T. さんのプロフィールDokumentasi T.Djamaluddi...フォトブログリスト ツール ヘルプ

Dokumentasi T.Djamaluddin

Arsip lama bisa juga dibaca di http://media.isnet.org/isnet/Djamal/index.html . Bila ingin kontak, silakan e-mail ke t_djamal(at)bdg(dot)lapan(dot)go(dot)id; t_djamal(at)hotmail(dot)com
2009年11月

Isra' Mi'raj Dipahami dengan Sains (3)

TUJUH LANGIT PADA KISAH ISRA’ MI’RAJ

 

Dua tulisan saya sebelumnya tentang tujuh langit dalam kisah isra’ mi’raj dan perjalanan antar dimensi dapat di lihat di link berikut ini. Tulisan ketiga ini hanyalah menataulang dan melengkapinya dalam satu uraian utuh.

 

http://t-djamaluddin.spaces.live.com/default.aspx?_c01_BlogPart=blogentry&_c=BlogPart&handle=cns!D31797DEA6587FD7!292

 

http://t-djamaluddin.spaces.live.com/default.aspx?_c01_BlogPart=blogentry&_c=BlogPart&handle=cns!D31797DEA6587FD7!300

 

Pada kisah isra’ mi’raj, “tujuh langit” tampaknya bukan langit fisik benda-benda langit, tetapi langit non-fisik. Karena dalam kisah itu bercampur fenomena fisik dan banyak fenomena non-fisik. Fenomena fisik misalnya perjalanan dari Mekkah ke Palestina, melihat kafilah dalam perjalanan yang menjadi bukti perjalanan Rasulullah, dan Rasulullah SAW meminum susu ketika ditawari dua bejana minuman. Tetapi banyak juga fenomena non-fisik yang dialami Rasulullah SWA, misalnya perjalanan bersama malaikat Jibril, pertemuan dengan beberapa Nabi, dan melihat Sidratul Muntaha yang tidak ada penjelasan konsisi dan lokasi fisiknya.

            Perjalanan Rasulullah dalam dalam kisah isra’ mi’raj lebih tepat dimaknai sebagai perjalanan antardimensi, karena ada fenomena fisik yang kita kenal dalam dimensi ruang-waktu, tetapi banyak juga fenomena di luar dimensi ruang-waktu.

 

"Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui." (QS 17:1)

 

 “Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,  (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS 53:13:18)

 

Perjalanan antardimensi bermakna bahwa Rasulullah SAW bersama Jibril diajak keluar dari dimensi ruang-waktu, menuju dimensi yang lebih tinggi. Apakah dimensi itu? Dimensi adalah suatu kerangka acuan yang menggambarkan alam ini. Dimensi satu berupa garis, dengan gerak maju atau mundur saja. Dua dimensi berupa bidang dengan gerak yang lebih bebas: maju, mundur, ke kiri, atau ke kanan. Dimensi tiga lebih bebas lagi, selain gerak di bidang datar, bisa juga ke atas atau ke bawah. Dimensi empat geraknya bukan hanya di ruang, tetapi juga gerak waktu. Kita hidup di dimensi emapt, ruang-waktu. Karenanya kita selalu mengukur berdasarkan ukuran ruang (seperti besar, kecil, jauh, dekat) dan waktu (seperti masa lalu, sekarang, masa depan, lama, sebentar).

Untuk memahami perjalanan antarwaktu, kita ibaratkan ada  alam dua dimensi berbentuk bidang “U” besar. Sebut saja makhluk di alam itu serupa semut. Semut tersebut untuk berpindah dari ujung “U” yang satu ke ujung yang lain harus menempuh jarak yang jauh.. Kita yang hidup di ruang tiga dimensi dengan mudahnya mengangkat semut tersebut dari satu ujung ke ujung lainnya. Mengajak semut tersebut keluar dari dimensi dua menuju dimensi tiga. Jaraknya jelas lebih pendek. Demikianlah analogi sederhana perjalanan antardimensi. Mekanismenya di luar kemampuan sains, tetapi Allah telah memperjalankan hamba-Nya, Rasulullah SAW bersama Jibril yang memang berada di luar dimensi rlebih tinggi dari dimensi ruang-waktu. Logika sains seperti itu hanya untuk menunjukkan bahwa Isra’ Mi’raj dengan jasadnya (bukan sekadar dengan ruh) bukan hal yang mustahil.

Bersama Jibril Rasulullah SAW keluar dari dimensi ruang-waktu yang membatasi pola pikir manusia pada jarak dan waktu. Sedangkan waktu dalam dimensi ruang waktu tidak mungkin berjalan mundur. Dengan keluar dimensi ruang-waktu Rasulullah tidak lagi terikat oleh jarak dan waktu. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dapat dilakukan sekejap, sementara Rasulullah masih bisa mengamati kafilah dalam perjalanannya dan tetap bisa merasakan fenonema fisik dimensi ruang-waktu, seperti minum susu yang ditawarkan Jibril. Rasulullah pun dapat berdialog dengan para Nabi karena tidak ada lagi batasan waktu. Rasulullah pun mendapat gambaran surga dan neraka yang juga bukan fenomena ruang-waktu kita, sehingga tidak mungkin dijelaskan secara tepat di mana dan kapan adanya.

Langit pada kisha Isra’ Mi’raj pun bukan langit fisik seperti “tujuh langit” dalam ungkapan Al-Quran. QS 17:1 dan QS 53:13-18 yang menceritakan sekilas tentang Isra’ dan Mi’raj tidak menyebutkan tujuh langit. Sebutan langit pertama sampai ke tujuh pada kisah Isra’ dan Mi’raj hanya da dalam hadits dan yang menggambarkan perjalanan  yang tidak lazim menurut kebiasaan manusia, tetapi diyakini benar terjadi. Dimensi ruang waktu tidak lagi membatasi. Setelah Isra’ dari Masjid Haram ke Masjidil Aqsha, Rasulullah mi’raj ke langit. Di langit pertama sampai langit ke tujuh Rasulullah bertemu dengan para Nabi. Di langit pertama bertemu Nabi Adam. Di Langit kedua bertemu Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ketujuh. Jelas pertemuan dengan para Nabi itu bukan di planet-planet tertentu di langit, karena para Nabi yang telah wafat tidaklah berada di planet-palnet tertentu.

Sidratul Muntaha pun bukan suatu tempat dan saat yang keberadaannya dalam dimensi ruang-waktu. Keyakinan adanya dimensi lain di alam juga didasari pada keyakinan adanya Jin dan Malaikat  yang berada di luar dimensi ruang-waktu. Dua jenis makhluk Allah itu tidak dibatasi ruang sehingg dengan mudahnya pergi ke mana pun dan tidak dibatasi waktu  sehingga tidak ada kematian bagi mereka, kecuali dengan ketentuan Allah. Kalau mengikuti analogi makhluk di dimensi dua tersebut di atas, kita yang hidup di dimensi ruang dimensi tiga bisa melihat tingkah laku makhluk serupa semut tersebut, tetapi makhluk  itu tidak mengetahui keberadaan kita karena di luar dimensinya. Demikian juga halnya manusia tidak mengetahui keberadaan Jin dan Malaikat, walau kita tahu mereka ada di alam (dimensi) mereka dan mampu mengetahui gerak-gerik kita.

