<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><?xml-stylesheet type='text/xsl' href='http://t-djamaluddin.spaces.live.com/mmm2008-04-25_07.02/rsspretty.aspx?rssquery=en-US;http%3a%2f%2ft-djamaluddin.spaces.live.com%2ffeed.rss' version='1.0'?><rss version="2.0" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:msn="http://schemas.microsoft.com/msn/spaces/2005/rss" xmlns:live="http://schemas.microsoft.com/live/spaces/2006/rss" xmlns:dcterms="http://purl.org/dc/terms/" xmlns:cf="http://www.microsoft.com/schemas/rss/core/2005" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"><channel><title>Dokumentasi T. Djamaluddin</title><description>Arsip lama bisa juga dilihat di http://media.isnet.org/isnet/Djamal/index.html   *************  Bila ingin kontak, silakan e-mail ************************* t_djamal@bdg.lapan.go.id; t_djamal@hotmail.com</description><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/</link><language>en-US</language><pubDate>Sun, 27 Apr 2008 05:14:53 GMT</pubDate><lastBuildDate>Sun, 27 Apr 2008 05:14:53 GMT</lastBuildDate><generator>Microsoft Spaces v1.1</generator><docs>http://www.rssboard.org/rss-specification</docs><ttl>60</ttl><live:identity><live:id>-3235950824713060393</live:id><live:alias>t-djamaluddin</live:alias></live:identity><image><title>Dokumentasi T. Djamaluddin</title><url>http://byfiles.storage.live.com/y1pXVuLJ-iAarP65tHvjFG8ng8eXAMSNrS9fXbytdi1YsxEYzx5juqr4BUajeQ_qaZ9wTRBk7Tjh_o</url><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/</link></image><cf:listinfo><cf:group ns="http://schemas.microsoft.com/live/spaces/2006/rss" element="typelabel" label="Type" /><cf:group ns="http://schemas.microsoft.com/live/spaces/2006/rss" element="tag" label="Tag" /><cf:group element="category" label="Category" /><cf:sort element="pubDate" label="Date" data-type="date" default="true" /><cf:sort element="title" label="Title" data-type="string" /><cf:sort ns="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" element="comments" label="Comments" data-type="number" /></cf:listinfo><item><title>Selamatkan Bumi</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!280.entry</link><description>&lt;h1&gt;Bumi dan Peran Kita&lt;/h1&gt;(Dimuat Pikiran Rakyat 22 April 2008)&lt;br&gt;http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&amp;amp;id=19831&lt;br&gt;&lt;br&gt;
				&lt;font size=2&gt;
&lt;/font&gt;&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Oleh T. Djamaluddin&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;BANJIR kini telah menjadi hal yang
hampir selalu terjadi setiap hujan dalam skala kecil maupun besar.
Walau kecil, banjir cileuncang telah menyusahkan banyak orang,
setidaknya memacetkan lalu lintas dan menyusahkan penghuni di
sekitarnya. Jalan dan gang banyak yang berubah menjadi sungai deras
saat hujan lebat. Kadang kita menyalahkan pihak lain, tanpa mau
menyadari bahwa bisa jadi kitalah salah satu pihak yang menyebabkannya.
Sampah yang kita buang sembarang telah menyumbat saluran air dan
resapan di halaman kita telah tertutup lapisan semen.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Kota juga semakin terasa panas dan
pengap. Kicau burung semakin langka. Pendingin udara semakin menjadi
kebutuhan vital di kota-kota besar. Lagi-lagi kita sering menyalahkan
pihak lain sebagai penyebabnya, tanpa mau menyadari bahwa bisa jadi
kita salah satu penyebabnya. Pohon sering dianggap pengganggu sehingga
dibiarkan mati di pinggir jalan atau ditebang saat membangun rumah,
tanpa menggantikannya. Halaman rumah dibiarkan gersang sekadar karena
alasan lahan sempit dan sibuk.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Sering kita berpikir terlalu global
dan mengabaikan hal kecil yang ada di sekitar kita. Padahal, kita bisa
berbuat banyak sesuai peran masing-masing untuk menyelamatkan
lingkungan bumi kita. Ketika sampah menggunung, kita hanya berharap
pemerintah yang menyelesaikan, padahal kita bisa juga membantu
menyelesaikannya, setidaknya dengan mengurangi sampah yang dibuang.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Tiga contoh kecil itu sekadar pembuka
kesadaran pentingnya kepedulian kita pada lingkungan untuk tujuan yang
lebih besar, penyelamatan planet bumi. Bukan untuk kepentingan planet
bumi tentunya, melainkan untuk kita sendiri dan anak-anak kita. &lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Setidaknya, peringatan Hari Bumi 22
April dan pencanangan Tahun Internasional Planet Bumi sebagai momentum
yang tepat untuk kembali merenungkan posisi kita masing-masing. Tidak
sekadar berharap pihak lain yang berbuat untuk kita, tetapi kembalikan
tanyakan apa yang bisa kita perbuat.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Menyelamatkan bumi&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Hari Bumi 22 April diperingati oleh
banyak negara untuk mengingatkan pentingnya penyelamatan bumi. Ini
diawali dengan keprihatinan makin meluasnya kerusakan lingkungan di
Amerika Serikat. Kemudian, aktivis lingkungan, Senator Gaylord Nelson,
menggalang Hari Bumi di Amerika Serikat pada 22 April 1970 yang diikuti
lebih dari 20 juta orang. Siswa SD sampai mahasiswa serta masyarakat
umum bersatu dalam demonstrasi menuntut pembenahan lingkungan. Gerakan
berhasil membangun kesadaran masyarakat dan mendobrak tradisi proses
politik yang terkait dengan penyelamatan lingkungan.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Hasilnya luar biasa. Banyak
undang-undang tentang lingkungan hidup kemudian berhasil dikeluarkan.
Badan perlindungan lingkungan AS didirikan. Keberhasilan itu kemudian
diikuti oleh banyak negara.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Hari Bumi 2008 punya arti lebih
penting karena tahun 2008 telah dicanangkan oleh Majelis Umum PBB
(Perserikatan Bangsa-Bangsa) sebagai Tahun Internasional Planet Bumi.
Dengan pencanangan itu diharapkan adanya upaya peningkatan kesadaran
akan peran ilmu-ilmu kebumian dalam mencapai pembangunan berkelanjutan
dan mendukung langkah-langkah lokal, nasional, regional, dan
internasional. &lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Bumi makin rusak&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Secara kasat mata kita merasakan
betapa bumi kita makin rusak. Sekadar contoh, hasil-hasil kajian
peneliti di Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, Lapan (Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional) memberikan gambaran kerusakan yang
perlu diwaspadai semua pihak. Pemerintah, lembaga legislatif, dan
masyarakat perlu merenungkannya untuk mengambil langkah yang tepat.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Kajian perubahan suhu di Jakarta
menunjukkan bahwa dalam 100 tahun (tahun 1901-2002) suhu cenderung
terus naik. Pada awal 1900-an suhu rata-rata di Jakarta sekitar 260 C,
pada awal 2000-an mencapai sekitar 280 C. Penelitian lebih rinci dengan
data satelit di beberapa kota besar menunjukkan kecenderungan pemanasan
kota yang disebut urban heat island (pulau panas perkotaan). Disebut
pulau panas karena pemanasan hanya bersifat lokal di tengah kota dengan
daerah sekitarnya relatif lebih dingin. Pemanasan kota lebih disebabkan
berkurangnya tanaman dan bertambahnya bangunan serta jalan beraspal.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Di Bandung, daerah panas dengan suhu
tinggi 30-350 C yang umumnya terletak di sekitar pusat kota bertambah
dengan laju per tahun 4,47% atau kira-kira 12.606 ha. Laju
pertambahannya di Semarang 8,4% (12.174 ha) dan di Surabaya 4,8% (1.512
ha). Hal ini terkait dengan laju pertumbuhan per tahun kawasan
terbangun di Bandung 0,36% (1.029 ha), di Semarang 0,83% (1.200 ha),
dan di Surabaya 1,69% (531 ha).&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Perkembangan pembangunan yang
berdampak pada peningkatan polusi udara juga berpotensi meningkatkan
keasaman air hujan. Fenomena hujan asam perlu diwaspadai karena terkait
dengan potensi kerusakan pada bangunan dan usaha pertanian. Pengukuran
keasaman hujan asam di Bandung mulai memberi sinyal lampu kuning. Sejak
1996 air hujan di Bandung cenderung berada di bawah batas keasaman dan
mulai mengindikasikan fenomena hujan asam. Bahkan, pada tahun 1999-2000
mencapai batas terendah dengan keasaman (pH) sekitar 4 yang mungkin
juga sebagian disebabkan oleh sumber-sumber dari gunung berapi. Sulfur
dioksida dan nitrogen dioksida dari polusi udara dari kendaraan
bermotor dan industri menjadi faktor yang perlu diwaspadai dari
fenomena hujan asam.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Curah hujan rata-rata di Jawa Barat
dan Banten ada kecenderungan berkurang, dari 2.596 mm pada 1901-1930
menjadi 2.215 mm pada 1973-2002. Secara spasial, daerah yang mengalami
penurunan curah hujan terutama di daerah Jawa Barat bagian selatan.
Banyak faktor yang berpengaruh, selain faktor lokal dan regional,
sangat mungkin juga dipengaruhi faktor global.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Secara global diyakini perubahan
iklim telah terjadi akibat pemanasan global yang terkait peningkatan
gas rumah kaca (terutama CO2) akibat aktivitas manusia. Suhu rata-rata
global makin panas, naik sekitar 0,70 C dalam 50 tahun. Tampaknya
kenaikannya kecil, tetapi diduga kuat berperan pada peningkatan tinggi
permukaan air laut dan mencairnya es di kutub. Bila emisi CO2 dari
industri, transportasi, dan aktivitas manusia lainnya terus bertambah,
sedangkan hutan sebagai penyerap CO2 makin berkurang, bumi akan makin
panas dan curah hujan juga berubah. &lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Bila itu terjadi, Indonesia bagian
utara cenderung akan makin tinggi curah hujannya, sedangkan Indonesia
bagian selatan (termasuk Jawa) cenderung berkurang curah hujannya.
Dengan suhu makin tinggi produksi padi dan jagung juga cenderung
menurun, kecuali bila ditemukan bibit unggul baru.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Mari berbuat&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Kecenderungan makin rusaknya bumi,
baik dalam skala lokal maupun global, bukan sekadar wacana ilmiah.
Perlu langkah konkret untuk mengatasinya. Langkah-langkahnya mulai dari
lingkup global, nasional, regional, sampai lokal, bahkan personal.
Kalau kita biarkan, potensi bencana mengancam kita, manusia saat ini
maupun generasi anak-anak kita.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Di tingkat global telah diupayakan
perjanjian-perjanjian internasional untuk penyelamatan bumi. Misalnya,
Protokol Montreal untuk perlindungan lapisan ozon dan Protokol Kyoto
untuk pengendalian pemanasan global walau masih ada kendala
pelaksanaannya. Di tingkat nasional perlu terus diupayakan adanya
peraturan perundangan yang menjamin kelestarian hutan, tata guna lahan
yang ramah lingkungan, pengendalian pencemaran, dan segala aspek
lainnya yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan demi
penyelamatan bumi dan kehidupannya.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Menjelang Hari Bumi 22 April ada
berita menggembirakan dengan disahkannya Undang-Undang tentang
Pengelolaan Sampah. Beberapa aspek mendasar serta strategis yang
ditekankan dalam UU ini antara lain adanya kewajiban pengelola kawasan
permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, tempat
umum, tempat sosial juga bagi tempat-tempat lainnya untuk menyediakan
fasilitas pemilahan sampah. Ada juga larangan bagi masyarakat membuang
sampah tidak pada tempatnya atau membakar sampah yang tidak sesuai
dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Pembuat kebijakan tentu berperan pada
langkah-langkah strategis pada lingkup global, nasional, dan lokal
kota/kabupaten. Akan tetapi, aksi penyelamatan bumi bisa juga pada
lingkup personal. Setidaknya perilaku individual itu dapat mengurangi
kerusakan lingkungan secara langsung atau tidak langsung dari perubahan
perilaku masyarakat secara kolektif.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Perubahan perilaku individu dan
masyarakat terkait dengan sampah sangat penting ditekankan. Sikap egois
dan tidak peka terhadap masalah lingkungan masih sering dijumpai
sehingga seenaknya membuang sampah di mana saja. Perilaku untuk memilah
sampah dalam konteks 3R (reduce, reuse, recycle atau kurangi, pakai
ulang, daur ulang) perlu terus diupayakan. Pemilahan mulai tingkat
rumah tangga bukanlah hal yang rumit bila dibiasakan. Menyediakan tiga
tempat sampah di rumah dapat mengurangi masalah sampah. Sampah organik
bisa sekadar ditimbun di halaman dengan lubang bergilir untuk
menyuburkan tanah. Sampah yang bisa didaur ulang (misalnya kertas,
karton, dan botol) bisa diserahkan kepada pemulung atau pengumpul
sampah daur ulang. Tempat sampah ketiga untuk sampah lainnya. Dengan
pembiasaan kita pasti bisa berdisiplin agar saluran air tak tersumbat
sampah dan gunung sampah tak pernah terjadi lagi.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Tanam dan pelihara pohon harus
diintensifkan untuk mengurangi dampak pemanasan karena efek gas rumah
kaca lokal maupun global. Pohon akan menyerap CO2 di udara untuk diubah
menjadi batang, daun, dan buah. Dengan berkurangnya CO2, udara panas
dari permukaan bumi dapat langsung dilepaskan ke angkasa tanpa
hambatan. Semakin besar dan semakin banyak pohon dipelihara, semakin
baik pengurangan pemanasan kota dan global. Namun, dalam skala kecil
pun, tanaman dalam pot yang ditempatkan di dalam dan sekitar rumah dan
gedung perkantoran dapat menciptakan efek pendinginan selain menambah
unsur keindahan.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Penghematan listrik bukan hanya
faktor ekonomi, melainkan juga faktor penting dalam penyelamatan
lingkungan bumi. Saat ini pembangkit listrik banyak yang bergantung
pada bahan bakar minyak dan batu bara. Pembakaran bahan bakar minyak
dan batu bara berpotensi memperbanyak emisi CO2 yang menambah pemanasan
bumi. Pada lingkup individu, kita bisa berbuat dengan menggunakan
listrik secara bijak. Lampu dan AC hanya digunakan bila diperlukan.
Gunakan sebanyak mungkin cahaya alami dan upayakan sistem pendinginan
sirkulasi udara alami.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Di perkantoran selain mengupayakan
penanaman pohon, pemilahan sampah, dan penghematan listrik, upaya
penyelamatan bumi bisa dengan penghematan penggunaan kertas. Secara
umum, semakin banyak kertas digunakan akan semakin banyak pohon
ditebang sebagai bahan baku kertas. Jadi jika tidak diperlukan, jangan
membuat cetakan dokumen. Gunakan transfer informasi tertulis secara
digital.&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Contoh-contoh itu hanyalah sebagian
kecil langkah yang bisa kita lakukan dalam menyelamatkan planet bumi.
Bencana atau ketidaknyamanan yang kita alami dan saksikan akibat
kerusakan lingkungan bumi tentunya tidak kita inginkan makin parah.
Kasih sayang kita pada anak-anak harus kita wujudkan dengan mewariskan
lingkungan bumi yang lebih baik. Kota yang semakin hijau dan sejuk.
Sungai yang semakin bersih dan tertata. Udara yang semakin segar dan
langit semakin biru.***&lt;/font&gt;
&lt;p align=justify&gt;&lt;font size=2&gt;Penulis, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, Lapan Bandung.&lt;/font&gt;&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Selamatkan+Bumi&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><category>Aneka Catatan</category><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!280.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!280.entry</guid><pubDate>Sun, 27 Apr 2008 05:14:53 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!280/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!280.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2008-04-27T05:14:53Z</dcterms:modified></item><item><title>Tujuh Langit bisa bermakna Langit ghaib dan bukan tujuh lapis</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!279.entry</link><description>

