada Bulan, benda langit yang bergerak tercepat sehingga disimpulkan sebagai yang paling dekat. Langit ke dua ditempati Merkurius (Bintang Utarid). Venus (Bintang kejora) berada di langit ke tiga. Sedangkan matahari ada di langit ke empat. Di langit ke lima ada Mars (Bintang Marikh). Di langit ke enam ada Jupiter (Bintang Musytari). Langit ke tujuh ditempati Saturnus (Bintang Siarah/Zuhal). Inilah keyakinan lama yang menganggap Bumi sebagai pusat alam semesta. Orang-orang dahulu (khususnya Romawi dan Yunani) juga percaya bahwa ketujuh benda langit itu adalah dewa-dewa yang mempengaruhi kehidupan di Bumi. Pengaruhnya bergantian dari jam ke jam dengan urutan mulai dari yang terjauh (menurut pengetahuan mereka) yaitu Saturnus, sampai yang terdekat yakni Bulan. Pada jam 00.00, Saturnuslah yang dianggap berpengaruh pada kehidupan manusia. Karena itu, hari pertama disebut Saturday (hari Saturnus) dalam bahasa Inggris, atau Sabtu dalam bahasa Indonesia. Ternyata, jika kita menghitung mundur hari sampai tahun 1 Masehi, tanggal 1 Januari tahun 1 memang jatuh pada hari Sabtu. Bila diurut selama 24 jam, jam 00.00 berikutnya jatuh pada Matahari. Jadilah hari itu sebagai hari Matahari (Sunday). Setelah Sun’s day adalah Moon’s day (Monday). Hari berikutnya adalah Tiw’s day (Tuesday). Tiw adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Mars (dewa perang Romawi kuno). Berikutnya adalah Woden’s day (Wednesday). Woden adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Merkurius (dewa perdagangan Romawi kuno). Berikutnya lagi Thor’s day (Thursday). Thor adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Jupiter (dewa petir, raja para dewa Romawi). Terakhir adalah Freyja’s day (Friday). Freyja adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewi Venus (dewi kecantikan Romawi kuno). Jumlah hari yang ada tujuh itu dipakai juga oleh orang-orang Arab. Dalam bahasa Arab nama-nama hari disebut berdasarkan urutan: satu, dua, tiga, ..., sampai tujuh, yakni ahad, itsnain, tsalatsah, arba'ah, khamsah, sittah, dan sab'ah. Bahasa Indonesia mengikuti penamaan Arab ini sehingga menjadi Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at, dan Sabtu. Hari ke enam disebut secara khusus: Jum'at, sebab itulah penamaan yang diberikan Allah di dalam Al-Qur'an, yang menunjukkan adanya kewajiban shalat Jum'at berjamaah. Penamaan Minggu berasal dari bahasa Portugis, Dominggo yang berarti hari Tuhan. Ini berdasarkan kepercayaan Kristen bahwa pada hari itu Yesus bangkit. Tetapi orang Islam tidak mempercayai hal itu, sehingga lebih menyukai pemakaian "Ahad" daripada "Minggu". Tujuh langit dalam Isra’ & Mi’rajPemahaman tentang istilah ”tujuh langit” sebagai tujuh lapis langit dalam Islam, mungkin bukan sekadar pengaruh konsep geosentris lama, tetapi juga diambil dari kisah mi’raj Rasulullah SAW. Mi’raj adalah perjalanan dari Masjid Aqsha ke sidratul muntaha yang secara harfiah berarti 'tumbuhan sidrah yang tak terlampaui', suatu perlambang batas yang tak ada manusia atau makhluk lain yang bisa memahaminya lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur'an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan seperti sidratul muntaha itu. Secara sekilas kisah mi’raj di dalam hadits shahih sebagai berikut. Mula-mula Rasulullah SAW memasuki langit dunia. Di sana Beliau menjumpai Nabi Adam yang dikanannya berjejer ruh para ahli surga dan di kirinya ruh para ahli neraka. Perjalanan kemudian Beliau teruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya Baitul Ma'mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi. Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam ('pena'). Dari sana dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (batin) di surga, dan dua sungai fisik (dhahir) di dunia: Sungai Eufrat di Irak dan Sungai Nil di Mesir. Jibril juga mengajak Rasulullah SAW melihat surga yang indah. Hal ini dijelaskan pula dalam Al-Qur'an Surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya. Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib. Lapisan Langit: Dhahir atau Bathin?Langit (samaa' atau samawat di dalam Al-Qur'an) secara astronomis berarti segala sesuatu yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu, dan gas yang bertebaran. Lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit, sama sekali tidak dikenal dalam astronomi. Ada yang berpendapat bahwa langit itu memang berlapis-lapis dengan berdalil pada QS Al-Mulk:3 dan Nuh:15 yang menyebutkan sab'a samaawaatin thibaqaa. Tafsir Depag mengartikan kalimat itu sebagai "tujuh langit berlapis-lapis" atau "tujuh langit bertingkat-tingkat". Walaupun demikian, ini tidak berarti langit memang berlapis tujuh. Makna thibaqaa, bukan berarti berlapis-lapis seperti kulit bawang, tetapi dapat bermakna ”bertingkat-tingkat, bertumpuk, satu di atas yang lain.” Pengertian ini berdasarkan tafsir/terjemah Yusuf Ali, A. Hassan, Hasbi Ash-Shidiq, dll. "Bertingkat-tingkat" berarti jaraknya berbeda-beda. Walaupun kita melihat benda-benda langit seperti menempel pada bola langit, sesungguhnya jaraknya tidak sama. Rasi-rasi bintang yang dilukiskan mirip kalajengking, mirip layang-layang, dan sebagainya sebenarnya jaraknya berjauhan, tidak sebidang seperti titik-titik pada gambar di kertas. Lalu apa makna ”tujuh langit” bila bukan berarti tujuh lapis langit? Di dalam Al-Qur'an ungkapan ”tujuh” atau ”tujuh puluh” sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung banyaknya. Dalam matematika kita mengenal istilah "tak berhingga" yang berarti bilangan yang sedemikian besarnya, yang jauh lebih besar dari yang kita bayangkan. Kira-kira seperti itu pula makna ungkapan "tujuh" dalam beberapa ayat Al-Qur'an. Misalnya, di dalam Q.S. Luqman:27 diungkapkan, ”Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah.” Istilah ”tujuh lautan” bukanlah menunjukkan jumlah eksak, sebab dengan delapan lautan lagi atau lebih kalimat Allah tak akan ada habisnya. Sama halnya dalam Q.S. At-Taubah:80: "...Walaupun kamu mohonkan ampun bagi mereka (kaum munafik) tujuh puluh kali, Allah tidak akan memberi ampun...." Jelas, ungkapan "tujuh puluh" bukan berarti bilangan eksak. Allah tidak mungkin mengampuni mereka meski kita mohonkan ampunan lebih dari tujuh puluh kali. Jadi, ”tujuh langit” semestinya dipahami pula sebagai benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit. Bagaimana dengan makna langit pertama, ke dua, sampai ke tujuh dalam kisah mi’raj Rasulullah SAW? Muhammad Al-Banna dari Mesir menyatakan bahwa beberapa ahli tafsir berpendapat Sidratul Muntaha itu adalah Bintang Syi'ra, yang berarti menafsirkan tujuh langit dalam makna fisik. Tetapi sebagian lainnya, seperti Muhammad Rasyid Ridha (juga dari Mesir), berpendapat bahwa tujuh langit dalam kisah Isra’ & Mi’raj adalah langit gaib. Dalam kisah mi’raj, peristiwa fisik bercampur dengan peristiwa gaib. Misalnya pertemuan dengan ruh para Nabi, melihat dua sungai di surga dan dua sungai di bumi, serta melihat Baitul Ma’mur, tempat ibadah para malaikat. Jadi, saya sependapat dengan Muhammad Rasyid Ridha bahwa pengertian langit dalam kisah mi’raj itu memang bukan langit fisik yang berisi bintang-bintang, tetapi langit gaib.
March 03 Belajar pada Thawafnya Alam SemestaJanji Hakiki T. Djamaluddin Dimuat Hikmah Republika, 23 Maret 2000
Dia (Allah) berkata kepada langit dan bumi, "Datanglah kalian dengan taat atau terpaksa". Keduanya menjawab, "Kami datang dengan taat". (QS 41:11) Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi (QS 7:172) Setelah Allah menciptakan alam semesta dan manusia, kemudian Allah ‘melantiknya’ dengan mengambil janji. Langkah ini pula yang kita tiru ketika kita menetapkan seseorang menjadi pejabat pemegang amanat. Maksudnya, tentu agar setiap langkah dan tindakannya tidak lepas dari janji yang pernah diucapkannya. Langit dan bumi adalah makluk fisik yang tidak berjiwa, tidak mempunyai kemampuan berkreasi. Mereka mengerjakan sebatas ‘program’ yang telah ditetapkan penciptanya, tidak ada kemampuan lebih dari itu. Karenanya ketika amanat diberikan Allah mereka menolaknya. Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (QS 33:72). Bukti ketaatan langit dan bumi mudah dilihat dari gerakan mengitari pusat massanya. Gunung-gunung mengitari pusat bumi. Bulan mengitari bumi. Bumi dan planet-planet mengitari matahari. Matahari dan ratusan milyar bintang mengitari pusat galaksi. Dalam bahasa fisika, gerakan benda-benda langit akibat gaya gravitasi. Dalam bahasa Alquran, gerakan itu bukti ketaatan kepada Khaliq-nya, tanpa tawar-menawar sesuai janjinya. Jasad manusia pun benda fisik yang tidak berbeda dengan alam. Unsur kimiawinya yang didominasi karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen juga terdapat di alam.Gerakannya pun mengikuti hukum yang berlaku di alam. Bila terpeleset akan jatuh ke bawah, sama seperti jatuhnya batu. Bila mati akan terurai bersatu kembali dengan tanah. Secara jasmaniah, manusia memang sudah terikat dengan janji ketika langit dan bumi tercipta. Namun manusia bukan sekadar jasmani, tetapi ada bagian ruhani yang menjadi ciri dasar kemuliaan dan kelebihan manusia dibandingkan makhluk lainnya (QS 17:70). Manusia dipercaya sebagai khalifah di bumi dan diberi pengajaran yang tidak diberikan kepada malaikat (QS 2:30-31), hingga malaikat pun diperintahkan Allah untuk bersujud. Allah memang menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS 95:4). Namun keistimewaan itu bersyarat, bila sejumlah keterbatasannya dapat dikendalikan agar tidak mendominasi. Manusia punya kecenderungan tidak sabar, banyak berkeluh kesah, dan kikir (QS 70:19). Manusia juga lemah (QS 4:28) dan bersifat tergesa-gesa (QS 17:11). Kelemahan-kelemahan seperti itu terkait dengan catatan Allah bahwa manusia itu zalim dan bodoh, walaupun sanggup memegang amanat yang berat. Dengan segala potensi keunggulan dan kelemahannnya
itu manusia pun bisa jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya bila tidak
disertai iman dan amal shalih (QS 95:5). Memelihara amanat dan janji adalah
salah satu kunci mengatasi kelemahan manusia (QS 70:32) dan menjadi ciri
keimanan (QS 23:8). Thawaf saat berhaji yang menirukan gerakan langit dan bumi mengingatkan akan janji hakiki saat awal makhluk diciptakan-Nya. Setidaknya kita semua diingatkan dengan bacaan Al-Fatihah setiap rakaat shalat akan janji hakiki pengakuan keberadaan Allah. Memegang janji yang hakiki itu menjadi dasar untuk menjaga janji dan amanat yang lebih luas.
February 01 Sensor Manusiawi Bernama QalbuTertutupnya Qalbu (Dimuat Hikmah, Republika, 15 Feb 2000) T. Djamaluddin Upaya mendapatkan cahaya (petunjuk) Allah memang ibarat astronom yang berupaya menangkap cahaya alam dengan sistem teleskop besar yang sangat peka, manusia pun harus menggunakan kalbu (qalbu) yang sangat peka. Kalbu manusia memang merupakan detektor yang sangat peka. Namun sering kali kepekaannya bisa berkurang atau bahkan menghilang ketika kalbu itu mulai tertutup debu-debu dosa dan tak ada upaya membersihkannya. Perilaku kalbu itu pun memang mirip dengan fungsi teleskop dan detektornya. Bayangkan astronom yang bekerja dengan teleskopnya menangkap cahaya alam. Malam cerah tak berawan, cahaya bintang begitu cemerlang menembus teleskop dan direkam detektor kamera CCD. Berpuluh megabite data dapat terekam semalaman siap untuk diolah. Namun upaya itu percuma ketika analisis citra menunjukkan adanya "ghost image", gambar aneh yang merusakkan kecemerlangan cahaya bintang. Ternyata detektor peka itu terselubung titik-titik embun. Walaupun sekadar embun tipis, hal itu cukup untuk menghilangkan makna cahaya bintang. Apalagi bila debu tebal yang menutupinya, pasti cahaya tak mungkin masuk. Kalbu pun demikian, bila debu-debu dosa menyelimutinya, kepekaannya makin hilang. Jangankan berfungsi sebagai detektor yang bisa membimbing manusia, untuk sekadar menangkap cahaya Allah pun mustahil. Padahal kalbu berfungsi sebagai detektor pembeda yang baik dan yang buruk. Rasulullah SAW telah berpesan, "Mintalah fatwa pada kalbumu; kebajikan adalah segala yang menentramkan jiwa dan kalbu sedangkan dosa adalah segala yang meragukan dalam jiwa dan hati, walaupun orang lain membenarkannya" (HR Ahmad & Addarimi). Kemunafikan dapat menutup kalbu (QS 63:3), apalagi kekafiran (QS 2:7, 2:88). Kalbunya tidak dapat dibersihkan lagi (5:41). Bahkan kalbunya menjadi sangat keras, tanpa celah yang dapat ditembus (QS 2:74). Kalbu yang demikian sama sekali tak dapat lagi menerima cahaya Allah, termasuk cahaya Alquran (QS 6:25). Dan sesungguhnya Kami jadikan (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai kalbu, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS 7:179). Walau pun mata dan telinga berfungsi juga sebagai detektor fisis, tetapi dalam hal menangkap cahaya Allah kalbu lah yang paling berperan. Pokok pangkal kesesatan itu bukan karena butanya mata atau tulinya telinga, tetapi karena tidak berfungsinya kalbu (QS 22:46). Kalbu yang tidak berfungsi baik, karena telah tertutup atau mengeras, cenderung membentuk perilaku manipulatif. Korupsi, kolusi, dan segala ketidakadilan bersumber dari tidak berfungsinya kalbu. Pembenaran atas segala tindakan dosa selalu dilakukannya, termasuk bila memungkinkan menggunakan ayat-ayat yang tak tegas maknanya (mutasyabihat) (QS 3:7). Hanya dengan iman dan dzikir kalbu dapat dipelihara kepekaannya (QS 64:11) dan menjadi tentram (QS 13:28) hingga mampu bergetar setiap cahaya Allah menyentuhnya (QS 8:2). January 01 IstiqamahJalan Lurus (Dimuat Hikmah, Republika, 20 Apr 2000)
T. Djamaluddin
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada ketakutan bagi mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS 46:13). Fenomena fisika, bagian dari sunnatullah, bisa menjadi teladan yang baik bagi manusia. Contohnya laser, yang kini mulai banyak dikenal, mulai dari pertunjukan sinar laser sampai pointer mungil yang dijual di kaki lima. Laser (light amplification by stimulated emission of radiation) adalah penguatan cahaya dengan pancaran radiasi yang distimulasi. Di alam kita kenal maser (microwave amplification by stimulated emission of radiation), penguatan gelombang mikro dengan pancaran radiasi yang distimulasi, yang dipancarkan oleh awan antarbintang. Garis kehidupan seorang Muslim idealnya ibarat mengikuti garis penjalaran sinar laser yang lurus tersebut. Titik awalnya adalah niat yang ikhlas dan titik sasarannya adalah mardlatillah, keridlaan Allah. Proses di titik awal amat menentukan sampai tidaknya sinar mencapai sasaran yang dituju. Niat yang lemah bisa menyebabkan tidak sampainya pada tujuan. Sedikit saja hambatan yang dihadapi, sasaran tidak tercapai. Pada laser atau maser, cahaya atau gelombang mikro itu diproses dan diperkuat sehingga dapat terpancar sangat kuat, lurus tidak menyebar, dan dapat menempuh jarak yang sangat jauh. Seperti itu pula hendaknya niat diproses dan diperkuat agar tetap lurus dalam bertindak dan mampu menembus hambatan-hambatan yang dihadapi. Untuk mendapatkan penguatan tersebut, ada proses pemompaan energi pada titik awal tersebut. Pada perangkat laser, pemompaan energi dilakukan dengan penyinaran atau pemberian medan listrik. Pada fenomena maser dari awan antarbintang, pemompaan energi dilakukan oleh radiasi inframerah dari bintang-bintang di dekatnya.. Pada diri manusia "pemompaan energi" untuk penguatan niat dilakukan dengan tempaan iman dan doa yang terus menerus. Allah menyerukan, "Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS 3:139). Rasullullah SAW berpesan, "Doa itu senjatanya orang mu'min" (HR Hakim dan Abu Ya'la) Jalan mencapai tujuan mardlatillah tentu tidak mulus. Ada saja hambatan dan godaan. Sedangkan manusia tidak luput dari kelalaian dan dosa. Kemalasan menyebabkan amal terhenti. Riya (pamer) dan bangga diri menghanguskan nilai amal. Penyelewengan menyeret kita keluar dari jalur yang lurus. Tetapi, Allah memberikan mekanisme untuk meluruskan kembali perjalanan kita: segera ingat Allah dan mohon ampunan (QS 3:135). Hal yang terpenting adalah menjaga konsistensi diri, beristiqamah (QS 46:13), setelah memantapkan iman berbekal doa (QS 3:8) yang memperkuati niat. Istiqamah memang mudah diucapkan, tetapi berat melaksanakannya. Idealisme yang bergelora pada masa muda atau semasa mahasiswa, kerap tak bisa dipertahankan ketika berhadapan dengan realitas dalam perjuangan profesi sesungguhnya. Tuntutan keluarga, silaunya iming-iming harta, dorongan mendapatkan dan mempertahankan jabatan, serta upaya meningkatkan status sosial tidak jarang menggoyah jiwa. Awalnya menggunakan pembenaran-pembenaran, selanjutnya hilang rasa malu. Sebelum
tersesat jauh, luruskan kembali perjalanan hidup kita. Memang beristiqamah
terasa pahit secara lahiriyah, tetapi tentram secara batiniyah.
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|