            Kisah isra’ mi’raj tidak dapat dianalisis dengan teori relativitas dengan anggapan Rasulullah berjalan dengan kecepatan cahaya dengan buraq. Bila kita gunakan teori relativitas fenomena yang terjadi justru kebalikannya. Menurut teori relativitas, pada kerangka yang bergerak dengan kecepatan mendekati cahaya, waktunya yang tercatat di jam menjadi lebih lambat. Artinya, orang yang berjalan mendekati kecepatan cahaya akan merasa lebih muda dan waktu yang dialaminya lebih singkat dibandingkan dengan orang yang ditinggalkannya. Oleh karenannya kita mengenal “paradox anak kembar” (twin paradox) pada teori relativitas, saudara kembar yang merantau dengan kecepatan mendekati cahaya akan mendapati saudaranya yang ditinggalkan lebih tua dari dirinya menurut rekaman waktu yang dibawanya. Yang dialami Rasulullah SAW, justru kebalikannya. Rasulullah meengalami perjalanan waktu sangat panjang sehingga bertemu dengan para Nabi dan berbagai peristiwa lainnya, sedangkan para sahabat yang ditinggalkannya hanya merasakan waktu satu malam.

            Logika sains untuk menggambarkan perjalanan Rasulullah SAW sebagai perjalanan antardimensi hanyalah upaya untuk menjelaskan bahwa isra’ dan mi’raj benar adanya dan dilakukan dengan fisik, bukan sekadar mimpi atau perjalanan dengan ruh. Perjalanan antardimensi oleh manusia biasa memang belum memungkinkan secara eksperimen, tetapi konsep dimensi fisik yang lebih dari sekadar dimensi ruang-waktu dikenal dalam sains. Sains dapat membantu memperkuat aqidah kita, tanpa harus mereka-reka dalam cerita psudosains (sains semu, karena tidak didasarkan sains yang benar).
2009年10月

Meteorit Asteroid Jatuh di Bone

LEDAKAN BONE DIDETEKSI SEBAGAI “SUPERBOLIDE” (BOLA API BESAR)


Ledakan di perairan Bone yang saya duga sebagai ledakan meteorit besar ternyata benar. Ini catatan saya sebelumnya http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!608.entry

Ternyata sistem pemantau internasional untuk larangan percobaan nuklir  dari 11 stasiun melaporkan mendeteksi adanya ledakan besar yang berpusat di sekitar lintang 4,5 LS, 120 BT, sekitar pukul 11.00 WITA pada 8 Oktober 2009, seperti laporan media massa.  Analisis ledakan menunjukkan bahwa kekuatan ledakan sekitar  50 kiloton TNT diduga akibat meteorit yang berasal dari asteroid berukuran sekitar 10 meter. Ledakan terjadi karena tekanan atmosfer yang menyebabkan pelepasan  energi yang cukup besar. Ledakan tersebut juga sinyalnya mencapai stratosfer yang tingginya lebih dari 20 km. Diperkirakan meteorit dari asteroid itu berukuran 5 – 10 meter dengan kecepatan jatuh sekitar  20.3 km/detik (73.080 km/jam). Berdasarkan perkiraan sebaran meteoroid-asteroid di antariksa dekat bumi objek seperti itu punya kemungkinan jatuh di bumi setiap  2 – 12 tahun.  

Laporan hasil analisis sistem pemantau internasional itu bisa dibaca di

http://neo.jpl.nasa.gov/news/news165.html

Asteroid Impactor Reported over Indonesia

Don Yeomans, Paul Chodas, Steve Chesley
NASA/JPL Near-Earth Object Program Office
October 23, 2009

On October 8, 2009 about 03:00 Greenwich time, an atmospheric fireball blast was observed and recorded over an island region of Indonesia. The blast is thought to be due to the atmospheric entry of a small asteroid about 10 meters in diameter that, due to atmospheric pressure, detonated in the atmosphere with an energy of about 50 kilotons (the equivalent of 100,000 pounds of TNT explosives).

The blast was recorded visually and reported upon by local media representatives. See the YouTube video at:

http://www.youtube.com/watch?v=yeQBzTkJNhs&videos=jkRJgbXY-90

A report from Elizabeth Silber and Peter Brown at the University of Western Ontario indicates that several international very-long wavelength infrasound detectors recorded the blast and fixed the position near the coastal city of Bone in South Sulawesi, island of Sulewesi. They note that the blast was in the 10 to 50 kT range with the higher end of this range being more likely.

Assuming an estimated size of about 5-10 meters in diameter, we would expect a fireball event of this magnitude about once every 2 to 12 years on average. As a rule, the most common types of stony asteroids would not be expected to cause ground damage unless their diameters were about 25 meters in diameter or larger.

A more extensive report by Elizabeth Silber and Peter Brown of the University of Western Ontario is here.


Summary of Preliminary Infrasonic Analysis of the Oct 8, 2009 Indonesian Superbolide

Elizabeth Silber and Peter Brown
Meteor Infrasound group
Dept. of Physics and Astronomy,
Univ. of Western Ontario
London, ON
N6A 3K7
CANADA

Released: October 19, 2009

On Oct 8, 2009, media reports appeared in the local press in Indonesia concerning a loud air blast occurring near 11am local time (0300 UT). Subsequent to these first media reports, additional English language reports appeared suggesting the event was meteoritic.

http://thejakartaglobe.com/home/mysterious-explosion-panics-locals-in-south-sulawesi-police-still-investigating/334246

http://www.thejakartapost.com/news/2009/10/08/blast-may-be-result-falling-space-waste-or-meteorite-lapan.html

Indonesian language reports more clearly identify a bright fireball, accompanied by an explosion and lingering dust cloud as the origin of the air blast. Finally, a YouTube video posted on the same day appears to show a large dust cloud consistent with a bright, daylight fireball.

http://www.surya.co.id/2009/10/09/ledakan-misterius-guncang-sulsel.html

http://www.youtube.com/watch?v=yeQBzTkJNhs&videos=jkRJgbXY-90

Based on these initial reports, a detailed examination was made of all International Monitoring System (IMS) infrasound stations of the Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty Organization (CTBTO). From this initial examination, a total of 11 stations showed probable signals from a large explosion centered near 4.5S, 120E, with an origin time near 0300 UT on Oct 8, 2009, consistent with the media reports. This signal was notable for having been (a) detected at many IMS stations, including five at ranges over 10,000 km (and one at a nearly 18,000 km range) and (b) being confined to very low frequencies. Both of these observations suggest the explosion source was of very high total energy. All signal motions were between 0.27 - 0.32 km/s, consistent with stratospheric signal returns.