&lt;h2 style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;&lt;font size=6&gt;Tujuh Langit&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;T.
Djamaluddin (LAPAN Bandung)&lt;br&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;(Disarikan dari artikel T. Djamaluddin di PR 10/1/1995 dan &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;Dialog Jumat REPUBLIKA 12/11/99, diedit
dan dilengkapi oleh Salim Rusli sebagai bahan diskusi di Lembaga Pengkajian Islam
Masjid Salman ITB, Maret 2008)&lt;/span&gt;

&lt;p style="margin:6pt 0in;text-align:justify"&gt;Banyak orang di masa lalu—jauh sebelum
Al-Qur'an diturunkan—percaya bahwa langit berlapis tujuh. &lt;span style="" lang=SV&gt;Ini berkaitan dengan pengetahuan mereka tentang
adanya tujuh benda langit utama dengan jarak yang berbeda-beda. Kesimpulan ini
lahir dari pengamatan mereka atas gerakan benda-benda tersebut. Benda langit
yang lebih cepat geraknya di langit dianggap lebih dekat jaraknya. Lalu mereka
menggambarkan seolah-olah benda-benda tersebut berada pada lapisan langit yang
berbeda-beda, mengelilingi Bumi yang berada di tengah-tengah. &lt;/span&gt;

&lt;p style="margin:6pt 0in;text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;Di langit pertama ada Bulan, benda langit yang bergerak tercepat sehingga
disimpulkan sebagai yang paling dekat. Langit ke dua ditempati Merkurius
(Bintang Utarid). Venus (Bintang kejora) berada di langit ke tiga. Sedangkan
matahari ada di langit ke empat. Di langit ke lima ada Mars (Bintang Marikh).
Di langit ke enam ada Jupiter (Bintang Musytari). Langit ke tujuh ditempati
Saturnus (Bintang Siarah/Zuhal). Inilah keyakinan lama yang menganggap Bumi
sebagai pusat alam semesta.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;Orang-orang
dahulu (khususnya Romawi dan Yunani) juga percaya bahwa ketujuh benda langit
itu adalah dewa-dewa yang mempengaruhi kehidupan di Bumi. Pengaruhnya
bergantian dari jam ke jam dengan urutan mulai dari yang terjauh (menurut
pengetahuan mereka) yaitu Saturnus, sampai yang terdekat yakni Bulan. Pada jam
00.00, Saturnuslah yang dianggap berpengaruh pada kehidupan manusia. Karena
itu, hari pertama disebut Saturday (hari Saturnus) dalam bahasa Inggris, atau
Sabtu dalam bahasa Indonesia. Ternyata, jika kita menghitung mundur hari sampai
tahun 1 Masehi, tanggal 1 Januari tahun 1 memang jatuh pada hari Sabtu.&lt;/span&gt;

&lt;p style="margin:6pt 0in;text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;Bila diurut selama 24 jam, jam 00.00 berikutnya jatuh pada Matahari. &lt;/span&gt;Jadilah
hari itu sebagai hari Matahari (Sunday). S&lt;span style="" lang=IN&gt;etelah Sun’s day&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah Moon’s day
(Monday). Hari berikutnya adalah Tiw’s day (Tuesday). Tiw adalah nama
Anglo-Saxon untuk Dewa Mars (dewa perang Romawi kuno). Berikutnya adalah
Woden’s day (Wednesday). Woden adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Merkurius
(dewa perdagangan Romawi kuno). Berikutnya lagi Thor’s day (Thursday). Thor
adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Jupiter (dewa petir, raja para dewa Romawi).
Terakhir adalah Freyja’s day (Friday). Freyja adalah nama Anglo-Saxon untuk
Dewi Venus (dewi kecantikan Romawi kuno).&lt;span style=""&gt; 
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;

&lt;p style="margin:6pt 0in;text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;Jumlah hari yang ada tujuh itu dipakai juga oleh orang-orang Arab. Dalam
bahasa Arab nama-nama hari disebut berdasarkan urutan: satu, dua, tiga, ...,
sampai tujuh, yakni &lt;i&gt;ahad&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;itsnain&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;tsalatsah&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;arba'ah&lt;/i&gt;,
&lt;i&gt;khamsah&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;sittah&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;sab'ah&lt;/i&gt;. Bahasa Indonesia mengikuti
penamaan Arab ini sehingga menjadi Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at,
dan Sabtu. Hari ke enam disebut secara khusus: Jum'at, sebab itulah penamaan
yang diberikan Allah di dalam Al-Qur'an, yang menunjukkan adanya kewajiban
shalat Jum'at berjamaah. &lt;/span&gt;

&lt;p style="margin:6pt 0in;text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;Penamaan Minggu berasal dari bahasa Portugis, Dominggo yang berarti hari
Tuhan. Ini berdasarkan kepercayaan Kristen bahwa pada hari itu Yesus bangkit.
Tetapi orang Islam tidak mempercayai hal itu, sehingga lebih menyukai pemakaian
&amp;quot;Ahad&amp;quot; daripada &amp;quot;Minggu&amp;quot;. &lt;/span&gt;

&lt;h3 style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt" lang=SV&gt;Tujuh langit dalam &lt;i&gt;Isra’&lt;/i&gt; &amp;amp; &lt;i&gt;Mi’raj&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-weight:normal" lang=SV&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;

&lt;p style="margin:6pt 0in;text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;Pemahaman tentang istilah ”tujuh langit” sebagai tujuh lapis langit dalam
Islam, mungkin bukan sekadar pengaruh konsep geosentris lama, tetapi juga
diambil dari kisah &lt;i&gt;mi’raj&lt;/i&gt; Rasulullah SAW. &lt;i&gt;Mi’raj&lt;/i&gt; adalah
perjalanan dari Masjid Aqsha ke s&lt;i&gt;idratul muntaha&lt;/i&gt; yang secara harfiah
berarti 'tumbuhan &lt;i&gt;sidrah&lt;/i&gt; yang tak terlampaui', suatu perlambang batas
yang tak ada manusia atau makhluk lain yang bisa memahaminya lebih jauh lagi.
Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali
penjelasan dalam Al-Qur'an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan
seperti &lt;i&gt;sidratul muntaha&lt;/i&gt; itu.&lt;/span&gt;

&lt;p style="margin:6pt 0in;text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;Secara sekilas kisah &lt;i&gt;mi’raj&lt;/i&gt; di dalam hadits shahih sebagai berikut.
Mula-mula Rasulullah SAW memasuki langit dunia. Di sana Beliau menjumpai Nabi
Adam yang dikanannya berjejer ruh para ahli surga dan di kirinya ruh para ahli
neraka. Perjalanan kemudian Beliau teruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh.
Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. &lt;/span&gt;

&lt;p style="margin:6pt 0in;text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat.
Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit
ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya &lt;i&gt;Baitul
Ma'mur&lt;/i&gt;, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya
sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.&lt;/span&gt;

&lt;p style="margin:6pt 0in;text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;Perjalanan dilanjutkan ke &lt;i&gt;Sidratul Muntaha&lt;/i&gt;. Dari &lt;i&gt;Sidratul Muntaha&lt;/i&gt;
didengarnya kalam-kalam ('pena'). Dari sana dilihatnya pula empat sungai, dua
sungai non-fisik (&lt;i&gt;batin&lt;/i&gt;) di surga, dan dua sungai fisik (&lt;i&gt;dhahir&lt;/i&gt;)
di dunia: Sungai Eufrat di Irak dan Sungai Nil di Mesir. &lt;/span&gt;

&lt;p style="margin:6pt 0in;text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;Jibril juga mengajak Rasulullah SAW melihat surga yang indah. Hal ini
dijelaskan pula dalam Al-Qur'an Surat An-Najm. Di &lt;i&gt;Sidratul Muntaha&lt;/i&gt; itu
pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya. Puncak dari perjalanan itu
adalah diterimanya perintah shalat wajib. &lt;/span&gt;

&lt;h3&gt;&lt;span style="font-size:12pt" lang=SV&gt;Lapisan Langit:
Dhahir atau Bathin?&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;

&lt;p style="margin:6pt 0in;text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;Langit (&lt;i&gt;samaa'&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;samawat&lt;/i&gt; di dalam Al-Qur'an) secara
astronomis berarti segala sesuatu yang ada di atas kita, yang berarti pula
angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu, dan gas yang
bertebaran. Lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda
langit, sama sekali tidak dikenal dalam astronomi.&lt;/span&gt;

&lt;p style="margin:6pt 0in;text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;Ada yang berpendapat bahwa langit itu memang berlapis-lapis dengan berdalil
pada QS Al-Mulk:3 dan Nuh:15 yang menyebutkan &lt;i&gt;sab'a samaawaatin thibaqaa&lt;/i&gt;.
Tafsir Depag mengartikan kalimat itu sebagai &amp;quot;tujuh langit
berlapis-lapis&amp;quot; atau &amp;quot;tujuh langit bertingkat-tingkat&amp;quot;. Walaupun
demikian, ini tidak berarti langit memang berlapis tujuh. Makna &lt;i&gt;thibaqaa&lt;/i&gt;,
bukan berarti berlapis-lapis seperti kulit bawang, tetapi dapat bermakna
”bertingkat-tingkat, bertumpuk, satu di atas yang lain.” Pengertian ini
berdasarkan tafsir/terjemah Yusuf Ali, A. Hassan, Hasbi Ash-Shidiq, dll.&lt;/span&gt;

&lt;p style="margin:6pt 0in;text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;&amp;quot;Bertingkat-tingkat&amp;quot; berarti jaraknya berbeda-beda. Walaupun kita
melihat benda-benda langit seperti menempel pada bola langit, sesungguhnya
jaraknya tidak sama. Rasi-rasi bintang yang dilukiskan mirip kalajengking,
mirip layang-layang, dan sebagainya sebenarnya jaraknya berjauhan, tidak
sebidang seperti titik-titik pada gambar di kertas.&lt;/span&gt;

&lt;p style="margin:6pt 0in;text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;Lalu apa makna ”tujuh langit” bila bukan berarti tujuh lapis langit? Di
dalam Al-Qur'an ungkapan ”tujuh” atau ”tujuh puluh” sering mengacu pada jumlah
yang tak terhitung banyaknya. Dalam matematika kita mengenal istilah &amp;quot;tak
berhingga&amp;quot; yang berarti bilangan yang sedemikian besarnya, yang jauh lebih
besar dari yang kita bayangkan. Kira-kira seperti itu pula makna ungkapan
&amp;quot;tujuh&amp;quot; dalam beberapa ayat Al-Qur'an.&lt;/span&gt;

&lt;p style="margin:6pt 0in;text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;Misalnya, di dalam Q.S. Luqman:27 diungkapkan, ”Jika seandainya semua pohon
di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan
tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah.” Istilah ”tujuh lautan”
bukanlah menunjukkan jumlah eksak, sebab dengan delapan lautan lagi atau lebih
kalimat Allah tak akan ada habisnya.&lt;/span&gt;

&lt;p style="margin:6pt 0in;text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;Sama halnya dalam Q.S. At-Taubah:80: &amp;quot;...Walaupun kamu mohonkan ampun
bagi mereka (kaum munafik) tujuh puluh kali, Allah tidak akan memberi
ampun....&amp;quot; Jelas, ungkapan &amp;quot;tujuh puluh&amp;quot; bukan berarti bilangan
eksak. Allah tidak mungkin mengampuni mereka meski kita mohonkan ampunan lebih
dari tujuh puluh kali.&lt;/span&gt;

&lt;p style="margin:6pt 0in;text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;Jadi, ”tujuh langit” semestinya dipahami pula sebagai benda-benda langit
yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.&lt;/span&gt;

&lt;p style="margin:6pt 0in;text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;Bagaimana dengan makna langit pertama, ke dua, sampai ke tujuh dalam kisah &lt;i&gt;mi’raj&lt;/i&gt;
Rasulullah SAW? Muhammad Al-Banna dari Mesir menyatakan bahwa beberapa ahli
tafsir berpendapat &lt;i&gt;Sidratul Muntaha&lt;/i&gt; itu adalah Bintang Syi'ra, yang
berarti menafsirkan tujuh langit dalam makna fisik. Tetapi sebagian lainnya,
seperti Muhammad Rasyid Ridha (juga dari Mesir), berpendapat bahwa tujuh langit
dalam kisah &lt;i&gt;Isra’&lt;/i&gt; &amp;amp; &lt;i&gt;Mi’raj&lt;/i&gt; adalah langit gaib.&lt;/span&gt;

&lt;p style="margin:6pt 0in;text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;Dalam kisah &lt;i&gt;mi’raj&lt;/i&gt;, peristiwa fisik bercampur dengan peristiwa gaib.
Misalnya pertemuan dengan ruh para Nabi, melihat dua sungai di surga dan dua
sungai di bumi, serta melihat &lt;i&gt;Baitul Ma’mur&lt;/i&gt;, tempat ibadah para
malaikat. Jadi, saya sependapat dengan Muhammad Rasyid Ridha bahwa pengertian
langit dalam kisah &lt;i&gt;mi’raj&lt;/i&gt; itu memang bukan langit fisik yang berisi
bintang-bintang, tetapi langit gaib.&lt;/span&gt;

&lt;p style="margin:6pt 0in;text-align:justify"&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;&lt;/span&gt;

&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Tujuh+Langit+bisa+bermakna+Langit+ghaib+dan+bukan+tujuh+lapis&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!279.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!279.entry</guid><pubDate>Fri, 11 Apr 2008 10:17:05 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!279/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!279.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2008-04-11T10:17:05Z</dcterms:modified></item><item><title>Belajar pada Thawafnya Alam Semesta</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!261.entry</link><description>



&lt;p style="text-align:center;font-family:Times New Roman" align=center&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;font size=4&gt;Janji Hakiki&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;p style="text-align:center;font-family:Times New Roman" align=center&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;span style="letter-spacing:-0.15pt"&gt;T. Djamaluddin&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;p style="text-align:center;font-family:Times New Roman" align=center&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;span style="letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing:-0.15pt"&gt;Dimuat Hikmah &lt;/span&gt;Republika, 23 Maret 2000&lt;span style="letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;



&lt;p style="text-align:right;font-family:Times New Roman" align=right&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;&lt;/font&gt;

&lt;p style="text-align:justify;font-family:Times New Roman"&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;i style=""&gt;Dia
(Allah) berkata kepada langit dan bumi, &amp;quot;Datanglah kalian dengan taat atau
terpaksa&amp;quot;. Keduanya menjawab, &amp;quot;Kami datang dengan taat&amp;quot;. &lt;/i&gt;(QS 41:11)&lt;/font&gt;

&lt;p style="font-family:Times New Roman"&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;i style=""&gt;Dan (ingatlah),
ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak  Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap
jiwa mereka (seraya berfirman):
&amp;quot;Bukankah Aku ini Tuhanmu?&amp;quot; Mereka 
menjawab: &amp;quot;Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi (QS 7:172)&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;