We have used the Air Force Technical Application Centre (AFTAC) period-yield relation as described by ReVelle (1997) as the most robust basic indicator of source energy. To generate measured periods, the average periods of all phase-aligned stacked waveforms at each station were measured, according to the technique described in Edwards et al (2006). These periods were then averaged to produce a single, global average period of 13.4 sec and the AFTAC yield relation applied; this produced an average source yield of 31 kT of TNT. Averaging the individual yields from all stations produces a mean source energy near 50 kT of TNT while using only the eight stations having the highest signal-to-noise-ratio (SNR) and using the local observed periods of the waveform at maximum amplitude produces a yield estimate of 40 kT of TNT, all of which are basically consistent. It is important to note, however, that the standard deviation of this measurement is nearly 30 kT. That is, the best source energy estimate would be 40 +/- 30 kT TNT. Note that much of this variation may be due to the signal emanating from different portions of the fireball trail as observed at different stations; each period measurement is a "sample" of the size of the cylindrical blast cavity at that particular segment of the trail detected by any one station. As such, the out of atmosphere yield for this event is likely higher than these measurements suggest - very probably in the ~50 kT range.

The yield estimates based on infrasonic amplitude are very uncertain in this instance as the propagation distances are much larger than is typical and outside the range limits where such relations have been developed (e.g. Edwards et al, 2006) and hence the period relationship (which was generated using a dataset of nuclear explosions having yields in this range) is more applicable.

Some examples of the detected and processed waveforms are shown in the appendix.

Based on these infrasound records, it appears that a large (40-50 kT TNT) bolide detonation occurred near 0300 UT on Oct 8, 2009 near the coastal city of Bone in South Sulawesi, Indonesia. The infrasonic geolocation is not precise enough to determine if the bolide was over water or land, but it was relatively near the coast.

Follow-on observations from other instruments or ground recovery efforts would be very valuable in further refining this unique event.

Using an average impact velocity for NEAs of 20.3 km/s, the energy limits (10 - 70 kT) suggested by this analysis correspond to an object 5-10 m in diameter. Based on the flux rate from Brown et al (2002), such objects are expected to impact the Earth on average every 2 - 12 years

References

Brown P., Spalding R.E., ReVelle D.O., Tagliaferri E. and Worden S.P. 2002. The flux of small near-Earth objects colliding with the Earth, Nature, 420, 314-316.

Edwards W.N., Brown P.G., ReVelle D.O., 2006. Estimates of Meteoroid Kinetic Energies from Observations of Infrasonic Airwaves, Journal of Atmospheric and Solar-Terrestrial Physics, 68: 1136-1160.

ReVelle D.O. 1997. Historical Detection of Atmospheric Impacts by Large Bolides using Acoustic-Gravity Waves, Annals of the New York Academy of Sciences, Near-Earth Objects - The United Nations International Conference, editor J.L. Remo, New York Academy of Sciences, 822, 284-302.


2009年10月

Fireball Meteorit Besar Jatuh

Meteorit Menimbulkan Ledakan di Bone

 

Kamis siang, 8 Oktober 2009 saya mendapat berita adanya ledakan di perairan Bone, Sulawesi Selatan. Informasi yang saya terima ledakan itu disertai dengan pijaran cahaya dari langit, ada jejak asap, ada ledakan, ada getaran, dan tidak ada informasi kecelakaan pesawat terbang atau penerbangan pesawat Sukhoi dengan kecepatan supersonik yang menimbulkan sonic boom (gelombang kejut akabat objek bergerak melebihi kecepatan suara).

 

Atas dasar itu saya simpulkan itu benda jatuh antariksa. Mungkin alami (meteorit besar), mungkin pula buatan (sampah antariksa). Tetapi dari analisis sampah antariksa tidak ada objek yang berpotensi jatuh yang melintas Sulawesi pada hari itu sekitar pk 10.00 – 11.30 WITa (rentang waktu laporan warga). Jadi saya simpulkan dugaan kuat itu adalah meteorit cukup besar. Kalau terjadi pada malam hari masyarakat akan melihat bola api (fireball) yang sangat terang sejak posisi yang cukup tinggi. Karena kejadiannya siang pijaran api hanya manarik perhatian menjelang mencapai permukaan bumi.

 

Perkiraan kasar saya, berdasarkan kejadian sebelumnya di Pontianak (2003, meteorit berukuran kecil, sekitar 15 cm) dan sampah antriksa di Bengkulu (2003, lempengan roket, sekitar 60 x 60 cm) yang juga menunjukkan adanya pijaran dan suara ledakan tidak terlalu kuat,  meteorit itu cukup besar minimal sekitar 30 – 50 cm. Karena jatuh di laut, tidak mungkin kita menemukan bendanya.

 

Ada nara sumber lain di LAPAN yang sempat menyebutkan (menurut berita) tidak mungkin itu meteorit, karena itu terjadi pada siang hari. Mungkin ada salah persepsi. Sebenarnya meteorit bisa jatuh setiap saat dari segala penjuru, walau dari segi kecepatan dan frekuensi kejadian akan lebih banyak terjadi pada sisi bumi yang mengalami waktu dini hari (sekitar pukul 00 – 06) karena adanya efek gabungan rotasi bumi dan gerak bumi mengitari matahari. Data dari Radar Meteor di Stasiun LAPAN Kototabang (Sumatera Utara) menunjukkan meteor jatuh setiap saat dari segala penjuru. Radar Meteor tersebut teralu jauh untuk mendeteksi meteorit di Bone.

 

Pada 6 Juli 2009 lalu di Pennsylvania, Amerika Serikat sekitar pukul 01.00 dini hari juga ada kejadian meteorit besar yang jatuh dan menimbulkan fenomena bola api (fireball), ledakan, dan getaran.

http://meteoriteblog.com/large-meteor-fireball-over-pa-explosions-sonic-booms-heard/

 

 

Ini kutipan berita media massa tentang ledakan di Bone:

 

http://www.detiknews.com/read/2009/10/08/145729/1217958/10/lapan-ledakan-di-bone-kemungkinan-meteor-tapi-tak-bahaya

 

Kamis, 08/10/2009 14:57 WIB
Lapan: Ledakan di Bone Kemungkinan Meteor, Tapi Tak Bahaya
Ken Yunita - detikNews

 

Ledakan keras yang terdengar di langit Bone, Sulawesi Selatan, diduga terjadi akibat gesekan meteorit dengan lapisan atmosfir. Namun peristiwa itu tidak akan membahayakan Bumi.

"Kan ada ledakan dan cahaya membara, analisis sementara itu meteorit yang jatuh dan bergesekan dengan lapisan atmosfir," kata peneliti utama astronomi-astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Dr Thomas Jamaluddin kepada detikcom, Kamis (8/10/2009).

Thomas menduga, benda tersebut boleh jadi juga sampah antariksa seperti pecahan satelit atau bekas roket peluncur. Namun kemungkinan itu sangat kecil karena hari ini tidak ada sampah antariksa yang jatuh ke bumi.

"Lagi pula, kecepatan sampah antariksa itu tidak setinggi meteorit jadi kemungkinan terjadi ledakan sangat kecil," kata Thomas.

Thomas mengatakan, warga tidak perlu khawatir dengan peristiwa tersebut. Menurutnya, meteorit memang biasa jatuh ke bumi.

Dari data yang dimikili Lapan, 25 ribu ton meteorit jatuh ke Bumi setiap tahunnya. "Ada yang bentuknya sangat halus seperti debu sampai kita tidak tahu kalau kita kejatuhan meteorit," kata Thomas.

Apakah ada meteorit yang mengancam bumi? "Sejauh ini belum ada. Beberapa negara kan telah melakukan patroli antariksa dan hingga kini tidak ada laporan meteorit yang membahayakan Bumi," ujar Thomas. (ken/nrl)

 

Ini video berita Metro TV

http://metrotvnews.com/index.php/metromain/newsvideo/2009/10/08/91790/LAPAN-Duga-Kuat-Ledakan-Bone-adalah-Meteor

 









2009年9月

Khutbah Jumat T. Djamaluddin di Salman ITB

Menyikapi Perbedaan Hari Raya dan Upaya Mencari Titik Temu

Situs http://www.spiritualsharing.net mengkompilasi audio khutbah Jumat dan ceramah lainnya. Menjelang Ramadhan 1430 lalu saya memberikan khutbah Jumat di Masjid Salman ITB  bertema "Mensikapi Perbedaan Penentuan Waktu dalam Islam". Audio khutbah Jumat tersebut dapat didengarkan di
http://www.spiritualsharing.net/listen/detail/262/mensikapi-perbedaan-penentuan-waktu-dalam-islam 



2009年8月

Jadwal Waktu Shubuh Terlalu Cepat?

WAKTU SHUBUH DITINJAU DARI DALIL SYAR’I DAN ASTRONOMI

T. Djamaludin

(Anggota BHR Depag RI/Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika LAPAN)


Catatan:
Beberapa waktu lalu di majalah Qiblati (yang dikutip juga oleh beberapa blog) ada serangkaian tulisan bertema "Salah Kaprah Waktu Shubuh". Dalam pertemuan Badan Hisab Rukyat (BHR) Depag RI di Jakarta, 3-4 Agustus 2009 lalu, masalah tersebut sempat dibahas dan saya diminta untuk menuliskan tanggapannya untuk menjadi pencerahan bagi masyarakat. Catatan di bawah ini adalah hasil kajian lengkapnya sebagai tindak lanjut diskusi di BHR tersebut.


Penentuan waktu shubuh diperlukan untuk penentuan awal shaum (puasa) dan shalat. Tentang waktu awal shaum disebutkan dalam Al-Quran, “… makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar" (QS 2:187). Sedangkan tentang awal waktu shubuh disebutkan di dalam hadits dari Abdullah bin Umar, “… dan waktu shalat shubuh sejak terbit fajar selama sebelum terbit matahari” (HR Muslim). Fajar yang bagaimana yang dimaksudkan tersebut? Hadits dari Jabir merincinya, “Fajar ada dua macam, pertama yang melarang makan, tetapi membolehkan shalat, yaitu yang terbit melintang di ufuk. Lainnya, fajar yang melarang shalat (shubuh), tetapi membolehkan makan, yaitu fajar seperti ekor srigala” (HR Hakim). Dalam fikih kita mengenalnya sebagai fajar shadiq (benar) dan fajar kidzib (palsu).

Lalu fajar shadiq seperti apakah yang dimaksud Rasulullah SAW? Dalam hadits dari Abu Mas’ud Al-Anshari disebutkan, “Rasulullah SAW shalat shubuh saat kelam pada akhir malam, kemudian pada kesempatan lain ketika hari mulai terang. Setelah itu shalat tetap dilakukan pada waktu gelap sampai beliau wafat, tidak pernah lagi pada waktu mulai terang.” (HR Abu Dawud dan Baihaqi dengan sanad yang shahih). Lebih lanjut hadits dari Aisyah, “Perempuan-perempuan mukmin ikut melakukan shalat fajar (shubuh) bersama Nabi SAW dengan menyelubungi badan mereka dengan kain. Setelah shalat mereka kembali ke rumah tanpa dikenal siapapun karena masih gelap.” (HR Jamaah).

Karena saat ini waktu-waktu shalat lebih banyak ditentukan berdasarkan jam, perlu diketahui kriteria astronomisnya yang menjelaskan fenomena fajar dalam dalil syar’i tersebut. Perlu penjelasan fenomena sesungguhnya fajar kidzib dan fajar shadiq. Kemudian perlu batasan kuantitatif yang dapat digunakan dalam formulasi perhitungan untuk diterjemahkan dalam rumus atau algoritma program komputer.

Fajar kidzib memang bukan fajar dalam pemahaman umum, yang secara astronomi disebut cahaya zodiak. Cahaya zodiak disebabkan oleh hamburan cahaya matahari oleh debu-debu antarplanet yang tersebar di bidang ekliptika yang tampak di langit melintasi rangkaian zodiak (rangkaian rasi bintang yang tampaknya dilalui matahari). Oleh karenanya fajar kidzib tampak menjulur ke atas seperti ekor srigala, yang arahnya sesuai dengan arah ekliptika. Fajar kidzib muncul sebelum fajar shadiq ketika malam masih gelap.

Fajar shadiq adalah hamburan cahaya matahari oleh partikel-partikel di udara yang melingkupi bumi. Dalam bahasa Al-Quran fenomena itu diibaratkan dengan ungkapan “terang bagimu benang putih dari benang hitam”, yaitu peralihan dari gelap malam (hitam) menunju munculnya cahaya (putih). Dalam bahasa fisika hitam bermakna tidak ada cahaya yang dipancarkan, dan putih bermakna ada cahaya yang dipancarkan. Karena sumber cahaya itu dari matahari dan penghamburnya adalah udara, maka cahaya fajar melintang di sepanjang ufuk (horizon, kaki langit). Itu pertanda akhir malam, menjelang matahari terbit. Semakin matahari mendekati ufuk, semakin terang fajar shadiq. Jadi, batasan yang bisa digunakan adalah jarak matahari di bawah ufuk.

Secara astronomi, fajar (morning twilight) dibagi menjadi tiga: fajar astronomi, fajar nautika, dan fajar sipil. Fajar astronomi didefinisikan sebagai akhir malam, ketika cahaya bintang mulai meredup karena mulai munculnya hamburan cahaya matahari. Biasanya didefinisikan berdasarkan kurva cahaya, fajar astronomi ketika matahari berada sekitar 18 derajat di bawah ufuk. Fajar nautika adalah fajar yang menampakkan ufuk bagi para pelaut, pada saat matahari berada sekitar 12 derajat di bawah ufuk. Fajar sipil adalah fajar yang mulai menampakkan benda-benda di sekitar kita, pada saat matahari berada sekitar 6 derajat.