&lt;p style="font-family:Times New Roman"&gt;&lt;font size=3&gt;Setelah Allah menciptakan alam
semesta dan manusia, kemudian Allah ‘melantiknya’ dengan mengambil janji.
Langkah ini pula yang kita tiru ketika kita menetapkan seseorang menjadi
pejabat pemegang amanat. Maksudnya, tentu agar setiap langkah dan tindakannya
tidak lepas dari janji yang pernah diucapkannya.&lt;/font&gt;&lt;p style="font-family:Times New Roman"&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;span style="font-size:12pt;letter-spacing:-0.15pt" lang=EN-GB&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Langit dan bumi adalah makluk fisik
yang tidak berjiwa, tidak mempunyai kemampuan berkreasi. Mereka mengerjakan
sebatas ‘program’ yang telah ditetapkan penciptanya, tidak ada kemampuan lebih
dari itu. Karenanya ketika amanat diberikan Allah mereka menolaknya. &lt;i style=""&gt;Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat
kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat
itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh
manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (QS 33:72).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;p style="font-family:Times New Roman"&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;span style="font-size:12pt;letter-spacing:-0.15pt" lang=EN-GB&gt;Bukti ketaatan
langit dan bumi mudah dilihat dari gerakan mengitari pusat massanya.
Gunung-gunung mengitari pusat bumi. Bulan mengitari bumi. Bumi dan planet-planet mengitari matahari. Matahari dan ratusan milyar bintang mengitari
pusat galaksi. Dalam bahasa fisika, gerakan benda-benda langit akibat gaya
gravitasi. Dalam bahasa Alquran, gerakan itu bukti ketaatan kepada &lt;i style=""&gt;Khaliq&lt;/i&gt;-nya, tanpa tawar-menawar sesuai
janjinya.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;p style="font-family:Times New Roman"&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;span style="font-size:12pt;letter-spacing:-0.15pt" lang=EN-GB&gt;Jasad manusia pun
benda fisik yang tidak berbeda dengan alam. Unsur kimiawinya yang didominasi karbon,
hidrogen, oksigen, dan nitrogen juga terdapat di alam.Gerakannya pun mengikuti
hukum yang berlaku di alam. Bila terpeleset akan jatuh ke bawah, sama seperti
jatuhnya batu. Bila mati akan terurai bersatu kembali dengan tanah. Secara
jasmaniah, manusia memang sudah terikat dengan janji ketika langit dan bumi
tercipta.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;p style="font-family:Times New Roman"&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;span style="font-size:12pt;letter-spacing:-0.15pt" lang=EN-GB&gt;Namun manusia bukan sekadar jasmani, tetapi ada bagian
ruhani yang menjadi ciri dasar kemuliaan dan kelebihan manusia dibandingkan
makhluk lainnya (QS 17:70). Manusia dipercaya sebagai khalifah di bumi dan
diberi pengajaran yang tidak diberikan kepada malaikat (QS 2:30-31), hingga
malaikat pun diperintahkan Allah untuk bersujud. Allah memang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt" lang=EN-GB&gt;menciptakan
manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS 95:4). Namun keistimewaan itu
bersyarat, bila&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sejumlah keterbatasannya dapat dikendalikan agar tidak mendominasi.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;p style="text-align:justify;font-family:Times New Roman"&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;span style="font-size:12pt" lang=EN-GB&gt;&lt;/span&gt;Manusia punya kecenderungan tidak sabar, banyak
berkeluh kesah, dan kikir (QS 70:19). Manusia juga lemah (QS 4:28) dan bersifat
tergesa-gesa (QS 17:11). Kelemahan-kelemahan seperti itu terkait dengan catatan
Allah bahwa manusia itu zalim dan bodoh, walaupun sanggup memegang amanat yang
berat.&lt;/font&gt;&lt;p style="text-align:justify;font-family:Times New Roman"&gt;&lt;font size=3&gt;Dengan segala potensi keunggulan dan kelemahannnya
itu manusia pun bisa jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya bila tidak
disertai iman dan amal shalih (QS 95:5). Memelihara amanat dan janji adalah
salah satu kunci mengatasi kelemahan manusia (QS 70:32) dan menjadi ciri
keimanan (QS 23:8).&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;p style="text-align:justify;font-family:Times New Roman"&gt;&lt;font size=3&gt;Thawaf saat berhaji yang menirukan
gerakan langit dan bumi mengingatkan akan janji hakiki saat awal makhluk
diciptakan-Nya. Setidaknya kita semua diingatkan dengan bacaan Al-Fatihah
setiap rakaat shalat akan janji hakiki pengakuan keberadaan Allah. Memegang
janji yang hakiki itu menjadi dasar untuk menjaga janji dan amanat yang lebih
luas.&lt;/font&gt;

&lt;p style="text-align:justify;font-family:Times New Roman"&gt;&lt;font size=3&gt; &lt;/font&gt;

 &lt;br&gt;&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Belajar+pada+Thawafnya+Alam+Semesta&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><category>Hikmah</category><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!261.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!261.entry</guid><pubDate>Mon, 03 Mar 2008 01:05:26 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!261/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!261.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2008-03-05T00:37:49Z</dcterms:modified></item><item><title>Sensor Manusiawi Bernama Qalbu</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!259.entry</link><description> &lt;div align=center&gt;Tertutupnya Qalbu&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=center&gt;(Dimuat Hikmah, Republika, 15 Feb 2000)&lt;br&gt;T. Djamaluddin&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;Upaya mendapatkan cahaya (petunjuk) Allah memang ibarat astronom yang berupaya menangkap cahaya alam dengan sistem teleskop besar yang sangat peka, manusia pun harus menggunakan kalbu (qalbu) yang sangat peka. Kalbu manusia memang merupakan detektor yang sangat peka. Namun sering kali kepekaannya bisa berkurang atau bahkan menghilang ketika kalbu itu mulai tertutup debu-debu dosa dan tak ada upaya membersihkannya. Perilaku kalbu itu pun memang mirip dengan fungsi teleskop dan detektornya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Bayangkan astronom yang bekerja dengan teleskopnya menangkap cahaya alam. Malam cerah tak berawan, cahaya bintang begitu cemerlang menembus teleskop dan direkam detektor kamera CCD. Berpuluh megabite data dapat terekam semalaman siap untuk diolah. Namun upaya itu percuma ketika analisis citra menunjukkan adanya &amp;quot;ghost image&amp;quot;, gambar aneh yang merusakkan kecemerlangan cahaya bintang. Ternyata detektor peka itu terselubung titik-titik embun. Walaupun sekadar embun tipis, hal itu cukup untuk menghilangkan makna cahaya bintang. Apalagi bila debu tebal yang menutupinya, pasti cahaya tak mungkin masuk.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Kalbu pun demikian, bila debu-debu dosa menyelimutinya, kepekaannya makin hilang. Jangankan berfungsi sebagai detektor yang bisa membimbing manusia, untuk sekadar menangkap cahaya Allah pun mustahil. Padahal kalbu berfungsi sebagai detektor pembeda yang baik dan yang buruk. Rasulullah SAW telah berpesan, &amp;quot;Mintalah fatwa pada kalbumu; kebajikan adalah segala yang menentramkan jiwa dan kalbu sedangkan dosa adalah segala yang meragukan dalam jiwa dan hati, walaupun orang lain membenarkannya&amp;quot; (HR Ahmad &amp;amp; Addarimi).&lt;br&gt;&lt;br&gt;Kemunafikan dapat menutup kalbu (QS 63:3), apalagi kekafiran (QS 2:7, 2:88). Kalbunya tidak dapat dibersihkan lagi (5:41). Bahkan kalbunya menjadi sangat keras, tanpa celah yang dapat ditembus (QS 2:74). Kalbu yang demikian sama sekali tak dapat lagi menerima cahaya Allah, termasuk cahaya Alquran (QS 6:25). &lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Dan sesungguhnya Kami jadikan (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai kalbu, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS 7:179)&lt;/i&gt;. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Walau pun mata dan telinga berfungsi juga sebagai detektor fisis, tetapi dalam hal menangkap cahaya Allah kalbu lah yang paling berperan. Pokok pangkal kesesatan itu bukan karena butanya mata atau tulinya telinga, tetapi karena tidak berfungsinya kalbu (QS 22:46). Kalbu yang tidak berfungsi baik, karena telah tertutup atau mengeras, cenderung membentuk perilaku manipulatif. Korupsi, kolusi, dan segala ketidakadilan bersumber dari tidak berfungsinya kalbu. Pembenaran atas segala tindakan dosa selalu dilakukannya, termasuk bila memungkinkan menggunakan ayat-ayat yang tak tegas maknanya (mutasyabihat) (QS 3:7).&lt;br&gt;&lt;br&gt;Hanya dengan iman dan dzikir kalbu dapat dipelihara kepekaannya (QS 64:11) dan menjadi tentram (QS 13:28) hingga mampu bergetar setiap cahaya Allah menyentuhnya (QS 8:2).&lt;br&gt;&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Sensor+Manusiawi+Bernama+Qalbu&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><category>Hikmah</category><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!259.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!259.entry</guid><pubDate>Fri, 01 Feb 2008 09:33:57 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!259/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!259.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2008-02-01T09:33:57Z</dcterms:modified></item><item><title>Istiqamah</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!258.entry</link><description> &lt;br&gt;&lt;div style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:10pt;font-family:'Courier New'" lang=SV&gt;&lt;font style="font-family:Times New Roman" size=5&gt;&lt;span style="font-weight:bold"&gt;Jalan Lurus &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;span style="font-size:10pt;font-family:'Courier New'" lang=SV&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:10pt;font-family:'Courier New'" lang=SV&gt;(Dimuat Hikmah, Republika, 20 Apr 2000) &lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;span style="font-size:10pt;font-family:'Courier New'" lang=SV&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;

&lt;br&gt;

&lt;p style="text-align:center;line-height:12pt" align=center&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt;T. Djamaluddin&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:center;line-height:12pt" align=center&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;line-height:12pt"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt;Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: &amp;quot;Tuhan
kami ialah Allah&amp;quot;, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada
ketakutan bagi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mereka dan mereka tiada
(pula) berduka cita. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt" lang=SV&gt;(QS
46:13). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt" lang=SV&gt;&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;line-height:12pt"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt" lang=SV&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Fenomena
fisika, bagian dari sunnatullah, bisa menjadi teladan yang baik bagi manusia.
Contohnya laser, yang kini mulai banyak dikenal, mulai dari pertunjukan sinar
laser sampai pointer mungil yang dijual di kaki lima. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt;Laser
&lt;i&gt;(light amplification by stimulated emission of radiation&lt;/i&gt;) adalah
penguatan cahaya dengan pancaran radiasi yang distimulasi. Di alam kita kenal
maser &lt;i&gt;(microwave amplification by stimulated emission of radiation)&lt;/i&gt;,
penguatan gelombang mikro dengan pancaran radiasi yang distimulasi, yang
dipancarkan oleh awan antarbintang.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;line-height:12pt"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt" lang=SV&gt;Garis kehidupan seorang Muslim idealnya ibarat mengikuti
garis penjalaran sinar laser yang lurus tersebut. Titik awalnya adalah niat
yang ikhlas dan titik sasarannya adalah &lt;i&gt;mardlatillah&lt;/i&gt;, keridlaan Allah.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Proses di titik awal amat menentukan
sampai tidaknya sinar mencapai sasaran yang dituju. Niat yang lemah bisa
menyebabkan tidak sampainya pada tujuan. Sedikit saja hambatan yang dihadapi,
sasaran tidak tercapai.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;line-height:12pt"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt" lang=SV&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Pada
laser atau maser, cahaya atau gelombang mikro itu diproses dan diperkuat sehingga
dapat terpancar sangat kuat, lurus tidak menyebar, dan dapat menempuh jarak
yang sangat jauh. Seperti itu pula hendaknya niat diproses dan diperkuat agar
tetap lurus dalam bertindak dan mampu menembus hambatan-hambatan yang dihadapi.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;line-height:12pt"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt" lang=SV&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Untuk
mendapatkan penguatan tersebut, ada proses pemompaan energi pada titik awal
tersebut. Pada perangkat laser, pemompaan energi dilakukan dengan penyinaran
atau pemberian medan listrik. Pada fenomena maser dari awan antarbintang,
pemompaan energi dilakukan oleh radiasi inframerah dari bintang-bintang di
dekatnya..&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;line-height:12pt"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt" lang=SV&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Pada
diri manusia &amp;quot;pemompaan energi&amp;quot; untuk penguatan niat dilakukan dengan
tempaan iman dan doa yang terus menerus. Allah menyerukan, &amp;quot;&lt;i&gt;Janganlah
kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah
orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang
beriman”&lt;/i&gt; (QS 3:139). Rasullullah SAW berpesan, &amp;quot;&lt;i&gt;Doa itu senjatanya
orang mu'min&lt;/i&gt;&amp;quot; (HR Hakim dan Abu Ya'la)&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;line-height:12pt"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt" lang=SV&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Jalan
mencapai tujuan &lt;i&gt;mardlatillah&lt;/i&gt; tentu tidak mulus. Ada saja hambatan dan
godaan. Sedangkan manusia tidak luput dari kelalaian dan dosa. Kemalasan
menyebabkan amal terhenti. &lt;i&gt;Riya&lt;/i&gt; (pamer) dan bangga diri menghanguskan
nilai amal. Penyelewengan menyeret kita keluar dari jalur yang lurus. Tetapi,
Allah memberikan mekanisme untuk meluruskan kembali perjalanan kita: segera
ingat Allah dan mohon ampunan (QS 3:135).&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;line-height:12pt"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt" lang=SV&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Hal
yang terpenting adalah menjaga konsistensi diri, beristiqamah (QS 46:13),
setelah memantapkan iman berbekal doa (QS 3:8) yang memperkuati niat. Istiqamah
memang mudah diucapkan, tetapi berat melaksanakannya. Idealisme yang bergelora
pada masa muda atau semasa mahasiswa, kerap tak bisa dipertahankan ketika
berhadapan dengan realitas dalam perjuangan profesi sesungguhnya. &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;line-height:12pt"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt" lang=SV&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Tuntutan
keluarga, silaunya iming-iming harta, dorongan mendapatkan dan mempertahankan
jabatan, serta upaya meningkatkan status sosial tidak jarang menggoyah jiwa.
Awalnya menggunakan pembenaran-pembenaran, selanjutnya hilang rasa malu. &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify;line-height:12pt"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';letter-spacing:-0.15pt" lang=SV&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Sebelum
tersesat jauh, luruskan kembali perjalanan hidup kita. Memang beristiqamah
terasa pahit secara lahiriyah, tetapi tentram secara batiniyah. &lt;/span&gt;