Fajar apakah sebagai pembatas awal shaum dan shalat shubuh? Dari hadits Aisyah disebutkan bahwa saat para perempuan mukmin pulang dari shalat shubuh berjamaah bersama Nabi SAW, mereka tidak dikenali karena masih gelap. Jadi, fajar shadiq bukanlah fajar sipil karena saat fajar sipil sudah cukup terang. Juga bukan fajar nautika karena seusai shalat pun masih gelap. Kalau demikian, fajar shadiq adalah fajar astronomi, saat akhir malam.

Apakah posisi matahari 18 derajat mutlak untuk fajar astronomi? Definisi posisi matahari ditentukan berdasarkan kurva cahaya langit yang tentunya berdasarkan kondisi rata-rata atmosfer. Dalam kondisi tertentu sangat mungkin fajar sudah muncul sebelum posisi matahari 18 di bawah ufuk, misalnya saat tebal atmosfer bertambah ketika aktivitas matahari meningkat atau saat kondisi komposisi udara tertentu – antara lain kandungan debu yang tinggi – sehingga cahaya matahari mampu dihamburkan oleh lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Akibatnya, walau posisi matahari masih kurang dari 18 derajat di bawah ufuk, cahaya fajar sudah tampak.

Para ulama ahli hisab dahulu sudah merumuskan definisi fajar shadiq dengan kriteria beragam, berdasarkan pengamatan dahulu, berkisar sekitar 17 – 20 derajat. Karena penentuan kriteria fajar tersebut merupakan produk ijtihadiyah, perbedaan seperti itu dianggap wajar saja. Di Indonesia, ijtihad yang digunakan adalah posisi matahari 20 derajat di bawah ufuk, dengan landasan dalil syar’i dan astronomis yang dianggap kuat. Kriteria tersebut yang kini digunakan Departemen Agama RI untuk jadwal shalat yang beredar di masyarakat.

Kalau saat ini ada yang berpendapat bahwa waktu shubuh yang tercantum di dalam jadwal shalat dianggap terlalu cepat, hal itu disebabkan oleh dua hal: Pertama, ada yang berpendapat fajar shadiq ditentukan dengan kriteria fajar astronomis pada posisi matahari 18 derajat di bawah ufuk, karena beberapa program jadwal shalat di internet menggunakan kriteria tersebut, dengan perbedaan sekitar 8 menit. Kedua, ada yang berpendapat fajar shadiq bukanlah fajar astronomis, karena seharusnya fajarnya lebih terang, dengan perbedaan sekitar 24 menit. Pendapat seperti itu wajar saja dalam interpretasi ijtihadiyah.


2009年8月

Awal Ramadhan dan Idul Fitri 1430/2009

INFORMASI RAMADHAN DAN SYAWAL 1430 H

Ijtima’ awal Ramadhan terjadi pada 20 Agustus 2009 pukul 17.02 WIB. Pada saat maghrib 20 Agustus 2009 bulan masih di bawah ufuk di seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian bulan Sya’ban digenapkan dan awal Ramadhan 1430 H insya-allah jatuh pada hari Sabtu, 22 Agustus 2009. Kepastiannya akan diumumkan oleh Menteri Agama RI seusai sidang itsbat.

Ijtima’ awal Syawal terjadi pada 19 September 2009 pukul 01:45 WIB. Pada saat maghrib 19 September 2009, bulan cukup tinggi, lebih dari 4 derajat di seluruh wilayah Indonesia, sehingga sangat mungkin untuk dirukyat. Dengan demikian insya-allah Idul Fitri jatuh pada hari Ahad, 20 September 2009. Kepastiannya akan diumumkan oleh Menteri Agama RI seusai sidang itsbat.

Hasil perhitungan astronomi tersebut diinformasikan untuk keperluan persiapan, tetapi demi ketentraman ummat, kepastiannya tetap harus menunggu keputusan hasil sidang itsbat (sidang penatapan) yang dipimpin Menteri Agama RI dan dihadiri perwakilan berbagai ormas Islam, para pakar hisab-rukyat, dan instansi terkait seperti LAPAN, Observatorium Bosscha ITB , Planetarium Jakarta, BMKG, dan Bakosurtanal.Majelis ulama pun telah mengeluarkan fatwa bahwa seluruh ummat Islam di Indonesia wajib menaati ketetapan pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadha, Syawal, dan Dzulhijjah.

Perlu dijelaskan juga terkait dengan pencantuman libur Idul Fitri di kalender yang beredar di masyarakat bahwa Idul Fitri insya-allah 20 September, hari Ahad. Karena jatuhnya hari Ahad, hari libur Idul Fitri menjadi Senain-Selasa, 21 dan 22 September. Jadi hanya pergeseran hari libur, bukan hari Idul Fitri.

Dr. T. Djamaluddin (Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika LAPAN/Anggota BHR Depag RI/LPI Masjid Salman ITB)


2009年7月

Proyeksi Iklim dan Kualitas Udara 2010-2014

Ozon Menipis Hujan Asam Meluas

Proyeksi lklim dan Kualitas Udara 2010-2014


(Ini berita Seputar Indonesia 30 Juli 2009 yang meliput Seminar "Proyeksi Iklim dan Kualitas Udara 2010-2014" di LAPAN")


BANDUNG (SI) -Para pakar iklim, atmosfer, dan antariksa berhasil membuat proyeksi iklim dan kualitas udara Indonesia lima tahun mendatang (2010-2014). Dalam proyeksi tersebut, disebutkan penipisan lapisan ozon dan meluasnya hujan asam.

 

Proyeksi itu merupakan resume seminar nasional kerja sama Lapan dengan Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (Perhimpi) di Kantor Pusat Pemanfaatan Sains dan Atmosfer dan Iklim (PPSAI) Lapan Bandung, Jalan Dr Djundjunan No 133, Kota Bandung, yang berlangsung dua hari dan berakhir kemarin.

 

Proyeksi para pakar terbagi menjadi dua bagian, yakni proyeksi iklim lima tahun mendatang dan proyeksi kualitas udara dalarn kurun waktu yang sama. Dalam proyeksi iklim, para pakar belum dapat memperkirakan adanya kondisi ekstrem, tapi harus diwaspadai El Nino atau La Nina yang cenderung lebih sering terjadi.

 

"Ada kecenderungan awal lima tahun mendatang (2010-2012) relatif lebih kering dengan kemungkinan terjadi El Nino, dan akhir lima tahun mendatang (2012-2014) relatif lebih basah dengan kemungkinan terjadi La Nina”, ujar Kepala PPSAI Lapan Bandung Thomas Djamaluddin yang membuat resume dari berbagai model dan penelitian yang dipresentasikan.

 

Dalam proyeksi kualitas udara lima talum mendatang, para pakar memperkirakan ada kecenderungan sedikit penipisan lapisan ozon total di langit Indonesia dan perluasan hujan asam.

 

Penipisan ozon menyebabkan paparan ultraviolet matahari ke bumi semakin kuat, sementara hujan asam mengakibatkan gedung dan patung besi relatif lebih mudah rusak.

 

"Yang paling bahaya dari penipisan ozon adalah kanker kulit dan matinya beberapa biota. Orang harus lebih sering mengenakan jaket pada siang hari untuk melindungi kulit dari paparan ultraviolet," kataThomas.