&lt;br&gt;&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Istiqamah&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><category>Hikmah</category><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!258.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!258.entry</guid><pubDate>Tue, 01 Jan 2008 05:39:42 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!258/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!258.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2008-01-01T05:39:42Z</dcterms:modified></item><item><title>Saudi Bikin Masalah Lagi</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!256.entry</link><description>&lt;div style="text-align:center"&gt;  &lt;font size=5&gt;Penyatuan Hari Raya dan Masalah Idul Adha&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;div style="text-align:left"&gt;&lt;div style="text-align:center"&gt;T. Djamaluddin (LAPAN)&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;Di Indonesia kita sedang mengupayakan penyatuan hari raya. Dua metode, hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), kini harus dipandang setara dan bisa dipersatukan. Kedua metode itu bisa bersatu keputusannya bila kriterianya disepakati sama. Jalan menuju itu mulai terbuka. Kita mengupayakan mencari titik temu kriteria hisab rukyat Indonesia agar awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha, serta bulan-bulan hijriyah lainnya bisa seragam. Namun penyatuan kriteria masih akan menyisakan masalah perbedaan terkait dengan Idul Adha.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Masalah perbedaan Idul Adha tidak sepenuhnya terkiat dengan kriteria. Ya, di Indonesia sebagian besar ulama bersepakat untuk mendasarkan pada hasil hisab rukyat Indonesia. Artinya, dengan penyatuan kriteria kita bisa berharap bersatu melaksanakan Idul Adha. Namun masih ada sebagian saudara kita, antara lain dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia (DDII) yang berpendapat bahwa Idul Adha sangat terkait dengan pelaksanaan wukuf di Arafah, sehingga Idul Adha selalu tergantung keputusan Arab Saudi.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Mengikut keputusan Arab Saudi potensi perbedaan sangat besar. Selain masalah garis tanggal, masyarakat astronomi sering mengingatkan bahwa keputusan Saudi sering bermasalah. Setidaknya dalam 3 tahun terakhir 1425 (2005), 1427 (2006), dan 1428 (2007) keputusan Majlis Al-Qadha Al-'Ala (Dewan Mahkamah Tinggi) Arab Saudi sangat kontroversial. Kesaksian rukyat diterima begitu saja, padahal secara astronomi bulan telah terbenam. Ini menimbulkan masalah. Pada hari Ahad, 9 Desember 2007, ada laporan kesaksian rukyatul hilal, padahal ijtima (new moon, bulan baru astronomis) belum terjadi. Tidak tahu apa yang mereka lihat. Dengan kesaksian itu Arab Saudi memutuskan wukuf jatuh pada 18 Desember dan Idul Adha pada 19 Desember 2007.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Sebelumnya kita berharap Idul Adha tahun ini bisa seragam, khususnya di Indonesia. Secara praktek hisab rukyat di Indonesia, seperti juga diputuskan dalam sidang itsbat di Depag RI pada Rabu, 12 Desember 2007, memang semua bersepakat beridul Adha kamis 20 Desember 2007. Namun, adanya pengumuman Arab Saudi, potensi adanya dua kali shalat Idul Adha sangat terbuka. Saudara-saudara kita yang berpendapat Idul Adha tergantung pelaksanaan wukuf, akan melaksanakan shalat Idul Adha pada 19 Desember 2007.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Penyeragaman Idul Adha tidak dapat dilakukan dengan pendekatan astronomis, dengan penyatuan kriteria, kecuali kalau kita bisa mengajak Majlis Al-Qadha Al'Ala yang merupakan otoritas di Arab Saudi. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan ukhuwah. Seorang perwakilan dari DDII di Badan Hisab Rukyat, pernah menyatakan bahwa DDII menerima nasihat dari Ulama di Arab saudi agar menjaga ukhuwah diutamakan, daripada mengikuti keputusan Arab Saudi tetapi berbeda dengan saudara-saudara lainnya. Di lain pihak Dewan Syariat Pusat Partai Keadilan Sejahtera memberikan jalan tengah yang baik dalam menjaga ukhuwah, yaitu melaksanakan shaum Arafah sama harinya dengan hari wukuf, tetapi menunda shalat Idul Adha seperti keputusan pemerintah RI yang menjadi acuan sebagian besar saudara-saudara Muslim. Itu artinya, mereka shaum Arafah pada Selasa 18 Desember 2007, tetapi ikut melaksanakan shalat Idul Adha pada Kamis 20 Desember 2007. Mendahulukan ukhuwah ini merupakan titik temu penyeragaman Idul Adha, di samping pendekatan penyatuan kriteria hisab rukyat.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Saudi+Bikin+Masalah+Lagi&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><category>Hisab-Rukyat</category><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!256.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!256.entry</guid><pubDate>Wed, 12 Dec 2007 15:07:21 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!256/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!256.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2007-12-12T15:07:21Z</dcterms:modified></item><item><title>Kita Bisa Bersatu</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!255.entry</link><description> 

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;font size=5&gt;Jalan Menuju Titik
Temu Makin Terbuka&lt;/font&gt;

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt; 

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt; 

&lt;p&gt;Upaya untuk mengakhiri perbedaan hari raya di kalangan
ummat Islam di Indonesia serius dilakukan. Dua ormas besar NU dan Muhammadiyah
secara intensif telah bermusyawarah untuk menemukan titik temu. Upaya paling
dimulai pemanasan informal dengan pertandingan sepakbola menjelang Ramadhan
yang digagas Wapres Jusuf Kalla. Kemudian Wapres JK memfasilitasi pertemuan dua
pimpinan ormas Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah pada Senin 24
September&lt;br&gt;
2007/ 12 Ramadhan 1428. Pada saat itu disepakati kedua ormas menyamakan
persepsi yang akan dilanjutkan dengan pertemuan teknis antara pakar hisab
rukyat.

&lt;p&gt; 

&lt;p&gt;Pertemuan pertama antara Mejelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah
dan Lajnah Falakiyah PBNU dilaksanakan pada 2 Oktober 2007/ 20 Ramadhan 1428 di
kantor PBNU.Jakarta. Pertemuan kedua diadakan pada 6 Desember 2007/ 26
Dzulqaidah 1428 di kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selanjutnya akan dilakukan pertemuan di UIN Jakarta.&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;

&lt;p style=""&gt;Titik
terang semakin nyata. Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Syamsul
Anwar menyatakan, “Sudah saatnya NU dan Muhammadiyah mengalah untuk ummat,
sehingga harus ada kesepakatan bersama agar ummat tidak lagi bingung akibat
keputusan yang dihasilkan. Sementara itu tokoh lajnah falakiah PBNU Slamet
Hambali mengatakan, “Sudah bukan saatnya lagi NU dan Muhammadiyah bertahan pada
argumentasinya masing-masing.” Ditegaskannya pula, “Pada dasarnya NU juga
menerima perubahan”.

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Alhamdulillah, pertemuan kedua
semakin membuka titik terang bahwa kita bisa bersatu. Kesepahaman bahwa kita
perlu mengalah untuk ummat dan kita bisa menerima perubahan, adalah suatu
langkah maju untuk bersatu. Hisab dan rukyat, secara astronomis tidak dapat
dipisahkan. Keduanya saling melengkapi. Kesalahpahaman yang menjadikannya
seolah berbeda dan tidak dapat disatukan. Penyatuan kriteria hisab rukyat
adalah titik temu keduanya. 

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Semoga pertemuan lanjutan di UIN
Jakarta mulai membahas hal teknis kriteria apa yang akan digunakan bersama.
Apakah langsung pada upaya penyatuan kalender internasional dengan kriteria
internasional, atau sementara gunakan kriteria lokal untuk penyatuan kalender
nasional? Karena kesepakatan kriteria ini bukan hanya bagi Muhammadiyah dan NU,
ormas lain dan pakar terkait pun diharapkan ikut serta untuk mendorong upaya
penyatuan kriteria ini. Insya Allah, kita bisa bersatu kalau punya kemauan.

&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Kita+Bisa+Bersatu&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><category>Hisab-Rukyat</category><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!255.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!255.entry</guid><pubDate>Mon, 10 Dec 2007 01:51:09 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!255/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!255.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2007-12-10T01:51:09Z</dcterms:modified></item><item><title>Berharap Cahaya Allah</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!254.entry</link><description> 

&lt;h1 align=center&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt;Cahaya&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;(Dimuat di Hikmah Repubika, 4 Feb 2000)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;/span&gt;

&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt;T. Djamaluddin&lt;/span&gt;

&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam
arti fisis maupun kiasan, cahaya memegang peran penting bagi manusia. Dalam
arti fisis, cahaya adalah bagian dari gelombang elektromagnetik yang sejenis
dengan gelombang radio, infra merah, ultra violet, sinar-X, dan sinar gamma.
Dalam makna kiasan, cahaya adalah petunjuk Allah.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Cahaya
fisis di alam adalah bahasa universal yang dengan itu manusia bisa membaca
ayat-ayat kauniyah. Dengan itu pula hakikat makluk Allah dapat kita kenal.
Benda-benda langit bercerita hakikat dirinya dengan bahasa cahaya tersebut.
Tentu ada juru bahasanya, astrofisika.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Matahari
bercerita bahwa dirinya bersuhu permukaan sekitar 6000 derajat dari warna
kuningnya. Bintang berwarna merah mengindikasikan bersuhu lebih rendah dan yang
berwarna biru bersuhu lebih tinggi. &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Galaksi
berkisah bahwa dirinya sedang berlari menjauh dengan pergeseran spektrum
cahayanya ke arah merah. Demikian juga pergeseran spektrum pada bintang-bintang
menceritakan tentang rotasinya.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ternyata
90% atau lebih materi di alam semesta tak memancarkan cahaya atau gelombang
elektromagnetik lainnya. Itulah yang dinamakan materi gelap, antara lain Black
Hole, objek &amp;quot;bintang gagal&amp;quot; (kerdil coklat), atau partikel-partikel
subelementer. Hakikat materi gelap itu hanya diketahui dari isyarat-isyarat tak
langsung.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam
bahasa tauhid, bercahaya atau tidaknya benda-benda langit bukan sekadar
persoalan fisis, tetapi ada peran Allah. Allah adalah pemberi cahaya bagi
langit dan bumi (QS 24:35). Cahaya-Nya berlapis-lapis, cahaya di atas cahaya.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pada
sisi lain Allah memberikan perumpamaan tentang kegelapan yang amat sangat
hingga tak ada cahaya sedikit pun yang terpancar atau terpantul. Tanpa cahaya
itu, tak satu benda pun akan tampak, termasuk tangan sendiri (QS 24:40). &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ungkapan
Allah tentang cahaya alam semesta itu selalu dikaitkan dengan dimensi
kemanusiaan. Dalam dimensi kemanusiaan, &amp;quot;cahaya&amp;quot; bisa bermakna
sebagai &amp;quot;cahaya agama&amp;quot; atau hidayah. Dalam hal ini pun ada peran
Allah. &amp;quot;Allah menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya kepada cahaya&amp;quot; (QS
24:35). &amp;quot;Siapa yang tak diberi cahaya oleh Allah tiada baginya
cahaya&amp;quot; (QS 24:40).&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Namun,
manusia dengan kalbunya bukanlah makhluk pasif yang sekadar menanti pemberian
cahaya Allah. Ibarat astronom yang berupaya menangkap cahaya alam dengan
teleskop besar yang sangat peka, manusia pun harus menggunakan kalbunya untuk
menangkap cahaya Allah. Banyak sumber cahaya Allah. Hanya kalbu yang peka yang
mampu menangkap sebanyak mungkin cahaya itu.&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sumber
utama adalah Alquran yang merupakan cahaya yang diturunkan Allah (QS 64:8) yang
dengan itu dibimbing-Nya hamba-hamba yang dikehendaki-Nya (QS 42:52). Alquran
itu pula yang akan mengeluarkan manusia dari kegelapan aqidah kepada cahaya (QS
57:9).&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dengan
cahaya itu bukan hanya terbimbing kehidupan kita di dunia, tetapi cahaya itu
juga akan terbawa sampai akhirat. Allah mengungkapkan bahwa orang beriman kelak
pada hari perhitungan akan diliputi dengan cahaya di sekelilingnya (QS 57:12). &lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Seperti
halnya benda langit, tidak banyak manusia yang mendapat cahaya Allah. Maka beruntunglah
orang yang mendapat cahaya Allah dengan kalbunya yang peka.&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;

&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Berharap+Cahaya+Allah&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><category>Hikmah</category><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!254.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!254.entry</guid><pubDate>Mon, 03 Dec 2007 03:09:54 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!254/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!254.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2007-12-03T03:09:54Z</dcterms:modified></item><item><title>Merenungi Langit</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!251.entry</link><description> 



&lt;p style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'" lang=SV&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;font size=5&gt;Langit&lt;/font&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;

&lt;p style="text-align:center"&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'" lang=SV&gt;Hikmah Republika, 13 Sep 1999 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;p style="text-align:center"&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Oleh
T. Djamaluddin&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;

&lt;p&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Ada
sesuatu yang hilang dari kehidupan masyarakat kota: keindahan langit. Gemerlap
lampu kota telah merampas hak kerlip bintang-bintang di langit untuk menembus
setiap kalbu. Sementara gedung-gedung tinggi menghalangi indahnya matahari
terbit dan terbenam yang penuh makna. Mungkin hal itu salah satu sebab kurang
pekanya kalbu kita membaca ayat-ayat-Nya di alam.&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Padahal
Allah mengingatkan dalam firman-Nya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang berakal, yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil
berdiri, duduk, atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan
bumi....(Q. S. 3:190-191).&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Menurut
riwayat, setelah ayat itu turun Rasulullah SAW menangis. Bilal yang menemuinya
pada waktu shubuh bertanya mengapa Rasulullah sampai menangis. Rasulullah
kemudian menjelaskan bahwa malam itu turun ayat yang amat berat maknanya. Padahal
sedikit umatnya yang merenungkannya.&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Mungkin
banyak di antara kita terbiasa membaca tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil,
tetapi sebatas formalitas dzikir sesudah shalat. Sehingga fenomena yang biasa
kita lihat adalah mengejar kuantitas jumlah bacaan, kadang dengan ucapan yang kurang
sempurna.&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Dzikir
sebenarnya tidak hanya diucapkan sesudah shalat, tetapi berlaku sepanjang
kehidupan. Sayangnya suasana lingkungan dan kesibukan kota kadang melalaikan.
Bila setiap hari hanya kemacetan dan gedung-gedung tinggi yang mewarnai suasana
hati, mungkin dzikir terlupakan. Berganti dengan keresahan dan kejenuhan.&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Beruntunglah
bila masih sempat menikmati langit malam menjelang tidur atau menjelang shubuh.
Matikan lampu luar beberapa saat. Pandangi langit bertabur bintang. Bila
beruntung berada di lokasi yang tidak terlalu parah terkena polusi cahaya, &amp;quot;sungai
perak&amp;quot; galaksi Bimasakti yang memiliki ratusan milyar bintang akan
terlihat membujur di langit. Sesekali mungkin terlihat meteor seperti bintang
jatuh.&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Dalam
keheningan malam, ingatlah Allah. Renungkan ayat-ayat-Nya yang terlukis indah
di langit. Ucapan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil saat itu akan lebih
mendalam merasuk kalbu daripada sekadar ucapan yang berpacu dengan hitungan
biji tasbih atau buku-buku jari.&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Di
tengah keluasan langit, kita sadari bumi kita hanyalah planet mungil di
keluarga matahari. Sedangkan matahari sendiri hanya sekadar bintang kecil di
galaksi Bimasakti. Masih banyak bintang raksasa yang diameternya ratusan kali
diameter matahari.&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Galaksi
dihuni oleh milyar bintang serta gas dan debu bahan pembentuk bintang-bintang
baru. Padahal jumlah galaksi yang ada di alam semesta ini tak terhitung
banyaknya.&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Rabbana
maa khalaqta haadza baathilaa, subhaanaka faqinaa 'adzaabannar, &amp;quot;Tuhan
kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia, Mahasuci Engkau! (Hanya
Engkau yang Mahasempurna, kami manusia dhaif penuh kesalahan). Karenanya
(ampunilah kami), jauhkan kami dari siksa neraka&amp;quot; (Q.S. 3:191).&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;p style="text-align:justify"&gt;&lt;font size=3&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman'"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Semakin
dalam bertafakur, semakin sadar akan kelemahan dan kekecilan diri manusia. Dari
segi substansi materinya, jasad manusia tidak ada bedanya dengan debu-debu
antarbintang, sama-sama terbentuk di inti bintang. Namun nafsu manusia kadang menghanyutkan
pada ketakaburan, merasa diri besar. Setiap yang besar, pasti ada yang lebih
besar. Hanya Dia yang Mahabesar. Patutkah kita masih menyombongkan diri?&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Merenungi+Langit&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><category>Hikmah</category><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!251.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!251.entry</guid><pubDate>Fri, 09 Nov 2007 12:28:26 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!251/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!251.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2007-11-09T12:33:24Z</dcterms:modified></item><item><title>Titik Temu Berhari raya</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!246.entry</link><description>&lt;font size=6&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;font size=3&gt;Media Indonesia, 10 Oktober 2007&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;font size=5&gt;Menuju Titik Temu Menentukan 1 Syawal&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;
					
					
					&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Penulis:
T Djamaluddin, Peneliti Utama Astronomi Astrofisika, Kepala Pusat
Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan, Bandung, Anggota Badan
Hisab Rukyat, Depag RI&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Ilmu
hisab untuk menghitung posisi bulan dan matahari, sebagai bagian
astronomi, bukanlah ilmu langka. Kini banyak yang menguasainya,
termasuk ormas Islam, seperti Muhammadiyah, NU, dan Persis.&lt;/span&gt;
&lt;p&gt;Bahkan dengan banyaknya program komputer, siapa pun yang bisa
mengoperasikannya dengan mudah dapat menghitung posisi bulan dan
matahari. Masalahnya, tidak semua orang mengerti arti angka dalam
penentuan awal bulan Qamariyah, khususnya dalam penentuan awal Ramadan,
Idul Fitri, dan Idul Adha.
&lt;p&gt;Kini, dengan metode astronomi yang sama, bahkan dengan program
komputer, hasil hitungan pasti akan sama. Tidak peduli siapa yang
menghitung, apakah Muhammadiyah, NU, Persis, atau orang awam. Terlalu
naif, ada yang merasa hasil hisabnya lebih unggul dan seolah metodenya
beda dengan metode ormas lain yang menggunakan rukyat. Padahal tidak
ada bedanya, semua ormas bisa menghitung dengan hasil yang sama.
&lt;p&gt;Dalam astronomi, yang menjadi induk ilmu hisab dan &lt;i&gt;rukyat&lt;/i&gt;, tidak ada dikotomi hisab (perhitungan) dan &lt;i&gt;rukyat&lt;/i&gt;
(observasi). Keduanya saling mendukung dan tidak bertentangan.
Kekisruhan yang terjadi dalam perbedaan penentuan Idul Fitri
semata-mata lebih bernuansa kesalahpahaman hisab &lt;i&gt;rukyat&lt;/i&gt; yang diperparah dengan ego keormasan.
&lt;p&gt;Kalau kita kaji akar masalahnya, sebenarnya sederhana solusinya.
Samakan kriterianya dalam menafsirkan angka-angka hasil hisab. Banyak
yang pesimistis menyatukan pendapat antara Muhammadiyah dan NU, karena
berbeda keyakinan dalam memahami dalil syariat. Banyak juga yang
mengira sumber perbedaan adalah pertentangan antara kubu hisab dan
rukyat.


&lt;p&gt;Belajarlah dari ilmu induknya, astronomi, untuk menafsirkan makna angka-angka hasil hisab yang seharusnya tidak bertentangan dengan hasil rukyat. Penyatuan hasil hisab dan rukyat dalam menyimpulkan masuk
awal bulan atau belum, terletak pada kriteria awal bulan. Kini ada dua
kriteria yang digunakan dua ormas yang sering menimbulkan kesimpulan
berbeda ketika posisi bulan di Indonesia berada pada ketinggian di
antara dua kriteria tersebut, seperti terjadi pada 2006 dan 2007.
&lt;p&gt;Muhammadiyah menggunakan kriteria &lt;i&gt;wujudul hilal&lt;/i&gt; (bulan telah wujud di atas ufuk) dengan prinsip &lt;i&gt;wilayatul hukmi&lt;/i&gt;
(berlaku di seluruh Indonesia sebagai satu kesatuan hukum). Sementara
itu, NU menggunakan ketinggian minimal 2 derajat dengan prinsip
menunggu hasil rukyat. Kedua kriteria itu adalah kriteria lama yang
secara astronomi dianggap ketinggalan zaman. Sebenarnya sangat
memalukan bila masih ada pihak yang tetap mempertahankannya. Apalagi
bila dianggapnya sesuatu yang &lt;i&gt;qath'i&lt;/i&gt; (mutlak benarnya) secara
hukum. Kita bisa bersatu kalau kita menyempurnakan kriteria kemudian
menyepakatinya sebagai kriteria hisab rukyat yang baru. Dalam konsep
ini, bukan meminta yang satu naik yang lain turun, tetapi mengajak
semua pihak sama-sama maju selangkah.
&lt;p&gt;&lt;b&gt;Muhammadiyah&lt;/b&gt;
&lt;p&gt;Bagaimana Muhammadiyah harus melangkah tanpa meninggalkan
keyakinannya bahwa hisab dapat digunakan sebagai penentu awal bulan.
Kita coba pendekatan lain menuju titik temu. Tidak menggunakan alur
lama ketika membahas dalil, tetapi alur alternatif untuk mencari titik
temu.
&lt;p&gt;Secara ringkas, alur alternatif itu; Dalam Alquran (QS) 2:185 diperintahkan berpuasa bila telah menyaksikan &lt;i&gt;syahr&lt;/i&gt; (bulan kalender,&lt;i&gt;month&lt;/i&gt;, bukan &lt;i&gt;moon&lt;/i&gt;). Apa tandanya &lt;i&gt;syahr&lt;/i&gt;
QS 2:189 menjelaskan tentang hilal sebagai penentu waktu bagi manusia
dan penentu pelaksanaan ibadah haji. Bagaimana memanfaatkan hilal untuk
penentu &lt;i&gt;syahr&lt;/i&gt;? Muhammadiyah biasanya menggunakan QS 36:39-40
yang menjelaskan bahwa matahari tidak mungkin mengejar bulan dan malam
pun tidak mungkin mendahului siang. Tafsir singkatnya, &lt;i&gt;syahr&lt;/i&gt; dapat ditentukan ketika matahari mulai mengejar bulan (mendahului terbenam) pada peralihan siang dan malam, yaitu kriteria &lt;i&gt;wujudul hilal&lt;/i&gt;.
Ini adalah kriteria paling sederhana, tetapi mengabaikan aspek rukyat.
Untuk mencari titik temu, alurnya diubah ke dalil lain yang juga kuat.
&lt;p&gt;Apakah tandanya &lt;i&gt;syahr&lt;/i&gt;, Rasulullah SAW menjelaskan secara
eksplisit, &amp;quot;Berpuasalah bila melihatnya (hilal) dan berbukalah bila
melihatnya.&amp;quot; Maka hilal sebagai penentu &lt;i&gt;syahr&lt;/i&gt; adalah yang
terlihat. Dengan perkembangan ilmu, posisi bulan bisa dihitung dengan
ilmu hisab. Lalu apa syaratnya agar terlihat? Ini dirumuskan dengan
suatu kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; (kemungkinan rukyat) atau kriteria
visibilitas hilal yang didasarkan pada pengalaman rukyat jangka panjang
dan dihitung dengan ilmu hisab.
&lt;p&gt;Banyak ahli hisab yang terkesan antikriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt;,
dengan ungkapan &amp;quot;Kalau sudah menghisab, mengapa harus membahas rukyat.&amp;quot;
Kepada mereka perlu dijelaskan, angka-angka hasil hisab tidak bisa
langsung ditafsirkan menjadi awal bulan Qamariyah tanpa menggunakan
kriteria. Kriteria itu bisa sekadar wujud di atas ufuk (&lt;i&gt;wujudul hilal&lt;/i&gt;) dan bisa juga kemungkinan untuk dirukyat. Komunitas astronomi  merujuk pada kemungkinan untuk dirukyat (&lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; atau visibilitas hilal). Untuk mencapai titik temu, kriteria yang harus dipilih adalah kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt;.
Inilah yang disebut maju selangkah, memilih kriteria yang menuju titik
temu. Muhammadiyah nantinya perlu merumuskan bersama kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; yang bagaimana yang diusulkan. Apakah berdasarkan rukyat lokal atau hasil analisis internasional.
&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;NU&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;

&lt;p&gt;NU pun harus maju selangkah, tanpa harus mengubah keyakinan, rukyat yang menentukan. Kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; yang selama ini
digunakan perlu diubah. Kriteria 2 derajat berasal dari data pengamatan
yang menyatakan hilal terendah yang berhasil diamati ketinggiannya 2
derajat. Dalam kompilasi hasil sidang isbat Depag memang ada data pada
16 September 1974 dilaporkan rukyat berhasil dilihat di 3 lokasi dengan
jumlah saksi 10 orang, tanpa gangguan Venus. Hasil analisis hisab
menunjukkan tinggi bulan 2,19 derajat. Setelah itu tidak ada lagi data
yang cukup meyakinkan mendukung ketinggian 2 derajat.
&lt;p&gt;Analisis yang dilakukan Lapan dari kompilasi hasil sidang isbat
1962-1997 itu dijumpai kenyataan, pada umumnya tinggi bulan yang rendah
hanya dilaporkan dari 1 atau 2 lokasi pengamatan dari sekian banyak
titik pengamatan. Hal itu menunjukkan besarnya kemungkinan salah lihat
objek bukan hilal. Bahkan sebagian di antaranya mengindikasikan
pengamat terkecoh cahaya planet Venus (bintang Kejora) yang posisinya
dekat posisi bulan.
&lt;p&gt;Dari analisis itu diusulkan kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; dengan
ketinggian bulan yang tergantung beda azimut (beda jarak horizontal di
kaki langit) antara bulan dan matahari. Bila jaraknya jauh dari
matahari, ketinggian minimal 2 derajat, tetapi makin dekat dengan
matahari ketinggiannya harus makin tinggi, tidak pukul rata 2 derajat
seperti kriteria lama. Bila bulan tepat berada di atas matahari, saat
matahari terbenam ketinggiannya perlu lebih dari 8,3 derajat. Kriteria
itu masih bisa dikaji ulang. Kalau kriteria limit Danjon (batas minimal
jarak bulan-matahari) diperhitungkan, kriterianya akan makin mendekati
kriteria internasional dengan ketinggian minimal 3 derajat.
&lt;p&gt;Bila nanti kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; sudah ditetapkan, masalah lain yang harus diselesaikan adalah bila hilal sudah di atas kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt;,
tetapi tidak ada kesaksian hilal. Demi mencapai titik temu, Fatwa MUI
1981 dapat digunakan, seperti halnya saat sidang isbat penetapan awal
Ramadan 1407/1987. Salah satu butir fatwa itu menyatakan bila ahli
hisab telah sepakat bahwa malam itu sudah &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; tetapi hilal tidak dapat dilihat karena terhalang, keesokan harinya dapat ditetapkan tanggal 1 bulan baru. Artinya, kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; cukup menentukan. NU harus maju satu langkah dengan memperbaiki kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; dan menerima fatwa MUI 1981 tersebut. Bila masih keberatan dengan fatwa MUI tersebut, perlu juga diingat bahwa kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; juga didasari pada hasil rukyat masa lalu. Jadi pada dasarnya menggunakan kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt;
dalam mengambil keputusan tidak berarti mengabaikan rukyat pada saat
itu. Dengan kriteria imkan rukyat dapat juga ditolak kesaksian yang di
bawah kriteria karena kemungkinan terkecoh objek bukan hilal, kecuali
bila dilaporkan dari banyak tempat dan tidak ada pengganggu dari planet
Venus atau Merkurius.
&lt;p&gt;&lt;b&gt;Bersatu ber-Idul Fitri&lt;/b&gt;
&lt;p&gt;Tampaknya, kalau pun Muhammadiyah dan NU mau maju satu langkah menunjuk titik temu kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt;
yang baru, implementasinya tidak bisa dilaksanakan untuk mengubah
potensi perbedaan Idul Fitri 1428 H. Mekanisme organisasi tampaknya
akan menghambatnya. Muhammadiyah tetap akan ber-Idul Fitri 12 Oktober
dan NU ber-Idul Fitri 13 Oktober. Persis yang mendasarkan pada hisab,
tetapi dengan kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; yang disederhanakan menjadi &lt;i&gt;wujudul hilal&lt;/i&gt; di seluruh Indonesia, juga sudah mengumumkan Idul Fitri jatuh 13 Oktober 2007.
&lt;p&gt;Pertanyaan, dengan perbedaan itu mungkinkah merayakan Idul Fitri
bersama? Jawabnya, mungkin dengan menunda salat ied agar bersama. Dalam
salah satu kesempatan rapat Badan Hisab Rukyat, wakil dari Dewan Da'wah
Islamiyah Indonesia menyampaikan berdasarkan saran dari ulama di Arab
Saudi, mendahulukan ukhuwah (persaudaraan) yang wajib lebih utama
daripada salat id yang sunah. Karenanya menunda salat id keesokan
harinya demi menjaga ukhuwah sangat dianjurkan, walaupun pada 12
Oktober sudah tidak berpuasa.

&lt;p&gt;Menunda salat id dalilnya merujuk pada hadis riwayat Ahmad, Abu
Daud, Al-Nasai, dan Ibn Majah. Diriwayatkan Rasulullah SAW tidak
melihat hilal Syawal sehingga pada hari ke-30 Ramadan itu mereka masih
berpuasa. Namun, kemudian pada penghujung siang (menjelang zuhur) datanglah rombongan yang mengabarkan mereka melihat hilal. Maka,
Rasul segera menyuruh mereka untuk berbuka pada hari itu dan menunaikan
salat id pada keesokan harinya.
&lt;p&gt;Dalil ini diperdebatkan untuk menunda salat id untuk alasan lain
selain terlambat melihat hilal. Tetapi dari riwayat diketahui bahwa
rombongan yang melihat hilal pun ikut menunda salat sampai
melaporkannya kepada Rasul dan kemudian diperintahkan untuk salat id
keesokan harinya. Alangkah indahnya kalau saudara-saudara kita yang
sudah meyakini Idul Fitri jatuh 12 Oktober membatalkan puasa pada hari
itu, tetapi menunda salat idnya bersama saudara-saudara yang ber-Idul
Fitri 13 Oktober. Ini bersifat ijtihadiyah. Kalau pun salah, setelah
dikaji matang-matang, tidaklah berdosa. Namun, tujuan menjaga &lt;i&gt;ukhuwah&lt;/i&gt;  (persaudaraan) dan memperkuat syiar tercapai dengan bersalat Idul Fitri bersama.