 

Dia melanjutkan, kualitas udara di kota besar Indonesia lima tahun mendatang akan sangat dipengaruhi aktivitas industri dan transportasi. Emisi akan terus bertambah seiring peningkatan pemanfaatan sumber energi. Kebakaran hutan terkait erat dengan fenomena El Nino.

 

Menurut dia, kualitas udara lima tahun mendatang juga akan sangat dipengaruhi kebakaran hutan dan lahan yang terkait erat dengan El Nino. "Kualitas udara 2010-2014 tergantung pengendalian pencemaran dan pengendalian kebakaran hutan yang cenderung meningkat saat El Nino. Ozon yang cenderung sedikit menipis harus tetap dipantau", ujarnya.

 

Dia mengatakan, proyeksi para pakar itu akan diberikan ke Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan berbagai pemerintah daerah sebagai lembaga resmi yang berwenang menyusun rencana pembangunan jangka menengah (RPJM). "Mudah-mudahan bisa menjadi masukan," katanya.

 

Tentu saja, kata dia, berbagai penelitian dan model para pakar itu masih harus dikaji lebih rinci dan diperkirakan secara berkala. "Hasil penelitian harus dikomunikasikan dan diperbandingkan satu sama lain karena terbukti tidak ada penelitian atau model yang sama persis," katanya.

 

Tetapi dia berharap proyeksi ini tetap menjadi acuan pemerintah pusat dalam melakukan pembangunan.yang ramah lingkungan. "Kebijakan yang dilakukan sebaiknya jangan terburu-buru, harus ada SOP dan bukan bersifat dadakan. Ketika ada informasi El Nino, jangan sampai kemudian mengimpor betas, itu malah menunjukkan kepanikan dan bukan skenario yang dipersiapkan jauh sebelumnya," kataThomas.

(rudini)
2009年5月

Teleskop Antariksa Pencari Planet Luar Tatasurya

DIMANA POSISI TELESKOP KEPLER?

 

(Pada edisi perdana majalah Post Media - Edisi 01/Thn I/Mei 2009 - disajikan berita iptek "Meneropong Kehidupan di Dunia Lain" yang membahas rencana NASA meluncurkan teleskop antariksa Kepler. Teleskop antariksa ini unik, berbeda dengan teleskop antariksa sebelumnya. Post Media mewawancarai saya untuk menjelaskan rencana keberadaan teleskop antariksa Kepler).


Untuk memastikan kebaradaan teleskop ini, Post Media melakukan wawancara dengan Thomas Djamaluddin, ahli astrotromi LAPAN Bandung, berikut hasil wawancaranya.

 

Post Media: Saat selesai diluncurkan, dimana posisi persis teleskop Kepler dalam menjalankan tugasnya?

 

Thomas: Teleskop Kepler ditempatkan pada orbit mengikuti bumi mengitari matahari. Periode orbitrya (372,5 hari) lebih panjang daripada periode orbit bumi (365,2422 hari).  Jadi, semakin lama semakin menjauh dari bumi, tetapi tetap mengorbit pada jarak 150 juta km dari matahari. Setiap tahunnya teleskop Kepler akan tertinggal jauh sekitar 18,5 juta km. Jadi dalam misi 3,5 tahun, kira-kira teleskop Kepler berjarak 60 juta km dari bumi. Orbitnya sengaja dibuat menjauh dari bumi untuk menjamin kestabilan sistem karena tidak akan terganggu gravitasi bumi. Arahnya pun ditujukan ke rasi Lyra dan Cygnus yang tidak terganggu sinar matahari dan objek tatasurya lainnya, sehingga terfokus pada pencarian sistem planet du luar tata surya.

 

Post Media: Berapa kapasitas Teleskop Kepler?

Thomas: Massa teleskop sekitar 1 ton, diameter bukaan teleskop 95 cm, dan diameter cermin 140 cm 9terbesar di antara teleskop antariksa yang ada). Medan pandangya 105 derajat persegi (kira-kira seluas kepalan tangan kalau diarahkan ke langit). Kamera terdiri dari 42 keping CCD 1024 x 2200, juga merupakan kamera teleskop antariksa terbesar. Karena redupnya objek yang direkam, pencitraan perlu waktu sekitar 6 jam atau lebih. Perintah kendali disampaikan NASA dengan gelombang radio (X band) sepekan dua kali. Sedangkan data ilmiah ditransfer dengan gelombang radio Ka band sekali sebulan dengan kecepatan maksimum 4,33 Mb/s. Untuk menghemat bandwidth data sudah diproses di Kepler, sehingga yang dikirim hanya data yang penting untuk dianalisis. Biaya misi ini diperkirakan US$600 juta (sekitar tujuh trilyun rupiah).

 

Post Media: Berapa lifetime Teleskop Kepler:

Thomas: Lifetime opersional teleskop diperkirakan 3,5 tahun. Ini adalah kala hidup optimal, biasanya masih bisa diperpanjang bila fungsi instrumen dan anggaran memungkinkan.

2009年5月

Bumi akan Menjadi Seperti Venus?

Pelajaran bagi Bumi: 

Pemacuan Efek Rumah Kaca di Venus

(Dimuat di PR 3 Mei 1996, direvisi sesuai kondisi 2009)


T. Djamaluddin

Peneliti  Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

 

            Pada senja hari kita sering melihat sebuah "bintang" terang di langit Barat. Orang menyebutnya itu Bintang Kejora. Bila muncul di timur pada dini hari orang menyebutnya Bintang Timur. Sebenarnya itu bukan bintang, tetapi sebuah planet. Karena sangat terangnya, planet ini sangat mudah dikenali. Sesaat setelah Matahari terbenam, sebelum bintang-bintang lain terlihat, planet itu tampak terang. Semakin malam semakin cemerlang. Bila dilihat dengan teleskop, yang tampak adalah benda terang berbentuk sabit, seperti bulan sabit. Sama seperti bulan sabit, cahaya Venus sabit pun berasal dari cahaya Matahari.

            Karena ukuran dan sifatnya yang hampir sama dengan Bumi, planet ini sering disebut saudara kembar Bumi. Namun, saudara Bumi ini jauh lebih panas daripada Bumi. Bukan hanya karena jaraknya ke Matahari lebih dekat daripada Bumi, tetapi juga karena efek rumah kaca (green house effect). Bumi bisa belajar banyak tentang akibat efek rumah kaca pada saudara kembarnya, Venus.

 

Efek Rumah Kaca

            Global warming (pemanasan global) belakangan ini menjadi topik pembicaraan hangat. Dunia makin menghangat suhunya. Penyebabnya adalah efek rumah kaca. Namun banyak yang salah menafsirkanya. Seolah-olah efek rumah kaca adalah efek pemanasan akibat banyaknya gedung-gedung berkaca di kota-kota besar yang memantulkan cahaya Matahari ke lingkungan sekitarnya. Tetapi pengertian sebenarnya bukan itu, walaupun tampaknya secara logika efek pemanasan terjadi juga pada lingkungan terbatas di sekitarnya. Efek rumah kaca bersifat global, seluruh tempat di permukaan bumi merasakannya.