&lt;p&gt;Langkah menyatukan Idul Fitri bisa dimulai dengan bersama salat id, walau berbeda keputusan mengakhiri Ramadan. Kelak, setelah kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; yang baru dapat disepakati, kita dapat
mengakhiri Ramadan dan ber-Idul Fitri benar-benar bersama. Kalender
Islam pun mendapatkan kepastian dan keseragaman. Kita bisa bersatu.&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Titik+Temu+Berhari+raya&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><category>Hisab-Rukyat</category><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!246.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!246.entry</guid><pubDate>Wed, 10 Oct 2007 02:53:11 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!246/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!246.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2007-10-10T03:15:43Z</dcterms:modified></item><item><title>Islamisasi Sains?</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!244.entry</link><description>&lt;font face="Times New Roman"&gt;&lt;font size=3&gt;Tadarus (PR, 8 Oktober 2007)&lt;/font&gt;&lt;br&gt;
            &lt;font size=5&gt;Kesalahpahaman tentang Islamisasi Sains&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman"&gt;Seorang
            teman yang terobsesi dengan Islamisasi ilmu pengetahuan pernah bertanya mengapa dalam
            makalah-makalah ilmiah saya tidak tercantum ayat Alquran? Ia yakin, mencantumkan ayat
            Alquran dalam makalah ilmiah adalah salah satu upaya Islamisasi ilmu pengetahuan.&lt;/font&gt;
&lt;font face="Times New Roman"&gt;            &lt;/font&gt;&lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman"&gt;Dalam makalah ilmiah ilmu sosial mungkin saja tercantum ayat Alquran yang terkait
            dengan perilaku atau sistem nilai manusia yang sedang dikaji. Dalam ilmu sosial, merujuk
            pada sumber Islami adalah sahih dan merupakan salah satu upaya Islamisasi ilmu sosial yang
            telah banyak diwarnai sistem nilai non-Islam. Namun, dalam sains yang mengkaji perilaku
            alam, tepatkah ayat Alquran dijadikan rujukan analisis ilmiahnya? Dan secara umum,
            perlukah Islamisasi sains?&lt;/font&gt;
&lt;font face="Times New Roman"&gt;            &lt;/font&gt;&lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman"&gt;Ketika saya menulis skripsi untuk memperoleh gelar sarjana astronomi di ITB tentang
            gugusan bintang-bintang muda di galaksi Bimasakti yang mengindikasikan bidang galaksi
            melengkung, kutipan ayat Alquran (Q.S. 3:190-191 dan Q.S. 85:1) hanya saya cantumkan di
            halaman depan, tidak masuk dalam makalah. Alquran menjadi landasan iman dalam mengkaji
            ayat-ayat Allah di alam semesta, tapi tidak dapat digunakan untuk memperkuat argumentasi &lt;i&gt;scientific-&lt;/i&gt;nya.&lt;/font&gt;
&lt;font face="Times New Roman"&gt;            &lt;/font&gt;&lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman"&gt;Dalam sains, argumentasi ilmiah harus berpijak pada landasan yang dapat diterima setiap
            orang, apa pun agamanya. Ketika menyusun desertasi S3 di Jepang yang mengkaji tentang
            pembentukan bintang, saya sengaja menuliskan kalimat yang secara tersirat mengandung
            pengertian &amp;quot;bintang dibentuk&amp;quot; oleh Allah, bukan terbentuk dengan sendirinya.
            Profesor pembimbing saya pun mencoretnya dan mengganti kalimat itu sehingga netral tanpa
            nuansa konflik keyakinan akan ada tidaknya Tuhan pencipta alam.&lt;/font&gt;
&lt;font face="Times New Roman"&gt;            &lt;/font&gt;&lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman"&gt;Perlukah Islamisasi sains? Ketika semangat Islamisasi ilmu pengetahuan muncul pada awal
            1980-an, Direktur Direktorat Energi Nuklir Pakistan, Bashiruddin Mahmood, bersama
            teman-temannya mendirikan &lt;i&gt;Holy Quran Research Foundation. &lt;/i&gt;Salah satu hasil
            kajiannya adalah buku &lt;i&gt;Mechanics of the Doomsday and Life after Death: The Ultimate Fate
            of the Universe as Seen Through the Holy Quran &lt;/i&gt;(1987). Sayang, obsesinya mengislamkan
            sains tampaknya tidak mempunyai pijakan. Fenomena penciptaan dan kehancuran alam semesta
            yang katanya ditinjau dengan Alquran, dianalisis tanpa menggunakan sains secara utuh.
            Hasilnya, banyak kejanggalan dari segi sains. &lt;/font&gt;
&lt;font face="Times New Roman"&gt;            &lt;/font&gt;&lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman"&gt;Upaya Islamisasi sains yang salah arah menimbulkan kritik tajam dari Dr. Pervez
            Hoodbhoy, pakar fisika partikel dan nuklir dari Quaid-e-Azam University, Islamabad. Atas
            saran Prof. Abdus Salam (Penerima hadiah Nobel Fisika 1979), Hoodbhoy memaparkan kritiknya
            dalam buku &lt;i&gt;Islam and Science: Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality &lt;/i&gt;(1992).
            &lt;/font&gt;
&lt;font face="Times New Roman"&gt;            &lt;/font&gt;&lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman"&gt;Baik Hoodbhoy maupun Salam sepakat bahwa upaya Islamisasi sains telah salah langkah.
            Secara spesifik, Hoodbhoy mengkritik beberapa kajian yang oleh para pemaparnya --di
            beberapa konferensi tentang Alquran dan sains-- dianggap sebagai sains Islam.
            Kajian-kajian yang dikritik tajam itu antara lain tentang formulasi matematis tingkat
            kemunafikan, analisis Isra Miraj dengan teori relativitas, jin yang terbuat dari api
            sebagai energi alternatif, dan formula kuantitatif pahala salat berjamaah sebagai fungsi
            dari jumlah jamaah.&lt;/font&gt;
&lt;font face="Times New Roman"&gt;            &lt;/font&gt;&lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman"&gt;Sebenarnya, perlukah Islamisasi sains? Untuk menjawabnya, kita kaji lima ayat ini. &lt;i&gt;Bacalah
            dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah!
            Dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah yang mengajarkan dengan pena. Mengajar manusia hal-hal yang
            belum diketahuinya &lt;/i&gt;(Q. S. Al-Alaq:1-5). Lima ayat ini bukan sekadar perintah untuk
            membaca ayat &lt;i&gt;quraniyah&lt;/i&gt;. Terkandung di dalamnya dorongan untuk membaca ayat-ayat &lt;i&gt;kauniyah
            &lt;/i&gt;di alam. Manusia pun dianugerahi kemampuan analisis untuk mengurai rahasia di balik
            semua fenomena alam. Kompilasi pengetahuan itu kemudian didokumentasi dan disebarkan
            melalui tulisan yang disimbolkan dengan pena. Pembacaan ayat-ayat &lt;i&gt;kauniyah &lt;/i&gt;ini
            akhirnya melahirkan sains. Ada astronomi, fisika, kimia, biologi, geologi, dan sebagainya.&lt;/font&gt;
&lt;font face="Times New Roman"&gt;            &lt;/font&gt;&lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman"&gt;Maka dari esensinya, sains sudah Islami. Hukum-hukum yang digali dan dirumuskan sains
            seluruhnya tunduk pada hukum Allah. Pembuktian teori-teori sains pun dilandasi pencarian
            kebenaran, bukan pembenaran nafsu manusia. Dalam sains, kesalahan analisis dimaklumi,
            tetapi kebohongan adalah bencana.&lt;/font&gt;
&lt;font face="Times New Roman"&gt;            &lt;/font&gt;&lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman"&gt;Hukum konservasi massa dan energi dinilai menentang tauhid hanya karena sering keliru
            disebut sebagai hukum kekekalan massa dan energi. Padahal, hukum ini adalah hukum Allah
            yang dirumuskan manusia, bahwa massa dan energi tidak bisa diciptakan dari ketiadaan dan
            tidak bisa dimusnahkan, alam dan manusia hanya bisa mengalihkannya menjadi wujud yang
            lain. Hanya Allah yang kuasa menciptakan dan memusnahkan. Bukankah itu sangat Islami?&lt;/font&gt;
&lt;font face="Times New Roman"&gt;            &lt;/font&gt;&lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman"&gt;Jadi, Islamisasi sains sungguh keliru. Bukan pada tempatnya menjadikan ayat Alquran
            sebagai alat analisis sains. Dalam sains, rujukan yang dipakai mesti dapat dipahami siapa
            pun tanpa memandang sistem nilai atau agamanya. (catatan editor PiSQ; contoh tentang sains
            sejarah Nabi Nuh a.s., bila dapat dibuktikan keberadaan tokoh ini (kapan dan di mana)
            secara metode ilmiah (sains) maka tokoh Nuh a.s. akan menjadi tokoh sejarah penting untuk
            seluruh umat manusia walaupun bagi mereka yang tidak mengenal tokoh Nuh dalam kitab suci
            dan keyakinannya). Tidak ada sains Islam dan sains non-Islam, yang ada saintis Muslim dan
            saintis non-Muslim. Pada merekalah sistem nilai tidak mungkin dilepaskan. Memang tidak
            tampak dalam makalah ilmiahnya, tetapi sistem nilai yang dianut seorang saintis kadang
            tercermin dalam tulisan populer atau semi-ilmiah.&lt;/font&gt;
&lt;font face="Times New Roman"&gt;            &lt;/font&gt;&lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman"&gt;&lt;i&gt;&amp;quot;Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan&amp;quot;&lt;/i&gt;. Maka, riset saintis
            Muslim berangkat dari keyakinan bahwa Allah pencipta dan pemelihara alam serta hanya
            karena-Nya pangkal segala niat. Atas dasar itu, setiap tahapan riset yang menyingkap mata
            rantai rahasia alam disyukuri bukan dengan berbangga diri, melainkan dengan ungkapan &lt;i&gt;&amp;quot;Rabbana
            maa khaalaqta haadza baathilaa&amp;quot;. &lt;/i&gt;Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini
            sia-sia (Q. S. 3:191). &lt;i&gt;(&lt;/i&gt;Dr. T. Djamaluddin&lt;i&gt;, peneliti Lapan Bandung, anggota
            Dewan PiSQ-ICMI)***&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Islamisasi+Sains%3f&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><category>Sains &amp; Quran</category><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!244.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!244.entry</guid><pubDate>Mon, 08 Oct 2007 03:57:43 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!244/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!244.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2007-10-08T03:57:43Z</dcterms:modified></item><item><title>Lagi, Ayo Bersatu Berhari Raya</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!243.entry</link><description>&lt;div align=center&gt;&lt;span style="white-space:nowrap"&gt;&lt;/span&gt;&lt;font face="Times New Roman" size=6&gt;Kita Bisa Bersatu&lt;/font&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;pre&gt;&lt;font face="Times New Roman" size=3&gt;&lt;br&gt;Dr. T. Djamaluddin&lt;br&gt;Peneliti Utama Astronomi dan Astrofisika, LAPAN Bandung&lt;br&gt;Anggota Badan Hisab Rukyat Jawa Barat dan Depag RI&lt;br&gt;&lt;br&gt;        Alhmadulillah, Wapres JK telah memfasilitasi pertemuan dua pimpinan ormas Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah pada Senin 14 September&lt;br&gt;2007. Kemudian pada 2 Oktober telah dilakukan pertemuan antara Mejelis Tarjih Muhammadiyah dan Lajnah Falakiyah PBNU di kantor PBNU. Selanjutnya akan diadakan pertemuan di kantor PP Muhammadiyah Ini menjadi awal sangat penting sebagai komitmen tingkat tinggi dalam mencari titik temu penentuan awal bulan Islam, khususnya terkait&lt;br&gt;penentuan awal Ramdhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.&lt;br&gt;        Mari kita upayakan mencari titik temu dengan masing-masing pihak maju selangkah menujuk kriteria baru yang disepakati. Kini disadari, masalah&lt;br&gt;utama bukanlah perbedaan hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), tetapi kriterianya. Saat ini sesama penganut hisab bisa berbeda&lt;br&gt;keputusannya karena beda kriteria. Muhammadiyah dengan kriteria wujudul hilal dan prinsip wilayatul hukmi telah mengumumkan Idul Fitri jatuh pada&lt;br&gt;12 Oktober 2007. Sementara Persis dengan kriteria wujudul hilal di seluruh Indonesia memutuskan Idul Fitri 13 Oktober 2007. Sementara itu&lt;br&gt;dengan kriteria beda, sesama penganut rukyat juga bisa berbeda keputusannya. Kasus 1998 dan 2006 menunjukkan terhadap kesaksian rukyat,&lt;br&gt;ada pihak yang menerimanya dan ada yang menolak, karena perbedaan kriteria.&lt;br&gt;        Mari kita belajar pada kesepakatan kriteria jadwal shalat. Kasus penentuan jadwal shalat sangat mirip dengan penentuan awal bulan.&lt;br&gt;Dalilnya berdasarkan pengamatan (rukyat) fenomena di langit yang menunjukkan waktu-waktu shalat. Setelah ilmu hisab berkembang, maka&lt;br&gt;dirumuskan fenomena di langit itu terkait dengan posisi matahari.  Ada berbedaan kriteria soal posisi matahari itu, misalnya untuk waktu shubuh&lt;br&gt;ada yang menyebutkan jarak zenit 110 derajat atau 108 derajat. Perbedaan waktunya bisa sekitar 10 menit dan itu bisa terkait dengan batal tidaknya&lt;br&gt;puasa ketika mengakhiri sahur.&lt;br&gt;        Tanpa kita sadari bersama, semua ormas Islam di Indonesia sudah bersepakat dengan kriteria jadwal shalat yang ditetapkan Departeman&lt;br&gt;Agama. Kini ada yang masih melihat fenomena langit seperti fajar, terbit, zawal (tengah hari), panjang bayangan, terbenam, dan syafak merah untuk&lt;br&gt;menentukan masuk waktu shalat atau belum. Banyak pula yang sepenuhnya percaya pada jadwal yang sudah dihitung. Rukyat dan hisab sama-sama&lt;br&gt;dihargai dan dengan kriteria yang sama, kita bisa bersepakat dalam penentuan waktu shalat.&lt;br&gt;        Belajar pada kesepakatan itu, kita juga bisa mengupayakan kriteria awal bulan yang berlaku bagi metode hisab dan rukyat. Secara astronomis itu&lt;br&gt;mudah, hanya perlu kesepakatan dan penyesuaian dengan syariat. Bila tidak ada kendala aturan organisasi, pada dasarnya kriteria tersebut bisa&lt;br&gt;segera ditetapkan untuk menentukan Idul Fitri mendatang. Tetapi bila ada kendala aturan organisasi, maka penerapan kriteria baru bisa ditunda&lt;br&gt;tahun mendatang. Tetapi kita pun masih punya peluang bersatu dalam merayakan Idul Fitri mendatang.&lt;br&gt;        Penentuan Idul Fitri adalah masalah ijtihadiyah. Ada satu dalil yang menyebutkan Rasulullah mengajarkan kemungkinan menunda shalat Idul Fitri.&lt;br&gt;Pada hari terakhir Ramadhan Rasulullah SAW masih berpuasa. Pada siang hari datanglah informasi bahwa hilal awal Syawal telah terlihat.&lt;br&gt;Rombongan yang datang tahu bahwa itu sudah masuk 1 Syawal, tetapi menunda shalat Idul Fitri sampai besoknya sesuai perintah Rasulullah, walau puasa&lt;br&gt;sudah dibatalkan.&lt;br&gt;        Analogi dengan dalil itu, dengan dasar menjaga ukhuwah (persaudaraan) bisa saja saudara-saudara kita yang meyakini Idul Fitri 12 Oktober pada&lt;br&gt;hari itu tidak berpuasa. Tetapi shalat idul fitri bisa bersama menunggu keputusan pemerintah. Bila itu diterima, shalat Idul Fitri bisa seragam,&lt;br&gt;syiar Islam bisa diperkuat, dan ukhuwah dapat terjaga. &lt;/font&gt;&lt;/pre&gt;&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Lagi%2c+Ayo+Bersatu+Berhari+Raya&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><category>Hisab-Rukyat</category><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!243.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!243.entry</guid><pubDate>Mon, 08 Oct 2007 03:42:30 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!243/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!243.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2007-10-08T03:42:30Z</dcterms:modified></item><item><title>Mari Bersatu Berhariraya</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!242.entry</link><description>&lt;p style="text-align:center" align=center&gt;&lt;font size=6&gt;Kesalahpahaman
Sekitar Hisab Rukyat&lt;/font&gt;

&lt;p style="text-align:center" align=center&gt; T. Djamaluddin, LAPAN Bandung

&lt;p&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Salah
satu penghambat menuju titik temu adalah masih adanya kesalahpahaman di tingkat
ormas, baik di tingkat pimpinan (selain pimpinan organ ormas yang menangani khusus
hisab rukyat) maupun di tingkat anggota akar rumput. Berikut catatan saya
menanggapi kesalahpahaman di situs http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=609&amp;amp;Itemid=2&amp;amp;lang=en&lt;br&gt;Saya berharap ini menjelaskan masalah sesungguhnya. Kalau persepsi sudah kita samakan, insya Allah hasil
kajian teknis tentang upaya titik temu lebih mudah diterapkan. &lt;br&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt; 