            Efek rumah kaca adalah efek pemanasan akibat terperangkapnya panas yang tidak dapat dilepaskan ke luar angkasa. Penamaan itu untuk memberikan gambaran prosesnya seperti yang terjadi pada rumah kaca yang biasa digunakan untuk melindungi tanaman (bunga-bungaan atau sayur-sayuran) di daerah pegunungan atau negara bermusim dingin agar tetap hangat. Cahaya Matahari masuk menembus kaca dan menghangatkan tanah dan udara di dalamnya. Namun panas itu tidak bisa ke luar karena terperangkap oleh kaca itu. Makin lama suhu di dalam rumah kaca itu akan makin panas.

            Venus kini mengalami efek seperti itu. Bumi juga merasakannya. Bukan kaca yang menyebabkan panas di Venus atau di Bumi itu terperangkap tetapi awan, uap air, dan gas-gas penyerap panas yang disebut "gas rumah kaca" (GRK) seperti CO2 (karbon dioksida), CH4 (metan), CFC (klorofluorkarbon), dan NOx (oksida Nitrogen).

 

 

Planet terpanas

            Venus letaknya lebih dekat ke Matahari daripada Bumi. Jaraknya ke Matahari sekitar 105 juta km. Sedangkan jarak Bumi dari Matahari sekitar 150 juta km. Karena itu Venus lebih panas daripada Bumi. Tetapi yang menjadikan Venus sangat panas bukan karena jaraknya relatif dekat dengan Matahari. Planet Merkurius yang paling dekat dengan Matahari panasnya hanya sekitar 430 derajat C. Sedangkan Venus panasnya mencapai 460 derajat C.

            Carl Sagan dalam desertasi doktornya tahun 1960-an menjelaskan bahwa ada proses efek rumah kaca yang sangat hebat di Venus yang menyebabkan planet ini makin lama makin panas. Hasil pengamatan pesawat antariksa yang dikirim meneliti Venus, Venera dan Pioneer, menunjukkan bahwa atmosfer Venus hampir seluruhnya terdiri dari CO2 (96,5 %). Bandingkan dengan CO2 di atmosfer Bumi yang hanya sekitar 0,05 %. Awan tebal yang selalu menyelimuti Venus berada pada ketinggian 30-60 km dan terdiri dari awan asam sulfat (H2SO4, sejenis dengan air keras pada aki).

            Kandungan CO2 yang sangat tinggi menyebabkan hebatnya efek rumah kaca. Cahaya Matahari yang menerobos sela-sela awan tebal kemudian memanaskan permukaan Venus. Panasnya yang dipantulkan lagi tidak bisa ke luar ke angkasa tetapi segera diserap oleh CO2 yang menyebabkan suhu atmosfernya makin panas.

            Dari berbagai penelitian disimpulkan bahwa Venus pada awalnya mungkin mempunyai air seperti halnya bumi. Efek rumah kaca akibat kandungan uap air dan CO2 menyebabkan suhu atmosfer Venus makin panas. Akibatnya, uap air makin banyak di udara. Tambahan uap air menyebabkan penyerapan panas lebih banyak lagi sehingga suhunya atmosfer makin panas. Karena pemanasan yang makin hebat batuan kapur (CaCO3) pun mengalami perubahan menjadi CaO dan melepaskan CO2. Semakin banyak CO2 dan uap air di udara pemanasan oleh efek rumah kaca semakin hebat. Dan seterusnya pemanasan menyebabkan semakin banyak uap air dan CO2. Terjadilah pemacuan efek rumah kaca (runaway greenhouse effect) yang menyebabkan pemanasan makin cepat.

            Uap air bereaksi dengan gas SO2 yang mungkin dilepaskan oleh gunung berapi di Venus. Akibatnya terjadilah awan asam sulfat. Sementara itu uap air (H2O) dengan pengaruh sinar ultra violet Matahari akan pecah menjadi atom Hidrogen (H) dan Oksigen (O). Atom Hidrogen akan lepas ke luar angkasa, kecuali yang bermassa besar yang disebut Deutorium. Sedangkan oksigen bereaksi dengan batuan di permukaan Venus. Karena uap air tidak berproses lagi menjadi awan dan hujan, air di Venus makin hilang.

 

Pelajaran bagi Bumi

            Bumi menerima panas dari Matahari. Tetapi hanya sekitar 45 % yang mencapai permukaan Bumi. Sebanyak 40 % dipantulkan lagi ke angkasa luar oleh awan dan debu-debu di atmosfer atas, terutama debu-debu dari letusan gunung berapi. Dan 15 % lainnya diserap oleh atmosfer. Sinar ultra violet diserap oleh lapisan ozon. Sinar infra merah terutama diserap oleh uap air dan CO2.

            Bumi yang terpanasi kemudian akan memancarkan lagi panas (dalam bentuk sinar infra merah) ke atas. Panas itu sebagian diserap oleh uap air, gas-gas GRK (terutama CO2), dan awan. Sebagian sisanya dilepaskan ke luar angkasa. Awan yang menghangat juga kemudian akan memancarkan lagi panasnya ke bawah. Inilah proses efek rumah kaca yang menyebabkan pada malam hari pun atmosfer Bumi terasa masih cukup hangat. Tanpa efek rumah kaca, panas Matahari tidak tersimpan yang bisa mengakibatkan perubahan suhu yang drastis antara siang dan malam.

            Masalahnya bila efek rumah kaca terjadi peningkatan. Bila panas yang diserap oleh uap air dan GRK meningkat, suhu atmosfer akan meningkat. Ini akan mengakibatkan melelehnya gunung es di kutub yang akan menaikkan ketinggian air laut. Kalau itu terjadi, banyak pulau dan daerah pantai yang tenggelam.

            Di samping itu, peningkatan efek rumah kaca bisa mengubah iklim secara global. Bukan hanya suhu atmosfer yang meningkat, pola curah hujan pun akan berubah. Karena itu pemantauan dan penelitian tentang efek rumah kaca serta dampaknya pada perubahan iklim kini makin digiatkan. Di Indonesia, LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung sangat peduli dengan penelitian GRK dan pengaruhnya pada perubahan iklim. Pemantauan GRK dan penelitian model iklim yang dipengaruhinya, khususnya di Indonesia, merupakan salah satu bagian penelitiannya.

            Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan suhu di permukaan Bumi selama ribuan tahun sangat dipengaruhi oleh konsentrasi CO2 dan metan dalam kurun waktu itu. Sementara itu penelitian lain menunjukkan bahwa peningkatan 15% CO2 selama seabad ini telah meningkatkan suhu rata-rata atmosfer di permukaan Bumi sekitar 0,25 - 0,50 derajat C.

            Perkembangan industri dan pemakaian kendaraan bermotor memacu peningkatan jumlah CO2 di atmosfer. Penelitian di Mauna Loa, Hawaii, dalam waktu lebih dari 30 tahun menunjukkan bahwa konsentrasi CO2 terus mengingkat dengan laju peningkatan 0,4 persen per tahun. Jika keadaan ini terus berlangsung, pada awal abad 21 mendatang konsentrasi CO2 di atmosfer akan menjadi dua kali lipat dari konsentrasinya sebelum zaman industri.

            Di Indonesia peningkatan GRK juga terjadi sebagai hasil dampak perkembangan indistri dan pemakaian kendaraan bermotor. Salah satu hasil pemantauan yang dilakukan LAPAN Bandung sejak 1989 menunjukkan kecenderungan peningkatan konsentrasi CO2 di kota Bandung. baik pada musim kemarau (Juni) maupun musim hujan (Desember). Walaupun pengaruhnya pada peningkatan suhu kota Bandung belum terlihat untuk jangka pendek ini, namun dalam jangka panjang perubahan suhu itu akan terasa. Bandung yang terkenal sejuk, makin lama akan makin panas bila efek rumah kaca terus meningkat (Catatan: tulisan ini dibuat 1996, saat ini data satelit yang dianalisis peneliti LAPAN menunjukkan ada efek "urban heat island", yaitu efek pemanasan kota di Bandung).

            Dari berbagai skenario perubahan iklim yang mungkin terjadi akibat pelepasan GRK oleh aktivitas manusia, disimpulkan bahwa suhu global pada abad mendatang akan naik sekitar 0,1 - 0,3 derajat per dekade. Suhu di negara-negara industri di Eropa dan Amerika Utara mungkin akan meningkat lebih tinggi dari rata-rata itu yang diikuti dengan penurunan curah hujan dan tanah relatif lebih kering.

            Untuk Indonesia, termasuk juga daerah tropik dan negara-negara di belahan Bumi selatan, belum banyak diketahui skenario perubahannya. Peneliti-peneliti di LAPAN Bandung, dengan menggunakan model iklim yang ada dan yang akan dikembangkan, berusaha mengetahui skenario perubahan iklim di Indonesia akibat peningkatan efek rumah kaca dan faktor-faktor lainnya. Pengaruh variabilitas Matahari pada perubahan iklim merupakan faktor lain yang turut diperhitungkan.

            Peningkatan suhu global pada abad 21 mendatang, diperkirakan akan meningkatkan tinggi pemukaan air laut sekitar 6 cm per dekade, terutama akibat pengembangan air laut dan pencairan lapisan es di kutub. Menjelang tahun 2030 tinggi air laut rata-rata dunia meningkat sekitar 20 cm dibandingkan saat ini. Di beberapa wilayah mungkin lebih dari itu dan di wilayah lain mungkin kurang dari itu. Namun itu cukup mengkhawatirkan. Dalam jangka panjang beberapa pulau akan hilang dan laut menggenangi daerah pinggiran pantai.

            Hal yang dikhawatirkan adalah terjadinya pemacuan efek rumah kaca di Bumi. Kenaikan suhu atmosfer bukan hanya menaikkan ketinggian air laut, tetapi juga menyebabkan makin cepatnya penguapan dan kekeringan. Uap air di atmosfer merupakan penyerap panas yang baik seperti GRK lainnya. Bila itu ditambah dengan pelepasan CO2 yang tak terkendali dari kendaraan bermotor, industri, dan kebakaran hutan, efek rumah kaca akan dipacu makin cepat. Akibatnya, suhu akan makin cepat meningkat.

            Belajar pada Venus, saudara kembar Bumi, pemacuan efek rumah kaca berdampak sangat hebat. Dengan pemacuan efek rumah kaca, bukan tidak mungkin Bumi kita bisa menjadi seperti Venus.

2009年4月

Gempa-Tsunami 22 Juli 2009?

HOAX: Prediksi Gempa dan Tsunami di Asia Timur

 

T. Djamaluddin
Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika LAPAN

 

Beberapa waktu lalu beredar informasi di milis tentang prakiraan gempa dan tsunami 22 Juli 2009 disertai gambar jalur gerhana matahari total. Isinya antara lain:

I don't know how true this is, but better be informed........ Hello there. I just wanted 2 let you know that please stay away from the beaches all around in the month of July. There is a prediction that there will be another tsunami or earthquake hitting on July 22nd. It is also when there will be sun eclipse. Predicted that it is going 2 be really bad and countries like Malaysia (Sabah & Sarawak), Singapore, Maldives, Australia, Mauritius, Si Lanka, India, Indonesia , Philippines are going 2 be badly hit. Please try and stay away from the beaches in July. Better 2 be safe than sorry. Please pass the word around. Please also pray for all beings.

Berita itu jelas hoax alias bohong. Benar pada 22 Juli 2009 akan terjadi gerhana matahari total yang melintasi Asia Timur dan puncak gerhana terjadi di Samudra Pasifik antara Jepang dan Filipina, tetapi tidak ada dasar untuk prakiraan gempa dan tsunami. Memang ada dugaan kuat efek pasang surut gabungan bulan dan matahari pada saat bulan baru (termasuk saat gerhana matahari) dan saat bulan purnama (termasuk gerhana bulan) dapat memicu terjadinya gempa. Tetapi, belum ada teori dan metode sains yang dapat memprakirakan secara meyakinkan tempat dan waktu terjadinya gempa dan tsunami. Kalau benar di wilayah itu tertumpuk energi yang belum dilepaskan pada gempa-gempa sebelumnya, potensi gempa yang dipicu oleh pasang surut maksimum bulan-matahari tidak perlu menunggu 22 Jul 2009. Setiap bulan baru dan bulan purnama punya potensi untuk memicu pelepasan energi berupa gempa.

 
全 122 枚中 1 枚目

Windows Media Player

Djamaluddin T.

職業
所在地
好きなもの/好きなこと
Djamaluddin, lahir di Purwokerto, 23 Jan 1962, putra Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah asal Cirebon. Tradisi Jawa mengganti nama anak yang sakit-sakitan, menyebabkan namanya diganti menjadi Thomas ketika berumur 3 tahun. Namanya kemudian digabungkan saat SMP menjadi Thomas Djamaluddin. Sejak SMA lebih suka dengan nama singkat T.Djamaluddin. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di Cirebon sejak 1965. Sekolah di SDN Kejaksan 1, SMPN 1, dan SMAN 2 Cirebon. Selanjutnya belajar astronomi di ITB (S1) dan di Kyoto University, Jepang (S2 dan S3). Saat ini di LAPAN sebagai Kepala Pusat Sains Atmosfer dan Peneliti Utama Astronomi. Juga mengajar di Program Pascasarjana IAIN Semarang. Aktif di Badan Hisab Rukyat Jabar & Depag RI, mengupayakan penyatuan kriteria hisab-rukyat. Beristrikan Erni Riz Susilawati, saat ini dikaruniai tiga putra: Vega Isma Zakiah (lahir 1992), Gingga Ismu Muttaqin Hadiko (lahir 1996), dan Venus Hikaru Aisyah (lahir 1999).
Beberapa publikasi/dokumentasi saya yang dapat diakses di internet