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Komentar simpatisan ormas:

&lt;ol style="margin-top:0in" start=1&gt;&lt;li style="text-align:justify"&gt;Jangan sampai penyamaan persepsi merubah pendirian
     Muhammadiyah selama ini dalam penentuan awal bulan qamariyah, yaitu jika
     bulan telah medahului matahari saat matahari terbenam,asal sudah terlihat
     sabit kecil. Patokan pada ilmu falak saja.&lt;li style="text-align:justify"&gt;Menurut saya, ini adalah masalah KEYAKINAN. jadi gak
     perlu satu pihak harus mengalah dan merubah keyakinannya hanya untuk
     memenuhi keinginan sebagian orang untuk ber hari raya pada waktu yang
     bersamaan. Bagi saya, kalau PP Muhammadiyah bersedia &amp;quot;mengikuti&amp;quot;
     PBNU, atau sebaliknya NU yang &amp;quot;mengikuti Muhammadiyah, sama saja artinya
     dengan mengingkari keyakinan kita sendiri, atau mengakui &amp;quot;sesalahan
     keyakinan&amp;quot; kita selama ini. Dan itu teramat susah buat saya.&lt;li style="text-align:justify"&gt;Dengan peradaban dunia yang semaikin tinggi,
     kemungkinan kecil perhitungan (hisab) meleset, bisa jadi perpecahan dan
     perbedaan ini dimanfaatkan oleh umat nonmuslim (kristian) untuk
     memrongrong keutuhan persaudaraan islam, Dilihat dari kutipan maklumat PP
     Muhammadiyah 1428 H, bengapa dasar alqur'an dan hadist ini tidak dipahami
     umat muslim pada umumnya. Tapi semua ini moga semua ini tidak mengurangi
     makna ibadah itu sendiri.&lt;/ol&gt;

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Tanggapan TD:

&lt;p&gt;Sedikit pesan untuk teman-teman yang tampaknya
begitu teguh memegang keyakinan. Pliiisss dong fahami masalahnya.
Menyebut-nyebut &amp;quot;patokan pada ilmu falak saja&amp;quot; tidak cukup. Sekarang
ini semua palaku hisab rukyat sudah berpatokan pada ilmu hisab, ilmu falak/astronomi. Teman-teman Muhammadiyah, NU, Persis
juga banyak yang jago ilmu hisab. Hitungan NU, Muhammadiyah, Persis, dan
astronom sudah sama. Mengapa kesimpulannya beda? Karena kriterianya beda.
Muhammadiyah menggunakan kriteria wujudul hilal (sejujurnya, secara ilmu
falak/astronomi ini dipermasalahkan) + prinsip wilayatul hukmi. Ini yang
menyebabkan keputusannya Idul Fitri 12 Oktober. Kalau kriterianya diubah
(sesuai perkembangan ilmu falak/astronomi modern), keputusannya akan beda. Nah,
yang kini diupayakan adalah mencari kriteria yang disepakati bersama oleh
Muhammadiyah, NU, dan ormas-ormas lainnya dengan masukan dari pakar-pakar
astronomi. Jadi, sangat mungkin untuk dipersatukan kriterianya tanpa mengubah
keyakinan metode hisab atau rukyat. Pliiiis deh fahami masalahnya. Kita ingin
bersatu, mengapa dianggap sulit. Mudah kok, kalau mau...

&lt;p style="margin-left:0in"&gt; 

&lt;p style="margin-left:0in"&gt;Tanggapan simpatisan ormas:

&lt;p&gt;Pak Thomas, memang kriteria ga' boleh beda?
Sejujurnya juga, apakah kriteria imkanur-rukyat bebas dari masalah? Mnrt sy
justru lbh bermasalah. Bapak sbg 'orang pintar' justru jgn memancing dg
menunjuk kesalahan satu pihak. Baca berita dong, bgmn ustadz Hasyim Muzadi dan
ustadz Quraish Shihab berkomentar. Sangat menyejukkan. Sy setuju dibangun
kesepakatan. Tp, kesepakatan kan tdk hrs dipaksakan memilih satu kriteria yg
sama. Sepakat utk berbeda, mungkin saja terjadi. Persoalan ini jangan dibawa
kepada isu persatuan vs perpecahan. Itu provokator namanya.

&lt;p style="text-align:justify"&gt;Tanggapan TD:

&lt;p&gt;Menjelang Ramadhan PP Muhammadiyah mengelar
simposium penyatuan kalender. Dalam konsepsi hisab rukyat, penyatuan kalender
bermakna penyatuan kriteria.Kriteria itu mancakup kriteria hisab dengan dasar rukyat. Kalau kriterianya beda, sampai kapanpun jangan
bermimpi soal penyatuan kalender. Tenang saja, di tingkat Majelis Tarjih
Muhammadiyah (biasanya diwakili Pak Oman Fathurohman), Lajnah Falakiyah NU (biasa diwakili
Kyai Ghazali Masruri), Dewan Hisab Persis (biasa diwakili Kyai Abdurrahman KS),
dan organ ormas sejenis di tiap ormas Islam hal ini sudah difahami. Kami sudah
biasa mendiskusikannya di Badan Hisab Rukyat Depag RI. Catatan saya untuk
penyadaran bagi semua warga ormas yang belum faham masalah sesungguhnya.
Pertemuan yang difasilitas Wapres Senin 24 September 2007 itu untuk memperkuat hasil diskusi di tingkat BHR
tersebut yang selama ini terbentur hanya sampai tingkat teknis. Sekarang
tingkat pimpinan puncaknya sudah berkomitment untuk samakan persepsi. Di tingkat
teknis, itu bermakna mencari kriteria bersama. Kita tinggalkan kriteria wujudul hilal, kita tinggalkan krietria imkan rukyat 2 derajat, mari kita rumuskan kriteria hisab rukyat yang baru. Masing-masing manju selangkah. Kita bisa bersatu, walau metode
berbeda (hisab atau rukyat) dengan menyepakati kriteria bersama. Tingggal satu
langkah lagi. Mari kita dukung.&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Mari+Bersatu+Berhariraya&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><category>Hisab-Rukyat</category><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!242.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!242.entry</guid><pubDate>Wed, 26 Sep 2007 05:56:08 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!242/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!242.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2007-09-26T05:56:08Z</dcterms:modified></item><item><title>Mari Bersatu Berhari Raya</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!241.entry</link><description>&lt;font size=6&gt;&lt;span style="font-weight:bold"&gt;Kita Bisa Bersatu Berhari Raya&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;br&gt;T. Djamaluddin, LAPAN Bandung&lt;br&gt;&lt;br&gt;Muhammadiyah telah mengumumkan Idul Fitri 12 Oktober 2007. Beritanya dan maklumatnya termuat di situs resminnya. Kebetulan situs tersebut juga memuat tanggapan pembacanya, maka saya pun turut menulis tanggapan saya dan saran saya kepada Muhammadiyah khususnya dan semua ormas Islam di Indonesia pada umumnya. Ini bisa dilihat di&lt;br&gt;http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=588&amp;amp;Itemid=2&amp;amp;lang=en&lt;br&gt;Agar bisa juga dibaca secara utuh, tanggapan tersebut saya masukan juga di blog saya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Kini bukan zamannya mempertentangkan hisab atau rukyat. Kita yakin
hasil keduanya bersifat ijtihadiyah. Hitungan astronomi memang akurat,
tetapi memutuskan &amp;quot;masuknya tanggal 1&amp;quot; adalah hasil ijtihad, yang bisa
salah dan bisa benar. Muhammadiyah berijtihad masuknya tanggal 1
didasarkan pada kriteria &amp;quot;wujudul hilal&amp;quot; + prinsip wilyahtul hukmi
untuk menetapkan 1 syawal jatuh pada 12 Oktober. Persis juga
berlandaskan hisab, tetapi berijtihad dengan kriteria &amp;quot;wujdul hilal di
seluruh Indonesia&amp;quot; sehingga memutuskan 1 Syawal 13 Oktober 2007. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Secara
astronomi, keputusan kapan 1 Syawal bisa berbeda-beda tergantung
kriterianya. Sebagai hasil ijtihad, kriteria mestinya bisa berubah.
Mari kita maju selangkah untuk mencari kriteria bersama yang bisa
menyatukan ummat Islam, baik yang berpegang rukyat maupun hisab. Semua
Ormas bisa melakukanya.&lt;br&gt;
&lt;br&gt;
Keputusan sudah diambil, masih mungkinkah kita bersatu?
Mungkin. Secara fiqih masih dimungkinkan tidak shaum pada 12 Oktober
(karena dianggap sudah Idul Fitri), tetapi menunda shalat ied 13
Oktober (kalau keputusan sidang itsbat seperti itu). seperti dilakukan
Dewan Syariah PKS Pusat tahun lalu yang membuat edaran bolehnya menunda
shalat Ied demi kemashlahatan ummat. Memang banyak ulama yang
membolehkannya. Salah satu alasannya, para perukyat yang sudah
tahu melihat hilal awal Syawal tidak melaksanakan sendiri, tetapi
melaporkan dulu kepada Nabi lalu Nabi memerintahkan shalat Idul Fitri
hari berikutnya. Analog atau qiyasnya, Muhammadiyah yang berpendapat
Idul Fitri 12 Oktober kemudian melaporkan kepada Sidang Itsbat, dan --
misalkan nanti keputusannya 13 Oktober-- mengumumkan shalt Idul Fitri
13 Oktober (walau sudah tidak shaum 12 Oktober).&lt;br&gt;&lt;br&gt;Ayo bersatu. Jangan buat dikhotomi Pemerintah vs Ormas atau NU vs Muhammadiyah atau rukyat vs hisab.
Penentuan awal Ramadhan dan hari raya, juga awal bulan qamariyah
lainnya adalah masalah ijtihadiyah pada kriteria. Banyak orang terlalu picik
menyebut hisab lebih unggul dari rukyat atau sebaliknya rukyat lebih
unggul dari hisab. Dari segi astronomi, keduanya berkedudukan sama.&lt;br&gt;&lt;br&gt;
Mengapa Idul Fitri sebaiknya bersatu? Karena Idul fitri, bukan hanya
dimensi ibadah, tetapi ada dimensi sosial (ibadah masal) dan punya
nilai syiar yang sangat bagus untuk menunjukkan ukhuwah. Menjaga
ukhuwah adalah wajib dan melaksanakan shalat Idul Fitri adalah sunnah,
maka utamakan yang wajib.&lt;br&gt;&lt;br&gt;
Ayo kita bersatu demi ukhuwah. Malu kita ditertawakan orang non-Islam
dan ditertawakan oleh komunitas astronomi sendiri (banyak loh orang
yang tak faham astronomi bicara banyak soal aspek teknis sekadar untuk
memperkuat argumen fikihnya). Kita bisa bersatu. Pemerintah sudah
beritikad baik mengakomadasi semua kepentingan masyarakat Islam melalui
sidang itsbat, mari kita hargai tanpa curiga.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Mari kita belajar pada kesepatakan jadwal shalat. Jadwal shalat pada
dasarnya sama dengan penentuan awal bulan. Pada awalnya dengan
pengamatan (rukyat) dari keadaan langit (fajar, terbit, zawal,
terbenam, syafak) dan bayangan matahari. Lalu ketika berkembang ilmu
hisab, maka dirumuskan ketinggian matahari sekian derajat untuk
masing-masing waktu shalat. Sebenarnya masih ada perdebatan soal kriteria itu. Lalu
semua ormas bisa bersepakat untuk mengambil kriteria yang ditetapkan
Departemen Agama bahwa shubuh z=110, Dzuhur tengah hari + ikhtiati,
asar= tan(za) = tan(zd) + 1, maghrib = terbenam + ikhtiyati, isya
z=108. Kalau mau rukyat lihat fenomena langit dan bayangan silakan,
kalau percaya pada hisab yang tertera pada jadwal shalat silakan.
Rukyat dan hisab pada penentuan jadwal shalat dianggap sama kedudukannya. Semua ormas sudah sepakat dengan
kriteria yang dibuat pemerintah untuk jadwal shalat dan eksistensi
rukyat dan hisab tetap dihargai. Kita sedang menuju ke sana untuk penentuan awal bulan qamariah. Badan
Hisab Rukyat Depag sedang mengupayakan kesepakatan kriteria untuk
dijadikan kriteria bersama awal bulan semua pihak. Nanti kriteria
Muhammadiyah soal wujudul hilal, krietrai NU yang tingginya 2 derajat,
kriteria Persis wujudul hilal di seluruh Indonesia, semuanya maju
selangkah menuju kriteria bersama. Mari kita dukung untuk bersatu,
hilangkan egoisme ormas demi ukhuwah. Kita bisa bersatu.&lt;br&gt;&lt;img src="http://c.services.spaces.live.com/CollectionWebService/c.gif?cid=-3235950824713060393&amp;page=RSS%3a+Mari+Bersatu+Berhari+Raya&amp;referrer=" width="1px" height="1px" border="0" alt=""&gt;&lt;img style="position:absolute" alt="" width="0px" height="0px" src="http://c.live.com/c.gif?NC=31263&amp;amp;NA=1149&amp;amp;PI=73329&amp;amp;RF=&amp;amp;DI=3919&amp;amp;PS=85545&amp;amp;TP=t-djamaluddin.spaces.live.com&amp;amp;GT1=t-djamaluddin"&gt;</description><category>Hisab-Rukyat</category><comments>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!241.entry#comment</comments><guid isPermaLink="true">http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!241.entry</guid><pubDate>Mon, 24 Sep 2007 02:09:53 GMT</pubDate><slash:comments>0</slash:comments><msn:type>blogentry</msn:type><live:type>blogentry</live:type><live:typelabel>Blog entry</live:typelabel><wfw:commentRss>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!241/comments/feed.rss</wfw:commentRss><wfw:comment>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!241.entry#comment</wfw:comment><dcterms:modified>2007-09-24T02:09:53Z</dcterms:modified></item><item><title>QA Sekitar Sains dan Kaitan dengan Quran</title><link>http://t-djamaluddin.spaces.live.com/Blog/cns!D31797DEA6587FD7!238.entry</link><description>&lt;p&gt;JAWABAN ATAS BEBERAPA KESALAHPAHAMAN ATAS SAINS DAN KAITAN
DENGAN QURAN

&lt;p&gt;(Misalnya, gerakan bumi, matahari mengitari bumi, pendaratan di bulan, teori
evolusi)

&lt;p&gt; 

&lt;p&gt;T. Djamaluddin

&lt;p&gt;Peneliti Utama Astronomi Astrofisika, LAPAN Bandung

&lt;p&gt; 

&lt;p&gt;Seorang pembaca blog saya mengirim sederet pertanyaan yang
kebetulan menyinggung masalah yang sedang atau pernah ramai diperbincangkan di
beberapa milis dan di beberapa blog/situs. Agar bermanfaat bagi pembaca lain yang
mungkin punya pertanyaan serupa, tanya jawab itu saya edit dan saya masukkan di
blog saya ini. Semoga bermanfaat.

&lt;p&gt; 

&lt;p&gt;TANYA: Jika kita melihat ke langit dengan mata telanjang,
apakah bintang dan planet itu berada pada posisi yang sama setiap hari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ataukah berpindah, hari ini di barat, bulan
depan di timur, atau bagaimana?

&lt;p&gt;JAWAB TD: Karena bumi mengorbit matahari, bintang yang
terlihat (mudahnya dikelompokan sebagai rasi bintang) secara perlahan berubah
posisinya. Misalnya, rasi Crux (Salib Selatan) pada pukul 19.00 tanggal 5 April
masih condong ke arah Timur, pada 11 Juni posisinya tegak tepat di arah
Selatan, lalu pada 5 September sudah condong ke arah Barat. Planet akan tampak berubah posisinya relatif terhadap rasi-rasi bintang secara perlahan dari hari ke hari.

&lt;p&gt; 

&lt;p&gt;TANYA: Apakah rasi bintang yang dilihat di indonesia malam ini sama dengan
yang dilihat di belahan amerika saat malamnya. (pada tanggal yang sama)? Ataukah
tiap belahan bumi punya wajah langit masing2?

&lt;p&gt; 

&lt;p&gt;JAWAB TD: Secara umum bola langit pada suatu saat sama,
hanya karena posisi suatu daerah tidak mungkin bisa melihat seluruh langit. &lt;span style="" lang=IT&gt;Pengamat di Indonesia sulit melihat rasi
bintang di langit utara yang mudah diamati di Amerika. Sebaliknya pengamat
Amerika sulit melihat rasi bintang di langit selatan yang mudah diamati dari
Indonesia. Rasi bintang di ekuator langit dapat terlihat di Indonesia dan di
Amerika, tetapi pada waktu yang berbeda karena perbedaan posisi.&lt;/span&gt;

&lt;p&gt;

&lt;p&gt;TANYA: Benarkah diantara bulan dan bumi ada lapisan yg
sangat panas sehingga NASAnya Soviet menantang kalau Amerika benar-benar pernah
mendarat di bulan, coba tenggelamkan dulu pesawat dan astronot mereka di
kawah gunung api. Kalau tetap selamat awaknya baru mereka percaya
pendaratan tersebut.

&lt;p&gt;JAWAB TD: Di antara bumi dan bulan ruang angkasa yang sangat
dingin. Di permukaan bulan pun tidak sepanas kawah gunung berapi. Semua ilmuwan
antariksa tahu itu. Jadi, itu berita bohong bahwa ilmuwan Uni Sovyet
membantah ilmuwan AS tentang pendaratan manusia di bulan.

&lt;p&gt; 

&lt;p&gt;TANYA: Berkaitan dengan the fake story of&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;USA moon landing, saya jadi ragu dengan foto
bulan dari permukaan (seperti yang bapak rujuk di artikel bulan pernah
terbelah). Apa foto itu bisa dipercaya? Kita tahu teknologi Hollywood
memungkinkan Amerika membuat image apa saja (Seingat saya NASA baru berencana
mengirimkan ekspedisi ke bulan sekitar 10 -20 tahun lagi)

&lt;p&gt;JAWAB TD: Dalam etika ilmiah, kebohongan adalah kejahatan
besar. Tidak mungkin kebohongan masuk dalam jurnal-jurnal ilmiah. Lagi pula tidak mungkin ilmuwan sedunia mau dibohongi dengan foto-foto bulan hasil
rekayasa. Pendaratan
manusia di bulan benar adanya. Para pembantahnya jelas orang-orang yang tidak
faham fakta ilmiah. Jawaban ilmiah oleh seorang astronom atas keraguan tentang
pendaratan di bulan bisa dibaca di
http://www.badastronomy.com/bad/tv/foxapollo.html

&lt;p&gt; 

&lt;p&gt;TANYA: Alqur'an menyebutkan matahari dan bulan beredar pada
orbitnya, tapi tidak mengatakan bumi beredar, bahkan di hadits, &amp;quot;Jika saja
bumi itu bergerak sedikit saja dari posisinya maka akan terjadi kerusakan yang
sangat besar&amp;quot;. Benarkah bumi bergerak? Kalau bumi kita bergerak, dan
planet bergerak,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seharusnya ada
kejadian Mars tertutup matahari selama beberapa waktu lamanya karena perbedaan
kecepatan revolusi, dan begitu juga benda-benad langit lainya.

&lt;p&gt;JAWAB TD: Ya, bulan beredar pada orbitnya mengitari bumi.
Matahari pun beredar pada orbitnya mengitari pusat galaksi (bukan mengitari
bumi). Bumi bergerak di ruang angkasa, berotasi sambil mengitari matahari,
adalah suatu fakta ilmiah yang tak terbantahkan. Planet-planet pun mengitari
matahari. Karenanya, Mars (juga planet-planet lainnya) bisa tertutup oleh
matahari bila dilihat dari bumi, bila konfigurasinya hampir segaris dan
matahari berada di antara bumi dan Mars. Hadits tersebut (bila shahih) harus
dimaknai secara tepat, tidak harus berarti gerak rotasi atau gerak di ruang angkasa. Gerak tersebut bisa saja dimaknai gerak lepeng buminya
yang menyebabkan gempa.

&lt;p&gt; 

&lt;p&gt;&lt;span style="" lang=IT&gt;TANYA: Bapak
sebutkan Mars tertutup matahari untuk berapa lama? Kalau hanya karena siang
saya anggap itu bukan hilang . &lt;/span&gt;Apakah venus juga akan menghilang dari
fajar untuk berbulan atau berminggu lamanya?

&lt;p&gt; 

&lt;p&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;JAWAB TD: Mars
dan planet-planet lain tertutup matahari bukan karena siang, tetapi karena
posisi orbitnya berada di balik posisi matahari. Sebelum tertutup pun pasti
planet-planet tersebut tidak mungkin teramati karena kalah oleh cahaya matahari
yang sangat kuat. Tidak tampaknya karena siang disebabkan oleh rotasi bumi yang
hanya berperiode 24 jam.&lt;/span&gt;

&lt;p&gt;

&lt;p&gt;TANYA: Benarkah bumi ini berputar,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saking sangat cepat hingga tidak terasa? Apa itu ada buktinya
atau ini hanya asumsi agar teori heliosentris bisa dipakai?

&lt;p&gt;JAWAB TD: Ya, bumi berputar pada porosnya, buktinya ada
malam dan siang dan kita lihat matahari, bulan, dan bintang-bintang terbit di
timur dan terbenam di barat. Kita tidak merasa gerakan rotasi tersebut, karena
efek gaya gravitasi yang menarik kita tetap berada di permukaan bumi lebih
dominan daripada efek gerak rotasi bumi tersebut. Kalau kita berbaring lama sambil terus
memandang ke langit, kita akan merasa bahwa kita sedang berputar mengitari
ruang angkasa dengan melihat bintang-bintang secara perlahan bergeser. Sebagai
tambahan informasi, teori heliosentris pun kini tidak tepat lagi, karena
matahari bukanlah pusat alam semesta. Dalam tinjauan alam semesta skala besar
(dalam kajian kosmologi), kita tidak mengenal adanya pusat alam semesta.

&lt;p&gt; 

&lt;p&gt;TANYA: Kalau bumi berputar sangat cepat serta bergerak,
kenapa kita tidak melihat langit yang berganti setiap hari?

&lt;p&gt;JAWAB TD: Bumi berputar sekali dalam 24 jam, karena itu kita
lihat benda-benda langit terbit dan terbenam. Bumi mengelilingi matahari sekali
dalam setahun, karena itu rasi-rasi bintang silih berganti dalam periode 1
tahun dan kita mengalami perubahan musim. Perubahan tersebut relatif lambat
sehingga kita tidak merasa.

&lt;p&gt; 

&lt;p&gt;TANYA: Setahu saya Allah jadikan rasi bintang sebagai
petunjuk arah, maka seharusnya dia tidak bergeser ke arah horisontal secara
ekstrim, misalnya bulan ini posisinya di barat lalu bulan X, posisinya di
timur. Apakah seperti itu pak?

&lt;p&gt; 

&lt;p&gt;JAWAB TD: Rasi bintang digunakan sebagai penunjuk arah, karena
posisinya relatif tetap di bola langit, misalnya rasi Crux (salib selatan)
selalu menunjuk arah selatan, walau berubah posisinya karena rotasi bumi
(sehingga terbit di timur dan terbenam di barat) dan karena revolusi bumi
mengitari matahari (sehingga posisinya berubah relatif terhadap matahari).
Perubahan itu sedikit demi sedikit sesuai perubahan akibat rotasi dan revolusi
bumi dan dapat dimodelkan secara matematik untuk prakiraan posisinya pada suatu
saat.

&lt;p&gt;

&lt;p&gt;TANYA: Kalau bumi berputar cepat kenapa satelit yang di
orbit bumi bisa tetap di posisinya? Gravitasi di orbit lebih kecil, seharusnya
lebih lambat mengikuti rotasi bumi

&lt;p&gt;JAWAB TD: Bagi siswa SMA IPA atau mahasiswa sains dan
teknik, mestinya sudah belajar fisika dasar tentang benda jatuh (gerak benda
yang dipengaruhi gravitasi). Satelit mengorbit bumi pada dasarnya adalah benda
jatuh. Periode orbitnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tergantung jaraknya
dari pusat bumi. Satelit pada ketinggian sekitar 36.000 km periode orbitnya
sama dengan periode rotasi bumi, sehingga tampak tetap di posisi tertentu
(karenanya disebut satelit geostasioner). Bila ketinggiannya kurang dari itu, maka
periodenya kurang dari 24 jam, sehingga tampak berpindah secara cepat.&lt;p&gt;

&lt;p&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;TANYA: Asumsi
bumi berotasi mengakibatkan benda langit lain mengalami hal serupa, lalu
mengapa kita tidak bisa melihat wajah bulan yang lain dari bumi? Bukankah
seharusnya wajah bulan berganti seiring dengan waktu rotasinya?&lt;/span&gt;

&lt;p&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt; &lt;/span&gt;

&lt;p&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;JAWAB TD: Wajah
bulan tampak selalu sama karena rotasi bulan sama periodenya dengan revolusi
bulan mengelilingi bumi, yaitu 27, 3 hari. Ini akibat efek sinkronisasi akibat
gaya pasang surut bumi. Kalau bulan diam, maka secara perlahan kita akan
melihat permukaan bulan bagian lainnya selama revolusinya mengelilingi bumi. Semua
benda langit mempunyai gerak rotasi, termasuk bulan dan bumi. &lt;/span&gt;

&lt;p&gt;

&lt;p&gt;&lt;br&gt;&lt;p&gt;TANYA: Rotasi juga bermasalah terhadap hadits nabi SAW,
karena kalau bumi yang berotasi agar matahari terbit dari timur, maka bagaimana
dengan janji Allah tentang tanda kiamat yang ditandai dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;matahari terbit dari barat secara tiba-tiba,
(tanpa disadari) sehingga orang2 terbelalak. (Setelah itu kehidupan masih harus
berjalan biasa, karena masih banyak tanda besar kiamat yang lain). Kalau bumi
berotasi, maka untuk mengubah arah rotasi pasti terjadi kerusakan luar biasa di
muka bumi karena perubahan arah rotasi bumi dengan massa yang begitu besar,
bagaimana ini pak? Apa ada kesalahan dalam teori heliosentris?

&lt;p&gt;JAWAB TD: Tidak ada pertentangan. Tanda hari kiamat matahari
terbit di barat, artinya memang ada kekacauan luar biasa. Kalau rotasi bumi
dibalikkan (bagi Allah mudah saja), sehingga matahari tampak terbit dari barat, maka efek pertama
adalah seisi bumi akan terlontar ke angkasa, manusia seperti anai-anai dan
(batuan) gunung sepertu bulu-bulu yang dihamburkan (baca surat Al-Qariah
tentang kiamat). Hadits tersebut tidak menyebutkan urutan kejadian
masing-masing tanda, tetapi masing-masing berdiri sendiri.

&lt;p&gt; 

&lt;p&gt;KOMENTAR: Alhamdulillah saya baru membaca literatur
bagaimana peredaran bumi, matahari, dan bulan menurut penyelidikan para ulama
berdasar Alquran dan Hadits yang shahih. Tentu akan lebih menarik kalau ada
tinjauan sainsnya. sehingga suatu saat ada ilmuwan yang berani membela
Al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW, seperti Harun Yahya membantah evolusi.

&lt;p&gt;TANGGAPAN TD: Tinjauan Al-Quran (dan Hadits) tidak bisa
diadukan dengan tinjauan sains, karena sifatnya berbeda. AlQuran (dan hadits
shahih) bersifat mutlak benarnya, sedangkan sains kebenarannya relatif (terus
berkembang seiring perkembangan ilmu manusia). Yang bisa diadukan adalah
interpretasi atau tafsirnya yang berada pada tataran ijtihadiyah, bisa benar
bisa juga salah. Al-Quran harus ditafsirkan dengan ilmu Quran dan sains harus
ditafsirkan dengan sains, baru dibandingkan. Perbandingan itu pun tidak bisa
diklaim benar, karena itu tetap saja ijtihadiyah. Harun Yahya dan para pendukungnya
menyalahkan teori evolusi bukan dengan analisis sains, tetapi dengan analisis
ilmu lain (misalnya sosiologi). Ustadz Ahmad Sabiq menyalahkan “bumi mengelilingi
matahari” bukan dengan analisis sains, melainkan dari analisis tafsir Quran.
Bagi saintis bantahan itu tidak ada maknanya. Karenanya tidak perlu ditanggapi.
Saintis akan mengakui kesalahannya dan menerima teori baru kalau analisisnya
juga didasari pada kaidah sains juga. Logika yang digunakan untuk membantah
teori evolusi sejak dulu bukanlah logika sains, karenanya teori evolusi terus
berkembang dengan makin banyak bukti yang dapat ditelusur pada jurnal-jurnal
ilmiah (bukan tulisan populer yang ditulis oleh bukan saintis yang mengaku
pakar). Mohon difahami, janganlah kesucian Al-Quran sekadar dijadikan
pembenaran untuk mendukung interpretasi penulisnya, yang bukan merupakan
interpretasi sains -- artinya bukan interpretasi yang didasari bukti-bukti
sains seperti pada jurnal-jurnal ilmiah yang diakui. Secara praktis,
semestinya penulis buku bantahan terhadap &amp;quot;bumi mengelilingi
matahari&amp;quot; (seperti Ustadz Ahmad Sabiq) atau penulis buku bantahan terhadap
teori evolusi (seperti Harun Yahya) harus bisa membuktikan dulu secara ilmiah tentang keyakinannya atas interpretasi/tafsir Al-Quran. Dengan kata lain, interpretasi/tafsir (sekali lagi interpretasi, bukan esensi ayat)
Al-Quran harus bisa ditransformasikan dulu menjadi bahasa sains, artinya
asumsi dalam tafsir harus didukung dulu bukti-bukti ilmiah untuk dituliskan
dalam jurnal ilmiah untuk membantah teori sains. Tanpa itu, bantahan terhadap sains tidak
ada artinya, hanya dianggap hebat oleh orang awam seolah bantahan itu suatu penemuan ilmiah yang maha penting. Ibarat ahli teknik mencacimaki puisi atau ahli sastra menghujat
hukum gravitasi, salah sasaran karena sudut pandang yang berbeda.&lt;p&gt;

&lt;p&gt;TANYA: Apakah yang Harun Yahya lakukan dalam membantah teori
evolusi dengan memberikan berbagai bukti yang tidak dapat dijawab dengan
pendekatan evolusi tidak bisa disebut membantah teori evolusi?

&lt;p&gt; 

&lt;p&gt;JAWAB TD: Harun Yahya tidak membantah teori evolusi dengan
perangkat sains. Kalau betul, mestinya bantahannya muncul di jurnal sains
dengan bukti-bukti saintifik. Bantahannya dalam artikel populer dianggap
sekadar tulisan orang awam yang tidak faham teori evulusi sehingga diabaikan
oleh saintis.

&lt;p&gt;

&lt;p&gt;&lt;span style="" lang=SV&gt;KOMENTAR: Lihat
buku Matahari mengelilingi bumi